My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Tidak Diterima Kerja



Cetar... Ibu Diana kaget akan jawaban sekaligus pengakuan dari Arini. Jujur, ia tidak menyangka jika Arini sedang hamil, apalagi di luar nikah. Karena di lihat dari penampilannya, dia gadis baik-baik.


"Kamu hamil!?" tanya ibu Diana meyakinkan dirinya, seraya memukul meja dengan kedua tangannya pelan, saking kagetnya mendengar jawaban dari Arini. Arini menunduk, lalu mengangguk pelan.


"Huft...." Ibu Diana menghela napasnya hampa. Itu adalah alasan yang tidak pernah terpikirkan olehnya. Ia kira, Arini tidak menerima syarat itu karena ia ingin menikah dan cepat mempunyai momongan. Dan tentu saja, jurus terampuhnya tidak akan berlaku jika di hadapkan dengan alasan seperti ini. Tapi bagaimana, ia sudah sangat tertarik dengan kemampuan yang dimiliki oleh Arini.


Ibu Diana hanya bisa menghela napasnya pasrah. Karena ia tidak bisa berbuat apa-apa dengan alasan tersebut. Ia juga tidak bisa lagi memaksakan kehendaknya, agar Arini di terima di perusahaan ini karena syarat dari atasannya.


"Baiklah, sepertinya wawancara kita telah selesai. Dan hasilnya kamu pasti sudah tahu... maafkan saya, yang sudah memaksa mu untuk bergabung di perusahaan ini." Ibu Diana berkata lirih mengakhiri wawancaranya, dan tidak banyak berkata lagi, apalagi menayangkan sesuatu pada Arini. Dan dia tidak memiliki niat untuk menanyakan tentang kehamilan Arini, karena ia tidak ingin mengganggu privasi seseorang. Walaupun ia sudah terbawa suasana.


"Iya, Bu. Tidak apa-apa." Arini menimpali perkataan ibu Diana seraya mengangguk. "Apakah saya bisa keluar sekarang?" tanya Arini sopan.


"Iya silakan, dan terima kasih atas waktunya Arini." Ibu Diana mengatupkan kedua tangan di dada. Sekarang, sifat profesionalnya dalam bekerja telah kembali.


Arini mengangguk, lalu keluar dari ruangan tersebut.


"Huft... tidak apa-apa sayang, masih banyak pekerjaan di luar sana yang bisa mama kerjakan. Kamu jangan merasa bersalah yah... karena ini bukan salah mu." Gumam Arini pelan, berbicara dengan calon bayinya, sambil mengelus perutnya yang masih datar. Lalu keluar dari perusahaan pencakar langit itu.


*****


Beberapa saat kemudian, setelah ibu Diana menyelesaikan interview nya. Ia pun, mendapatkan sebuah panggilan telepon.


"Selama siang, dengan Human Resource Departemen, ada yang bisa saya bantu?" ujar ibu Diana, menerima panggilan telepon.


"Siang, bisa berbicara dengan ibu Diana?" tanya orang di seberang telepon.


"Dengan saya sendiri, ada yang bisa di bantu?" jawab ibu Diana.


"Ibu di minta ke ruang sekretaris sekarang, Bu." Ujar orang tersebut menyampaikan maksudnya menelepon.


"Baik." Jawab ibu Diana, yang sudah tahu akan maksud... ia di suruh untuk ke ruangan sekretaris.


Telepon itu pun terputus, setelah satu dua kalimat lagi. Lalu ibu Diana bangun dari kursinya dan bergegas menuju ruangan sekretaris.


Tok... tok...


Ibu Diana mengetuk pintu, dan tak butuh waktu lama, seseorang yang berada di dalam ruangan tersebut, menyuruhnya untuk masuk.


Ibu Diana pun, membuka pintu dengan perlahan dan menutupnya kembali.


"Selamat siang, Pak." Ucap ibu Diana, menyapa terlebih dahulu sambil membukukan badannya sopan.


"Siang. Silakan duduk, Bu." Ucap sekretaris tersebut juga sopan, lalu ibu Diana pun duduk sesuai instruksi.


"Jadi, bagaimana dengan hasil interview yang ibu lakukan? Apakah ada yang sesuai dengan syarat dan kriteria yang diinginkan oleh Tuan Bian?" tanya sekretaris tersebut, yang tak lain adalah Rio. Bawahan dari Bian Andi Pratama, pemilik dari perusahaan tersebut.


"Sebenarnya begini, Pak. Ada salah satu peserta yang memiliki kemampuan yang berbeda dari yang lain. Dia sangat cekatan dan sangat rapi dalam menyelesaikan semua tes yang saya berikan...." Ibu Diana menjelaskan hasil interview yang ia lakukan.


"Lalu? Apakah kamu sudah menerimanya? Karena kita memang membutuhkan karyawan seperti itu dalam waktu secepatnya." Tanya Rio pada ibu Diana.


"Belum, Pak." Jawab ibu Diana.


"Kenapa? Bukankah saya menyuruh ibu untuk langsung menerima karyawan, jika sesuai dengan syarat dan kriteria tersebut?" tanya Rio bingung.


"Iya, Pak. Dan masalahnya, dia tidak memenuhi syarat!" ujar ibu Diana, menjawab pertanyaan Rio.


"Dia memang memenuhi kriteria yang di inginkan oleh Tuan Bian. Tapi, dia tidak memenuhi syarat karena sekarang dia sedang mengandung, Pak." Ibu Diana berusaha menjelaskan.


"Lalu bagaimana dengan peserta yang lainnya?" tanya Rio yang sudah mengerti maksud ibu Diana.


"Peserta lainnya tidak secekatan dan serapi seperti peserta yang saya jelaskan barusan, Pak. Tapi, ada salah satu peserta yang mendekati kriteria dan memenuhi syarat seperti yang di inginkan oleh Tuan Bian." Jawab ibu Diana, kembali menjelaskan.


"Hum...." Rio hanya berdehem, menimbang apa yang baru saja dijelaskan ibu Diana.


"Apakah dia diterima di perusahaan ini, Pak?" sekarang ibu Diana yang bertanya, tentang pendapat Rio.


"Ya, kamu terima saja dia. Karena kita tidak mempunyai banyak waktu untuk mencari yang lebih baik lagi. Ya penting itu sudah memenuhi keinginan Tuan Bian. Masalah ia tidak cekatan atau tidak terlalu rapi, nanti ia bisa sesuaikan jika sudah bekerja di sini." Jawab Rio kemudian.


Ibu Diana mengangguk, lalu keluar dari ruangan tersebut setelah berbincang dengan Rio beberapa kalimat lagi.


Sebenarnya, ibu Diana masih mengharapkan agar Arini bisa masuk di perusahaan ini. Makanya, ia sengaja menjelaskan kemampuan dan kelebihan Arini pada sekretaris Rio. Namun, semua usahanya tidak membuahkan hasil.


*****


"Assalamu'alaikum...." Arini mengucapkan salam dan masuk di rumah kontrakannya yang memang tidak ditutup.


Terlihat ibu Syahra dan Arumi duduk di ruang tamu, dengan kegiatannya masing-masing. Ibu Syahra merajut syal dan Arumi yang sedang belajar, karena memang Arumi sudah masuk sekolah menengah atasnya beberapa hari yang lalu.


"Wa'alaikumussalam...." Jawab ibu Syahra dan Arumi barsamaan, sembari mendongak melihat orang yang mengucap salam.


"Kamu sudah pulang ternyata, Nak." Kata ibu Syahra melihat anaknya. Lalu menghentikan kegiatannya yang sedari tadi ia kerjakan. "Sini duduk dulu, pasti kamu capek." Lanjutnya lagi, sambil menepuk kursi di sebelahnya.


Arini menghampiri ibunya dan menyalami tangan beliau, lalu duduk di samping sang ibu. Merelakskan otot-ototnya yang terasa kaku akibat beraktivitas hari ini.


Tanpa di suruh, Arumi bergegas ke dapur dan mengambil segelas air untuk kakaknya.


"Ini kak, diminum dulu biar seger." Kata Arumi menyodokkan segelas air putih di tangannya. Arini mengambil air itu, lalu meneguknya tanpa sisa.


"Makasih ya, dek. Kamu memang adik yang paaaling pengertian." Kata Arini berterima kasih sekaligus memuji adiknya.


"Sama-sama, dan makasih juga atas pujiannya. Aku tahu kok, aku memang adik yang pengertian, cantik, imut, pintar, dan kakak harus bersyukur karena memiliki adek seperti aku." Arumi menimpali perkataan kakaknya sambil memperagakan gerak cantik, imut, pintar, sesuai perkataannya. "Bukankah begitu, Bu?" lanjut Arumi, beralih pada ibunya.


Arini memutar jengah bola matanya mendengar perkataan Arumi, sungguh tingkat kepedean adiknya ini, tidak akan ada yang bisa menandinginya.


"Cantik dari mana? Masih cantikkan aku kok!" timpal Arini.


"Iya, aku akui kakak memang cantik! Tapi... aku lebih imut. Iya, Bu." Jawab Arumi, menatap sang kakak tidak ingin kalah, lalu beralih menatap ibunya.


Ibu Syahra yang ditatap seperti itu pun, mengangguk mengiyakan.


"Tukan... ibu bilang iya." Ujar Arumi girang lalu menjulurkan lidahnya pada sang kakak. Dan Arini kembali memutar jengah bola matanya, melihat tingkah sang adik. Lalu tersenyum mengiyakan perkataan ibunya.


Biar lah iya tidak imut, yang penting tetap cantik. Tapi, yang paling penting... Arumi bahagia.


*****


Bersambung...