My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Curhatan Marvel



Pandangan Marvel jatuh pada senja yang menghiasi cakrawala, pemandangan yang sangat indah untuk dinikmati, apalagi di tepi pantai seperti ini.


Namun, sedikit pun Marvel tidak menikmati pemandangan itu. Ia hanya menatapnya dalam diam, menunggu matahari kembali kepada peraduan.


Senja kini berubah menjadi malam, seperti hati Marvel yang hilang akan cahayanya. Kini bintang menghiasi malam yang dingin, tempat Marvel berdiri sekarang.


Orang-orang yang berada di pantai itu pergi satu persatu, menyisakan Marvel yang masih setia berdiri di tempatnya.


Ia mengingat kembali momen-momen pertama bertemu dengan Arini dan Azzam, dan momen itulah ia mulai jatuh cinta pada Arini.


Momen itu sekaligus mengingatkan dia pada kejadian enam tahun lalu, kejadian naas yang menimpa Arini. Ia sungguh menyesali kejadian itu, menyesali perbuatannya, menyesali ia yang tidak bisa berbuat apa-apa. Sehingga tidak bisa menghentikan kejadian naas itu tidak terjadi. Ah... semuanya sudah terlanjur, tidak bisa di sesali lagi. Percuma! Hanya mengundang sakit hati.


Marvel meneteskan air mata, tidak dapat lagi membendung sakit hati dan penyesalannya. Ia pun berteriak sekencang mungkin, berharap rasa sakit dan penyesalan ini bisa hilang walau sedikit.


*****


Dian keluar dari rumah makan, setelah memesan makanan yang sangat ingin ia makan semenjak meninggalkan Jakarta. Makanan yang hanya bisa ia makan ketika tanggal muda saja, karena harganya yang sangat mahal untuknya dulu.


Rumah makan ini berada di dekat pantai, sehingga menjadikannya sebagai tempat rekreasi selain untuk tempat makan saja.


Dian mencari tempat duduk untuk menikmati makanannya, dan memilih tempat duduk yang cukup jauh dari jangkauan orang-orang agar suasana makannya nanti tidak terganggu. Sekalian agar ia bisa menikmati kesejukan angin malam pantai dengan tenang.


"Mmmm... enaknya, akhirnya aku bisa memakan makanan ini kembali setelah sekian lama." Gumam Dian, mulai melahap makanannya.


Dari samping tempat Dian duduk, terdengar isak tangis yang sangat menyayat hati.


Dian mengedarkan pandangannya, mencari sumber isak tangis itu, dan melihat seorang laki-laki yang sedang duduk di bawah lampu remang-remang tempat makan ini.


Dian menghentikan kegiatan makannya, lalu ia minum. Dan menghampiri laki-laki yang telah mengganggu suasana makannya.


"Permisi... bisakah Anda tidak menangis lagi? Isak tangis Anda sangat mengganggu suasana makan saya." Ujar Dian pada laki-laki itu, berharap laki-laki itu bisa berhenti dari tangisannya.


"Halloo... bisakah Anda berhenti." Dian menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah laki-laki yang sedang menunduk ini.


Dan laki-laki itu hanya menggeleng, masih dengan isak tangisnya.


"Akhhh... astaga, baru kali ini aku melihat laki-laki menangis seperti mu. Orang sakit gigi pun tidak menangis seperti ini." Dian tidak habis pikir dengan sikap laki-laki ini, kesabarannya mulai menipis.


"Apa kau sedang sakit hati? Di putus pacar?" Tanya Dian kemudian, dan mendapatkan anggukan sekaligus galengan dari laki-laki itu. Dian mengernyit, bingung dengan jawaban yang di berikan padanya.


"Sakit hati?" Tanya Dian lagi, mengulangi pertanyaannya untuk memastikan jawaban dari laki-laki ini, dan Dian kembali mendapatkan anggukan darinya.


"Di putus pacar?"


"Tidak, aku tidak di putus pacar." Kini laki-laki itu mengangkat wajahnya mendongak pada Dian.


"Eh... ka-kamu! Kamu kan orang yang aku temui di rumah Arini?" Dian menunjuk laki-laki itu yang ternyata adalah Marvel.


Marvel mengernyit, mengusap matanya, "Ah ternyata kau, perempuan yang mengira aku suaminya Arini kan?" Tanya Marvel ikut menunjuk Dian.


"Iya." Dian mengangguk, lalu duduk di samping Marvel yang terlihat sangat kacau. Bau minuman menyeruak di sekitarnya.


Marvel menghiraukan saja ucapan Dian, ia mengusap matanya, berhenti menangis, lalu kembali menunduk.


"Kau tahu, aku sedang sakit hati." Ujar Marvel tiba-tiba ingin bercerita pada Dian.


"Ya, aku tahu. Tadi 'kan aku sudah menanyakan tentang hal itu." Jawab Dian.


"Apa kau tahu---" Ucap Dian, terpotong.


"Tidak." Jawab Marvel singkat, memotong ucapan Dian.


"Hm." Dian menghembuskan napas kasar dan memilih diam saja.


"Dulu aku telah melakukan kesalahan besar...." Ucap Marvel, terdiam lama.


"Aku... membuat seorang gadis mendapatkan mimpi buruk dalam hidupnya." Dian terdiam, mulai mendengarkan dengar serius cerita dari Marvel, entahlah kenapa dia bersikap seperti itu.


"Tapi, sebenarnya aku tidak ingin melakukan hal itu. Aku... aku di jebak oleh paman ku sendiri. Ia menyuruh ku untuk memantau gerak-gerik sepupuku. Dan pada saat itulah aku memberitahu paman ku bahwa sepupuku sedang bersama seorang gadis dalam satu apartemennya."


"Dan tidak di sangka paman ku mempergunakan hal itu untuk menjebak sepupuku dan gadis itu... gadis yang tidak tahu apa-apa, harus mengalami kejadian naas itu."


"Kenapa kau menuruti paman mu? Dan kenapa paman mu melakukan hal keji seperti itu? Apakah dia tidak memikirkan nasib gadis itu nantinya? Bisa-bisa dia akan bunuh diri, atau bahkan mendapatkan cemoohan dari orang-orang. Apa paman mu tidak memikirkannya?" Tanya Dian beruntun, ia termakan emosi oleh cerita Marvel karena kasihan pada gadis yang tidak tahu apa-apa itu.


"Karena dialah orang yang telah membesarkan ku selama ini, orang tua ku telah meninggal dalam kecelakaan mobil waktu aku masih kecil. Makanya aku selalu menuruti perintahnya, tapi aku tidak tahu jika hal itu akan membawa dampak buruk untuk orang lain." Jawab Marvel dengan nada bicara sedih, membuat Dian terenyuh mendengarkan.


"Dia melakukan semua itu karena ingin menjadikan ku sebagai ahli waris dari keluarga ku yang sangat kaya raya, dan dengan itu dia juga akan mendapatkan keuntungan. Tapi, aku tidak pernah terpikirkan untuk menjadi ahli waris di keluarga itu, sedikit pun tidak pernah terpikirkan.


"Lalu apakah paman ku memikirkan nasib gadis itu? Jawabannya tentu saja tidak, kalau dia memikirkannya tentu saja dia tidak akan menjalankan rencana kejinya itu." Marvel menjawab satu persatu pertanyaan dari Dian, lalu ia pun terdiam.


"Lalu, sekarang apa yang terjadi?" Tanya Dian ingin tahu, karena Marvel belum melanjutkan ceritanya lagi.


"Sekarang aku menjadi kambing hitam, yang menanggung semua rencana busuk dari paman ku." Ujar Marvel melanjutkan ceritanya.


"Pasti kau bertanya bagaimana caranya ‘kan?" Tanya Marvel dan Dian mengangguk.


"Dia menyuruh pelayan yang mengantarkan makanan di apartemen sepupuku untuk mengakui bahwa yang telah menjebaknya adalah aku, yaitu dengan mencampurkan obat perangsang pada makannya."


"Lalu sepupu mu percaya begitu saja?!" Tebak Dian.


"Ya, dia percaya dengan semua yang di ucapkan oleh pelayan itu. Dan karena ayahnya juga yang telah memberikan hak ahli waris kepada ku, jika anaknya bermain dengan perempuan. Semua bukti mengarah padanya, aku tidak bisa berbuat apa-apa."


"Kalau aku berusaha menjelaskan yang sebenarnya, bagaimana dengan paman ku? Sekarang saja aku tidak tahu dia sedang berada di mana?"


Dian terdiam mencerna semua cerita Marvel, rasanya ia pernah mendengar cerita yang serupa seperti ini. Tapi, siapa yang pernah menceritakan kepadanya.


*****


Bersambung...