My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Respons Keluarga



Ibunya terdiam, air matanya luruh begitu saja dan cepat-cepat menghapusnya. Ia mencoba untuk menyangkal semua perkataan yang keluar dari mulut Arini, dengan memalingkan pandangannya dari sang anak.


Tapi apa yang terjadi. Ia malah mendekati Arini dan memeluknya bersama Arumi, tak kala melihat tes kehamilan yang tercecer di lantai.


Ya. Ia cukup tahu tentang alat tes kehamilan tersebut, walaupun ia berasal dari kampung.


"A... apa kamu hamil, Nak?" tanya ibu Syahra dengan suara bergetar, ia ikut merasakan apa yang di rasakan sang anak.


Arini mengangguk pelan, dengan punggung yang bergetar hebat akibat masih menangis.


"Siapa ayahnya? Kita harus meminta pertanggung jawaban darinya." Lirih ibu Syahra melihat anggukan dari anaknya.


Arini terdiam, lalu menatap ibunya dan menggeleng pelan.


"Apa kamu tidak tahu siapa ayah dari anak mu, Nak?" Ibu Syahra bertanya khawatir.


"Ti... tidak, Bu. Aku tahu ayah dari anak ini. Ta... tapi, dia tidak ingin bertanggung jawab." Jawab Arini terbata-bata, dan masih sesenggukan.


"Kenapa begitu?" tanya Ibu Syahra, dengan nada suara berusaha setenang mungkin. Ia tidak mau menambah beban Arini, akibat dirinya yang terlihat lemah dan khawatir.


Tapi sungguh di dalam lubuk hatinya, ia sangat khawatir. Bukan khawatir namanya akan jelek di pandangan masyarakat, karena anaknya hamil di luar nikah. Tapi, ia khawatir akan Arini dan calon cucunya, yang akan mendapatkan cibiran dari masyarakat dan mengatakan calon cucunya adalah anak haram.


Arini pun menjawab pertanyaan dari ibunya dan menceritakan semua kejadian itu. Mulai dari Bian yang menjadikan pembantu satu hari, sampai ia keluar dari apartemen Bian dalam keadaan menangis.


Ibu Syahra yang mendengarkan cerita dari anaknya sungguh merasa sangat bersalah, karena dirinyalah anaknya seperti ini. Ia tambah mengeratkan pelukannya pada sang anak.


"Maafkan ibu, nak. Karena ibu kamu seperti ini, ibu sungguh menyesal karena telah menyebabkan kamu menerima semua cobaan ini." Ibu Syahra berkata pelan pada anaknya, ia menangis bersama kedua anaknya. Ia tidak bisa lagi menahan air matanya yang berusaha ia sembunyikan dari tadi.


"Tidak, Bu. Ibu tidak boleh meminta maaf pada Arin. I... ini bukan salah ibu, ini kecelakaan." Lirih Arini.


Setelah Arini berkata demikian, tidak ada lagi yang berkata. Hanya terdengar suara tangisan dari ketiganya.


"A... apa ibu akan membenci Arin? A... apa Arin masih layak jadi anak ibu?" tiba-tiba Arini berkata kembali, mengeluarkan semua ketakutannya selama ini.


"Apa yang kamu katakan, Nak? Ibu tidak akan pernah bisa membencimu. Dan tentu saja kamu akan tetap menjadi anak ibu selama-lamanya." Ibu Syahra berkata dengan nada sedih, ia tak menyangka, anaknya bisa berpikir seperti itu. "Apa pun yang terjadi, Arin tetaplah anak ibu!" lirihnya lagi dengan nada tegas, namun tersirat kesedihan di sana.


"A... apa ibu menerima anak ini?" Arini kembali bertanya.


Ibu Syahra melepaskan pelukan pada anaknya dan memegang wajah Arini dengan kedua tangannya.


"Tentu saja ibu menerima anak ini, bagaimana pun, dia adalah cucu ibu. Dan kita tidak bisa memukiri bahwa anak ini adalah titipan Yang Maha Kuasa, yang sudah semestinya dirawat dan dikasihi." Ibu Syahra berkata dan memandang manik mata Arini, berusaha memberikan kekuatan pada sang anak.


Arini mengangguk, dengan air mata tambah mengalir deras, mendengar penuturan dari ibunya.


"Iya kak, apa yang ibu katakan itu benar. Dan kita akan menjaga anak ini dengan sepenuh hati dan menyayanginya sehingga dia tidak akan merasa kekurangan kasih sayang." Lanjut Arumi membenarkan perkataan ibunya. Walaupun ia sendiri masih belum dikatakan dewasa, tapi ia sangat mengerti apa yang sedang menimpa kakaknya saat ini.


Arini semakin menangis sesenggukan di dalam pelukan erat dari ibu dan adiknya. Ia sungguh terharu akan dukungan dan respons baik dari kedua orang yang ia sayangi.


"Makasih, Bu. Makasih, Dek. Aku sangat menyayangi kalian." Kata Arini mengeluarkan ucapan yang ada di dalam hatinya.


"Aku sama ibu juga sangat menyayangi kakak." Jawab Arumi. Ibunya pun mengangguk setuju.


Lama mereka saling berpelukan, hingga satu suara pun menghentikan kegiatan peluk memeluk itu.


"Dedeknya juga perlu istirahat." Arumi kembali berbicara. "Iya kan, Dek?" lanjutnya lagi mengajak bicara pada janin dalam perut Arini, seakan janin itu bisa mendengarkan apa yang ia katakan.


Ibu Syahra dan Arini saling pandang, lalu tersenyum canggung melihat tingkah Arumi. Akhirnya mereka dapat tersenyum lagi, setelah tangisan yang sudah memakan cukup banyak waktu.


*****


Semenjak mengetahui kehamilan Arini, ibu dan adiknya sangat perhatian kepada Arini. Apa lagi Arini masih mengalami morning sickness untuk kehamilan pertamanya ini.


Setiap apa yang di lakukan Arini, selalu saja dilarang oleh Arumi. Arumi tidak akan menyuruh kakaknya untuk bekerja yang berat-berat, bahkan pekerjaan yang menurut Arini ringan sekali pun.


Arumi hanya menyuruh sang kakak untuk duduk cantik dan melihat ia sedang bekerja saja. Jika ada yang Arumi tidak tahu, maka ia akan bertanya pada Arini dan Arini pun memberikan instruksi pada sang adik.


Seperti pada sore ini, Arumi sedang membuat kue untuk mereka jual dan di antar kan di warung bibi Juwita besok pagi.


"Kak gorengnya dengan api kecil atau sedang saja?" tanya Arumi pada sang kakak, karena ia sedang mencoba membuat kue yang belum pernah ia buat sebelumnya.


"Apinya sedang saja." Arini menjawab pertanyaan adiknya dan terus memperhatikan gerak-gerik Arumi.


"Iya." Jawab Arumi singkat sembari mengangguk, lalu mulai mempraktikkan apa yang baru saja kakaknya katakan.


"Apinya kecilin lagi Rum, jangan terlalu besar seperti itu." Ujar Arini, ketika melihat api yang dinyalakan oleh Arumi terlalu besar.


"Oh, terlalu besar ya kak?" tanya Arumi memastikan, Arini pun mengangguk tanda mengiyakan pertanyaan dari Arumi. "Kalau kaya gini?" tanyanya lagi, sesudah ia mengecil apinya seperti saran dari sang kakak.


"Iya, itu sudah cukup." Arini menjawab pertanyaan Arumi dan kembali mengangguk.


"Oke, deh." Arumi menimpali perkataan kakaknya, lalu fokus pada wajan untuk mulai menggoreng kue yang sudah ia siapkan.


Di antara Arini maupun Arumi, tidak ada lagi yang mengeluarkan suara. Mereka fokus pada kegiatan masing-masing. Arini yang fokus memperhatikan cara Arumi menggoreng kue, sedangkan Arumi fokus akan wajan penggorengan kuenya. Sehingga hanya bunyi wajan yang beradu dengan spatula penggoreng saja yang menemani kesunyian mereka.


Dari arah pintu dapur, muncul ibu Syahra dengan suara yang lembut dan meneduhkannya.


"Wah... wanginya enak sekali." Puji ibu Syahra akan kue buatan Arumi.


Arumi tampak sedang tekun di depan wajan, sejenak melempar senyum pada sang ibu, lalu kembali menghadap wajannya.


"Iya dong, Bu. Arumi kan pintar masak." Arini yang menimpali pujian dari sang ibu untuk adiknya.


*****


Terima kasih untuk para Reader, yang telah bersedia memberikan waktunya untuk membaca karya baru Author.


Jangan lupa dukung Author dengan memberi vote, like, and comment, agar makin semangat dalam menulis karya ini. Makasih sekali lagi.


I Love You All...


*****


Bersambung...