
Hari-hari menyenangkan berjalan begitu cepat, kini Bian sudah kembali pada rutinitasnya seperti biasa. Ia kembali ke kantor, masa liburnya telah habis.
Bian sedang sibuk dengan berkas-berkas yang menggunung di mejanya kerjanya, ia begitu fokus mengerjakannya, membuka lembar per lembar, sesekali melirik layar komputernya untuk mencocokkan data-data yang ada dalam berkas tersebut dengan data yang ada dalam komputernya.
Pintu ruang kerja Bian diketuk oleh seseorang dari luar, tanpa mengalihkan pandangannya Bian menyuruh orang itu untuk masuk.
Orang itu masuk, dan tampaklah Rio sang sekretaris dengan membawa beberapa berkas lagi yang harus Bian kerjakan dan tanda tangani, padahal belum dua puluh menit yang lalu Rio membawakan berkas yang menggunung di meja kerjanya ini.
Bian mendongak, melihat kedatangan sekretarisnya, lalu menghela napas saat sekretarisnya ini membawakan pekerjaan baru untuknya.
"Maaf mengganggu waktu anda, Tuan. Saya mengantarkan beberapa berkas lagi yang harus anda periksa dan tanda tangani." Rio meletakkan beberapa berkas itu pada meja kerja Bian sehingga membuat berkas-berkas yang ada di meja kerja atasannya ini semakin menggunung saja.
"Ya. Tidak kau katakan juga, aku sudah tahu itu pekerjaan lagi buatku. Huft...." Bian menghela napas, masih fokus pada pekerjaannya.
"Satu lagi, Tuan. Saya ingin menyampaikan pesan dari Tuan Dean bahwa anda harus ke mansion utama setelah pulang kerja ini bersama Nona Arini dan anak anda." Rio menyampaikan pesan dari papanya Bian, Tuan Dean Pratama.
Bian mendongak, "Kenapa dia tidak langsung mengatakannya pada ku?" tanyanya mengernyit.
"Maaf, Tuan. Tuan Dean mengatakan pada saya karena ponsel anda tidak aktif." Ujar Rio membuat Bian langsung mengecek ponselnya, dan benar saja ponselnya tidak aktif karena tadi ia sengaja mematikannya agar pekerjaannya tidak terganggu. Bian sampai lupa telah mematikan ponselnya, karena pekerjaan ini.
"Ya, kami akan datang. Terima kasih sudah menyampaikannya." Jawab Bian mengangguk, lalu kembali fokus pada pekerjaannya. Pikirannya sedikit terganggu dengan penyampaian Rio barusan, apalagi yang mengatakannya adalah papanya. Bian sedikit bisa menebak maksud dari papanya menyuruh mereka pergi ke mansion utama.
Rio ikut mengangguk, sekalian untuk mengundurkan diri dari ruangan atasannya ini. "Kalau begitu saya permisi, Tuan." Ujar Rio dan di jawab dengan deheman oleh Bian.
*****
Bian tiba di mansion utama pukul tiga sore bersama keluarga kecilnya, Arini dan sang anak. Kedatangannya langsung disambut oleh mama Mira dan Alysha dengan semangat.
Bian, Arini, dan Azzam turun dari mobil menampakkan kaki mereka. Belum sempurna kaki Azzam turun dari mobil, ia langsung diperebutkan oleh oma dan aunty Alysha.
"Eh... biar mama aja yang gendong cucu mama." Mama Mira memukul tangan anak perempuannya karena sudah merentangkan tangannya terlebih dahulu bersiap menggendong cucunya.
"Nggak usah mah, biar Alysha aja. Nanti punggung mama sakit lagi, terus Azzam dijatuhin." Ujar Alysha yang sudah terlanjur menggendong Azzam.
"Eh, maksud kamu apa?! Gini-gini mama masih kuat." Mama Mira berkilah, padahal kemarin-kemarin ia mengeluh punggungnya sakit.
"Ya... ya..., nanti Alysha tanya sama papa siapa yang kemarin-kemarin ngeluh punggungnya sakit terus minta di pijitin." Ucap Alysha berlalu membawa keponakan kesayangannya, Azzam dalam gendongan Aunty nya hanya melambaikan tangan dengan senyuman meninggalkan mama, papa, dan omanya.
"Cucu ku... tunggu oma." Mama Mira berjalan menyusul Alysha.
Hmhmhm... Bian menggeleng-nggelengkan kepalanya melihat tingkah mama dan adiknya, begitu juga dengan Arini hanya bisa menggeleng-nggelengkan kepalanya juga melihat tingkah ibu mertua dan adik iparnya.
"Heheh... kalian berdua silakan masuk ya..., pintu rumah terbuka lebar untuk kalian. Mama mau nyusul cucu mama dulu, bye...." Mama Mira cengengesan, lalu kembali berbalik badan mengejar cucunya yang dibawa pergi oleh Alysha.
Arini dan Bian saling memandang sesaat, kembali sama-sama menggeleng kepalanya, rupanya anak dan menantu tidak ada lagi artinya jika sudah hadir sang superstar di mata mama Mira, cucunya Azzam yang paling ganteng, imut, dan menggemaskan.
"Owh... beginilah jika sang superstar mengambil alih semua perhatian orang." Bian memutar mobil berjalan mendekati istrinya, Arini membalas ucapan suaminya dengan kekehan, lalu mengangguk setuju.
Bian menarik pinggang istrinya, memeluknya posesif, lalu berjalan bersama memasuki pintu utama mansion. Arini mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya mendongak bingung, namun tidak berkomentar, ia mengikutinya saja keinginan suaminya.
Tebakan Bian tidak pernah salah, kini ia melihat orang yang selama ini ia cari keberadaannya, bahkan sempat menghadiri pernikahan mereka berjalan keluar dari ruangan kerja bersama papanya.
Pandangan mereka saling bertemu, Bian menatap dingin orang itu, dan di balas dengan tatapan hangat penuh penyesalan. Bian semakin mengeratkan pelukannya pada Arini, membuat jarak antara kedua tak tersisa. Kini Arini mengernyit dengan sikap suaminya, lalu ia pun mengikuti arah padang Bian yang begitu tajam mengarah ke sana.
"Tuan Marvel." Gumam Arini lalu memberikan senyum sapaan pada orang itu.
Marvel membalas senyuman Arini walau pun tidak mendengar namanya dipanggil, dan kali ini Bian yang mengernyit melihat senyuman Marvel. Ia melihat arah senyuman Marvel yang tertuju pada istrinya. Bian menggempalkan tangan, lalu menunduk sedikit, langsung mencium bibir Arini sekilas. Membuat Arini melebarkan mata, tidak terima dicium di depan Marvel dan papa mertuanya.
"Mas.... " Gumam Arini geram, memukul pelan lengan suaminya.
"Apa sayang?" Tanya Bian pura tidak tahu, dan malah kembali mendekati wajah mereka, membuat Arini refleks menjauhkan wajahnya.
"Hmp." Arini mendorong wajah suaminya pelan, agar menjauh.
Semua perilaku mereka berdua tentu saja dilihat oleh Tuan Dean dan Marvel, Marvel cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain, sedangkan Tuan Dean menggelengkan kepala.
"Kalian berdua masuklah, dan duduk di sini." Tuan Dean mengeluarkan suara dan berjalan menghampiri sofa ruang tamu. Arini, Bian, dan Marvel, juga ikut menuju sofa.
Mereka berempat duduk di sofa itu, dan hanya Bian dan Arini yang duduk satu sofa. Bian begitu tidak mau berjauhan dengan istrinya apalagi ada pria ini yang bernama Marvel sepupunya. Ia bahkan duduk dengan masih pinggang istrinya, seolah-olah Arini akan diambil oleh orang saja, jadi Bian pun mengantisipasinya.
"Hm.... " Tuan Dean berdehem pelan, memperbaiki posisi duduknya agar terasa nyaman untuk berbicara.
"Papa tahu! Kau pasti sudah mengetahui maksud tujuan papa memanggil kalian berdua ke sini, dan tentunya kau juga Marvel setelah sekian lama menghilang." Tuan Dean berkata santai juga dengan raut wajahnya yang tenang, tapi tidak dengan Arini yang wajahnya bingung serta merasa pembicaraan ini terlihat serius.
Dan kebingungannya semakin besar saja, tak kalah papa mertuanya ini mengatakan hal tersebut. Apa maksud dan tujuan papa mertuanya ini memanggil mereka ke sini? Ada Marvel pula yang tadi Arini kira teman kerja papa mertua dan suaminya. Tapi perkiraan itu tentu saja salah, karena pembicaraan ini seperti pembicaraan antara keluarga.
Bian dan Marvel menganggung serentak, tentu saja, karena Bian sudah berhasil mendapatkan semua informasi mengenai Marvel dan keterlibatannya pada kejadian itu.
*****
Bersambung...