My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Jawaban Arini



Setelah menyimpan minuman dan camilan di atas meja, Arini pun duduk di samping ibunya, duduk saling berhadapan dengan tempat duduk Bian.


Perasaannya kini campur aduk antara kaget, bingung, gelisah, terus menghantui Arini sekarang. Ia tahu maksud kedatangan Bian dan keluarganya, apalagi melihat bungkusan barang-barang yang di pegang oleh pelayan dan bawahan Bian di depan pintu rumahnya. Itu menambah menguatkan dugaan Arini.


"Mungkin, kedatangan kami sedikit membuat kalian terkejut. Maka dari itu saya selaku orang tuannya Bian meminta maaf terlebih dahulu, dan meminta maaf atas semua perlakuan anak saya di masa lalu, serta saya dan istri saya juga yang tidak mendidik Bian dengan Baik." Ucap Tuan Dean memulai pembicaraan mereka.


Mendengar itu membuat Arini *******-***** kedua tangannya, menunggu kelanjutan kalimat dari Tuan Dean orang tuanya Bian. Semua pertanyaan yang berputar-putar di benaknya sejak tadi, kini terjawab satu persatu.


Namun, dengan terjawab semua pertanyaan itu lantas tidak membuat Arini merasa lega, malahan ia semakin bingung dan gelisah.


Pasalnya ia tidak menyangka akan seperti ini, tidak menyangka Bian akan melamarnya, dan tidak tahu kenapa Bian tiba-tiba datang melamarnya tanpa memberitahunya terlebih dahulu.


Apakah karena orang tuanya yang sudah mengetahui identitas Azzam dan menyuruh Bian untuk bertanggung jawab? Atau itu keinginan Bian sendiri? Tapi, tidak mungkin itu keinginan Bian! Karena mengingat dulu Bian sangat tidak menginginkan anak itu. Dan membuat dirinya membesarkan sendiri Azzam sampai sebesar ini.


"Saya rasa, kalian pasti sudah mengetahui maksud kedatangan kami." Tuan Dean menari napasnya sebentar, dilihatnya ibu Arini yang mendengarkan dengan seksama dan Arini yang mendengarkan dengan perasaan yang tidak menentu, dilihat dari mimik wajahnya. "Ya, kami datang untuk melamar Arini menjadi istrinya Bian, sekaligus menjadi menantu kami." Ucap Tuan Dean kemudian.


Membuat tubuh Arini sedikit tersentak karena terkejut, walaupun ia sudah menduga maksud kedatangan Bian sebelumnya. Tapi, tetap saja ia masih terkejut mendengar hal tersebut secara langsung di ucapkan oleh Tuan Dean. Ibu Syahra diam mendengarkan dengan tenang perkataan Tuan Dean, lalu ia pun menoleh kepada anaknya Arini.


Terdengar helaan napas dari Bian, sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu.


"Sa-ya, i-ibu... sa-saya ingin meminta maaf terhadap ibu, dan terutama terhadap Arini atas semua perlakuan buruk saya di masa lalu." Ucap Bian menunduk dalam, tidak berani menatap mata ibu Syahra apalagi Arini. "Sa-saya tahu, mungkin semua perlakuan buruk saya di masa lalu tidak bisa untuk di maafkan." Bian semakin menunduk dalam, mengakui semua perbuatan buruknya terhadap Arini dan tentunya juga terhadap keluarganya serta anaknya sendiri 'Azzam'.


"Saya... saya, benar-benar minta maaf. Saya menyesal telah melakukan semua itu, Bu." Ucap Bian dengan nada seraknya.


Tuan Dean, mama Mira, Alysha, Rio, dan semua yang berada di ruang tamu itu termasuk Arini, tidak menyangka seorang Bian bisa mengucapkan kata maaf berulang kali seperti ini. Karena mereka tahu bahwa Bian merupakan orang anti akan ucapan seperti itu karena notabenenya dia bersifat arogan.


Mama Mira terharu akan ucapan anaknya, sampai ia pun menitikkan air mata. Ternyata Arini bisa membuat anaknya bisa merubah sikapnya seperti ini, membuat mama Mira semakin semangat menjadikan Arini sebagai menantunya di samping keberadaan sang cucu.


Arini melihat keseriusan dalam ucapan Bian, membuat pertanyaan baru muncul di benaknya. Apakah Bian ingin menikahinya karena rasa bersalahnya itu?


"Apakah... apakah ibu dan Arini mau memaafkan saya, dan apakah saya masih memiliki kesempatan?" Tanya Bian, memberanikan diri mengangkat kepalanya menata Arini dan ibu Syahra bergantian.


Ibu Syahra memegang tangan anaknya Arini sembari berkata, "Kamu jangan meminta maaf kepada kami, Nak. Tapi, minta maaflah kepada Allah atas semua perbuatan buruk mu di masa lalu. Dan semoga di masa yang akan datang kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama. Jadikan kesalahan mu kali ini sebagai pembelajaran mu untuk masa depan." Ucap ibu Syahra memandang Bian, dan masih memegang tangan anaknya Arini.


"Masalah memaafkan... insya Allah ibu dan Arini sudah memaafkan mu, Nak. Bahkan sebelum kamu meminta maaf." Ibu Syahra kembali berkata dan mendapatkan anggukan pelan dari Bian.


"Lamaran ini ibu serahkan pada Arini, karena Arini yang berhak menentukan masa depannya dan dia juga yang akan menjalaninya nanti." Arini terdiam, mendengar ucapan ibunya.


Ia sungguh bingung, keputusan apa yang harus di ambilnya. Dan apa landasan untuk ia harus menerima lamaran ini? Berlandaskan cinta? Ah... ia sama sekali tidak memiliki rasa itu pada Bian. Lalu apa landasan untuk ia harus menerima lamaran ini.


Arini terus berpikir di tengah rasa gelisahnya, dan tiba-tiba ia pun teringat akan ucapan ibunya tadi malam.


"Sekarang Azzam sudah semakin besar, sebentar lagi ia sudah bisa mengetahui perkataan yang baik dan yang buruk, mengetahui hinaan atau pujian, dan mengetahui semua kebenaran ini. Ibu tahu kamu belum mengerti maksud ibu, tapi suatu saat nanti kamu akan mengerti dengan sendirinya, Nak. Ibu yakin kamu tahu yang terbaik untuk dirimu dan juga untuk Azzam."


"Hmmm... mungkin ini lah maksud perkataan ibu tadi malam, Azzam membutuhkan sosok seorang ayah! Be-berati aku harus menerima lamaran ini?" Batin Arini bertanya-tanya.


Semua orang diam, menunggu jawaban dari Arini. Ruang tamu itu mendadak sunyi saja, walaupun ada banyak orang di dalamnya.


Bian sendiri menunggu jawaban Arini dengan perasaan yang tidak karuan lagi, bahkan napasnya sampai tertahan hanya untuk mendengarkan jawaban dari Arini.


Tak kalah jauh dengan Bian, semua orang yang ada di ruang itu juga penasaran dan menunggu jawaban dari Arini dengan perasaan yang deg-deg kan.


"Huft...." Arini menarik napasnya, membuat dirinya berusaha rilex, lalu ia pun memandang satu persatu orang-orang yang ada di ruang tamu itu dan pandangannya berhenti tepat pada sosok Bian yang juga tidak mengalihkan pandangannya sejak tadi pada dirinya.


"Apa kau benar-benar menyesali semua perbuatan mu dan tidak akan mengulanginya lagi?" Tanya Arini sebelum menjawab pertanyaan dari Bian.


Bian mengangguk, seraya berkata, "Iya, aku sungguh menyesali semua perbuatan ku di masa lalu dan tidak akan pernah mengulanginya." Ucap Bian dengan bersungguh-sungguh.


Arini yang melihat kesungguhan dalam perkataan Bian, ia pun mengangguk pelan mengiyakan.


"A-aku... a-aku menerima lamaran mu." Ucap Arini, lalu ia pun menunduk setelah mengatakan itu.


Ibu Syahra dan lainnya tersenyum mendengar itu, apa lagi Bian. Sekarang ia bisa bernapas dengan lega tanpa ada rasa khawatir lagi. Raut wajahnya kini berubah cerah seketika, dan rasa gemetarnya pun hilang dengan sendirinya.


*****


Bersambung...