
"Tunggu sebentar... tunggu sebentar." Teriak Arumi membuka pintunya.
Ketika pintu itu terbuka, mata Arumi melebar melihat siapa yang ada di depannya ini. "Bukankah dia laki-laki yang aku temui di perusahaan waktu itu, dan... ayah biologis Azzam! Orang yang telah membuat kakak menderita, memberikan cacian dan makian itu!" Gumam Arumi dalam hati, merapatkan giginya menahan marah. Menatap tajam sosok Bian dengan kilauan amarah terpancar di matanya.
Bian yang melihat ke tidak sukaan Arumi dan menunjukkan secara terang-terangan kemarahan di wajahnya, tidak membuat ia gentar sedikit pun untuk berbalik badan. Ia sudah bertekad ingin melihat keadaan Arini, dan juga Azzam.
"Mau apa dia ke sini? Dan bagaimana bisa dia mengetahui alamat rumah ini?" Arumi bertanya-tanya di dalam hatinya, belum mempersilahkan Bian untuk masuk.
""Ommm...." Azzam berlari menghampiri orang itu, yang sudah terlebih dahulu ia ketahui. Bahkan menunggu kedatangannya.
Flashback on
"Apa... kenapa dia bisa seperti itu! Apa kalian tidak menjaganya?" Bian membentak para bawahannya, yang baru saja datang memberikan kabar tentang Arini.
Bian baru saja memejamkan matanya, ingin meredakan emosinya terhadap Rio sang sekretaris yang menjadi pelampiasan dari ke tidak berdayanya dalam pikiran-pikiran menyebalkan itu.
Namun, bukan emosi yang mereda sekarang... malah emosi itu semakin menjadi-jadi. Meniupkan api kemarahan dalam diri Bian.
Ia tidak terima Arini maupun Azzam lecet sedikit pun, apalagi sampai keseleo.
"Ti-tidak, Tuan. Kami menjaga nona Arini, namun dari jarak jauh saja. Seperti perintah Anda menjaganya dalam senyap-senyap saja tanpa di ketahui." Ujar salah satu bawahan, menunduk takut melihat aura kemarahan dari Bian. Ia membela diri dan satu rekannya.
"Lalu... kenapa dia bisa seperti itu, bukankah aku juga bilang kalau ada orang yang mengganggu mereka kalian harus bertindak." Bian menatap satu persatu bawahannya dengan tatapan membunuh penuh intimidasi.
"Ma-maaf, Tuan. Tu-tuan Rangga sepertinya tidak bermaksud untuk melukai Nona Arini." Bawahan lainnya menjelaskan dengan suara gemetar ketakutan.
"Apa maksud mu menyebutkan nama si brensek itu." Ujar Bian semakin geram, mendengar nama Rangga.
"Tu-tuan Rangga tidak sengaja, Tuan. Ia berlari tidak melihat jalan karena sedang---." Bawahan itu berusaha menjelaskan, namun kata-katanya terpotong oleh pertanyaan Bian yang terkesan membentak.
"Lalu dimana mereka sekarang?!" Bian membentak bertanya tidak sabaran, memotong penjelasan bawahannya.
"Me-mereka dalam satu mobil, Tuan. Me-menuju rumah Nona Arini." Kedua bawahan itu, menjawab serentak. Kegugupan serta ketakutan menyelimuti keduanya.
Usai mendengarkan itu Bian berlari keluar dari ruangan tempat peristirahatannya yang sudah seperti kamar hotel itu, ia meneriaki Rio untuk menyiapkan mobil segera agar langsung menuju rumah Arini.
Mendengar nama Rangga membuat ia memiliki firasat buruk, ia sangat tahu kepribadian anak itu. Maka dari itu, iya harus segera menuju rumah Arini dan melihat keadaannya.
Dan jika terjadi sesuatu pada Arini yang lebih buruk lagi, Rangga akan menerima akibatnya berkali-kali lipat lebih parah dari yang Arini dapatkan.
Rio yang di teriaki seperti itu, tidak perlu di teriaki dua kali, ia sudah menelpon penjaga parkiran menyuruhnya menyiapkan mobil. Agar nanti ketika mereka sampai di lobby bisa langsung memakai mobil itu.
"Cepat Rio." Bian memanggil Rio yang masih menyuruh penjaga parkiran menyiapkan mobil mereka. Rio mengangguk memutuskan telepon. Ia berlari menghampiri Bian dan keduanya langsung menuju lift menuju lobby.
Sampai di lobby Bian langsung masuk mobil duduk di samping kursi kemudi, Rio pun masuk ke dalam mobil itu duduk di kursi kemudi. Dan langsung menancap gas menuju rumah Arini.
Di tegah suara mobil yang meraung-raung melaju dengan kencang karena jalanan yang di pilih oleh Rio adalah jalanan yang sepi dari kendaraan lainnya. Ponsel Bian berbunyi. Tanpa melihat siapa yang menelepon, Bian langsung mengangkatnya.
"Hallo... ada apa?" tanya Bian to the poin.
"Om... mama...." Suara Azzam di seberang telepon, tersendat.
"Iya, om." Ucap Azzam patuh, menutup teleponnya.
Kenapa Azzam bisa menelpon Bian? Karena Bian sudah memberikan sebuah jam yang sangat canggih untuk anaknya itu yang tentunya limited edition. Jam itu selalu di pakai oleh Azzam, Arini maupun Arumi dan ibu Syahra tidak menyadari bahwa Azzam sedang memakai jam super canggih itu.
Sebelum Azzam tidur, sebelum pulang sekolah, setelah berangkat sekolah atau kapan pun Azzam memiliki waktu luang tanpa pengawasan Arini dan keluarganya. Azzam selalu bertelepon dengan Bian, mengobrol lama dengannya, menceritakan banyak hal yang sudah ia lalui.
Bian memberikan jam itu pada Azzam agar ia bisa mengawasi sendiri anaknya karena jam itu sudah di lengkapi dengan fitur-fitur pelacak tempat dan lainnya. Dan juga agar Azzam bisa meneleponnya seperti tadi.
"Lebih cepat Rio." Ujar Bian setelah telepon dari Azzam tertutup.
Flashback off
Arumi menoleh, melihat Azzam berlari ke arahnya. Eh... bukan ke arahnya tetapi ke arah Bian. Azzam melewati tubuhnya dan langsung menyambut rentangan tangan Bian.
Bian menurunkan badanya, merentangkan kedua tangan menyambut Azzam untuk ia peluk. Arumi terpelongo melihat itu, "Apakah mereka sudah saling kenal?" batinnya. Mengangkat satu alis.
"Om, mama... hiks." Azzam ingin menjelaskan keadaan Arini, namun isak tangisnya mulai terdengar.
"Jangan menangis boy, sekarang om sudah ada di sini dan mama akan baik-baik saja." Bian menenangkan Azzam, mengusap Air matanya yang mengalir.
"Tenang ya...." Bian masih menenangkan Azzam, mengusap punggung kecilnya yang bergetar. "Anak laki-laki harus kuat walau dalam keadaan apapun, yakin semuanya akan baik-baik saja." Ujar Bian mendapatkan anggukan dari Azzam.
Azzam melepas pelukannya, mengusap sisa-sisa air matanya dengan kedua tangan. Lantas menarik Bian untuk masuk ke rumah dan melihat keadaan mamanya sekarang. Meninggalkan Arumi yang masih terpelongo di depan pintu.
"Huuh... santai sekali caranya memasuki rumah orang, tidak menegur sapa pemilik rumah yang sudah berbaik hati membukakannya pintu." Ucap Arumi melihat kepergian Azzam dan Bian menuju ruang tamu.
Ia tidak bisa menahan Bian untuk tidak masuk ke rumah mereka, karena Azzam sendiri yang sudah mengajak masuk pria itu.
"Mama." Panggil Azzam pada Arini, tangannya setia memegang tangan besar nan kekar Bian.
Mendengar suara Azzam semua yang duduk di sofa itu menoleh kepadanya, termasuk Rangga ia juga membalikkan badannya.
Matanya mengernyit, memastikan Bian lah sosok di samping anaknya Arini. Rangga mengucek matanya, ia tidak salah lihat itu adalah Bian, "Kenapa Bian bisa berada di sini." gumamnya dalam hati, bertanya.
Melihat semua orang melihat ke arah mereka berdua, Bian memberikan senyumannya. Pertama kepada ibu Syahra yang di balas juga dengan senyuman, lalu kepada Arini yang di balas dengan ngeryita dahinya, dan terakhir memberikan tatapan tajam tidak suka pada sosok Rangga yang duduk di sofa.
Bian berinisiatif, ia memberi salam dan langsung di Jawab oleh ketiga orang yang berada di sofa itu. Lalu menyalami tangan ibu Syahra yang ia tahu itu adalah ibunya Arini.
Ibu Syahra memandang bertanya-tanya pada sosok Bian, dan matanya lebih fokus menatap wajahnya yang sangat mirip dengan wajah cucunya Azzam.
"Nama saya Bian, Bu." Bian memberitahukan namanya, membungkuk sedikit. Menyadari tatapan bingung dari Ibu Syahra yang menatapnya sejak tadi.
Arini menatap tidak suka pada Bian, apalagi mendengar Bian menyebutkan ibunya dengan sebutan ibu juga, "Sok akrab sekali dia." batinnya, memalingkan wajahnya.
*****
Bersambung...