My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Pergi Melamar Arini



Pagi yang sibuk di kediaman Pratama, terutama mama Mira yang menjadi pengatur acara lamaran dadakan itu. Apa yang dikatakannya kemarin malam tidak bisa dibantah lagi, apalagi oleh Bian.


Tuan Dean tidak banyak berpendapat mengenai semua yang di lakukan istrinya, ia hanya mengikuti saja. Karena ia juga sudah sangat setuju untuk melamar Arini secepat mungkin, dan tidak menunda-nunda lagi seperti yang diinginkan oleh Bian.


"Cepat, taruh semua barang-barang itu di dalam mobil sana." Perintah mama Mira pada para pelayannya untuk menaruh barang-barang seserahan mereka ke atas mobil.


Mama Mira berjalan mondar-mandir, mengatur sini sana, tidak mau ada sedikit pun kesalahan dan kekurangan untuk melamar Arini.


"Semuanya sudah siap, tidak ada lagi yang kurang. Sekarang ayo kita berangkat!" Ujar mama Mira, merasa semua persiapan lamaran mereka sudah lengkap.


Tuan Dean mendekati istrinya, "Kalau begitu ayo kita berangkat." Ujarnya berjalan mendekati mobil bersama mama Mira.


"Tunggu!" Alysha menghentikan kedua orang tuannya yang hendak membuka pintu mobil.


Tuan Dean dan mama Mira menoleh ke sumber suara, melihat anak perempuannya berdiri di samping salah satu mobil yang akan di naiki nya.


"Kenapa Alysha? Apa ada yang kurang?" Tanya mama Mira, menatap anak perempuannya.


"Iya, Mah. Ada yang kurang!" Ujar Alysha celingak-celinguk mencari seseorang.


"Apa?" Tanya mama Mira dan mengingat kembali semua barang-barang yang akan di bawanya. Sepertinya tidak ada yang kurang. Pikir mama Mira.


"Kak Bian! Kak Bian belum muncul sejak tadi, Mah. Tidak mungkin kan kita pergi tanpa nya." Ujar Alysha memberitahukan kekurangan mereka.


"Apa?!! Ternyata anak itu belum muncul sejak tadi, padahal dia yang akan melamar!" Ujar mama Mira geram.


"Cepat cari Bian sekarang! Dan bawa dia ke sini." Perintah mama Mira pada para pelayannya yang belum beranjak pergi.


"Baik, Nyo---" Ujar para pelayan itu tertahan oleh satu suara.


"Tidak perlu, aku ada di sini." Kata Bian yang tidak terlihat batang hidungnya.


Baik Tuan Dean, mama Mira, dan para pelayan, celingak-celinguk mencari asal suara itu.


Alysha membuka pintu mobil yang ada di sampingnya, ia merasa suara itu berasal dari dalam mobil ini.


Dan benar saja, Bian sudah duduk dengan rapinya di kursi penumpang. "Wahhh... sepertinya kau sangat bersemangat ingin melamar calon pengantin mu." Ujar Alysha dengan nada bercanda, membuat Bian menatap tajam ke arahnya.


"Eh... hanya bercanda, singkirkan tatapan mu itu." Ucap Alysha melambaikan tangannya pada Bian agar tidak menatapnya lagi seperti itu.


"Mah... Pah... Kak Bian sudah ada di dalam mobil ini, sepertinya dia sangat bersemangat ingin melamar atau dia takut telinganya...." Alysha tidak melanjutkan ucapannya, ia cepat-cepat menutup pintu mobil kursi penumpang dan berpindah membuka pintu mobil di kursi samping pengemudi.


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita berangkat." Ujar Tuan Dean, tanpa menghiraukan ucapan Alysha yang sudah menjadi kebiasaannya mengganggu Bian.


Tuan Dean dan keluarganya menaiki mobil beserta beberapa pelayan dan bawahannya yang akan membantu membawakan seserahan nanti. Rombongan itu melaju menuju kediaman Arini.


*****


"Good pagi, selamat morning semuanya." Ucap Azzam memasuki dapur dengan seragam sekolahnya yang sudah rapi dikenakannya.


Di sana sudah ada Arini yang tengah sibuk mengatur piring, ibunya membawa masakan mereka di atas meja dan dibantu oleh Arumi yang juga sudah rapi dengan pakaian kuliahnya.


"Good pagi, selamat morning juga sayang." Arumi menjawab ucapan selamat pagi dari Azzam dengan senyum mengembang di bibirnya melihat pancaran kebahagiaan di wajah Azzam hari ini.


"Eh... tunggu, kenapa ucapannya jadi terbalik?" Tanya Arini merasa aneh mendengar ucapan selamat pagi anaknya dan Arumi.


"Siapa yang mengajarkan mu seperti itu?" Arini menatap Azzam, bertanya.


Azzam belum langsung menjawab pertanyaan dari mamanya, ia menyimpan tas sekolahnya terlebih dahulu lalu menduduki kursi makan.


Setelah duduknya di rasa nyaman, baru ia pun menjawab. "Hehehe... itu, yang mengajari ku Aunty Arumi." Tunjuk Azzam kepada Arumi yang tengah menyimpan makanan di atas meja.


Mendengar itu membuat Arini menatap tidak percaya pada Arumi, apakah adiknya ini tidak bisa berbahasa Inggris? Apa lagi kosa kata itu sudah sangat sering di dengar, sejak jaman SD malahan. Kenapa masih salah mengajarkannya pada Azzam?


"Sepertinya kamu harus meningkatkan bahasa Inggris mu, Rum. Agar bisa mengajari Azzam dengan benar nantinya." Ujar Arini masih menatap tidak percaya pada Arumi.


Arumi yang mendengar itu hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung, kapan ia mengajari Azzam tentang ucapan selamat pagi tadi?


Melihat tingkah Aunty nya seperti itu, membuat Azzam tertawa membekap mulutnya dengan kedua tangannya.


"Ehm... ehm...." Azzam berdehem, memperbaiki posisi duduknya dan berhenti tertawa.


"Aunty ingat siapa yang mengajariku untuk memanggil mu dengan sebutan 'Aunty'?" Ucap Azzam dengan nada serius.


"Ya, tentu saja aku ingat. Aku yang mengajari mu untuk memanggil ku seperti itu. Karena aku tidak mau di panggil bibi, aku kan masih muda, masih imut." Jawab Arumi dengan pd-nya.


Arini yang mendengar itu serasa ingin muntah mendengarnya, ibu Syahra dan Azzam hanya tersenyum.


“Apa bedanya Aunty dengan Bibi?” Gumam Arini dalam hati, menggelengkan kepalanya.


"Ya, Aunty memang imut bahkan mama kalah dengan keimutan Aunty." Timpal Azzam, membuat Arumi di atas awan saking bangganya karena di puji oleh keponakan kesayangannya itu.


"Kau memang keponakan ku yang terrrbaik." Puji Arumi pada Azzam.


"Hehehe aku tahu itu, tapi bukan itu yang menjadi persoalan kita. Aunty tadi bertanya kapan Aunty mengajarkan ku ucapan selamat pagi tadi 'kan?" Ucap Azzam kembali kepada persoalan mereka.


"Iya, kapan?" Tanya Arumi, kembali pada topik pembicaraan mereka.


"Tadi kan, Aunty sudah mengakui kalau Aunty yang mengajariku memanggil mu dengan sebutan Aunty. Jadi... Aunty juga yang mengajariku ucapan tadi." Ucap Azzam telak, membuat Arumi lagi-lagi menggaruk kepalanya.


"Huft... sepertinya kamu harus mengakuinya, dan meningkatkan bahasa Inggris mu, Rum." Ucap Arini dengan nada mengejek.


"Ehh... tunggu, kenapa bisa begitu? Seingat ku, aku tidak pernah mengajari mu ucapan seperti itu." Ujar Arumi masih membela kemampuan bahasa Inggrisnya.


"Hm... tentu saja bisa Aunty, tadi Aunty sendiri yang menjawab ucapan ku tadi dengan...." Azzam diam sebentar, kembali berdehem, lalu ia pun melanjutkan perkataannya. "Good pagi, selamat morning juga sayang." Ucap Azzam mengikuti gaya bicara Arumi, lalu tertawa pelan.


"Hahahaha...." Refleks saja Arini tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban telak dari Azzam untuk Arumi, ibu Syahra lagi-lagi tersenyum, dan Arumi mukanya menjadi masam.


"Baru saja di puji." Gumam Arumi langsung memalingkan wajahnya, pura-pura marah pada Azzam.


"Aunty marah?" Tanya Azzam, masih dengan nada tawanya.


"Sudah-sudah." Ibu Syahra menengahi. "Ayo sekarang kita makan, nanti terlambat ke sekolah." Lanjutnya lagi mengingatkan.


"Astagfirullah... iya." Ucap Arumi dan Azzam bersama, menepuk jidat mereka masing-masing.


"Azzam jadi berangkat sama aku 'kan, kak?" Tanya Arumi di sela makannya.


"Iya, karena kakak langsung ke tempat pertemuan saja dan menunggu Hana di sini." Jawab Arini yang langsung mendapatkan anggukan dari Arumi.


"Ayo Azzam." Ajak Arumi melihat Azzam yang sudah selesai memakan makanannya, dan ia pun sudah selesai.


"Iya, Aunty." Azzam meraih tasnya, lalu mengikuti Arumi yang menyalami tangan nenek dan mamanya.


"Kalian hati-hati di jalan yah...." Pesan Arini pada sang adik.


"Siap, kak." Jawab Arumi meninggal ruang makan bersama Azzam, lalu memberikan salam kepada dua orang itu.


“Wa’alaikumussalam.” Jawab Arini dan Ibu Syahra bersamaan.


Mereka berdua menaiki mobil, dan langsung melaju menuju pintu keluar perumahan mereka.


"Kenapa di pintu gerbang macet sekali? Padahal sebentar lagi kita terlambat." Gumam Arumi yang masih di dengar oleh Azzam.


"Iya, tumben-tumben nya begitu." Timpal Azzam. Semenjak mereka tinggal di perumahan ini, baru kali ini ia mendapatkan kemacetan seperti ini.


Arumi dan Azzam melihat ke arah gerbang, menunggu mobil rombongan itu masuk ke perumahan mereka.


"Kira-kira mereka mau kemana Aunty?" Tanya Azzam melihat ke belakang rombongan mobil itu melaju.


"Aunty juga tidak tahu." Jawab Arumi dan mulai menjalankan kembali mobilnya, karena semua rombongan mobil itu sudah masuk dan tidak membuat kemacetan lagi.


*****


Bersambung...