My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Dugaan



Arini menoleh karena mendengar suara Arumi yang memanggilnya. Lalu bangkit dari tidurnya dan duduk menghadap nampan yang di siapkan oleh adiknya.


"Dimakan, gih. Mumpung masih hangat, biar kakak cepat sembuh." Tutur Arumi pada sang kakak.


Arini yang melihat nampan itu, sebenarnya tidak berselera untuk menyentuhnya, tapi ia kasihan pada adiknya yang telah repot-repot untuk menyiapkan bubur di dalam nampan tersebut. Alhasil, ia pun memaksakan diri untuk memakannya.


Arumi melihat kakaknya makan dengan sangat terpaksa. Tapi, ia tidak mempermasalahkannya sama sekali, selama kakaknya memakan bubur itu.


Sambil memakan buburnya dengan sangat malas, Arini teringat sesuatu. Lalu ia pun menanyakannya pada Arumi.


"Oh iya, Rum. Tadi kamu mau apa ke sini?" tanya Arini.


"Oh, astagfirullah." Arumi menepuk jidatnya, ia baru ingat tujuannya untuk datang ke kamar sang kakak. "Tadi itu, aku mau minta pembalut sama kakak. Karena stok pembalut aku sudah habis, terus kalau ke toko aku malas jalan." Arumi menjawab pertanyaan kakaknya.


Uhuk... uhuk....


Arini terbatuk-batuk mendengar jawaban dari Arumi. Ia teringat dengan siklus menstruasinya sendiri, yang dimana sudah satu bulan ini ia tidak datang bulan. Dan ini bahkan sudah awal bulan kembali dan dia belum juga datang bulan. "Apakah... apakah aku hamil? Tidak, tidak. Aku tidak hamil! mungkin saja siklus menstruasi ku sedang tindak lancar. Ya... mungkin saja tindak lancar." Arini bermonolog dalam hati, sambil menggelengkan kepalanya kuat.


"Aduh... kenapa kakak tolak minumannya, kan tadi kakak batuk-batuk." Kata Arumi sembari menyodorkan teh hangat yang ia bawa tadi.


Arini tersadar dari tingkahnya, lalu mengambil teh yang ada di tangan Arumi dan meminumnya.


"Gimana? Kakak punya pembalutnya?" tanya Arumi kembali, setelah melihat kakaknya menyimpan kembali gelas teh pada meja dekat ranjangnya.


Arini mengganggu, "Ada di lemari." Kata Arini sambil menunjuk lemari yang ada di kamarnya. Ia berusaha mengontrol dirinya, agar tidak bertingkah aneh di hadapan Arumi.


Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Arumi keluar dari kamar kakaknya dan tak lupa mengucapkan terima kasih.


Melihat Arumi yang sudah keluar, Arini kembali menggelengkan kepalanya. Ia berusaha meyakinkan pada dirinya, bahwa apa yang ia pikirkan tadi itu tidaklah benar. "Tapi, bagaimana kalau itu benar? Maka apa yang harus aku katakan pada ibu? Apakah ibu akan marah dan tidak menganggap aku adalah anaknya?" pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak Arini.


Arini kembali menggelengkan kepalanya berulang kali. "Tidak! Aku tidak mungkin hamil. Aku harus melakukan tes. Ya... aku harus melakukan tes untuk membuktikan bahwa apa yang aku pikirkan itu tidaklah benar." Gumam Arini.


Ia menatap ke depan, dengan pandangan kosong mengarah ke dinding kamarnya. Air mata menetes, mengalir begitu saja di pipi Arini. Ia teringat akan kejadian nahas yang telah menimpanya dan perkataan lelaki itu.


*****


Setelah mengumpulkan keberanian, Arini keluar dari kamarnya. Ia berencana akan ke apotek untuk membeli tes pack dan membuktikan bahwa dugaannya itu salah. Sekalian, ia juga akan membeli bahan-bahan untuk pembuatan kuenya, karena memang stoknya sudah habis. Kondisi badannya juga sudah seperti biasa, tidak lagi seperti tadi pagi pas ia bangun tidur.


Arini melihat ibunya tengah duduk di ruang tamu, sambil merajuk syal di tangannya, untuk mengisi waktu luangnya.


Arini melangkah mendekati ibunya, lalu duduk disebelahnya. Ia ingin meminta izin pada ibunya untuk keluar rumah.


"Bu, Arini keluar ya." Izin Arini pada Ibunya, dan sudah memakai pakaian rapi dengan tas di belakang punggungnya.


Ibu Syahra menghentikan kegiatannya, lalu menoleh ke Arini dan menyimpan rajutannya.


"Loh. Bukannya kamu nggak enak badan, Nak. Seharusnya kamu istirahat dulu di kamar." Kata ibu Syahra dengan nada sedikit khawatir, mengingat kondisi badan Arini tadi pagi.


"Benaran kamu sudah enakkan?" tanya ibu Syahra lagi, untuk keadaan anaknya.


"Iya, aku sudah enakkan, kok! Ibu nggak usah khawatir." Jawab Arini meyakinkan ibunya.


"Ya sudah kalau begitu." Ibu Syahra mengangguk pasrah. "Terus kamu mau kemana?" lanjutnya lagi.


"Aku mau pergi ke pasar, beli bahan-bahan untuk buat kue besok. Stoknya sudah habis, Bu." Jawab Arini berusaha tidak gugup dan bertingkah sebiasa dan senormal mungkin pada sang ibu, karena kalau ia gugup dan bertingkah aneh, maka ibunya akan tahu jika dia sedang berbohong dan menyembunyikan sesuatu.


"Kalau begitu ajak saja adek mu, biar dia bisa bantu bawa barang-barang nantinya." Ibu Syahra tidak tega jika anaknya yang baru sembuh ini harus pergi sendiri ke pasar, apalagi menenteng banyak belanjaan nantinya. Makanya ia akan memanggil Arumi.


Arini langsung memutar otaknya, agar sang ibu tidak harus menyuruh Arumi ikut bersamanya. Karena, jika Arumi ikut, maka ia tidak akan bisa mampir di apotek dan membeli alat itu.


"Ibu panggilkan Arumi dulu." Ibu Syahra bersiap memanggil anak bungsunya.


"Ibu nggak usah panggil Arumi." Cegah Arini cepat-cepat.


Ibunya mengernyitkan dahi, dan bertanya... "Kenapa?"


"Karena...." Arini masih belum menemukan ide agar Arumi tidak ikut bersamanya.


"Karena aku mau mampir ke kampus juga, Bu." Jawab Arini kemudian. Karena hanya itu alasan yang ada di kepalanya, dan lagi pula alasan itu yang paling masuk akal menurutnya.


Ibu Syahra tambah mengernyit dahinya dalam. "Bukannya kemarin kamu bilang tidak ke kampus lagi, karena ujian skripsi dan semua urusanmu sudah selesai? Dan tinggal menunggu hari H-nya wisuda saja?" tanya ibu Syahra beruntung pada Arini sang anak.


Arini diam membeku, mendengar penuturan sekaligus pertanyaan dari ibunya. Pasalnya ia memang berkata seperti itu pada ibunya.


Arini memutar otaknya lagi. Kali ini, ia harus menemukan alasan yang tepat.


"Eh... iya, Bu. Semua urusan Arin memang sudah selesai. Arin ke kampus hanya mau ketemu teman Arin, soalnya sudah janji. Katanya kangen sama Arin, jadi mau ketemu sebelum kami berpisah." Kata Arini berusaha tidak gugup dan bertingkah biasa.


"Maafkan Arin, Bu. Lagi-lagi Arin berbohong pada ibu.” Batin Arini dalam hati. Ia terpaksa harus berbohong lagi pada ibunya, karena ia belum siap mengatakan kebenaran yang telah terjadi padanya sebelum ia membuktikan kebenaran apa yang ia duga kemarin.


"Ya sudah kalau begitu, kamu hati-hati di jalan, ya." Ibu Syahra mempercayai anaknya dan pasrah akan keinginan Arini yang tidak ingin mengajak Arumi pergi menemaninya. Sebenarnya ia sangat khawatir pada Arini karena baru saja sembuh, makanya dia menawarkan Arumi mengikuti Arini, agar bisa membantu Arini membawakan barang belanjaan nantinya.


"Iya, Bu. Arin pasti hati-hati, kok. Dan bakal pulang cepat kalau urusan Arin sama teman Arin sudah selesai." Ucap Arini, supaya ibunya tenang. Ia sangat tahu sifat ibunya yang mudah khawatir.


Setelah mengatakan itu. Arini menyalami tangan ibunya dan mengucapkan salam, lalu pergi dari rumah kontrakannya.


Ibu Syahra menjawab salam dari Arini, sambil memandang punggung sang anak sampai hilang dari pandangannya. Lalu melanjutkan kegiatannya merajut syal.


*****


Bersambung...