My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Komedi Putar



Hari berlalu begitu cepat, tak terasa tinggal dua hari lagi Bian sudah akan kembali pada rutinitasnya. Kembali duduk dibalik meja yang menyimpan segudang berkas yang harus ia kerjakan, melakukan perjalanan ke sana, sini, untuk bertemu klien.


Ya, dua hari lagi Bian akan kembali ke kantor dan menjalani hari-hari sibuknya sebagai CEO di Pratama Group.


Libur satu Minggu lebih masih kurang menurut Bian, ia belum puas menghabiskan waktu bersama istri dan anaknya. Sungguh kalau boleh, ia ingin menambah waktu liburannya. Tapi mau bagaimana lagi, pekerjaannya sekarang sudah menumpuk, dan Rio mulai kelelahan mengerjakannya semua sendiri.


Karena menyadari waktu liburnya akan berakhir, Bian mengajak keluarganya untuk menghabiskan waktu bersama di sisa-sisa liburnya.


Bian mengajak keluarga kecilnya untuk menghabiskan waktu di luar, mengajak Arini dan Azzam untuk pergi ke taman bermain. Taman terbesar, dan taman yang memiliki banyak permainan.


"Asikkk... kita weekend bareng lagi." Azzam loncat-loncat kegirangan, tak kala baru saja mendengar papanya mengajak mereka keluar untuk weekend bersama hari Minggu ini.


"Uhhh... Azzam nggak sabar mau naik komedi putar." Ucap Azzam membayangkan menaiki komedi putar. "Pasti sangat seru." Azzam terus membayangkannya sambil senyam-senyum.


"Hahaha tentu saja boy, kita akan bermain sepuasnya hari ini." Bian menggendong Azzam, rupanya mereka berdua sudah berada di teras rumah. Mobil sudah dipanaskan oleh Pak Yanto sejak tadi.


"Ini, pakai dulu topinya." Arini muncul dibalik pintu, membawa dua topi untuk kedua pria itu, sedangkan topi untuk dirinya sudah ia kenakan terlebih dahulu.


Azzam menurunkan kepalanya, agar mamanya bisa memakaikan topi untuknya yang sedang digendong oleh sang papa.


"Umm... anak mama ganteng sekali." Puji Arini memasang topi di kepala Azzam dengan rapi. "Ini mas...." Lanjut Arini menyodorkan topi pada sang suami.


"Eh... aku juga mau dipakaikan sayang." Bian memelas dengan mata yang berkedip.


"Ih, dasar manja." Arini mengerucutkan bibirnya, namun tetap memakaikan topi itu pada sang suami.


"Hehehe... biarkan, yang penting manjanya sama istri sendiri." Ucap Bian yang langsung mendapatkan cubitan di pinggangnya oleh sang istri.


"Iya! Kalau sama istri orang awas saja." Ancam Arini membuat pria itu takut, karena tatapan tajam dari sang istri dengan telunjuk yang menggantung di udara.


"Hihihi...." Azzam tertawa, menutup mulutnya dengan kedua tangan mungil itu, melihat interaksi kedua orang tuannya.


"Ya sudah kita berangkat yuk... Azzam udah nggak sabar." Azzam pun mengajak kedua orang tuannya.


"Les't go." Bian menuntun keluarga kecilnya menuju mobil mereka.


Mereka pun menaiki mobil itu, keluar dari gerbang rumahnya menuju gerbang utama perumahan, dan bergabung di jalan Jakarta yang padat bersama kendaraan lain.


Tiga puluh menit lebih berada dalam mobil dengan jalanan yang begitu macet, tidak membuat keluarga kecil itu untuk mengurungkan niat mereka. Mereka sabar dan menikmati saja mobil yang berjalan bak siput itu karena saking padatnya jalanan Jakarta. Maklum hari Minggu, banyak yang juga melakukan weekend seperti keluarga kecil ini.


Dan kurang dari empat puluh menit kemudian, mobil itu sudah terparkir rapi di tempat tujuan. Wajah Azzam berseri-seri sejak masuk ke pintu gerbang. Bagaimana tidak, semua mainan sudah terpampang dengan jelas di matanya, sangat menggoda, dan bahkan Azzam sudah tidak sabar untuk memainkan semua permainan itu.


Azzam turun dari mobil dengan sangat tergesa-gesa, diikuti oleh kedua orang tuannya.


Arini dan Bian menyunggingkan seulas senyum, melihat anaknya yang sangat tidak sabaran. Bian mendekati Azzam dan meraih tubuh mungil itu untuk digendong.


"Nggak usah gendong pah, Azzam bisa jalan sendiri." Azzam menggeleng-nggelengkan kepalanya.


"Papa takut kamu kesasar, jadi lebih baik papa yang gendong." Ucap Bian menatap keramaian taman.


"Tapi---" Ucap Azzam terpotong oleh suara mamanya.


"Iya sayang, di sini sangat ramai. Mama takut kamu hilang, jadi lebih baik papa saja yang menggendong mu." Arini memberi pengertian pada sang anak.


"Ummm... ya sudah deh." Azzam pun mengerti maksud kedua orang tuanya. "Azzam juga nggak mau buat mama sama papa khawatir." Lanjutnya lagi, kini ia pun melingkarkan kedua tangannya di leher sang papa.


"Sekarang mau coba permainan yang mana dulu?" Tanya Bian pada sang anak.


"Itu pah... itu, Azzam mau coba komedi putar." Tunjuk Azzam pada komedi putar kuda-kudaan yang sedang berjalan.


"Oke." Jawab Bian mendekati permainan komedi putar itu. Membuat wajah Azzam semakin bersinar saja. Ia tak berhenti bergerak dalam gendongan Bian karena saking senangnya, Arini berjalan berdampingan dengan kedua pria ini. Tangannya digenggam oleh tangan Bian yang bebas.


Mereka pun sampai pada komedi putar itu, Azzam memilih sendiri kuda-kudaan yang akan ia naiki.


"Azzam mau naik yang ini pah." Azzam menaiki komedi putar yang ia pilih. Bian mengangguk dan bersiap menaiki kuda-kudaan itu bersama anaknya.


"Eh... papa mau ngapain." Tanya Azzam melihat papanya yang menaiki satu kuda dengannya.


"Tentu saja menaiki kuda bersama mu boy." Ujar Bian yang sudah menaiki satu kuda-kudaan bersama Azzam.


"Tapi Azzam mau naik sendiri pah...." Lirih Azzam yang ingin menaiki komedi putar kuda-kudaan itu sendirian. Arini memerhatikan ayah dan anak itu dari jauh saja, ia tidak berniat ikut bermain.


"Eh... kalau Azzam jatuh bagaimana? Nanti papa bisa dapat amukan sama mama." Ucap Bian tidak mau turun. Jujur, ia takut jika anaknya nanti jatuh pada saat komedi putar ini berjalan. Dan tidak hanya itu, ia juga ingin mencoba komedi putar ini.


"Tentu saja tidak pah, Azzam sudah sering menaiki ini bersama mama dan aunty Arumi. Jadi papa nggak usah khawatir." Jawab Azzam yang memang sering menaiki komedi putar bersama mamanya dan Arumi.


"Oh begitu." Bian pun turun dari komedi putar kuda-kudaan itu, setelah mendengar penjelasan dari anaknya. Ia pun menghampiri sang istri yang sedang duduk di sebuah kursi tidak jauh dari komedi putar.


"Sayang...." Panggil Bian manja, membuat Arini langsung membulatkan kedua matanya, orang-orang kini melihat ke arah mereka tak kala mendengar suara Bian yang begitu manja.


Arini bangun dari duduknya dengan segera, lalu menghampiri sang suami. "Ih... mas kenapa sih? Malu dilihatin sama orang tuh...." Arini berbisik pada telinga sang suami.


"Mau naik itu sayang." Bian malah mengabaikan ucapan sang istri, dan orang-orang yang melihati mereka. Ia menunjuk komedi putar yang sebentar lagi berjalan.


"Ya sudah, naik saja." Arini menunjuk komedi putar dengar dagunya.


"Tapi naiknya sama kamu." Lanjut Bian lagi dengan suara semakin manja, membuat Arini langsung menepuk jidatnya sendiri.


Uh... manja sekali suaminya ini. Batin Arini tak terucap. Arini pun setuju dengan ajakan sang suami untuk menaiki komedi putar itu, dari pada dilihati terus oleh semua orang di sekitar mereka.


Bian dan Arini pun menaiki komedi putar itu, menaiki satu kuda-kudaan bersama. Tentunya atas keinginan Bian lagi.


Komedi putar mulai berjalan, awalnya perlahan-lahan, namun lama-kelamaan semakin kencan. Anak-anak tertawa bahagia, kegirangan, menikmati permainan itu.


"Yeiii... asik-asikkk... hahaha...." Tawa anak-anak pecah, begitu juga satu dua orang tua yang ikut menaiki komedi putar itu.


Lain halnya dengan Bian, ia malah berteriak ketakutan. Baru kali ini ia mencoba permainan seperti ini, masa kecilnya ia tidak pernah memainkannya.


"Ahhhhrggggg...." Teriak Bian ketakutan, memeluk erat pinggang sang istri.


Arini berdecak, telinganya serasa mau pecah mendengar teriakkan sang suami. Tapi di sisi lain, ia tertawa melihat respon suaminya menaiki komedi putar. Tangan suaminya yang melingkar di pinggannya serasa bergetar karena saking takutnya.


"Hahahaha... siapa suruh naik mas, malah pake suara-suara manja lagi." Arini tertawa tak henti-hentinya di sela-sela tawa yang lain.


*****


Bersambung...