
"Arumi hamil?!" shock Anggit yang baru saja datang ke dapur berniat ingin masuk ke toilet, tapi ia malah mendengar Marvel yang menanyakan kehamilan pada Arumi. Alhasil wanita itu salah paham.
"Rangga!!! Dasar anak kurang ajar!" tanpa berpikir panjang Anggit kembali ke ruang tamu dengan nafas menggebu siap meledak kapan saja.
Astaga, Arini dan Hana kaget mendengar teriakan Anggit yang penuh amarah. Arumi sudah duluan menyusul calon mertuanya itu, untuk menjelaskan.
"Ayo Hana, sepertinya terjadi kesalahpahaman." Arini menarik tangan Hana untuk keluar, tak lupa ia membawa toples kue keringnya. Marvel masih berdiri di tempatnya, ia juga sedikit kaget dengan kedatangan Anggit mama dari Rangga. Ia pun ikut keluar.
"Kenapa kamu melakukan itu? Sampai kapan kamu tidak membuat masalah, hah! Mama sudah bilang jangan melakukan itu sebelum menikah." Pukulan bertubi-tubi Rangga dapatkan, ia tentu bingung kenapa mamanya tiba-tiba memukulnya seperti ini. Arumi berusaha menolong Rangga dari amarah ibunya.
"Anggit kamu kenapa?" tanya mama Mira, setelah ia menarik Arini untuk duduk di dekatnya agar aman. Tak lupa ia ikut mencomot kue kering itu dengan santainya.
"Kenapa kamu menghamilinya?!"
"Menghamili siapa?"
"Arumi. Arumi hamil!" bentak Anggit jengkel sekali dengan anaknya yang pura-pura tidak tahu.
"Hah?! Apa?!" kaget semua orang, lebih-lebih Rangga. Sungguh sulit dipercaya oleh mereka semua.
"Ha-hamil anak siapa?" pikiran Rangga mulai kacau, ia menggeleng karena tak pernah melakukannya dengan Arumi. Ia mengakui kalau dulu memang suka bermain perempuan, tetapi tidak sampai ke tahap seperti itu karena mamanya sering mengingatkan.
"Arumi tidak mungkin mengkhianati ku." Rangga menggeleng berulang kali, seperti orang linglung. Usahanya meyakinkan diri sendiri membuat hatinya teriris jika benar Arumi hamil.
"Nak." Panggil ibu Syahra dengan suara tercekat, bibirnya kelu ingin mengatakan sesuatu. "K-kamu hamil?" tanyanya meremas baju.
"Tidak, aku tidak hamil Bu." Arumi menggeleng kuat menjawab pertanyaan ibunya.
"Lalu kenapa bisa Anggit menuduh mu hamil?" Tuan Dean angkat bicara, ini pasti terjadi kesalahpahaman.
"Tadi Pak Marvel yang menanyakan tentang kehamilan pada ku." Jawab Arumi membuat Marvel menghela napas panjang, tidak menyangka pertanyaannya tadi menjadi serumit ini. Seharusnya ia tidak bertanya seperti itu tadi, seharusnya ia tidak terlalu ingin tahu masalah Arini tadi, seharusnya... akhhh. Sudahlah, semuanya sudah terlanjut. Batin Marvel.
"Ya, aku menanyakan itu." Singkatnya membenarkan, karena semua orang menatapnya.
"Lalu siapa yang kalian bicara tadi? Siapa yang hamil?" tanya Anggit butuh kebenaran.
"Oh, itu saya yang hamil Tante." Sahut Arini dengan wajah polos.
Mata Anggit melebar, kenapa nggak bilang dari tadi. Tapi ia juga yang salah karena terlalu gegabah, semuanya terjadi begitu cepat.
"Astaga Anggit, menantuku yang hamil. Cucu kedua untukku. Kenapa kau jadi mengira Arumi yang hamil? Huh, kesalahpahaman mu sungguh meresahkan." Mama Mira menggeleng. "Keinginan mu mempunyai cucu sepertinya sangat besar, kalau begitu percepat saja pernikahan Arumi dan Rangga menjadi minggu depan." Cerocosnya lagi.
Anggit melotot mendengar ucapan kakaknya, tidak mungkin. Ia ingin pernikahan Rangga mewah dan tidak asal.
Semua orang bernapas lega mengetahui kenyataannya, termaksud Rangga. Ia jadi merasa bersalah pada Arumi karena sudah mengira mengkhianatinya.
Lain halnya dengan Marvel, perasaannya jadi campur aduk antara senang dan sedih. Senang karena kini Arini memang bahagia dengan sepupunya bahkan sebentar lagi memiliki anak kedua, dan sedih karena perasaannya yang masih saja terjebak padanya.
Bian memicingkan mata pada Marvel, buat apa sepupunya itu menanyakan kehamilan istrinya. Tapi bagus juga lah, biar dia sadar diri dan melihat keperkasaannya. Bian menyombongkan diri dengan membusungkan dada.
"Hm, papa kenapa?" dehem Azzam berbisik.
"Mana yang lebih keren Papa atau dia?" Bian malah balik bertanya.
"Dia siapa?"
"Itu...." Bian mengarahkan tatapannya pada Marvel.
"Om Marvel?" tanya Azzam memastikan.
"Ya, dia. Siapa yang lebih keren?"
"Hm... tentu saja Papa. Papa lebih ganteng, lebih keren...." Puji Azzam terdengar ada maksud lain, namun Bian tidak menyadari.
"Ya benar, papa lebih ganteng, keren, tidak bisa dibandingkan dengannya."
"Setuju, nah karena itu papa jangan lupa belikan mobil kemarin yang Azzam mau." Ucap bibir Azzam lincah, pandai sekali ia mencari kesempatan agar papanya mau membelikan mobil anak-anak yang bisa dinaiki. Bian tercengang, baru menyadari maksud terselubung dari pujian itu.
"Tapi satu yang kurang Pah, perut Papa sekarang buncitan. Beda sekali dengan perut Om Marvel yang datar."
"Yak, kau menghina Papa?" Bian melirik sinis anaknya.
"Hahahah... tidak Pah." Azzam tertawa terbahak-bahak, lalu lari menjauh. "Mamaaaa...." Teriaknya mencari perlindungan, karena kini Bian sudah ikut berdiri untuk mengejarnya.
"Heiii... kalian berdua jangan semakin mengacaukan acara." teriak Mama Mira melihat cucu dan anaknya saling mengejar, dan tentu teriakan itu dihiraukan oleh keduanya.
Merasa acara pertunangan sudah hampir selesai, Marvel meminta ijin untuk pulang. Ia tidak bisa lagi bertahan di tempat yang membuat hatinya tak nyaman. Kehadirannya di sini hanya membuat masalah.
"Iya, pulangnya nanti aja Om." Azzam ikut menimpali, kini dia tidak lagi saling mengejar dengan papanya.
"Biarkan dia pulang, Om Marvel pasti banyak pekerjaan." Bian mengikhlaskan dengan lapang dada kepulangan sang sepupu. Ia juga mengusap kepala anaknya agar mau melepaskan kepergian Marvel dengan tanpa beban.
"Papa pasti senang 'kan Om Marvel pulang," bisik Azzam.
"Tidak, malahan Papa menyayangkan dia pulang."
"Oh ya?" Azzam mengangkat kedua alisnya, terlihat sangat jelas kalau ucapan dengan tindakan papanya tidak selaras.
"Mau bukti?" tanya Bian pada anaknya, mereka berdua masih saling berbisik. Marvel kini berpamitan pada semua orang yang ada di sana.
"Tidak perlu." Azzam tidak mau berdebat, karena ujungnya ia pasti kalah. "Nanti malam Azzam mau tidur di kamar Mama!" putusnya tersenyum miring, cara terampuh yang selalu ia gunakan jika kalah dari papanya.
Mata Bian melebar, dan baru saja ia ingin protes Azzam sudah tidak ada lagi di sampingnya karena pergi menyalami Marvel.
"Om hati-hati ya." Azzam melambaikan tangannya pada Marvel. Marvel mengangguk dengan senyum sebagai jawaban. Mobilnya melaju meninggalkan pekarangan rumah itu.
"Ya ampun, sepertinya aku terlambat." Gumam seseorang dibalik setir nya, ia melanjutkan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Matanya lurus menatap jalanan dan tiba-tiba muncul mobil dari arah berlawanan ingin berbelok.
"Akhh... awassss." Ia membunyikan klaksonnya berulang kali, namun mobil itu tetap saja melaju dan akhirnya.
Chittttt....
Suara gesekan ban mobil dan aspal terdengar nyaring, kedua pengendara mobil itu sama-sama menginjak pedal gas mereka.
"Akh-auhhh...." Pengendara itu yang ternyata perempuan meringis, mengusap dadanya berulang kali. Hampir saja terjadi kecelakaan.
"Astaga orang itu!" dengan kesadaran yang telah kembali, perempuan itu keluar dari mobilnya untuk perhitungan. Ia berjalan mendekati mobil yang hampir saja bertabrakan dengan mobilnya.
Diketuk nya kaca mobil itu dengan lantang, "Kalau bawa mobil itu tahu aturan."
"Maksudnya?!" pengendara mobil itu tak terima, ia membuka kaca mobilnya dan melihat si pelaku yang berani memarahinya.
"Anda berbelok tidak melihat seki—" ucapan perempuan itu tertahan, merasa pernah bertemu dengan orang ini.
"Kamu!" ucap mereka berdua bersamaan, saling mengenal satu sama lain.
"Temanya Arini 'kan?" tanya pengendara itu yang ternyata adalah Marvel.
"Eh... iya." Jawab ragu perempuan itu yang merupakan Dian, ia juga diundang untuk menghadiri acara lamaran untuk adik dari sahabatnya itu. Tapi malah bertemu pria yang mencurahkan isi hatinya di pantai malam itu, dan nahasnya hampir saja terjadi kecelakaan di antara mereka.
"Masuk!" titah Marvel.
"Eh... tidak bisa, saya harus menghadiri acara lamaran Arumi." Dian melihat jam di pergelangan tangannya.
"Acaranya sudah selesai, sekarang masuk." Pinta Marvel lagi.
Dian mengernyit tidak mengerti, sesaat ia terdiam untuk mencerna maksud dari pria yang sudah ketiga kali ini bertemu dengannya. Melihat Dian terdiam, Marvel keluar dari mobilnya. Lalu menarik Dian untuk masuk ke dalam mobilnya itu.
Dian yang terdiam seakan terhipnotis dengan tarikan tangan Marvel pada pergelangan tangannya, dan tiba-tiba saja ia sudah berada di kursi depan samping pengemudi.
"Eh maaf, Pak. Saya tidak bisa ikut, mobil saya—" ucap Dian lagi-lagi terpotong.
"Seseorang akan mengurus mobil mu." Marvel melirik sekilas mobil wanita yang dibawa masuknya ini, lalu melajukan mobilnya sendiri.
"Maksudnya apa ya, Pak?! Kenapa saya tiba-tiba dibawa pergi seperti ini."
Deg... Marvel baru tersadar akan tindakannya, kenapa pula ia membawa perempuan ini. Astaga... apa yang aku lakukan? Batin Marvel merutuki tindakan anehnya, tatapannya lurus ke depan, tidak berani membalas tatapan penuh kebingungan dari Dian.
Tak mendapatkan jawaban, membuat Dian merogoh tas untuk mencari ponsel. Ia mengetikkan beberapa kata untuk dikirim ke Arini, memberitahunya kalau ia tidak bisa hadir. Takut sahabatnya itu terus menunggunya.
Setelah mengirimkan pesan itu, Dian melirik sekilas pada Marvel lalu melemparkan pandangan keluar jendela. Ia mengikuti saja dimana laki-laki ini akan membawanya pergi.
"Awas saja kalau dia berani macam-macam." Gumam Dian menatap jalanan yang agak lengang.
*****
Bersambung...