My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Calon Suami?!



"Paman." Panggil Azzam menyadarkan Marvel.


"Eh... iya, paman lupa memberitahu mu karena paman sangat buru-buru pada saat itu." Jawab Marvel cepat.


"Tapi---" Ucap Azzam terpotong oleh mamanya.


"Sudah sayang. Kasihan paman Marvelnya, dia kan baru saja datang." Ucap Arini mengerti raut wajah Marvel yang tidak bisa lagi menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari anaknya.


"Hehehe... iya, kalau begitu ayo kita masuk ke dalam paman. Nanti Azzam buatin minuman yang enak loh...." Ajak Azzam menyuruh Marvel masuk.


"Iya, silakan masuk dulu Mar-vel." Ucap Arini juga, masih canggung.


"Ayo, paman." Ajak Azzam lagi, dan Marvel pun mengangguk.


"Arin...." Seseorang memanggil Arini dari jauh, bahkan ia belum turun dan memarkirkan mobilnya.


"Dian!" Arini langsung berjalan menuju mobil Dian yang baru saja di parkir itu. Dian turun dari mobilnya dan langsung memeluk sahabatnya Arini dengan rasa haru karena mereka baru saja bertemu selama enam tahun ini.


Azzam dan Marvel sebagai penonton, melihat adegan haru pertemuan antara dua sahabat yang sudah berpisah cukup lama.


"Hmmm kangennn." Ujar Dian masih memeluk Arini, Arini balas memeluk erat sahabatnya ini.


"Apa kau sudah membaca email ku?" Tanya Arini di sela rasa harunya, masih berpelukan.


"Tentu saja aku sudah membacanya, makanya aku langsung ke sini." Jawab Dian. "Oh iya, siapa calon suami mu? Kamu tidak memberitahu ku di pesan email mu. Apakah dia orang baik?" Dian mulai melonggarkan pelukan mereka dan melepaskannya. Menatap Arini dengan tatapan serius.


"Hem... itu..... Calon suami ku...." Arini ragu-ragu mengatakan calon suaminya, yang merupakan Bian penyebab awal mula masalah itu terjadi. Takut Dian masih merasa bersalah pada dirinya karena kejadian di kantin itu di masa kuliah mereka.


"Calon suami?!" Gumam Rangga pelan, namun masih di dengar oleh ketiga orang itu.


"Apakah itu calon suami mu?" Tanya Dian menunjuk Marvel, berjalan mendekatinya. Ia mengamati Marvel dari atas ke bawah.


"Hmmm... ketampanannya tidak kalah jauh dengan Bian sih populer kejam kita." Dian menilai Marvel seraya memegang dagunya, Arini menggeleng kepalanya berulang kali. Namun, Dian tidak mengerti maksud gelengan Arini bahwa dia bukanlah calon suami. Justru yang ia juluki si populer kejam itulah calon suaminya.


Marvel hanya diam, mencerna semua yang baru saja di dengarkan. Mengabaikan Dian yang sibuk menilai fisiknya secara teliti.


Azzam yang menyadari Tante di depannya ini salah paham mengenai calon papanya, ia pun membuka suara.


"Eh... ini bukan calon papanya Azzam Tante, tapi ini paman Marvel teman kerjanya mama. Calon papanya Azzam itu orang yang Tante sebut barusan, Om Bian." Ujar Azzam menjelaskan pada Dian, yang sekarang terlihat shock. Ia menoleh pada Arini, lalu menoleh lagi pada Azzam.


"B-Bian?!" Ucap Dian dan Marvel bersamaan.


"Iya. Om Bian itu calon papanya Azzam." Ujar Azzam membenarkan ucapan Dian dan Marvel.


Marvel seketika menurunkan Azzam, keseimbangan tubuhnya seakan hilang karena mendengarkan penuturan dari Azzam.


"Rinn... a-apakah itu benar?" Tanya Dian kembali mendekati Arini, ingin memastikan. Marvel ikut melihat Arini, juga untuk mendapatkan kepastian darinya.


Arini mengangguk, sebagai isyarat bahwa Bian memanglah calon suaminya. Membuat Dian sangat kaget, tidak menyangka.


"Aapaan?!" Teriak Dian menutup mulutnya, masih tidak percaya.


Marvel yang mendapatkan anggukan dari Arini, tubuhnya sedikit goyah. Untung ia sudah menurunkan Azzam sejak tadi.


"Paman? Paman kenapa?" Tanya Azzam menyadari tubuh Marvel yang tidak seimbang, membuat tubuhnya goyah seperti orang yang lemas. Arini dan Dian ikut melihat ke arah Marvel.


"Anda tidak apa-apa?" Tanya Arini.


"Ehhh, yah... aku tidak apa-apa. Hanya sedikit tidak seimbang saja." Jawab Marvel gelagapan, menutupi shock-nya yang baru saja mendapatkan kenyataan bahwa sebentar lagi Arini akan menjadi istri dari sepupunya Bian.


"Tidak, paman seperti tidak baik-baik saja." Ucap Azzam mendongak melihat wajah Marvel.


"Kalau begitu mari istirahat di dalam." Ajak Arini.


"Ia istirahatlah di dalam, seperti tubuh Anda tidak sedang baik-baik saja." Lanjut Dian ikut mengajak Marvel untuk baristirahat di dalam rumah Arini.


"Bukan tubuh ku yang tidak baik-baik saja, tapi hati ku yang sedang tidak baik-baik saja." Gumam Marvel dalam hati, menimpali ucapan Dian.


"Tidak usah, saya baik-baik saja kok." Marvel masih mengelak, ia berusaha mengkokohkan tubuh agar tidak terlihat sakit (hati) pada ketiga orang yang sedang menatapnya.


"Paman benaran tidak apa-apa?" Azzam kembali bertanya untuk memastikan, juga melihat tubuh Marvel yang kini terlihat baik-baik saja.


"Iya, paman baik-baik saja." Jawab Marvel, menyembunyikan sakit hatinya.


"Oh ya, paman baru ingat kalau paman masih ada pekerjaan penting yang harus paman kerjakan. Jadi tidak bisa berlama-lama di sini." Ujar Marvel, berjongkok menyejajarkan tingginya dengan Azzam.


"Tapi... kita kan baru bertemu...." Ucap Azzam kecewa, karena ingin berlama-lama dengan paman Marvel yang baru saja ia lihat kembali hari ini.


"Kalau pekerjaan paman selesai, paman akan datang lagi ke sini. Jangan sedih gitu dong, kan jelek di lihatnya." Ujar Marvel, menenangkan Azzam yang terlihat sedih dan kecewa.


"Janji." Ucap Azzam menaikkan jari kelingkingnya.


"Ia, paman janji." Marvel menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking mungil milik Azzam.


"Hm." Azzam pun mengangguk mempersilahkan Marvel untuk pergi.


"Baiklah kalau begitu paman pergi dulu yah...." Marvel bangkit berdiri, seraya mengusap kepala Azzam.


"Terima kasih atas tawarannya, mungkin lain kali saja baru saya mampir." Ujar Marvel kepada Arini, mengangguk sedikit padanya juga pada Dian. Lalu ia pun berjalan mendekati mobilnya.


"Paman...." Panggil Azzam lagi, membuat Marvel kembali menoleh ke belakang. "Jangan lupa datang di pernikahan Mama dengan Om Bian. Azzam tunggu yah...." Lanjut Azzam mengajak Marvel untuk menghadiri pernikahan Mamanya.


"Oh... iya, ini undangannya. Semoga Anda bisa hadir." Arini mengambil undangan pernikahan mereka yang senantiasa selalu ada di dalam tas yang ia bawa, lalu menyodorkan undangan itu pada Marvel.


"Ah... ya, akan saya usahakan." Ujar Marvel menerima undangan yang disodorkan oleh Arini. "Terima kasih atas undangan." Lanjutnya lagi, mendapatkan anggukan kepala dari Arini.


Usai menerima undangan itu, Marvel kembali berjalan mendekati mobilnya dengan persamaan kacau yang entah bisa digambarkan dengan cara apa. Saking kacau dan dongkolnya perasaannya sekarang, semuanya tiba-tiba terasa hampa.


Ia membunyikan klakson mobilnya menyapa Arini, Azzam, dan Dian sebelum benar-benar pergi.


"Dah... paman." Lambaian tangan Azzam mengiringi kepergian mobil Marvel yang lama kelamaan semakin mempercepat lajunya.


Sekarang tinggal Arini dan Azzam bersama Dian, Dian masih saja shock dengan kenyataan yang baru saja ia dengar barusan. Tapi, fokusnya teralihkan pada sosok pria mungil yang bernama Azzam ini.


"Apakah ini Azzam anakmu, yang kamu ceritakan itu?" Tanya Dian seraya berjalan mendekati Azzam agar lebih dekat.


"Di-dia sangat mirip dengan Bian." Ucap Dian menyadari garis wajah Azzam yang tidak beda jauh dengan garis wajah Bian.


"Iya, mereka berdua sangat mirip." Timpal Arini berjalan mendekati pintu rumahnya.


"Tapi dia lebih manis." Ujar Dian cepat, seraya mencubit pipi Azzam yang sangat menggemaskan baginya.


"Hehehe... Azzam memang manis Tante." Ucap Azzam menanggapi pujian dari Dian.


"Ayo... kita masuk." Ajak Arini pada Azzam dan Dian.


*****


Bersambung...