
Hai.... Reader tercinta, yuk mampir di karya author Fabdul 'My Teacher My Husband'. Siapa tahu suka, terima kasih yang sudah mampir... ❤
Terdengar suara nyaring dari dua gadis sekolah menengah atas di dalam angkot yang tengah mengatai temannya, mengundang beberapa penumpang memandang kearah nya.
"Ini angkot sempit banget tau, gara-gara kamu naik. Liat nih, sesak banget." Kata Dila memoyongkan bibirnya.
"Iya. Harusnya ya, ongkos naik angkot itu di sesuaikan dengan berat badan. Jadi, orang-orang kayak lo, kena nya dobel. Rugi tau sopir nya." Tambah Milan, sahabatnya Dila.
Mereka berdua tertawa satu sama lain penuh arti. Menatap Renata dengan tatapan merendahkan.
DEGH!!
Si gendut Renata menelan salivanya susah payah, hatinya seakan di iris-iris sembilu, sakit sekali rasanya mendengar teman-temannya menghina fisiknya yang tidak mandang waktu dan tempat.
Renata berusaha untuk tidak menanggapi hinaan itu, tapi kedua teman sekolah nya ini sengaja benar memancing nya.
"Bukan dobel kali, bestie." Dila menahan tawa nya.
"Bukan dobel?" Milan pura-pura bodoh.
"Bukan, tapi lima kali lipat." Selepasnya, mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
Renata hanya diam, gadis gendut itu memilih memerhatikan jalanan. Dia tidak cukup berani melawan teman-teman yang menghina nya itu.
Seorang pria yang berada di angkot itu menghela napas panjang. Pria itu sangat risih sekali dengan kebisingan para gadis-gadis di angkot tersebut. Di tambah mereka sedang membully temannya. Membuat pria itu tidak bisa menahan diri untuk angkat bicara.
"Sebenarnya ya, tapi saya minta maaf sekali harus mengatakan ini. Jujur saya sangat risih mendengar kebisingan kalian berdua." Kata Ares penuh penekanan.
"Seperti kata kalian," Ares menatap tajam Dila dan Milan bergantian, "Jika ongkos naik angkot di sesuaikan dengan berat badan penumpang nya, maka orang-orang yang kurus kering seperti kalianlah yang rugi." Katanya dingin.
"Mau tahu kenapa? Karena tidak ada sopir angkot yang mau menaikkan kalian, karena bayar nya terlalu murah, berisik pula."
Langit-langit angkot hening. Tawa kedua cewek ramping itu tersumpal. Sedetik kemudian, penumpang lain dan sopir angkot bertepuk tangan. Tak terkecuali Renata, yang mencoba mencuri pandang kearah pria yang barusan membelahnya.
Sementara kedua sahabat tadi terpaksa menahan malu sembari menatap tajam kearah Renata penuh amarah dan kebencian. Renata yang melihat Dila dan Milan memandangi dengan sorot mata yang seakan ingin menelannya hidup-hidup langsung menunduk dalam tidak berani menatapnya balik.
"Ah! Cowok sok-sok'an datang dari mana ini?!" Dila membanting kakinya kesal, "Kurang ajar sekali! Urusan orang lain dia yang sewot, dasar mulut coberan." Umpat Dila dalam hati.
"Eh, tampan sekali cowok ini, bahkan sangat tampan seperti pengeran William, bahkan lebih." Batin Milan terkagum-kagum, memandangi wajah pria itu tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun ke arah lain.
"Tutup mulut lo dan elap air liur lo itu." Dila berkata ketus, memutar bola matanya malas.
"Auw, sakit Dil." Keluh Milan, mengelus-ngelus kepalanya yang sakit akibat di pukul oleh Dila.
"Lagian lo sih, kampungan banget, baru liat cowok tampan dikit langsung terpana."
"Cialah, jarang-jarang kita liat cowok ganteng kayak gini, mubazir jika tidak di padangi lama-lama."
"Ish, kau ini." Dila menyikut siku Milan yang membuat Milan hampir terjatuh dari kursinya.
******
"Kiri... kiri, pak." Ucap Dila kepada sopir angkot karena mereka telah sampai di sekolahannya.
Milan masih saja terpesona dengan ketampanan pria itu, dia bahkan terus menatap Ares sedaritadi hingga lupa mengedipkan matanya, membuat Dila terpaksa menarik tangannya untuk segera turun dari angkot.
"Nih, pak." Dila memberikan uangnya untuk kernet, sebelum berlalu pergi, dia melempar tatapan tidak suka kepada Ares dan setelahnya melangkahkan kakinya masuk ke dalam sekolahannya, dengan dia yang masih menarik tangan Milan dengan kasar.
Ares beranjak dari tempat duduknya, lalu mendekati Renata sambil menepuk pelan bahu nya. Seketika tubuh Renata membatu, matanya membulat sempurna dengan keringat menyucur di dahinya.
"Mau di benci atau di sukai, yang terpenting tetap jadi diri sendiri." Katanya, berlalu pergi.
"Mbak, turun di sini atau kagak?! Mau jalan nih." Kata kernet yang membuat Renata kembali tersadar seperti sedia kala.
"Ah, maaf pak." Renata langsung turun, dia memberikan uang untuk kornet lalu masuk ke sekolahan.
"Eh, kenapa cowok tadi berjalan masuk ke sekolahku? Di sekolah aku belum pernah melihatnya." Renata tertegun, pandangannya terus memandangi punggung Ares yang berjalan masuk ke sekolahannya.
*****
"Ah, sakit tau Dil, lepasin." Milan menghempaskan tangan Dila yang mengcekram tangannya dan membuat jarak di antara ia dan Dila.
"Tuh kan, memar jadinya." Keluh Milan, memeriksa pergelangan tangannya.
Dila yang mood nya lagi berantakan pagi ini langsung berlalu pergi meninggalkan Milan begitu saja.
"Lah.. kampret! Tungguin gue." Teriak Milan seraya mengejar Dila.
*****
Bersambung...