My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Dia Adalah Anakku



Setelah memandang Azzam yang keluar bersama Hana untuk membeli es krim, Arumi memandang lekat wajah kakaknya.


Ingin ia menanyakan sesuatu, karena sudah sangat mengganggu pikirannya sejak tadi. Tapi ia menunggu kakaknya agar menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu, baru ia menanyakan sesuatu yang mengganggu pikirannya ini.


Setelah melihat kakaknya menyelesaikan tanda tangan pada berkas-berkas yang diantar oleh Hana tadi, Arumi pun bersiap menanyakannya.


"Kak." Panggil Arumi, membuat Arini menoleh padanya.


"Apa aku boleh menanyakan sesuatu pada kakak?" tanya Arumi, berusaha tidak gegabah.


"Tentu saja boleh, emang siapa yang larang." Ujar Arini fokus menyusun berkas-berkas di atas meja kerjanya.


"Kakak janji tidak akan marah atau sedih mendengar pertanyaannya ku." Arumi ingin membuat kepastian, agar kakaknya nanti tidak akan marah ataupun sedih ketika mendengar pertanyaannya.


"Hmm... tergantung, tapi yang pasti nggak usah pake janji-janji deh." Arini menimpali.


"Ih... kakak, kalau tidak ingin janji ya sudah. Yang penting kakak jangan marah ataupun sedih mendengar pertanyaan ku nanti." Ujar Arumi serius.


Arini yang melihat keseriusan dari sang adik, kini menghentikan pekerjaannya dan menghampiri Arumi yang tengah duduk memandangnya di sofa.


"Ada apa?" tanya Arini ketika sudah berada di depan Arumi dan duduk bersama di sofa.


"I-itu tadi... laki-laki yang keluar dari ruangan rapat, apakah... apakah ayah kandung dari Azzam?" tanya Arumi takut-takut, mengeluarkan semua beban pikiran sedari tadi.


Arini terdiam, menatap bengong tembok bercat putih di depannya.


"Kak." Panggil Arumi pelan, membuyarkan lamunan Arini.


"Y-ya." Ucap Arini kaget.


"Jadi, apakah laki-laki tadi itu memang ayah kandung Azzam?" Arumi kembali bertanya, karena belum mendapatkan jawaban.


Arini mengusap kasar wajahnya, lalu mengangguk pelan sebagai jawaban dari pertanyaan Arumi.


"Hmm... pantas saja." Ucap Arumi, tangannya memegang dagu.


"Pantas kenapa?" Arini menoleh pada Arumi.


"Pantas, kalau dia itu ayah dari Azzam. Lihat saja wajah mereka berdua, sangat mirip." Arumi membandingkan wajah Azzam dengan laki-laki yang keluar dari ruangan rapat itu.


"Ah, kenapa juga Azzam harus mirip dengan wajah lelaki itu." Arini membatin.


"Kak." Panggil Arumi tiba-tiba, karena baru sadar akan sesuatu. Dan kembali, Arini dibuat kaget olehnya.


"Huft... kenapa suka sekali mengagetkan ku." Ujar Arini menatap tajam Arumi sang adik.


"Hehehe... maaf, tadi aku baru sadar kalau...." Arumi cengengesan.


"Kalau apa?" tanya Arini masih menatap tajam adiknya.


"Eh... itu matanya, jangan tatap gitu dong. Kan tadi udah bilang, nggak akan marah-marah." Arumi mengingatkan, karena takut ditatap seperti itu oleh sang kakak.


"Hm...." Dehem Arini memalingkan pandangannya ke arah lain.


"Aku baru sadar, kalau kakak nggak sedih ternyata." Ujar Arumi kemudian.


"Sedih kenapa?" Arini menoleh pada Arumi sekilas.


"Sedih, kalau bahas tentang itu...." Ujar Arumi tidak memperjelas, namun Arini mengerti akan maksud dari perkataan adiknya.


"Kenapa juga kakak harus sedih, dan membuat hidup kakak tidak tenang karena hal itu." Ucap Arini bangun dari sofa, menuju meja kerjanya.


Kini... Arini sudah memantapkan hatinya, menguatkan jiwanya untuk tidak lagi memikirkan hal-hal yang tidak penting dan membuat hidupnya tidak tenang. Ia sekarang fokus akan masa depan dirinya dan keluarga, meninggalkan masa lalu, tanpa menghapusnya. Ya... Arini berdamai dengan semua masa lalu, masa pahit, masa kelam yang pernah terjadi dalam hidupnya.


"Oh... baguslah kalau begitu." Gumam Arumi, mengangguk-anggukan kepalanya.


*****


"Ini informasi tentang nona Arini dan anaknya, Tuan." Rio menyodorkan sebuah map berwarna coklat pada Bian.


"Kamu yakin informasi ini valid?" tanya Bian menatap map berwarna coklat itu.


Biam membuka map itu, dan mulai membacanya dengan teliti.


"Jadi nama lengkap anak itu Azzam Alvaro." Ucap Bian masih melihat teliti isi surat yang dipegangnya.


"Benar, Tuan. Dan nama itu pula yang menjadi nama perusahaan yang kita datangi untuk melakukan kerja sama." Rio menjelaskan.


"Hm...." Bian berdehem sebagai tanggapan dari penjelasan Rio. "Apa ada laki-laki yang dekat dengan Arini?" tanya Bian karena tidak melihat informasi tersebut pada berkas yang ia pegang.


"Sepertinya tidak ada, Tuan. Karena bawahan kita tidak menemukan satu lelaki pun yang dekat dengan nona Arini." Jawab Rio memberitahu.


Mendengar itu, tak sadar seulas senyum muncul di bibir Bian yang tidak dilihat oleh Rio.


"Maaf, Tuan. Bukannya saya ikut campur. Saya rasa anak yang bernama Azzam yang kemarin nona Arini gedong adalah anak Anda." Ujar Rio menunduk, takut Bian marah akan perkataannya.


"Ya, aku tahu." Jawab Bian, yang membuat Rio mengangkat kepalanya. Sepertinya bosnya ini tidak marah dengan apa yang ia katakan.


"Hummm... apa perlu kita melakukan tes DNA untuk memastikan kebenarannya, Tuan." Rio memberi saran.


"Tidak perlu. Melihat wajah anak itu saja, sudah cukup meyakinkan bahwa dia adalah anakku." Ucap Bian menolak saran dari Rio.


"Lalu bagaimana kehidupan mereka selama lima tahun belakangan ini?" tanya Bian ingin tahu.


"Menurut informasi dari orang-orang kita. Nona Arini menyewa sebuah kontrakan setelah ibunya selesai dioperasi, lalu mengajak ibu dan adiknya yang berada di kampung untuk tinggal bersamanya di kontrakan. Mereka tinggal di kontrakan itu dan membangun usaha kecil-kecilan yaitu menjual kue. Kue-kue yang mereka buat sangat enak, sehingga langsung laku jika di bawa ke warung untuk dijual. Ketika usaha mereka mulai sukses dan menampakkan hasil, mereka terpaksa harus pindah kontrakan dan memulai kembali usaha mereka dari awal, yang sekarang menjadi perusahaan besar Azzam Alvaro Group." Ucap Rio menjelaskan pajang lebar, Bian tersenyum tipis mendengarkan.


Tapi, tunggu...! ada sesuatu yang menjanggal dari penjelasan ini, Bian berpikir.


"Tunggu, kenapa mereka terpaksa pindah kontrakan?" tanya Bian menyadari ada kejanggalan dari penjelasan Rio.


"Itu karena nona Arini dan keluarganya diusir dari kontrakan mereka, Tuan." Jawab Rio.


"Diusir? kenapa mereka diusir?" tanya Bian menatap serius pada Rio.


"Itu karena nona Arini hamil di luar nikah, Tuan. Dan para warga menganggap itu sebagai pencemaran bagi lingkungan mereka. Maka dari itu mereka mengusir nona Arini dan keluarganya secara tidak layak." Rio menjelaskan secara singkat.


"Di usir secara tidak layak." Gumam Bian geram.


"Iya, Tuan. Menurut bawahan kita, ada orang yang menyebarkan berita palsu mengenai nona Arini, sehingga orang-orang di wilayah itu terprovokasi olehnya dan ditambah lagi dengan tadi... nona Arini hamil di luar nikah.” Kembali Rio menjelaskan secara singkat.


"Siapa orang itu?" Kini suara Bian semakin geram, membuat Rio di depannya menggidik ngeri.


"M... maaf, Tuan. Saya juga tidak tahu, tapi orang-orang kita masih mencarinya." Ujar Rio takut-takut.


"Apa kalian sudah tidak bisa diandalkan!" suara Bian naik satu oktaf, menatap tajam Rio.


"Maaf, Tuan." Lirih Rio menunduk.


"Pokoknya aku tidak mau tahu, cari orang itu sampai dapat, dan secepatnya kabari aku." Ujar Bian tidak ingin dibantah. Menggerakkan tangannya, isyarat agar Rio keluar dari ruangannya.


"Baik, Tuan." Rio mengangguk, seraya mundur ke belakang untuk undur diri.


"Huft... bagaimana cara mendapatkan orang yang telah melakukan kejahatan lima tahun silam." Runtuk Rio dalam hati, sepanjang pintu keluar.


"Tunggu." Ujar Bian, menghentikan langkah Rio yang hendak memegang hendel pintu.


"Iya, Tuan." Rio membalikkan badannya.


"Apa kamu sudah menyuruh bawahan mu untuk menjaga mereka?" tanya Bian.


"Sudah, Tuan." Jawab Rio, kembali mengangguk.


"Hm... kamu boleh keluar." Ucap Bian mendengar jawaban Rio.


Rio keluar, tapi sebelum itu ia mengangguk hormat pada atasannya.


"Hmm... kenapa sifatnya akhir-akhir ini aneh, dan kenapa pula ia baru peduli dengan wanita yang sudah diterlantarkan nya? Apa mungkin, itu karena ia baru melihat Azzam yang tak lain adalah anaknya?" gumam Rio menebak-nebak, penyebab sifat tuannya yang berubah akhir-akhir ini.


*****


Bersambung...