My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Kaki Mu Kenapa?!



"Ohh... jadi anak h***m yang kau kandung dulu sudah sebesar ini?!" Ujar ibu itu tersenyum merendahkan, mengeraskan suaranya agar terdengar oleh yang lain, menatap Arini dan Arumi bergantian. Orang-orang yang tengah menonton mereka, mulai berbisik-bisik satu sama lain.


Arumi membulatkan matanya, juga terlihat kaget menatap ibu itu. Ia baru menyadari kalau ibu di depannya ini adalah orang yang mereka kenali di masa lalu.


"Bu-bu Rahma!" Gumam Arumi mengingat ibu-ibu yang enam tahu lalu memprovokasi ibu-ibu yang lain agar mengusir mereka dari kontrakan.


"Hmmm... kau sudah mengingat ku, dan sekarang giliran aku mengingat kalian." Ibu Rahma menaikkan satu sudut bibirnya, tersenyum sinis. Sepertinya, ia mendapatkan mainan baru di sini, mengesampingkan kesibukannya tadi.


"Kalau aku tidak salah... kau adalah Arumi kan? Gadis hitam, dekil, dan miskin itu kan...?!" Ucap Ibu Rahma menaik turunkan satu alisnya, merendahkan, senyuman menjengkelkannya tak pernah lepas. "Ops... sekarang tidak hitam, tidak dekil, dan tidak miskin lagi." Ucap Ibu Rahma lagi, semakin menjengkelkan dengan gayanya yang pura-pura menutup mulut.


"Apa kau menjual tubuhmu seperti yang kakak mu lakukan dulu?" Tanyanya di telinga Arumi dengan nada sok polos. Arumi meraup udara dengan berat, lalu menghembuskannya kasar. Kemarahannya mulai terpancar, ia mengempalkan tangannya kuat, berusaha menahan kemarahannya agar tidak berbuat kasar pada ibu-ibu bermulut pedas ini di depan orang-orang banyak.


"Hm." Ibu Rahma tersenyum senang menatap Arumi yang mulai meradang karena ucapannya. Ia pun menoleh, dan kembali menatap Arini yang tengah menenangkan anaknya.


"Dan kau...." Tunjuknya pada Arini. "Aku sangat mengingat mu... kau rela menjual tubuh demi uang dan sok mencari uang halal dengan berjualan kue mengganggu bisnis ku!" Ujar ibu Rahma lantang, orang-orang yang menonton mulai mencibir Arini seperti kejadian enam tahun lalu. Sebagiannya diam membungkam, tidak ikut mencibir, karena takut mulutnya nanti akan menjadi tajam bak pisau yang dapat menikamnya sendiri.


"Wajahnya saja terlihat polos, tapi aslinya ternyata begitu!"


"Murahan sekali karena menjual tubuhnya demi uang."


"Iya, cuihh."


Lontaran hinaan serta cacian terdengar memenuhi lantai itu, tubuh Azzam terasa bergetar karena ketakutan, Arini cepat-cepat menutup telinga anaknya agar tidak mendengar semua hinaan serta cacian itu.


Napas Arumi naik turun, kembali mendengar hinaan serta cacian untuk keluarganya. Ia semakin menatap tajam pada ibu Rahma yang kini tersenyum lebar, lalu mengedarkan pandangannya menatap satu persatu orang-orang yang menghina kakaknya.


"Semua lontaran hinaan dan cacian itu pantas kau dapatkan....!" Ibu Rahma tersenyum puas. "Karena memang kenyataannya bukan?! Kau itu hanya wanita murahan yang ditutupi oleh wajah polos mu itu, wanita murahan yang rela menjual tubuh sendiri demi lembaran rupiah sehingga menghasilkan anak ha**m yang kau gendong itu." Lanjut ibu Rahma terus melontarkan kata-kata kasar pada Arini, sebagian orang-orang yang menonton mengangguk setuju, padahal mereka tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dan apakah anggukan mereka sesuai dengan kenyataannya. Hanya tahu menyudutkan dan menghakimi orang yang sedang terpojok saja, sungguh miris memang. Tapi itulah yang sedang terjadi di lantai satu perusahaan besar itu.


Arini menunduk mendengar setiap lontaran hinaan dan cacian yang tertuju pada dirinya, hatinya sakit, tentu saja. Tapi bukan karena hinaan maupun cacian itu yang membuat ia merasa seperti itu, tapi karena anaknya yang juga ikut terseret oleh kata-kata menyakitkan yang mereka lontarkan. Apalagi sekarang tubuh anaknya semakin bergetar, dan isakan-isakan kecil yang menyayat hati lolos dari bibir mungilnya.


"Oh ya, aku penasaran sekali kenapa kau bisa ada di tempat yang terhormat seperti ini." Ibu Rahma mengernyit bingung. "Apa kau sedang mencari mangsa lagi? Mencari laki-laki yang kurang belaian demi mendapatkan uangnya?!" Ujar ibu Rahma semakin lancang, orang-orang berbisik membenarkan.


"Saran ku cari tempat lain saja, karena tempat ini sangat terhormat dan tak pantas di injak oleh mu serta menjadi tempat bermain oleh anak ha**m mu itu!" Ibu Rahma berlaga jijik menatap Arini dan anaknya.


Mata Arumi memerah, tidak tahan lagi dengan ucapan mulut pedas serta tak bermoral dari ibu Rahma. Ia melangkah, berniat memberi pelajaran pada mulut pedas tak bermoral itu. Tapi baru saja satu langkah, suara dingin penuh penekan serta emosi menghentikan langkahnya.


"CUKUP! Mulutmu sangat menjijikkan untuk perempuan berusia baya seperti mu!" Suara dingin penuh penekan seketika membuat suasana di lantai satu perusahaan itu menjadi mencekam. Orang-orang menunduk takut melihat aura kemarahannya yang siap menerkam siapa saja terpancar dari sosok laki-laki pengusaha terkenal pemilik Pratama Group.


Azzam seketika mengangkat kepalanya mendengar suara yang sangat ia kenali itu, suara yang ia rapalkan namanya sejak tadi. Arini ikut mengangkat kepalanya melihat sumber suara, matanya sudah memerah berkaca-kaca. Pertahanannya roboh tak kalah mendengar suara suaminya. Azzam memberontak ingin turun dari gendongan mamanya dan menghampiri papanya.


Ibu Rahma mengernyit melihat sekitar, tapi tidak terlalu memedulikannya. Karena ia harus memberikan pelajaran terlebih dahulu pada seseorang yang telah berani membentaknya di tengah banyaknya orang ini.


Ibu Rahma berbalik melihat sosok yang telah berani membentaknya, dan siap melayangkan sumpah serapahnya untuk orang itu. Namun apa yang terjadi, nyalinya ciut tak kalah sudah bersitatap dengan orang yang berani membentaknya. Orang yang begitu familiar karena wajahnya yang tampan rupawan selalu menghiasi majalah serta acara televisi sebagai pengusaha tersukses.


"T-tuan Bian pemilik perusahaan besar dan terkenal yang selalu muncul di televisi kan?" Tanya ibu Rahma tak percaya dengan penglihatannya. Ia mengecek matanya berulang kali takut salah lihat.


"Mimpi apa aku semalam hingga mendapatkan kesempatan bertemu langsung dengan pengusaha sukses ini. Akhh... senangnya, semoga punya kesempatan untuk mengenalkan anakku agar aku memiliki menantu miliarder seperti dia." Batin ibu Rahma berkhayal sambil cekikikan, ia tidak tahu kalau Bian sedang menatapnya penuh amarah ingin menerkamnya.


"Oh... Anda jangan salah paham dengan ucapan saya tadi, saya hanya mau memberikan pelajaran pada wanita murahan dan anak har---" Ibu Rahma baru teringat dengan ucapannya yang tadi membuat dirinya di bentak oleh penguasa sukses ini, namun kata-katanya tertahan tak kalah Azzam berteriak menghampiri Bian.


"Papaaa...." Azzam berusaha berlari membawa kakinya yang masih sakit akibat jatuh di tabrak ibu Rahma tadi, menghampiri papanya dengan bulir air mata mengalir deras di pipinya.


"Kaki mu kenapa?!" Bian menghampiri Azzam dengan tergesa-gesa, dan langsung menggendong anaknya yang tengah menangis.


"Pa-pa." Ulang ibu Rahma apa yang baru saja ia dengar, begitu juga dengan orang-orang yang belum beranjak dari lantai satu itu. Wajah mereka berubah menjadi pucat, keringat dingin mulai membanjiri tubuh-tubuh mereka.


*****


Bersambung...