
Kini wisuda Arini tinggal menghitung hari saja. Ibunya juga, sudah keluar dari rumah sakit. Ia menjemput ibu dan adiknya di kampung dan mengajaknya tinggal bersamanya di Jakarta, dan ibunya menyetujui ajakan itu.
Sekolah Arumi pun tidak menjadi halangan bagi kepindahan mereka, karena Arumi telah menyandang gelar kelulusannya pada sekolah menengah pertama, yang ada di kampungnya.
Arini mengajak ibu dan adiknya untuk tinggal di Jakarta, karena ia tidak tahan lagi untuk berjauhan kepada dua orang yang ia sayangi itu. Rumahnya yang ada di kampung, sudah dijual dan digunakan untuk menyewa kontrakan sederhana di Jakarta, serta merintis usaha kecil-kecilan yaitu menjual kue.
Selain pintar Arini juga sangat mahir dalam hal masak-memasak, apalagi memasak kue. Setiap kue yang dibuatnya selalu saja enak, makanya tidak salah jika mereka menjual kue itu dan langsung habis di hari yang bersamaan.
"Alhamdulillah, kuenya laku semua kak." Kata Arumi memasuki rumah kontrakannya, sambil menenteng keranjang kosong di tangannya. Ia baru saja pulang dari warung yang mereka titipkan untuk bantu menjual kuenya.
"Assalamu'alaikum dulu baru masuk, Dek." Kata ibu Syahra, mengingatkan pada anak bungsunya.
Arumi hanya tersenyum cengengesan, mendengar perkataan ibunya. Ia lupa untuk mengucapkan salam karena terlalu senang akan kue mereka yang laku terjual, sedangkan Arini yang berada di samping ibunya, hanya tersenyum tipis melihat tingkah adiknya.
"Eh... assalamu'alaikum." Ucap Arumi masih dengan senyum cengengesannya, lalu menyalami ibu dan kakaknya secara bergantian.
"Wa'alaikumussalam...." Jawab ibu Syahra dan Arini hampir bersamaan.
"Kuenya laku semua kak. Dan kata bibi Juwita, bawa kuenya di tambah satu keranjang lagi, karena kemarin banyak yang beli tapi kuenya habis, jadi mereka pesan aja kuenya sama bibi Juwita." Kata Arumi memberitahukan informasi yang ia dapat dan ikut duduk di tengah kakak dan ibunya.
"Alhamdulillah." Ucap Arini dan ibunya bersamaan. "Kalau begitu besok-besok kakak bikin kuenya yang banyak deh, dan kamu harus bantun kakak bikin, ya." Lanjut Arini menatap adiknya.
"Hmm... gimana, ya." Arumi pura-pura berpikir.
"Eh, kenapa pula harus berpikir?" tanya Arini menautkan alisnya.
"Habisnya, kakak kenapa bilang 'harus bantun kakak bikin, ya' kan, tiap kakak bikin kue aku selalu bantun." Canda Arumi dengan memonyongkan bibirnya, pura-pura ngambek menatap sang kakak.
"Eh... eh, jadi ceritanya tersinggung nih?" tanya Arini menyunggingkan senyum.
"Udah tahu pake nanya!" Arumi melipat kedua tangannya di dada dan menoleh ke arah lain.
Arini yang tidak tahan melihat tingkah lucu sang adik, langsung saja menggelitik perutnya. Dan sang empunya, hanya bisa meronta dan meminta tolong pada ibunya agar kakaknya berhenti.
"Kak... hahaha... berhenti, ibu... tolong aku... hahaha...." Arumi meronta-ronta berusaha menghindari tangan Arini yang menggelitik perutnya.
Ibu Syahra yang melihat tingkah kedua anak perempuannya itu, hanya menggeleng-nggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Udah Rin, kasihan Adek kamu, nanti dia sakit perut." Ucap ibu Syahra menghentikan kegiatan Arini.
Arini menghentikan kegiatannya, lalu tersenyum menatap sang ibu dan adiknya yang masih mengatur deru nafasnya.
"Kakak nakal!" ucap Arumi kemudian, setelah dapat mengatur deru napasnya.
Arini yang mendengar itu pun hanya nyengir kuda, dan memeluk sayang pada sang adik.
Hari-hari Arini dihiasi dengan banyak kebahagiaan yang diberikan oleh kedua orang yang ia sayangi, ia sangat bersyukur kepada Yang Maha Kuasa karena mereka bisa tinggal satu rumah lagi seperti dulu, dan bisa berkumpul serta bercanda gurau seperti saat ini.
*****
Arini bangun dari tidurnya, sambil membekap mulutnya dengan kedua tangan dan segera berlari dari kamarnya menuju kamar mandi.
Huek... huek....
Tiba-tiba ibunya datang dari arah belakang, lalu memijit pelan punggung Arini yang masih ingin mengeluarkan isi perutnya yang bergejolak. Pijatan ibunya, sedikit memberi ketenangan bagi Arini.
"Kamu kenapa Rin." Tanya ibu Syahra khawatir melihat anaknya yang masih mencoba mengeluarkan isi perutnya, sambil tetap memijit pelan punggung sang anak.
Arini tidak segera menjawab pertanyaan dari ibunya, ia masih mencoba memuntahkan isi perutnya dan membersihkan sisa-sisa muntahnya. Saat ia rasa mulai enakkan, ia pun berbalik badan dan menjawab pertanyaan ibunya.
"Arini hanya masuk angin aja kok, Bu. Nanti juga sembuh, ibu nggak usah khawatir." Kata Arini menenangkan ibunya.
"Tapi wajah kamu pucat sekali, Nak." Ibu Syahra tambah khawatir melihat wajah anaknya. "Kita ke dokter saja, ya." Lanjutnya lagi.
"Nggak usah, Bu. Aku hanya kecapaian saja, terus masuk angin. Palingan habis minum obat di warung langsung sembuh." Kata Arini masih berusaha menenangkan ibunya.
"Ya sudah kamu harus banyak istirahat." Ibunya mengalahkan, ia tidak akan bisa memaksakan kehendaknya pada anaknya kalau sudah begini.
Arini mengangguk, lalu masuk kembali ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Rasanya... bukan hanya perutnya yang bergejolak ingin memuntahkan sesuatu, tapi kepalanya juga ikut sakit berdenyut-denyut.
*****
"Kakak mana, Bu?" tanya Arumi, baru saja keluar dari kamarnya. "Tumben nggak kelihatan, biasanya 'kan sama ibu duduk di sini." Lanjut Arumi dan menyapu pandangannya ke sekeliling ruang tamu.
"Kakak di kamar, katanya lagi nggak enak badan. Jadi ibu suruh istirahat." Ibu Syahra menjawab pertanyaan anaknya.
Arini mengangguk, lalu melangkah menjauh dari ibunya menuju kamar sang kakak.
Tok... tok....
Arumi mengetuk pintu kamar sang kakak, tapi tidak ada sahutan dari dalam. Arumi mencoba mengetuk kembali, masih tidak ada sahutan. Ia pun, memegang hendel pintu yang ternyata tidak di kunci. Arumi masuk ke dalam kamar dan melihat sang kakak sedang berbaring di atas tempat tidur.
"Bagaimana ini....? Kakak masih tidur, masa aku harus bangunin, apalagi tadi ibu bilang kakak lagi nggak enak badan. Tapi, kalau aku nggak bangunin, aku kan butuh itu." Gumam Arumi, melihat kakaknya masih berbaring di tempat tidur.
Arumi melangkah, mendekati tempat tidur. Berniat ingin membangunkan sang empunya tempat tidur. Tapi, sebelum ia sampai di tempat tidur, ia terlonjak kaget dua langkah ke belakang. Karena kakaknya tiba-tiba bangun dan berlari ke keluar menuju kamar mandi.
Huek... huek....
Arini kembali memuntahkan isi perutnya, yang hanya mengeluarkan cairan itu.
Arumi yang melihat kakaknya seperti itu,
seketika khawatir. Ia mengikuti kakaknya dan membantunya dengan memijit pelan punggung sang kakak.
Arini berbalik, ketika merasa enakkan dan berterima kasih kepada adiknya. Arumi mengangguk, tanda menerima ucapan terima kasih kakaknya. Ia membantu sang kakak untuk kembali ke kamarnya dan beristirahat di sana.
Sampainya di kamar, Arumi menyuruh kakaknya duduk di samping ranjang dan ia keluar pergi ke dapur untuk membuatkan bubur dan teh hangat untuk sang kakak.
"Kak." Arumi memanggil kakaknya, sambil membawa nampan berisi bubur dan teh hangat, lalu meletakkan di atas meja samping tempat tidur Arini.
*****
Bersambung...