
Bian maupun Arini terdiam setelah mendengar jawaban dokter, hal tersebut juga ikut membuat dokter perempuan paruh bayah itu terdiam. Ia menunggu respon suara dari pasangan suami istri ini, sembari menikmati wajah setengah bahagia dari keduanya.
Bian tersenyum dalam diam, lalu kembali memasang muka biasa. Begitu pula dengan Arini. Dokter sampai menggaruk tengkuknya yang tak gatal melihat tingkah keduanya.
"Jadi dokter... apakah kami bisa memeriksanya sekarang?" tanya Bian setelah keheningan cukup lama, wajahnya berubah tidak sabaran untuk mengetahui kehamilan sangat istri.
"Ah ini... tergantung dari bapak sendiri, apakah ingin istrinya pergi memeriksa sendiri."
"Maksud dokter, saya tidak ikut?" Bian menautkan alisnya. "Tentu saja saya akan ikut dan menemani istri saya." Lanjut Bian berkata tegas seraya bangun dari baringannya.
"Eh... bukan itu maksud saya." Dokter menyanggah cepat perkataan Bian, takut pasiennya itu salah paham. "Tapi kondisi Anda sepertinya tidak memungkinkan."
"Saya baik-baik saja dokter, Anda sendiri yang mengatakannya tadi." Sanggah Bian dengan cerdasnya.
"Dan Anda sendiri yang bersikeras mengatakan kalau tubuh Anda bermasalah, minta diperiksa ulang pula!" ujar dokter tersangkut di tenggorokan, ingin sekali ia mengatakan itu, namun masih menjaga image dokternya yang tenang dan penuh senyum. Juga masih menyayangkan pekerjaannya, karena ia tahu, laki-laki yang menjadi pasiennya ini pemilik saham terbesar di rumah sakit. Salah bicara sedikit saja, bukan tak mungkin ia kehilangan pekerjaannya sedetik kemudian. Jadi cari aman saja. Pikirnya.
Arini yang terdiam sejak tadi, baru menyadari perdebatan antara suaminya dengan sang dokter. "Mas... dokter benar, lihat kondisi mu." Walaupun berkata begitu, Arini tetap membantu suaminya untuk duduk dari baringannya.
"Tidak sayang, aku baik-baik saja. Sekarang ayo kita ke dokter obygy untuk memastikan kehamilan mu." Bibir pucat Bian berkomat-kamit mengatakan hal tersebut, ia menyibak selimutnya lalu berusaha turun dari rajang ruang emergency dengan tangan yang tidak bisa bergerak leluasa karena masih terpasang infus.
Belum sempat kakinya menapak di lantai, Bian sudah oleng karena sakit kepalanya yang tiba-tiba menyerang. Untung ada Arini yang sigap meraih tubuh sang suami agar tidak terjatuh.
"Cih, keras kepala." Arini merutuki suaminya dalam hati, dokter menggelengkan kepala melihat tingkah Bian.
Bian diam sebentar, menunggu rasa sakitnya reda. Lalu tak lama kemudian, kaki sudah sempurna menginjak lantai.
"Lihat, aku baik-baik saja." Bian menunjukkan dirinya berdiri kokoh, padahal tangannya yang bebas dari jarum infus tengah menyangga di ujung ranjang. Arini menghela napasnya, kalau sudah begini suami tidak ingin dibantah. "Dokter, tolong lepaskan jarum infus ini. Ini sangat mengganggu pergerakan ku." Bian mengarahkan matanya pada tangan yang tengah diinfus. Arini maupun dokter ternganga mendengar itu.
"Tidak bisa mas." Arini menyahut lebih dulu atas keinginan suaminya.
"Benar sekali. Saya tidak bisa melepaskan infusnya Pak, karena Anda tahu sendiri. Sebelum datang kesini Anda muntah-muntah dan itu menyebabkan Anda kekurangan cairan." Ujar dokter, juga tidak setuju atas keinginan Bian.
"Tapi---"
"Jika Anda ingin kembali pingsan, dan tidak jadi memeriksa kehamilan istri Anda, saya akan membantu melepaskannya." Dokter itu berkata tersenyum, namun dengan nada sedikit penekanan. Sepertinya kesabarannya mulai terkuras menghadapi pasien seperti Bian.
"Ah, baiklah... baiklah...." Bian berkata malas menanggapi perkataan dokter. Arini menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya.
"Kalau begitu saya pamit dulu. Mohon untuk mengurus administrasinya agar dipindahkan ke ruang rawat." Dokter perempuan paruh baya itu menuliskan sesuatu di secangkir kertas. "Dan ini resep obatnya, Bu." Lanjutnya menyerah kertas itu pada Arini sebelum ia benar-benar keluar meninggal pasangan suami istri itu.
"Baik dokter, terima kasih." Arini menerima kertas yang disodorkan.
"Sama-sama, Bu." Dokter itu tersenyum mengangguk. "Permisi." ujarnya, di angguki Arini.
Setelah istrinya selesai bercengkrama dengan sang dokter, Bian mengajak istrinya untuk keluar dari ruangan emergency itu.
"Ayo sayang." Ajaknya tidak sabaran, berjalan sedikit linglung.
"Tapi mas, apa sebaiknya kamu istirahat dulu." Saran Arini khawatir melihat kondisi suaminya.
"Tidak usah sayang, aku baik-baik saja. Kalau aku istirahat, itu akan membuatku tidak tenang. " Bian dengan keras kepalanya tetap berjalan keluar dengan membawa tiang infusnya. Arini menghela nafas, mengikuti suaminya lalu membantunya berjalan.
Pintu ruang emergency terbuka, menampakkan Arini dan Bian. Azzam yang melihat kedua orang tuanya langsung berlari menghambur kearah keduanya.
"Mama... Papah...." Panggil Azzam terus berlari menghampiri keduanya.
"Sayang jangan lari-lari, nanti jatuh." Arini memperingati anaknya.
"Iya, Mah." Azzam mengangguk ketika sudah berdiri di depan keduanya, matanya masih sembab sisa tangisannya tadi.
"Papa tidak apa-apa kan?" Anak kecil itu berjalan satu langkah, langsung memeluk kaki jenjang papanya.
"Papa tidak apa-apa jagoan, kamu tidak perlu khawatir." Bian mengusap kepala anaknya lembut. Azzam mendongak, untuk memastikan ucapan papanya. "Kan papa kuat, lihat...." Ia menunjukkan otot lengannya di balik kemeja.
Azzam terlihat menyunggingkan senyum setelah tangisan panjangnya, ia mengangguk setuju dengan perkataan papanya barusan. "Iya papa memang kuat, kan anaknya Azzam." ucapnya dengan percaya diri dengan tiga kata terakhirnya.
Bian tersenyum, lalu mengangguk mantap. "Of course boy, kamu memang anakku, buktinya ketampanan ku turun seratus persen pada mu."
"Hic... hic...." Arini cegukan mendengar percakapan ayah dan anak ini. Sebegitu percaya diri 'kah mereka?
Ketiga manusia dibelakang Azzam, serentak menggelengkan kepala. Telinga mereka seakan berdenging karena tidak sanggup mendengar ucapan percaya diri diluar batas itu.
"Eh... kenapa dia keluar? Apakah sudah baik-baik saja?" tanya Rangga pada Arini karena melihat Bian keluar, Rio dan Arumi mengangguk juga ingin tahu.
"Ya, katanya begitu. Tapi lihatlah...." Arini mencebikkan bibir mengarahkan pada sang suami, hal tersebut membuat ketiganya bingung dan menuntut jawaban dari Bian langsung. Bian memutar bola matanya malas, tak berniat menjawab.
Rangga, Rio, dan Arumi kembali menatap pada Arini. Bian berdecak tidak suka atas tindakan Rangga dan Rio yang menatap istri dengan intens menurutnya.
"Heh... kondisi mata kalian, kalau tidak, bisa ku pastikan akan hilang dari tempatnya." Bian menatap nyalang pada Rangga dan Rio.
Mendengar itu serentak kedua orang itu meneguk saliva mereka susah, tatapan nyalang itu jelas mengarah pada mereka berdua. Arini dan Arumi mengernyit, siapa? Dan kenapa? Azzam hanya mendongak tidak mengerti, namun dia bisa melihat perubahan raut wajah papanya.
"Papa kenapa?" tanya Azzam mengusap punggung tangan Bian. "Ah... Papa tidak apa-apa." Bian kembali mengusap kepala anaknya lembut, menampilkan senyum termanisnya.
"Lalu?" Azzam menanyakan raut wajah Bian yang berubah tadi.
"Hanya gemas saja dengan Om Rangga dan Rio." Jawabnya kembali menatap nyalang pada Rangga dan Rio. Arini dan Arumi terbelalak. Sebegitu gemas kah, sampai menatap mereka berdua dengan mata yang ingin keluar?
Azzam terlihat bingung dengan jawaban papanya, tapi dia tetap ber-oh-ria.
"Tidak usah dipikirkan." Ucap Bian mencubit pipi anaknya gemas, wajah bingungnya sungguh lucu di mata Bian.
"Sekarang ayo kita ke suatu tempat." Ajaknya pada Azzam, meraih tangan anaknya. "Kalian berdua." Tunjuknya dengan sorot mata pada Rangga dan Rio. "Urus administrasi ku dan tembus obat itu." Ia melirik secangkir kertas yang di tangan sang istri. Arini yang mengerti langsung menyerahkan kertas itu pada Rangga.
Bian langsung berjalan melenggang setelah mengajak sang istri dan adik ipar untuk mengikutinya.
Rangga dan Rio melongo, "Apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia sensitif sekali?" tanya Rio menatap kepergian empat orang itu. "Iya, kaya perempuan datang tamu bulan saja." Jawab, Rangga mencebikkan bibirnya.
*****
Bersambung...