My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Mungkinkah Dia Menghindari Ku?



Keduanya saling memandang beberapa detik, Arini memandang sosok yang tak lain adalah Bian dengan tatapan dinginnya tanpa ekspresi, sedangkan Bian memandang Arini dengan pandangan yang tak bisa Arini artikan.


Lalu Arini memalingkan pandangannya dari Bian, ke arah koleganya tadi. Ia memutuskan pembicaraannya dan segera memanggil Hana untuk keluar dari gedung itu segera.


Hana yang di panggil oleh atasannya, segera mendekat dan mengakhiri pembicaraannya juga dengan kolega dari perusahaan lain.


"Ada apa, Bu?" tanya Hana ketika ia sudah ada di samping atasannya.


"Kita keluar dari gedung ini, segera." Jawab Arini berjalan lebih duluan, tanpa menghiraukan wajah Hana yang mengernyitkan dahi.


"Baik, Bu." Ucap Hana mengikuti Arini dari belakang, walau pun ia bingung dengan sikap atasannya yang buru-buru keluar dari gedung.


Sesampainya di mobil mereka yang ada di parkiran, Arini masuk dan diikuti oleh Hana yang langsung duduk di depan kursi pengemudi. Hana menyalahkan mobilnya dan melaju meninggalkan gedung itu menuju perusahaan.


Di dalam perjalanan, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kedua. Hana juga tetap diam, tidak mengeluarkan suara walau pun kebingungan masih menyelimuti pikirannya. Ia hanya memperhatikan atasannya yang tengah melihat keluar jendela dengan raut wajah yang berubah, tidak sebahagia seperti tadi sejak mereka datang untuk menghadiri pertemuan.


Sesampai mereka di perusahaan, Arini turun dari mobil dengan cepat tanpa memedulikan Hana yang sedari tadi ia acuhkan. Lalu berjalan cepat masuk lift, menuju ruangannya.


Arini menghempaskan tubuhnya di sofa, mengusap kasar wajahnya. Dan beberapa detik kemudian, air matanya luruh begitu saja.


*****


Setelah menghadiri pertemuan tahunan untuk para CEO, Bian langsung pulang ke apartemen pribadinya. Entah kenapa suasana hatinya tidak bersemangat lagi untuk ke kantor dan mengerjakan beberapa berkas di atas mejanya yang masih belum ia kerjakan.


Drt... drt....


Bian mengambil ponselnya yang tengah berbunyi di atas nakas, lalu mengangkatnya.


"Maaf, mengganggu waktu Anda, Tuan." Ucap orang di seberang telepon, yang tak lain adalah sekretaris Rio.


"Ya, ada apa?" tanya Bian dengan suara dinginnya.


"Saya hanya ingin melapor tentang perkembangan saham kita yang Anda minta tadi, Tuan." Kata Rio yang memang diminta oleh Bian untuk mengecek perkembangan saham perusahaannya.


"Hmm...." Dehem Bian mendengarkan.


"Saham kita dalam keadaan stabil saat ini, Tuan. Bahkan dalam posisi terbaik. Tapi---" Kata-kata Rio tertahan, demi menghembuskan napasnya terlebih dahulu untuk mengumpulkan keberanian.


"Tapi apa?" tanya Bian penasaran, namun suaranya masih bisa ia kendalikan.


"Kita mempunyai rival berat, Tuan." Ujar Rio kemudian.


"Siapa?" suara Bian naik satu oktaf, tapi tetap terkesan dingin.


"Perusahaan Azzam Alvaro Group." Jawab Rio memberi tahu nama perusahaan yang menjadi rival berat mereka.


"Azzam Alvaro Group?" Bian mengulangi apa yang di katakan oleh Rio sang sekretaris, karena ia baru mendengar nama perusahaan tersebut.


"Benar, Tuan. Perusahaan itu baru berdiri lima tahun lebih belakang ini, dan sudah bisa bersaing dengan perusahaan kita." Ujar Rio menjelaskan apa yang ia tahu.


"Kenapa bisa?" tanya Bian tidak percaya, masih dengan nada suara yang bisa ia kendalikan.


"Belakangan ini mereka sering melakukan inovasi baru, dengan meningkatkan kualitas produk mereka dan melakukan iklan-iklan yang berkelas di berbagai media." Jawab Rio menjelaskan.


"Hmm...." Kembali Bian berdehem. "Lakukan ajakan untuk bekerja sama dengan perusahaan mereka." Ujar Bian memberi perintah.


Setelah mendengarkan jawaban dari Rio sang sekretaris, Bian langsung menutup teleponnya secara sepihak. Ia meletakkan kembali ponselnya di atas nakas, lalu berjalan menuju balkon apartemennya.


"Apa yang dia lakukan di pertemuan tadi? Apakah dia bekerja sebagai sekretaris, sehingga menemani atasannya untuk melakukan pertemuan? Dan kenapa dia buru-buru keluar dari gedung setelah melihatku, mungkinkah dia menghindari ku?" pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak Bian, setelah ia kembali bertemu dengan Arini.


"Sudah lama aku tidak melihatnya." Gumam Bian, bersandar di pagar balkonnya. "Tapi memang aku tidak pernah mencarinya selama ini." Gumamnya lagi, berdialog dengan dirinya.


"Huft...." Bian mengusap kasar wajahnya, mengingat kembali kejadian yang pernah terjadi antara ia dan Arini.


*****


Setelah sekian lama, baru bertemu kembali dengan dia. Membuat bayangan naas kembali berputar dalam pikiran Arini, sehingga ia cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya dan ingin pulang lebih awal untuk hari ini. Arini pun mengambil teleponnya guna menelpon Hana.


"Hana, bisa ke ruangan ku." Ucap Arini menelpon Hana.


"Baik, Bu." Jawab Hana singkat. Mendengar itu, Arini menutup teleponnya. Lalu menunggu Hana masuk ke ruangannya.


Tok... tok....


Suara ketukan pintu, yang Arini tahu itu adalah Hana.


"Masuk." Ujar Arini mempersilakan Hana untuk masuk ke ruangannya. Hana masuk, setelah mendengar suara tersebut yang memperbolehkannya untuk masuk.


"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya Hana berdiri di depan meja kerja Arini.


"Apa masih ada berkas yang harus aku tanda tangani? Aku ingin pulang lebih awal hari ini." Kata Arini tanpa menoleh pada Hana, karena ia sedang fokus membersihkan perlengkapannya untuk di bawa pulang.


"Sudah tidak ada, Bu. Tapi, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan sebelum Anda pulang." Kata Hana lirih, melihat ekspresi berbeda dari atasannya semenjak pulang dari pertemuan tahunan itu.


"Apa itu?" tanya Arini menoleh pada Hana, lalu kemudian fokus pada kegiatannya.


"Perusahaan Pratama Group mengajak kita untuk bekerja sama, Bu." Kata Hana memberitahu.


"Pratama Group?" ujar Arini mengulangi apa yang di katakan oleh Hana, ia menghentikan kegiatannya sejenak. Tampaknya sedang berpikir.


"Iya, Bu. Perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan terkemuka baik di dalam negeri maupun luar negeri. Jadi, kalau kita bekerja sama dengan perusahaan ini, maka perusahaan kita akan mendapatkan banyak keuntungan." Ucap Hana menjelaskan. Arini masih berpikir, karena mendengar kata 'Pratama' pada nama perusahaan itu. "Sepertinya aku pernah mendengar nama itu." Gumam Arini dalam hati.


"Baiklah, kamu atur saja pertemuannya." Ujar Arini kemudian, lalu kembali menyelesaikan kegiatannya yang sempat terhenti. Ia tidak ingin terlalu memikirkan nama itu, karena sejatinya pasti banyak orang yang mengenakan nama tersebut. Apalagi sekretarisnya tadi bilang bahwa nama tersebut adalah nama perusahaan terkemuka, jadi pantas saja jika Arini pernah mendengarnya.


"Siap, Bu." Ujar Hana, lalu membungkuk sedikit dan keluar dari ruangan Arini menuju meja kerjanya.


Setelah selesai membersihkan perlengkapannya untuk di bawa pulang. Arini keluar dari ruangannya lalu memasuki lift, dan tak lupa pula ia menyapa Hana yang masih setia duduk di depan meja kerjanya.


"Aku duluan ya... Han." Sapa Arini terus berjalan menuju lift.


"Iya, Bu. Silakan." Kata Hana mempersilahkan, seraya mengangguk sedikit.


Arini terus turun, hingga ia sampai di lobby. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya, membungkuk tanda hormat melihat atasannya yang lewat. Arini membalas dengan anggukan kepala. Lalu terus berjalan, menaiki mobilnya dan melaju pulang menuju kediamannya.


*****


Bersambung...