My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Suamiku Aku Juga Mencintaimu



Malam beranjak begitu cepat, suasana-suasana hangat dan romantis selalu menyelimuti keluarga kecil itu.


Arini kini membuka pintu kamar mereka, ditangannya terdapat segelas susu yang sebenarnya akan ia berikan pada Azzam. Namun, sang anak sudah tertidur pulas di kamarnya sendiri karena lelah bermain bersama Bian seharian ini.


Bian duduk di sebuah sofa yang di depannya terdapat jendela besar, tirainya terbuka lebar menampakkan kerlap-kerlip lampu rumah-rumah kompleks, lampu hias menghiasi sepanjang jalanan, serta keindahan taman yang pernah mereka lewati dihiasi oleh lampu-lampu warna-warni. Suasana malam yang indah dan tenang di kompleks itu.


Ia mendongak, menyampingkan laptop yang berada di pangkuan sembari tadi, mengerjakan beberapa pekerja yang tidak bisa Rio kerjakan.


"Sini sayang." Ucapnya, menepuk-nepuk sofa di sampingnya, mengajak Arini untuk duduk bersama. Arini mengangguk, menghampiri suaminya.


"Anak kita gimana? Sudah tidur?" Tanya Bian melihat istrinya sudah duduk di sofa sampingnya.


"Iya, Azzam sudah tidur. Dan tidak sempat meminum susunya." Arini memberitahu dan memperlihatkan segelas susu di tangannya.


Entah kenapa mendengar anaknya sudah tertidur, Bian langsung tersenyum dengan lebarnya.


Ia menutup laptopnya, lalu menggeser tubuhnya di samping sang istri yang tengah menyimpan segelas susu itu di atas meja samping sofa.


Semakin mendekati sang istri Bian dapat mencium parfum yang di gunakan oleh sang istri, sangat wangi dan menyegarkan. Dia terus menggeser tubuhnya, dan matanya tak sengaja melihat garis dua gunung abadi sang istri. Bian meneguk salivanya susah. Matanya menyusuri garis itu, terus menyusurinya, dan tiba-tiba Arini menoleh kepalanya menghadap sang suami.


Membuat Bian terlonjak kaget, dan hampir saja bibir mereka bertemu. Membuat keduanya jadi dalam suasana kecanggungan. Bian mengusap tengkuknya, bertingkah kikuk, Arini tak bedah jauh darinya.


"Uum.... itu, anu... boleh aku minta susunya." Ucap Bian langsung memukul bibirnya pelan, pikirannya jadi berkeliaran liar. "Eh... maksudnya segelas susu itu sayang." Lanjut Bian meralat ucapnya, menunjuk pada gelas di atas meja.


Arini mengernyitkan melihat keanehan sang suami, tapi ia tetap memberikan segelas s*su itu.


Bian mulai mencicipi, ekspresinya aneh, dipandangnya segelas susu putih itu, dan kembali mencicipinya. Ekspresinya semakin aneh saja.


"Ada apa....?" Tanya Arini melihat ekspresi sang suami.


"Umm... susunya asing, seperti di taruh garam." Ucap Bian berhenti mencicipi.


"Benarkah... tapi perasaan aku tidak memberinya garam." Ucap Arini yang sangat tidak masuk akal, tidak mungkin kan ia memberikan garam pada minuman anaknya.


"Iya sayang, coba kau cicipi." Ucap Bian menyodorkan gelas itu pada Arini.


Arini menerimanya, dan mulai mencicipi. Ia mengernyit, rasanya manis tidak asin seperti yang dikatakan Bian.


"Rasanya manis, mas...." Arini menyodorkan kembali gelas itu pada Bian. Bian ikut mengernyit, mencicipinya ulang.


"Tidak sayang, rasanya asing, coba kau cicipi baik-baik. Sepertinya lidah mu kurang peka." Bian masih mengatakan segelas s*su itu terasa asin, padahal Arini sudah mencobanya dan terasa manis di lidahnya.


Arini mengambil kembali gelas yang ada di tangan suaminya, ia mencicipinya kembali. Dan kali ia mencicipinya dengan seksama, bahkan lidahnya ia julukan ke dalam gelas, mengaduk-aduk di sana, siapa tahu yang dikatakan suaminya benar, kalau lidahnya tidak peka. Tapi yang Arini rasakan tetap sama, manis.


"Tidak Mas, rasanya tidak asin! Lidah mu saja yang tidak peka, bukan lidah ku!" Ucap Arini dengan tegas.


"Benarkah? Kalau begitu sini ku coba lagi." Bian menjulurkan tangannya, meminta kembali gelas itu.


"Nih...." Arini memberikannya kembali pada Bian.


"Eh... iya, s*sunya manis sayang." Ucapnya menyimpan gelas kosong pada meja, dengan senyuman lebar.


"Ah, mas mengerjai ku ya...." Arini mencubit pinggang Bian pelan.


Bian terkekeh, meraih tubuh sang istri. Arini langsung merebahkan kepalanya ke dada bidang Bian. Bian memperbaiki posisi duduknya, membuat nyaman sang istri. Ia membelai-belai rambut sang istri yang lembut dengan leluasa, memeluknya, sesekali menciumi pucuk kepala Arini dengan sayang dan penuh cinta.


Suasana malam itu begitu romantis, dunia seakan milik berdua, apalagi tidak ada orang yang mengganggu dua insan yang masih berstatus pengantin baru itu.


Arini merasa sangat nyaman diperlakukan begitu oleh sang suami, hatinya mulai terbuka, atau bahkan sudah mulia mencintai suaminya itu. Perlakuan manis Bian beberapa hari ini membuat hatinya tersentuh, berbunga-bunga.


"Sayang...." Panggil Bian membuat Arini mendongak, diperhatikannya dengan seksama gerak bibir sang suami. Apa yang akan di ucapkannya.


Bian diam sejenak, membuat Arini gemas menunggu apa yang akan diucapkannya.


"Sayang, akan ku ingat momen-momen romantis ini, akan ku pahat nama mu seorang dalam hatiku. Janji suci pernikahan kita tak kan pernah kuingkar kan, kesempatan kedua yang kau berikan tak kan pernah ku sia-sia." Ucap Bian dengan penuh kesungguhan, dipandanginya lekat-lekat wajah sang istri. "Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Kata-kata itu lolos di mulutnya berulang kali, sangat tulus terdengar di telinga Arini.


Arini balas memandanginya, dipegangnya pipi sang suami, mengelusnya dengan lembut. Tangannya berganti mengelus bibir sang suami, bibir yang selalu menyatakan pernyataan cinta padanya. Arini diam sejenak, ia tidak pernah membalas pernyataan cinta dari sang suami.


Ia kembali mengelus-elus bibir Bian, tidak ada lagi alasan baginya untuk tidak membalas ucapan manis itu. Ia sudah mencintai suaminya, karena tidak satu pria pun yang pantas mendapatkan rasa cinta itu selain sang suami dan anaknya.


Arini bergerak mendekati telinga sang suami, dibisiknya pelan kalimat manis itu untuk mewakili hatinya.


Mata Bian membelalak mendengarkan, rasa bahagia, senang, haru, menyelimuti hatinya, menerobos masuk ke sana. Kini cintanya dibalas oleh sang istri.


Bian meraih wajah Arini, diciuminya kening sang istri dengan lama. "Apakah itu benar sayang." Ucapnya ingin mendengar lagi kata-kata manis itu. Wajah Arini merona memerah, namun ia tetap akan mengulangi ucapan itu.


"Aku mencintaimu suamiku, juga sangat mencinta---" Belum sempat ia mengulanginya, Bian sudah menutup mulutnya dengan ciuman penuh cinta. Arini membalasnya, ia melingkarkan tangannya di leher sang suami.


Mereka berdua sama-sama menikmati ciuman itu, mer*sa*inya dalam, menyalurkan rasa cinta mereka yang membara.


Bian m*lu*at bibir sang istri dengan kelembutan, masuk ke dalam mulut, menjelajahi setiap sisinya. Tangannya bergerak memeluk pinggang ramping sang istri, memeluknya erat agar semakin mendekat.


Bian bangkit, menggendong sang istri, dibawanya menuju ranjang, tanpa melepaskan ciuman mereka.


Sampai di sana Bian menunduk perlahan, dibaringkannya tubuh Arini dan ia ikut menaiki ranjang itu.


Ciuman mereka semakin panas saja, rupanya gairah sudah menyelimuti keduanya, Bian dengan gerakan perlahan tapi pasti sudah menanggalkan pakaian mereka, menyisakan tubuh polos keduanya tanpa sehelai benang pun.


Tiba untuk penyentuhan terakhir, ia memandang wajah sang istri, dan langsung diangguki oleh Arini.


Mereka berdua pun mulai memainkan melodi cinta paling indah dalam sejarah percintaan umat manusia sebagai pasangan yang halal.


*****


Bersambung...