
Hari semakin beranjak sore, pukul 16:35 Arini baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ia bangun dari kursinya, merapikan meja kerjanya, lalu memasukkan semua barang-barang yang harus ia bawa pulang.
Setelah semua barang-barang itu masuk dan memastikan tidak ada yang tertinggal lagi, Arini menyambar jasnya yang ia simpan di belakang kursi, lalu memakainya.
Ia keluar dari ruangannya, menutup pintunya rapat, berjalan memasuki lift yang akan membawanya menuju lobby perusahaan.
Arini berjalan cepat, setengah berlari. Matanya fokus menatap ke depan tempat keluar menuju parkiran, setelah ia keluar dari lift itu.
“Aduh....”
Tiba-tiba dari arah samping, ada yang menabraknya. Arini mengaduh sakit, karena bokongnya sempurna mencium lantai, serta kakinya yang sepertinya tidak bisa di gerakkan.
Sedangkan orang yang menabraknya, ia hanya mundur beberapa langkah karena kaget. Tidak membuatnya terjatuh seperti Arini.
“Eh... maaf, saya tidak sengaja.” Orang yang menabrak Arini mengulurkan tangannya, ingin membantu.
Arini masih mengadu sakit. Ia menarik tasnya yang tergeletak tidak terlalu jauh dari posisinya jatuh. Lalu menerima uluran tangan dari seseorang tersebut agar membantunya berdiri.
Tapi, belum sempat orang itu mengampai tangan Arini agar bisa membantunya. Arini tiba-tiba menarik kembali tangannya, menyadari yang mengulurkan tangan itu adalah seorang laki-laki.
“Eh... tidak usah, terima kasih.” Ucap Arini, berusaha bangkit sendiri. Namun, kaki kirinya terasa sangat sakit, membuat ia kembali terjatuh.
“Ahkk....” Rintih Arini masih berusaha bangkit sendiri.
“Biar saya bantu.” Laki-laki itu kembali mengulurkan tangannya, setelah Arini menolaknya tadi.
Dengan terpaksa, Arini menerima uluran tangan laki-laki itu. Yang membuat bisa bangkit berdiri.
“Terima kasih.” Ucap Arini, melepaskan tangannya dari genggaman tangan laki-laki itu. Lalu mengibaskan rok dan bajunya yang sedikit kotor. Dengan kaki kiri yang terangkat sedikit, belum bisa di gunakan untuk berdiri memompa tubuhnya.
“Eh... sekali lagi saya minta maaf, karena saya tidak hati-hati saat berjalan tadi. Sehingga tak sengaja membuat kaki Anda terkilir.” Ujar laki-laki itu merasa sangat bersalah, melihat kaki kiri Arini.
“Iya, tidak apa-apa. Lagi pula saya juga yang salah karena terlalu terburu-buru tadi.” Arini ikut meminta maaf, mendongak melihat wajah laki-laki yang sekarang berdiri di hadapannya ini. Karena tinggi Arini dan tinggi laki-laki ini hanya sebatas bahunya.
Deg...
Tiba-tiba jantung laki-laki itu berdegup kencang, tak kalah matanya bertemu dengan Arini.
“Uuukh... kenapa aku ini?” gumamnya dalam hati, ingin memegang bagian dadanya. Tapi, malu kepalang jika ia melakukan itu di hadapan perempuan ini.
Arini menelisik wajah laki-laki di hadapannya ini, terasa asing di matanya. Rasanya laki-laki ini bukanlah bagian atau pegawai dari perusahaannya, juga bukan dari para klien apa lagi koleganya.
“Lantas kalau bukan dari semua itu, laki-laki ini siapa? Dan mau apa?” gumam Arini dalam hati, masih menelisik. Menyipitkan mata curiga, melihat laki-laki dihadapannya.
Dilihat seperti itu oleh Arini, laki-laki itu jadi sedikit salah tingkah, belum lagi jantungnya yang sekarang semakin berdegup kencang tak tahu penyebabnya. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, untuk menetralkan respon tubuhnya yang aneh ini.
"Eh---" Ucap laki-laki itu tertahan, ingin mengatakan sesuatu pada Arini. Tapi ia urungkan mendengar bunyi ponsel Arini, dan dengan segera Arini merongoh ponselnya yang berada di dalam tas.
"Hallo... assalamu'alaikum." Sapa Arini terlebih dahulu, setelah menggeser ikon warna hijau, mengangkat teleponnya.
"Iya sayang?" telepon itu ternyata dari Azzam, yang menunggu Arini untuk pulang.
Mendengar sebutan sayang yang keluar dari mulut Arini, entah kenapa laki-laki itu merasa dadanya panas seketika.
"Apa itu dari pacarnya atau suaminya?" gumamnya tak sadar, dengan suara kecil sampai Arini yang berada cukup dekat dengannya tidak mendengarkan gumaman itu.
"Iya sayang, sebentar lagi mama sampai rumah."
"Oh... ternyata itu dari anaknya." Laki-laki itu mengangguk kepalanya sedikit lega. Tapi, sesaat kemudian ia baru menyadari satu hal. "I-itu berarti... dia sudah punya suami!" Lanjutnya bergumam, menyadari kenyataan telak itu. Membuat rasa lega tadi hilang menguar digantikan rasa kecewa mendalam.
"Anda kenapa?" tanya Arini melihat laki-laki di hadapannya menepuk jidatnya sendiri, setelah ia sudah memutuskan telepon dari Azzam.
"Ti-tidak apa-apa." Ucapnya gugup, salah tingkah. Baru menyadari kalau ia menepuk jidatnya sendiri.
"Terus, kenapa jidatnya ditepuk?" tanya Arini lagi, mengeryit.
"Eh... itu... tadi... ada nyamuk, iya tadi ada nyamuk. Makanya aku tepuk." Kilahnya, semakin salah tingkah.
"Oh...." Arini mengangguk mengerti. "Kalau begitu saya duluan, ya." Pamit Arini. Lupa menanyakan laki-laki ini berasal dari mana, dan mau apa di perusahaannya. Karena pikirannya sekarang, hanya ingin segera pulang bertemu dengan Azzam, ibu dan Arumi.
Belum sampai satu langkah, Arini kembali meringis. Kaki kirinya tidak bisa di ajak untuk berjalan.
"Sepertinya kaki Anda tidak bisa digunakan untuk berjalan." Laki-laki itu refleks memegangi tangan Arini membantunya kembali berdiri tegak.
Arini berhenti, diam di tempatnya berdiri. Matanya melebar menatap tangannya yang dipegang oleh laki-laki itu.
"Ma-maaf." Ucap laki-laki itu melepaskan pegangan tangannya dari tangan Arini, karena menyadari Arini tidak menyukai hal itu.
"Iya, tidak apa-apa." Ucap Arini kemudian. Lalu kembali berjalan, menggerakkan kaki kirinya perlahan menuju parkiran tempat mobilnya berada.
Sampai di parkiran Arini mendekati mobilnya. Ia berdiri di samping mobil, terpelongo. Memandangi mobil, bergantian dengan kakinya.
"Bagaimana aku bisa membawa mobil? Kalau kaki ku saja begini." Ujar Arini, bingung.
"Biar saya yang bawa mobilnya, dan mengantarkan Anda pulang." Ujar seseorang dari belakang, yang ternyata laki-laki itu.
Tadi tak sadar, kakinya mengikuti langkah Arini dari belakang. Lalu ketika melihat kebingungan Arini, ia pun menawarkan bantuannya.
Arini membalikkan badannya, melihat laki-laki itu yang sudah berada tepat di belakangnya dengan jarak satu meter.
"Tidak u---" Arini ingin menolak, tapi laki-laki itu sudah berkata terlebih dahulu.
"Tidak apa-apa, lagi pula penyebab kaki Anda begitu adalah saya. Jadi saya harus bertanggung jawab." Ucapnya mantap.
Arini menoleh ke belakang mobilnya, lalu kembali memandangi kakinya. Sejenak... ia pun mengangguk. Tidak ada pilihan lain lagi agar ia bisa segera pulang ke rumah. Jika menaiki taksi, berarti kakinya harus ia paksakan berjalan menuju jalan raya, belum lagi menunggu taksi lewat dan menyetopnya. Sungguh akan membutuhkan waktu yang lama.
"Silakan masuk." Laki-laki itu membuka pintu mobil yang kursinya di samping kemudi.
Arini menggeleng, tidak ingin duduk di sana. Ia menuju kursi belakang bagian tempat duduk penumpang.
Melihat Arini menggeleng, dan menuju kursi penumpang. Laki-laki itu pun menutup kembali pintu mobil dan membuka pintu di kursi penumpang.
"Silakan." Ucapnya, mendapatkan anggukan dari Arini.
"Terima kasih." Ucap Arini, menaiki mobilnya.
Setelah melihat Arini naik, laki-laki itu bergegas menuju kursi kemudi. Menyalakan mobil, setelah mendapatkan kuncinya dari Arini.
"Apakah Anda siap?" tanyanya menoleh ke Arini melalui kaca spion yang ada di dalam mobil. Arini mengangguk, tidak menjawab dengan suara.
Setelah melihat anggukan Arini, laki-laki itu mulai melajukan mobil menuju jalan raya yang sedikit lengan karena jam pulang kantor sudah sejak tadi.
*****
Bersambung...