
Tanpa Bian dan Arini sadari, ada sepasang mata yang menatap sendu sekaligus senang dengan pernikahannya mereka berdua.
Ya, dia adalah Marvel yang datang memenuhi janjinya pada Azzam. Berdiri di pojok ruangan tanpa ada satu orang pun yang memerhatikannya.
Matanya sesekali mengusap air bening yang turun dari matanya yang sendu, namun itu tidak memudarkan senyuman bahagia atas ikatan baru antara Arini dan sepupu Bian. Dalam hatinya, ia ikut mendoakan hubungan baru yang baru saja terjalin di depan matanya itu.
Marvel berbalik, berniat meninggalkan acara yang semakin meriah karena sekarang sepasang pengantin baru itu tengah menyapa para tamu undangannya.
Namun, seseorang terlebih dahulu menahan tangannya, Marvel cepat-cepat mengusap air bening di matanya yang kini kembali turun dan dia pun menoleh ke belakang. Melihat siapa yang tengah memegang tangannya.
"Hai... kenapa kamu hanya berdiri di sini?" Sapa Dian, yang memang sedari tadi mencari keberadaan Marvel. Ia yakin sekali Marvel akan datang di acara pernikahan sahabatnya ini. Dan entahlah keyakinan itu datang dari mana.
"Eh, hai...." Marvel menyapa balik Dian dengan sedikit canggung, senyum tipis terukir di bibirnya untuk menghilangkan raut wajah sedihnya.
"Ayo... ikut aku, kita pergi mengucapkan selamat untuk pengantin baru itu." Belum sempat Marvel menjawab pertanyaannya, kini Dian menarik Marvel untuk menyapa Arini dan Bian yang sedang berada di atas panggung.
"Eh... aku tidak bisa ke sana." Tolak Marvel pada Dian yang terus menariknya pelan agar mengikuti langkahnya.
"Sudah ikuti saja." Timpal Dian yang terus memaksa Marvel untuk mengikutinya menuju panggung. Ia berniat membantu Marvel untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi antara suami sahabatnya dan Marvel.
Mereka semakin dekat dengan panggung, tapi sejurus kemudian seseorang tanpa di duga langsung memeluk Marvel. Membuat Dian refleks melepaskan tangan Marvel dan tidak lagi memaksanya untuk menaiki panggung.
Fokus Dian sekarang teralihkan pada perempuan yang tengah memeluk Marvel secara tiba-tiba ini, ia menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Dian sedikit mengernyit karena Marvel tidak menolak pelukan itu dan malahan Marvel membalas pelukan dari perempuan ini membuat Dian mengernyit dalam.
"Kak, dari mana saja kau? Aku mencari mu selama ini." Ucap perempuan itu, yang ternyata adalah Alysha.
Bertemu kembali dengan Marvel setelah sekian lama membuat ia tak tahan memeluknya, melepas rindu pada sang sepupu yang sudah bagaikan saudaranya sendiri. Karena Marvel yang selalu ada dan menemaninya bermain sewaktu kecil.
"Kakak pergi---" Ucap Marvel terpotong, ingin menjelaskan.
"Aku tahu kenapa kau pergi, tapi kenapa kau tidak memberitahu ku dan menghilang begitu saja?" Potong Alysha, melepaskan pelukannya dari Marvel. "Aku juga tahu permasalahan mu dengan kak Bian, tapi itu semua kan bukan kesalahan mu." Lanjut Alysha.
"Ka-kamu tahu itu semua dari mana." Ujar Marvel dengan nada berbinar, akhirnya ada anggota keluarganya yang mengetahui kebenaran bahwa ia tidak bersalah.
"Aku tidak sengaja mendengar percakapan papa dengan bawahannya." Jelas Alysha.
Ah, tentu saja! Tuan Dean, om-nya itu tidak akan tinggal diam dan membuat semua itu berjalan begitu saja.
"Kalau begitu apakah Bian sudah mengetahui tentang hal ini juga?" Tanya Marvel masih dengan nada binarnya, karena dengan begitu ia bisa hidup bebas tanpa gangguan dari Bian yang membuat perhitungan padanya. Dan dengan begitu juga, ia bisa berdekatan dengan Azzam kapan pun. Karena Marvel sudah menganggap Azzam dan Arini sebagai keluarganya.
"Sayangnya belum kak, papa belum memberitahu kami semua. Aku saja tidak sengaja mendengar percakapan papa tentang itu." Jawab Alysha, membuat Marvel sedikit kecewa. Tapi, ia cukup lega dengan kabar dari Alysha.
"Mungkin papa sedang menunggu waktu yang tepat untuk memberitahukan kebenaran itu kepada kami semua." Lanjut Alysha, menenangkan Marvel. Marvel mengangguk pelan, mengiyakan.
"Kami mau menyapa Bian dan Arini." Jawab Marvel melihat ke arah pengantin baru itu.
"Eh... bukannya aku melarang, tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat." Saran Alysha, juga melihat ke arah kakak dan istrinya yang sedang menyapa para tamu undangan.
"Ya... sepertinya begitu." Timpal Marvel.
Diam hanya mendengarkan percakapan antara mereka berdua, ia melihat kedekatan antara Marvel dan perempuan ini. Yang Dian tebak perempuan ini adalah adiknya Bian, dan itu berarti perempuan ini adalah sepupunya Marvel.
Entah kenapa, hati Dian merasa lega menyadari kebenaran itu.
"Apakah ini pacar mu kak?" Tanya Alysha tersenyum manis ke arah Dian. Dian yang mendengar itu, wajahnya jadi memerah.
"Eh... bukan, Dian bukan pacarku. Kami baru saja bertemu beberapa hari ini, dan dia adalah sahabatnya Arini." Marvel menjawab cepat pertanyaan dari sepupunya itu, takut Dian merasa tidak enak.
Alysha memandang keduanya, dan menyadari perubahan wajah Dian yang terlihat sedikit kecewa mendengar jawaban dari sepupunya Marvel. Ia tersenyum menyadari satu hal. Apakah sahabat dari kakak iparnya ini menyukai sepupunya Marvel?
"Hm...." Alysha berdehem seraya menyunggingkan seulas senyum. "Ya, sekarang di bukan pacarmu. Tapi, semoga ke depannya dia akan menjadi calon mu." Ujar Alysha menjauh dari dua orang itu, yang sekarang saling menatap dengan kecanggungan.
"Kalian berdua nikmatilah acaranya, aku mau melihat keponakan ku dulu, bye...." Usai mengatakan itu, Alysha pun benar-benar meninggalkan keduanya. Memberikan waktu lebih untuk mereka.
*****
Alysha menghampiri mamanya yang sedang memperkenalkan cucu tampannya pada teman-teman sosialitanya.
Wajahnya sedari tadi tak henti-hentinya menyunggingkan seulas senyum bahagia, ia sangat puas bisa memamerkan cucunya ini pada teman-temannya yang selalu bertanya kapan ia akan memiliki cucu. Dan mengejeknya, mana bisa memiliki cucu jika wajah anaknya saja 'Bian', yang terlihat datar dan dingin seperti es balok itu.
Dan sekarang teman-temannya sangat iri melihat perawakan Azzam yang sudah terpancar ketampanannya di usia yang masih kecil seperti ini.
"Ih... cucu kamu tampan banget Mir, jadi pengen deh punya cucu kaya gini." Ucap salah satu teman sosialitanya mama Mira, seraya mencubit pipi Azzam yang terlihat gembul sangat menggemaskan.
"Kasih aku aja ya....!" Ucap yang lainnya, terlihat sangat iri. Bahkan ia sudah memegang satu tangan Azzam.
"Nggak usah di dengerin ucapan tante-tante itu ganteng. Mending kamu ikut tante aja, di rumah tante banyak mainan loh...." Yang lainnya ikut menimpali, seraya mengiming-imingi permainan pada Azzam agar mau mengikutinya pulang.
"Eh... eh... enak aja, mau ngambil cucuku begitu saja. Lebih baik kalian suruh saja anak kalian buat cucu lagi." Mama Mira memegang tangan Azzam yang masih bebas. Sedangkan tangan Azzam satunya lagi masih dipegang oleh temannya yang sekarang juga ikut mengiming-imingi permainan yang banyak untuk Azzam, jika seandainya Azzam mau mengikutinya pulang.
Azzam yang diperlakukan begitu oleh teman-teman neneknya hanya bisa menghela napas, terpaksa menerima semua cubitan-cubitan yang mengarah pada pipi gembul nya yang sekarang semakin gembul saja. Ia berharap ada seseorang yang menolongnya dari semua cubitan ini.
*****
Bersambung...