My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Mengantar Azzam ke Sekolah



Sinar matahari menyinari di sela-sela jendela kamar yang masih tertutup gorden dengan rapi. Dua pasangan pengantin baru itu terlihat sangat nyaman dan saling mengeratkan pelukannya.


Bian menggeliat, membuka perlahan kelopak matanya, dan ketika matanya sudah menyesuaikan dengan cahaya. Bian langsung di sunggukan oleh wajah cantik sang istri.


Arini masih tertidur dengan nyenyak nya dalam pelukan sang suami. Rasa kantuk dan sakit di area selangkanya membuat ia tidur pulas seperti ini.


Apalagi setelah sholat subuh tadi, suaminya tidak memberikannya istirahat, malah melanjutkan aktivitasnya yang baru selesai jam dua pagi tadi.


Bian memandangi wajah sang istri yang tertidur pulas dengan tenangnya. Ia mengusap pipi Arini lembut, memainkan anak rambutnya, lalu ia tersenyum mengingat kembali malam kedua mereka.


"Aku mencintaimu sayang." Bian mengecup sekilas bibir Arini, lalu ia pun beralih mengecup dahi Arini dengan lama. Menikmati sentuhan hangat yang menjalar masuk ke relung hatinya. Arini tidak merasa terganggu dengan aktifitas suaminya, ia tetap tidur dengan pulasnya.


Setelah puas melakukan itu, Bian bangkit untuk membersihkan dirinya, masuk ke dalam kamar mandi. Tapi sebelum itu, ia terlebih dahulu merapatkan selimut untuk sang istri.


Usai membersihkan diri, Bian masuk ke ruang ganti. Memakai baju kasual dan langsung menuju kamar sang anak.


Tanpa mengetuk pintu, Bian langsung masuk ke kamar anaknya yang tidak terkunci. Terlihat di sana Azzam sudah rapi mengenakan baju seragam sekolahnya.


"Morning my boy." Bian masuk menyapa anaknya yang tengah sibuk memilih buku.


Azzam menoleh, dan wajahnya langsung mengembang seulas senyum lebar. "Morning papa." Azzam berlari menghampiri Bian, dan Bian langsung meraih tubuh mungil anaknya untuk digendong.


"Wah... anak papa pintar sekali pakai baju sendiri." Bian memuji anaknya dan menciuminya gemas.


"Hehehe... i-iya dong pah, kan Azzam sudah besar." Azzam tertawa geli, menghindar dari ciuman bertubi-tubi papanya.


"Bukunya sudah diatur?" Tanya Bian melihat tas Azzam sudah tertutup rapi.


"Umm... sudah." Jawab Azzam mengangguk.


"Good job." Bian mengusap rambut Azzam, sehingga membuat rambut anak laki-laki itu menjadi berantakan kembali.


"Ahh.... papa... rambut Azzam jadi berantakan lagi....!" Azzam bersunggut, melihat rambutnya yang rapi kini sudah acak-acakan. Padahal ia membutuhkan waktu cukup lama untuk menyisirnya.


"Hehehe... nanti papa sisir ulang." Ujar Bian meraih tas anaknya, lalu ia memakaikannya pada Azzam.


Azzam memoyongkan bibirnya, pipinya menggembul merah.


"Uhhh... jangan gitu dong, nanti gantengnya hilang." Bian mentoel pipi anaknya, membuat bibir Azzam semakin mengerucut.


"Ya sudah... papa akan perbaiki kembali rambutnya." Bian membawa Azzam menuju cermin, dan mengambil sisir, mulai memperbaiki rambut anaknya yang acak-acakan akibat ulahnya.


"Nggak gitu pah... ini di sisir ke kanan, bukan ke kiri." Azzam menggeleng, tidak suka dengan cara sisir papanya. Bian kembali menyisir rambut Azzam mengarah ke kanan, karena sebelumnya ia menyisirnya ke kiri.


"Yang itu di atasin dikit pah, jangan ke bawah." Azzam kembali menggeleng, tidak suka.


"Huft...." Bian menghela napas, sangat menyesal karena telah mengacak-acak rambut anaknya ini. Kalau tahu kejadiannya akan seperti ini, Bian tentu saja akan berpikir beribu-ribu kali untuk mengacak-acak rambut anaknya. Pasalnya ia sudah menyisir rambut sang anak sudah lebih dari sepuluh menit, dan Azzam belum puas dengan sisiran nya.


"Itu yang sehelai... di atasin lagi dikit, terus sisir ke kanan. Dikit aja pah, setengah senti." Coloteh Azzam mengintruksi papanya.


Bian menghela napas yang entah sudah berapa kali, namun begitu ia tetap menyisir sesuai instruksi anaknya. Sebagai tanda pertanggung jawaban atas perbuatannya.


"Hmm... dia mengikuti kebiasaan siapa? Aku tidak pernah terlalu peduli seperti ini dengan penampilan ku." Batin Bian tak terucap, rasanya ia ingin menangis haru akan anaknya yang sudah pintar mamakai baju sendiri dan memerhatikan penampilannya dengan sangat teliti. Bahkan panjang pendek rambutnya diukur dengan senti-sentian. Bian sungguh tidak habis pikir.


"Perfect." Azzam tersenyum dengan lebarnya, bibirnya yang mengerucut digantikan senyuman lebar itu.


"Makasih pah...." Azzam membalikkan badannya, memeluk Bian.


"Eh... hati-hati boy. Nanti rambutnya berantakan lagi. " Wajah Bian khawatir bukan main, takut rambut itu kembali berantakan.


"Hehehe iya." Azzam tertawa cengengesan, melihat raut wajah dari papanya. Jangankan beberapa menit begini, Azzam sendiri bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyisir rambutnya.


"Ya sudah pah, ayo sekarang kita berangkattt." Azzam semangat menarik tangan Bian untuk berangkat sekolah.


"Ayo... tapi sebelum itu papa mau Azzam sarapan dulu." Bian bangkit, mengedong anaknya kembali.


"Siap papa." Ucap Azzam mengalunkan tangannya pada leher Bian. Ayah dan anak itu pun menuju ke dapur untuk sarapan pagi.


*****


Mereka berdua selesai sarapan, dan sekarang menuju teras rumah.


Mobil yang akan digunakan sudah dipanaskan oleh Pak Yanto terlebih dahulu atas perintah Bain.


"Oh yah, pah. Mama kemana? Kok Azzam nggak lihat mama dari tadi." Ucap Azzam resah karena tidak melihat mamanya sejak tadi.


"Em... itu... anu... mama masih tidur boy." Bian gelagapan menjawab pertanyaan dari anaknya.


"Masih tidur?!" Ucap Azzam mengulangi perkataan Bian, ucapan yang mengandung nada pertanyaan. "Apa mama sakit?" Lanjut Azzam dengan nada berubah khawatir.


"Eh... tidak boy, mama tidak sakit. Hanya kecapean saja." Jawab Bian jujur, sama sekali tidak memiliki ide untuk menjawab pertanyaan sederhana dari anaknya ini.


"Kecapean? Tapi kenapa? Mama kan nggak kerja." Ujar Azzam polos tidak mengerti.


"Umm... itu, mama habis pijitin papa kemarin malam. Ya, pijitin papa. Jadi kecapean deh...." Jawab Bian berbohong. Ya tidak mungkin kan ia harus menjawab dengan jujur pertanyaan yang ini.


"Ummm... gitu, jadi mama kecapean karena mijitin papa." Azzam mengangguk, percaya saja. "Tapi lain kali, papa nggak boleh nyuruh mama mijit-mijit lagi. Kasian mama jadi kecapean kan." Lanjut Azzam, yang terdengar larangan secara tidak langsung untuk Bian agar tidak menyentuh istrinya lagi.


"Kalau begitu mana bisa bikin dede secepatnya." Gumam Bian pelan, tak terdengar oleh Azzam.


"Hmmm... itu tergantung sih boy, tapi nanti papa usahakan agar tidak sering-sering." Lirih Bian membuat Azzam mengernyit.


"Eh---." Baru saja Azzam ingin mengeluarkan suaranya. Tapi langsung dipotong oleh Bian.


"Mobilnya sudah siap boy, ayo sekarang kita naik." Bian mengalihkan pembicaraan.


"Yes pah... let's go to school." Azzam merentangkan tangannya untuk digendong oleh Bian agar bisa menaiki mobil.


Azzam pun berangkat ke sekolah dengan diatar oleh papanya untuk pertama kali, senyumannya tak pernah pudar dari bibir mungilnya, rasa senang karena diantar oleh papanya seperti teman-temannya yang lain. Kini tidak ada lagi yang diinginkannya, karena semua kebahagiaan sudah bersamaannya yaitu kedua orang tuanya. Eh... ralat, ia masih menginginkan dede bayi.


*****


Bersambung...