
"Seperti yang kamu lihat, aku di tarik paksa oleh dua pria itu atas perintah ayah ku. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa, makanya aku mengikuti mereka. Dan terpaksa meninggalkan mu sendirian di taman. Aku... aku benar-benar minta maaf untuk kejadian itu." Ucap Rangga mengakhiri ceritanya.
"Ya... aku melihat semua itu, tapi bisakah kamu memberi kabar. Dan menceritakan kejadian itu lebih awal? Atau kenapa kamu tidak jujur saja padaku tentang identitas mu?" Ujar Arumi dengan kecewa.
Rangga diam seribu bahasa, tidak bisa menjawab setiap pertanyaan yang di ajukan oleh Arumi. "Kamu takut aku adalah wanita yang hanya menginginkan h---" Ujar Arumi lagi, tertahan.
"Bukan begitu, aku tidak pernah menganggap mu wanita seperti itu." Jawab Rangga, menggeleng cepat.
"Sudahlah jangan mempermasalahkan hal itu, aku belum bisa menjawab semua pertanyaan mu sekarang. Tapi yang pasti, kamu harus percaya bahwa aku benar-benar mencintai mu! Sangat mencintai mu!" Ujar Rangga, sedangkan Arumi mencari kebohongan di manik mata pria itu. Namun, ia tidak mendapatkan pancaran kebohongan sedikit pun. Seolah pengakuan Rangga adalah benar, bahwa dia benar-benar mencintainya. "Sekarang jawablah pertanyaan ku kemarin, yang belum sempat aku dengarkan." Lanjut Rangga, melangkah mendekati Arumi.
"Stop! Berhenti di situ." Ujar Arumi tegas. Walaupun ia tidak bisa menemukan kebohongan di mata Rangga, tapi jangan harap ia bisa luluh begitu saja hanya dengan kata-kata cinta itu. Apalagi ia baru saja melihat tingkah Rangga dengan dua wanita seksi yang memijat lengannya tadi.
"Kau menyuruhku percaya? Tapi kamu sendiri tidak pernah menunjukkan kepercayaan mu pada ku! Asal kamu tahu Rangga, hal yang paling penting dalam membangun sebuah hubungan adalah rasa saling percaya satu sama lain." Ucap Arumi dengan nada penuh penekanan. Rangga kembali diam di buatnya, semua perkataan Arumi benar. Ia tidak bisa membantah.
Dalam beberapa saat, ruangan itu kembali sunyi, menyisihkan suara mesin pendingin yang sedang beroperasi.
Dari pintu, tiba-tiba saja sesosok wanita memasuki ruangan itu. "Sayang...." Teriaknya memanggil Rangga. "Ups.. maafkan aku. Aku kira kamu sendirian." Lanjut wanita itu, berjalan mendekati Rangga.
Arumi yang mendengar perempuan itu memanggil Rangga dengan sebutan sayang, membuat dadanya terasa sesak. Ia menatap tajam pada Rangga, dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Arumi mengepalkan kedua tangannya, berusaha menahan rasa sakit di hatinya.
"Sayang....?!!" Ucap Arumi, tersenyum miring, menatap marah pada sosok Rangga, yang baru saja mengungkapkan perasaan padanya. Dan ternyata ia memiliki wanita lain.
"I-ini... bukan seperti apa yang kamu li---" Ujar Rangga berusaha menjelaskan, tapi Arumi sudah berlari keluar tanpa mendengar penjelasannya terlebih dahulu.
Sudah cukup bagi Arumi menentukan Rangga adalah orang seperti apa.
"Arumi." Panggil Rangga berusaha mengejar Arumi, tapi wanita tadi langsung menahan tangannya.
"Sayang... anak kita mau makan." Ucap wanita itu, menahan Rangga. Tapi Rangga tidak menghiraukannya, ia melepas paksa tangan wanita itu dan kembali mengejar Arumi. Meninggalkan wanita itu yang tampak sangat kesal padanya.
"Arumi...." Panggil Rangga lagi, namun Arumi terus berlari menuju lift. "****!" Umpatnya, ketika melihat pintu lift tertutup dengan Arumi di dalamnya.
Rangga akhirnya memilih untuk berlari menuju tangga darurat agar dapat mengejar Arumi.
Ketika pintu lift terbuka, Arumi langsung berlari keluar dari sana, ia terus berlari menuju parkiran dan masuk ke dalam mobilnya.
Menyalakan mesin mobil, dengan air mata yang berderai di pipinya. "Sial... kenapa aku harus mencintai pria seperti dia?! Dan kenapa air mata ini keluar untuk pria brensek itu?!" Umpat Arumi, mengusap kasar air matanya.
"Arumi... tolong dengarkan penjelasan ku terlebih dahulu, itu tidak seperti yang kamu lihat. Ku mohon berhenti, dan dengarkan penjelasan ku." Ucap Rangga dengan napas terengah-engah, mengetuk kaca mobil, berusaha menghentikan Arumi.
Namun, Arumi tidak mendengarkan. Ia malah menambah laju mobilnya meninggalkan Rangga yang sekarang berdiri kaku di tempatnya.
*****
Hari semakin dekat dengan hari pernikahan mereka, tentu saja setiap waktu tidak akan pernah dibuang sia-sia oleh Bian.
Dan alhasil mereka bertiga pun berangkat bersama-sama menuju tempat tersebut. Sebuah butik ternama dan ter-elite di Jakarta, untuk melakukan fitting terakhir mereka, wedding dress yang akan mereka kenakan di hari pernikahan nanti.
Tanpa membuang waktu, Bian menuntut Arini dan Azzam menuju ruangan VVIP butik tersebut. Ia menggenggam jemari mungil Azzam, sedangkan Arini berjalan berdampingan di sampingnya.
Di sepanjang jalan, Azzam tak henti-hentinya tersenyum. Ia sangat bahagia mengetahui Mamanya beberapa hari lagi akan menikah dengan Bian. Dan hari ini, ia ikut memilihkan gaun pengantin yang cocok dengan mamanya nanti.
Tiba di ruangan VVIP, mereka langsung di sambut oleh beberapa pekerja butik. Pekerja butik itu mengantar mereka di sebuah ruangan yang berisi beberapa baju pengantin saja, dan sepertinya itu adalah baju pengantin limited edition karena modelnya yang sangat berbeda jauh dengan model baju pengantin lainnya.
Bian tersenyum melihat beberapa gaun pengantin yang terpajang itu, seperti yang ia beritahukan kepada Rio yaitu gaun mewah nan elegan. Dan Rio sang sekretaris serba guna itu, menghubungi pihak butik untuk menyiapkan gaun pengantin seperti yang diinginkan Tuannya.
"Ini adalah gaun pengantin limited edition yang dimiliki butik kami saat ini, silakan di lihat-lihat." Ucap salah satu pekerja butik, mempersilahkan melihat-lihat gaun pengantin yang ada di ruangan itu.
Arini mengangguk pada pekerja butik itu, sedangkan Bian dan Azzam tanpa di suruh pun mereka berdua sudah mulai melihat-lihat gaun yang cocok untuk di kenakan oleh Arini.
Arini berjalan mendekati salah satu gaun, "Sepertinya ini cocok." Ujar Arini, dan sontak saja membuat Azzam dan Bian menoleh padanya yang sedang melihat-lihat gaun itu.
"M-m-m." Tolak Azzam dan Bian, menggelengkan kepala mereka bersamaan. Arini yang melihat penolakan itu, beralih melihat gaun pengantin lainnya.
"Kalau yang ini?" Tanya Arini, dan kembali mendapatkan penolakan dari Azzam dan Bian lagi. Dan terus begitu untuk menit berikutnya, pilihan Arini selalu di tolak oleh keduanya.
"Lalu kalian berdua mau gaun yang mana?" Tanya Arini lagi, mulai jengkel dengan sikap keduanya.
"Yang ini." Tunjuk Azzam dan Bian bersamaan pada satu gaun pengantin.
Arini mendekati gaun itu, lalu memanggil dua pekerja butik untuk membantunya mencoba gaun yang dipilihkan oleh Azzam dan Bian. Ia masuk di ruang ganti, dan mencoba gaun itu. Sedangkan Bian dan Azzam menunggunya di luar, duduk di sofa yang sudah di sediakan.
Bian bermain dengan Azzam sembari menunggu Arini berganti, dan tiba-tiba ponselnya berbunyi. Membuat Bian menghentikan permainan mereka sebentar, dan melihat siapa yang tengah meneleponnya.
"Om Adi?" Gumam Bian pelan, lalu meminta izin pada Azzam untuk keluar mengangkat teleponnya sebentar. Azzam mengangguk mengiyakan.
"Bian.... Maaf, jika Om mengganggu waktu mu." Suara berat milik Tuan Adi Kusuma menggema di ponsel Bian.
"Iya Om, tidak apa-apa." Balas Bian, padahal dalam hatinya bertolak belakang dengan perkataannya. Karena ujung-ujungnya nanti, pasti masalah Rangga yang akan ia hadapi lagi. Ya... untuk apa Tuan Adi meneleponnya, kalau buka masalah anak semata wayangnya itu. Di saat seperti ini lagi. Gumam Bian kesal pada Rangga. "Apa ini masalah Rangga?" Lanjut Bian langsung pada intinya.
"Iya, ini masalah Rangga. Kamu tahu sendiri seperti apa kelakuannya yang suka bermain-main dengan wanita. Dan sekarang ada wanita yang mengaku kalau dia sedang hamil anaknya. Tapi, dia tidak mau mengakuinya, bahkan berani bersumpah akan hal itu." Tuan Adi menceritakan permasalahan anaknya, pada Bian anak dari saudara istrinya sekaligus sahabat dari Rangga.
"Perempuan itu mengaku pernah tidur dengan Rangga yang dalam keadaan mabuk berat, di salah satu kamar hotel milik keluarga kalian." Ucapkan menceritakan pokok permasalahan anaknya. "Jadi Om harap, kamu bisa membantu menyelesaikan permasalahan ini." Lanjut Tuan Adi lagi.
"Akan Bian usahakan Om." Jawab Bian singkat, lalu telepon mereka pun di tutup dengan satu dua kalimat lagi.
*****
Bersambung...