
"Heh... tadi kamu bilang memberikan cek yang berisi sejumlah uang pada Arini, apa dia menerimanya?" Tanya mama Mira menunjuk Bian dengan tatapan tajamnya. Bian menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Sudah ku duga." Ucap mama Mira bangun dari kursinya menuju tempat duduk Bian.
Bian yang melihat itu, ia refleks berdiri dan melompat ke belakang sofa. Menghindari amukan dari mamanya.
"Sini kamu! Jangan menghindar...." Ujar mama Mira memutari sofa, mengejar Bian yang kini berlari menghindarinya.
Di ujung tangga sana, Alysha tertawa terbahak-bahak melihat nasib Bian yang mendapatkan amukan dari mamanya. Jarang-jarang ia melihat adegan seperti ini di rumah, semenjak mereka beranjak dewasa. Ia pun berjalan menuju ruang tamu agar bisa melihatnya lebih dekat lagi.
Tuan Dean memerhatikan tingkah istri dan anaknya ini, yang sudah seperti anak-anak yang berlari kejar-kejaran, memutari sofa entah sudah berapa putaran mereka putari sofa itu.
Alysha duduk di samping Tuan Dean masih dengan tawanya, bahkan sekarang ia memegangi perutnya tertawa terpingkal-pingkal.
"Huhaah... huuff... udah mah, Bian capek." Bian menjatuhkannya tubuhnya di sofa, bersandar di sana setelah aksi kejar-kejaran mereka.
"Kamu kira, kamu sendiri yang capek." Timpal mama Mira duduk di sebelah anaknya, melupakan tujuannya mengejar Bian.
"Sekarang apa rencana mu, kak?" Tanya Alysha yang sudah masuk ke topik, karena papanya baru saja menjelaskan setelah ia bertanya tadi.
"Tidak ada rencana-rencana, pokoknya Bian harus menikah dengan Arini bertanggung jawab atas perbuatannya dan besok kita akan ke rumahnya titik!" Jawab mama Mira menatap tajam pada Bian. Tuan Dean mengangguk, sepertinya setuju dengan perkataannya istrinya.
"Uhuk... uhuk...." Bian terbatuk-batuk, tersendat sendiri, mendengar jawaban dari mamanya.
"A-apa itu tidak terlalu cepat, Mah? Aku saja belum...." Ucap Bian menggantung.
"Semakin cepat, semakin baik." Tuan Dean yang menjawab. Karena ia tidak ingin perbuatan anaknya ini berlanjut dan berlarut-larut, ia harus membereskannya dengan cepat.
Bagaimana pun ia bisa merasakan apa yang di rasakan oleh sesama orang tua, ia tidak bisa membayangkan jika musibah ini terjadi pada anak perempuannya Alysha.
Dan ia tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh anaknya Alysha jika dia benar-benar mengalaminya. Apakah anaknya akan bunuh diri? Atau akan menggugurkan janinnya? Ia sungguh tidak bisa membayangkan itu semua. Bersyukurlah Arini dan keluarganya tidak melakukan semua itu. Memberi sedikit ketenangan pada hatinya.
"Tapi bagaimana kalau kakak itu tidak menerima kak Bian? Secara 'kan, semua orang bisa sakit hati." Ujar Alysha yang mengerti mimik wajah dari Bian. Karena pastilah kakaknya ini belum bisa menaklukkan hati perempuan yang telah membesarkan anaknya itu.
"Sudah jangan menebak yang tidak-tidak, papa yakin keluarga mereka bisa memutuskan semua ini dengan bijak." Ujar Tuan Dean bangun dari duduknya, diikuti oleh sang istri. "Semuanya istirahat, ini sudah larut malam." Lanjut Tuan Dean lagi, lalu ia pun berjalan menuju kamarnya bersama mama Mira.
Alysha yang masih bersama Bian di ruang tamu hanya mengangkat bahu, ikut berdiri dan berjalan menuju kamarnya juga. Tapi sebelum itu, "Selamat ber-dilema kakak, jangan lupa menikmati malam mu!" ujarnya, melambaikan tangan pada Bian yang sekarang murung memikirkan sesuatu.
Sekarang di ruang tamu, tinggallah Bian seorang. Menebak-nebak keputusan apa yang akan Arini berikan padanya besok. Memikirkan itu, membuat Bian gugup sendiri sebelum melamar Arini menjadi istrinya.
*****
Di rumah Arini, terlihat Azzam yang berceloteh ria menceritakan weekend yang di lalui nya hari ini bersama Bian dan mamanya kepada sang nenek.
"Nenek tahu, mama sama om Bian payah... masa permainan mobil-mobilan aku yang menang... terus mobil mereka berdua tertinggal jauuuuuuh bangat dari mobilnya Azzam." Azzam menceritakan kejadian pada saat mereka bermain di mol. Ibu Syahra mendengarkan cerita cucunya dengan antusias.
Di samping mereka ada Arini yang mendengarkan, sembari mengerjakan sesuatu di depan layar laptopnya.
"Terus nenek, mereka berebutan setir... Om Bian gerakin setir mobilnya mama ke sini... ke sana.... Mama tidak terima dong, jadi dia ikut gerakin setirnya Om Bian." Azzam mengulurkan kedua tangannya ke depan, menggerakkannya seperti orang yang sedang menyetir. Meniru cara Arini dan Bian bermain mobil-mobilan. "Dan... mobil mereka melaju ke kiri, ke kanan, oleng-oleng deh... hihihi." Ujarnya tertawa, menutup kedua tangan.
"Huwaaa...." Azzam menguap, menutup mulutnya.
"Azzam ngatuk?" Tanya ibu Syarah melihat cucunya menguap.
"Sepertinya begitu, Nek. Hehehe...." Ujar Azzam tertawa, sesekali menutup mulutnya karena menguap.
"Ya sudah sayang, kamu tidur ya... besok kan sekolah." Timpal Arini, diangguki Azzam.
"Mau mama antar?" Tanya Arini melihat Azzam turun dari sofa.
"Nggak usah, Mah. Azzam bisa sendiri." Ujarnya menolak.
"Kalau begitu, jangan lupa...."
"Jangan lupa gosok gigi, cuci kaki." Jawab Azzam melanjutkan perkataan mamanya.
"Ummah... ummah...." Azzam mencium pipi Arini dan neneknya bergantian, baru ia berjalan menuju kamarnya. Arini dan ibu Syahra tersenyum melihat tingkah menggemaskan dari Azzam.
"Azzam sekarang sudah besar, ia sudah bisa melakukan semua kegiatannya sendiri." Ibu Syahra tersenyum melihat punggung kecil Azzam yang semakin menjauh. Arini ikut tersenyum, menoleh kepada ibunya.
Tiba-tiba ibu Syahra teringat sesuatu, membuat senyum di wajahnya pudar seketika.
"Ibu kenapa?" Tanya Arini melihat raut sedih di wajah ibunya.
"Tidak, ibu hanya teringat sesuatu." Jawab ibu Syahra menggeleng pelan.
"Ibu teringat apa?"
"Ibu teringat cerita mu kemarin, Nak." Jawab ibu Syahra menoleh pada anaknya, ia menatap manik mata coklat Arini.
"Sekarang Azzam sudah semakin besar, sebentar lagi ia sudah bisa mengetahui perkataan yang baik dan yang buruk, mengetahui hinaan atau pujian, dan mengetahui semua kebenaran ini." Ujar ibu Syahra memegang tangan Arini.
Arini terdiam, belum mengetahui maksud perkataan dari ibunya. Tapi, kalau di ingat-ingat ia pernah menceritakan kepada ibunya tentang Azzam yang mendapatkan hinaan di sekolahnya dan ditolong oleh Bian.
Arini menceritakan semua itu pada ibunya, bahkan ia menangis di pangkuan ibunya. ‘Ibu mana yang tidak sakit hati jika anaknya dihina, dicaci dan diadili seperti itu'. Ibu Syahra yang mendengarkan cerita anaknya saat itu, ia juga ikut sedih.
"Ibu tahu kamu belum mengerti maksud ibu, tapi suatu saat nanti kamu akan mengerti dengan sendirinya, Nak. Ibu yakin kamu tahu yang terbaik untuk dirimu dan juga untuk Azzam." Lirih ibu Syahra masih memegang tangan anaknya. Arini masih terdiam tidak tahu menanggapi perkataan ibunya dengan cara apa.
"Pesan ibu... jangan pernah menyimpan dendam pada siapa pun, karena dia pernah menyakiti kita di masa lalu. Jangan membalas perlakuan buruk dengan perlakuan buruk pula. Maafkan lah dia karena Allah saja Maha Pemaaf, apa lagi kita yang bukan siapa-siapa dan hanya manusia biasa." Arini mengangguk mengerti maksud perkataan ibunya yang ini, walaupun ia tidak tahu dimana arah pembicaraan ibunya.
"Hmm... kalau begitu jangan bekerja terlalu larut, ibu istirahat ke kamar dulu." Pamit ibu Syahra setelah mengatakan itu pada anaknya.
"Hm." Dehem Arini pelan, kembali mengangguk, melepaskan pegangan tangan ibunya.
*****
Bersambung...