My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Azzam Bukan Anak Mu!



"Apakah Azzam anakku?" Bian pura-pura bertanya, sebagian pengantar untuk pembicaraannya selanjutnya.


"Bukan." Jawab Arini tegas, menatap tajam pada Bian.


"Jawablah dengan jujur." Bian membantah dengan kata penuh penekanan, lalu balik menatap tajam pada Arini.


Arini yang ditatap seperti itu, sedikit pun tidak gentar ketakutan. Malah ia tersenyum sinis dengan tingkat laku seorang Bian Andi Pratama.


"Jawab!!!" Bian mulai hilang kendali, melupakan rasa bersalahnya yang sangat besar pada perempuan di depannya ini. "Tolong jawab dengan jujur." Ujar Bian meminta tolong, seraya menurutkan suaranya berusaha tenang. Padahal dalam hatinya, sangat menolak dengan tegas mengeluarkan ucapan 'tolong' itu. Bian menurunkan egonya pada seorang Arini yang dalam cap hidupnya adalah perempuan kampung, perempuan biasa, perempuan yang tidak ada apa-apanya bagi seorang Bian Andi Pratama.


Arini kembali tersenyum sinis sebelum menjawab, "Bukan! Azzam bukan anakmu tapi anakku! Hanya anakku!!!" Ujar Arini penuh penekanan dalam setiap kata yang keluar dari mulutnya.


"Jangan bohong! Aku tahu Azzam adalah anakku." Kata Bian membantah.


"Jangan bohong!" Arini mengulangi ucapan Bian. "Bukankah sedari awal tadi sudah ku katakan bahwa aku akan menjawab 'TERGANTUNG'. Itu berarti bisa menjawab SESUAI KEBENARAN atau sebaliknya, TIDAK SESUAI KEBENARAN. Tapi di sini aku menjawab pertanyaan mu dengan sesuai kebenaran, bahwa Azzam Alvaro bukanlah anakmu!"


"Cuih... aku tidak percaya! Dan aku bukan orang bodoh yang tidak bisa mengenali wajah Azzam itu anak siapa!"


"Hahaha...." Arini sekarang tertawa mengejek, tidak lagi tersenyum sinis seperti tadi. Bian menatapnya tajam serta datar, tersirat tatapan keanehan yang ditujukan pada Arini yang masih tertawa malah sekarang terpingkal-pingkal.


"Apa yang lucu." Batin Bian memicikkan matanya yang masih menatap aneh tingkah Arini.


"Hahaha.... Ouuft, perutku sakit." Ujar Arini masih tertawa terpingkal-pingkal. Lalu sesaat kemudian ia tiba-tiba berhenti dari tertawanya, membuat kesunyian beberapa menit di ruangan itu.


Arini menatap nanar sosok Bian yang masih setia duduk di kursinya. "Anda tidak percaya!!! Itu urusan Anda." Ujar Arini cuek dengan nada mengejek. "Dan Anda bukan orang bodoh!!! Ya... saya tahu itu, bahkan saya mengakui bahwa Anda adalah orang yang sangat pintar, karena perusahaan yang terbesar dan ternama seperti Pratama Group tidak mungkin dipimpin oleh orang-orang bodoh. Bukankah begitu?" ujar Arini kembali menampakkan senyum sinisnya. Bian menatapnya datar, merendam emosi yang hampir memuncak di ubun-ubun.


"Mungkin perlu saya ucapkan berulang kali, bahwa Anda bukanlah orang bodoh!!! BUKAN ORANG BODOH!!! Dan saking pintarnya Anda, Anda dapat mengetahui orang tua dari Azzam hanya dengan melihat wajahnya. Tapi---" ucap Arini menggantung, melihat respon dari Bian. Tampaknya wajah Bian mulai memerah, merendamkan semua emosi sekuat tenaga yang bersiap untuk dikeluarkan.


"Tapi, sepertinya perlu saya ingatkan kembali tentang kejadian masa lalu itu." Arini berkata, masih melihat respon dari Bian. Tidak terlihat lagi kemarahan di wajahnya, tapi tergantikan dengan ekspresi yang tidak bisa Arini artikan bahkan untuk menembaknya saja sangat susah.


Arini sebenarnya sangat menghindari dirinya untuk menceritakan dan mengingat kembali kejadian nahas itu.


Ya... walau ia sudah bisa menerimanya, atau berdamai dengan masa lalu itu. Menganggapnya sebagai takdir Tuhan, yang sudah di torehkan untuk nya. Menganggapnya sebagai ujian untuk menguji seberapa besar keteguhan hatinya dalam menjalani ujian itu, sehingga menjadi penentu seberapa besar iman yang ia punya terhadap penciptanya.


"Anda menyuruh saya untuk mengambil uang 500 juta, agar saya menganggap kejadian nahas itu tidak pernah terjadi, agar menjaga terjadi sesuatu nantinya. Anda mengatakan jika terjadi sesuatu dengan saya, maka Anda tidak akan mau bertanggung jawab. Anda menyuruh saya agar tidak pernah mengusik kehidupan Anda nantinya. Serta Anda menyuruh saya untuk tidak lupa tutup mulut akan kejadian nahas itu." Ujar Arini telak, membuat Bian bungkam diam membisu.


"Dan apa yang saya lakukan? Atau apa yang Anda suruh? Semua saya lakukan. Saya menganggap kejadian nahas itu tidak pernah terjadi. Saya tidak meminta pertanggung jawaban dari Anda. Saya tidak mengusik kehidupan Anda. Dan saya tutup mulut akan kejadian nahas itu. Semua saya lakukan sesuai apa yang Anda suruh! Tidak kurang dan tidak lebih." Arini kembali berkata, membuat Bian semakin bungkam diam membisu, bahkan helaan napasnya hampir tidak terdengar oleh Arini.


"Jadi, karena semua yang Anda suruh sudah saya tepati. Saya hanya ingin meminta sesuatu pada Anda, sesuatu yang tidak seberapa dari apa yang Anda suruh, sesuatu yang hanya segelintir dari apa yang Anda suruh dan hanya sesuatu dari banyaknya yang Anda suruh. Saya meminta Anda untuk tidak mengusik kehidupan saya serta keluarga saya, apalagi Azzam ANAK SAYA!!!" Ujar Arini meminta balasan dari apa yang sudah ia lakukan. "Dan sebagai orang dewasa, sebagai pemimpin perusahaan Pratama Group, sebagian orang yang tidak bodoh, atau sebagai orang pintar. Sekiranya Anda dapat memenuhi satu permintaan tersebut." Ujar Arini lalu keluar dari ruangan rapat itu, tanpa mendapatkan respon apa-apa dari Bian.


Bian tersentak, mendengar bunyi pintu yang ditutup oleh Arini, walau Arini menutup pintunya pelan. Namun, suaranya terdengar menggelegar di telinga Bian yang hanya di temani oleh sunyi itu.


"Aaaakhh...." Teriak Bian frustrasi, menjambak rambutnya kuat-kuat. Ketika menyadari Arini tidak ada lagi di ruangan itu.


Arini keluar dari pintu, dan tidak mendapati Rio maupun Hana sang sekretaris menunggunya di depan pintu.


Arini berjalan, mengabaikan ke tidak beradaan kedua manusia itu. Baik jiwa maupun raganya sudah sangat lelah, jadi tidak ingin menambahnya dengan hal-hal yang tidak berguna. Ia terus berjalan menuju ruangannya berada, berharap di sana ia dapat beristirahat sejenak untuk menghilangkan segelintir rasa lelah yang menderanya ini.


Rio maupun Hana keluar dari lift secara berdampingan, dan hanya dipisahkan oleh jarak beberapa senti saja. Tampaknya mereka baru saja makan siang bersama di luar perusahaan.


Hana melihat Arini berjalan menuju ruangannya. Ia pamit pada Rio untuk kembali pada pekerjaan, dan Rio pun mengiyakan. Ia juga harus kembali kepada Tuannya, yang mungkin masih berada di ruang rapat itu.


"Tuan, apa Anda baik-baik saja." Panggil Rio melihat penampilan kacau dari Tuannya. Yang kini masih menjambak rambutnya frustrasi.


"Sudan, Tuan. Apa Anda tidak merasa kesakitan?" tanya Rio khawatir melihat Tuannya menyakiti dirinya sendiri.


Bian bungkam, tidak peduli dengan apa yang di katakan maupun yang di lakukan oleh Rio yang berusaha menenangkannya.


Pikirannya sekarang ini sangat kalut, merasa tidak berdaya lagi oleh perkataan yang baru saja Arini katakan, tapi bukan semua perkataan Arini yang membuat ia merasa seperti itu. Perkataan Arini yang meminta ia untuk tidak mengusiknya lah yang membuat Bian seperti itu. Bian tidak bisa menerimanya karena ia ingin selalu bertemu dengan Azzam, dan tentunya ia ingin meminta maaf pada Arini wanita yang sudah ia sakiti itu. Bian juga sangat tertampar oleh perkataannya sendiri pada masa lalu.


“Tuan.” Panggil Rio lagi membuat Bian berhenti menyakiti dirinya, ia bangun, berjalan keluar dari ruangan itu dan keluar dari perusahaan Arini.


*****


Bersambung...