
Sinar matahari masuk di celah dinding- dinding kaca. Membangunkan Arini yang tengah tertidur lelap. Arini membuka matanya perlahan, menyapu seisi ruangan dengan penglihatannya. Terasa asing, itulah yang ia lihat sekarang.
Ia terbangun dari baringan nya, sambil memegang kepalanya yang terasa sangat sakit. Matanya tak berhenti menyapu seisi ruangan yang terasa asing baginya.
Arini tersentak, menyadari ini bukan kamar kosnya yang biasa ia tiduri dan ada seorang laki-laki bertubuh kekar tidur di sampingnya. Seketika, pikirannya menerawang ke kejadian kemarin sore. Arini cepat-cepat membuka selimut yang menutupi tubuh polosnya. Seketika itu, ia memekik tak tertahankan, ia menangis sejadinya. Mengatakan, "Tidak...tidak, ini tidak benar, ini pasti mimpi, ini pasti mimpi." Arini mengucapkan kata-kata itu berulang kali.
Derai air mata tak henti-hentinya mengalir di kedua pipi Arini, bersamaan dengan suara tangisan yang begitu memilukan jika terdengar oleh orang lain.
"Apakah ini mimpi? Kalau iya, bangunkan hamba ya... Allah. Hamba tak ingin ada di mimpi buruk ini. Hamba mohon ya... Allah. Hiks... hiks..." Arini berkata dalam hati sambil menangis tersedu-sedu, berharap ini hanya mimpi buruknya. Tapi, sayang seribu sayang. Ini adalah kenyataan terpahit bagi seorang Arini.
"Hamba mohon ya... Allah, bangunkan hamba dari mimpi buruk ini... hiks." Racau Arini masih tak terima dengan kenyataan pahit yang menimpanya.
Makin lama suara tangisan Arini maki pecah, mengusik seseorang yang tidur di sampingnya.
"Eeekkh..." Bian meluruskan otot-ototnya yang kaku, lalu mengumpat dalam hati, karena seseorang telah mengganggu tidur nyenyak nya.
Pelan tapi pasti, mata Bian terbuka lebar. Dan... betapa terkejutnya ia, melihat seseorang perempuan menangis di sampingnya. Dan yang paling membuat ia terkejut perempuan itu satu ranjang dengannya.
Suara erangan Bian yang baru saja terbangun, mengembalikan kesadaran Arini. Meyakinkan pada Arini, bahwa ini bukan mimpi buruknya.
"Ini bukan mimpi, tidak... tidak... hiks. Aku sudah kotor, aku sudah tidak suci lagi... hiks. Ampunilah hamba mu ini ya Allah, hamba telah melakukan berbuatan zina... hiks." Arini menangis sambil berkata dalam hatinya.
Ia bangkit. Ingin pergi jauh dari ruangan ini, dari hadapan laki-laki yang paling ia benci mulai sekarang.
Akkhhh...
Arini mengernyit. Suaranya tertahan karena menahan kesakitan yang sangat pada kepemilikannya, tubuhnya terasa remuk redam.
Teriakkan kesakitan yang lolos dari mulut Arini, membuat kesadaran Bian kembali. Ia mengusap wajahnya kasar, mengumpat dalam hati karena seseorang telah menjebaknya.
Arini mengeratkan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Ia bangkit dari tempat tidur dengan tertatih, lalu memunguti pakaiannya masuk ke dalam kamar mandi Bian.
Bian yang melihat itu menghembuskan napasnya kasar. Bangkit dari tempat tidur dan memunguti pakaiannya lalu memakainya.
Arini yang selesai memakai pakaiannya. Keluar dari kamar mandi, masih dengan Air mata yang terus mengalir di pipinya. Tanpa melihat sekeliling, ia berjalan menuju pintu kamar.
Bian yang duduk di sofa, dengan perasaan yang frustrasi. Melihat Arini hendak keluar dari kamar.
"Tunggu." Cegah Bian yang melihat Arini memegang ganggang pintu hendak membukanya.
Arini berhenti. Menunggu apa yang akan di katakan oleh Bian.
"Ini uang 500 Juta. Anggap saja kejadian kemarin tidak pernah terjadi." Kata Bian dengan entengnya.
Arini yang mendengar perkataan Bian, refleks berbalik dan menampar wajah laki- laki itu. Hatinya sakit, bahkan lebih sakit dari tubuhnya saat ini. Ia mengira, Bian ingin meminta maaf dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Tapi apa, lelaki itu malah memperlakukannya sebagai seorang yang menjual tubuhnya secara suka rela.
"Apa kau mengira aku menjual tubuhku!? Kau salah besar Bian!" Ujar Arini dengan suara yang tinggi, menahan sesak di dadanya. Air matanya yang sudah ingin berhenti, kembali mengalir dengan derasnya. Ia menangis tanpa mengeluarkan suara.
Bian yang mendapatkan tamparan keras dari Arini, hanya bergeming. Menahan emosi, karena seumur-umur baru kali ini ada orang yang berani menamparnya. Apalagi seorang wanita biasa saja, dan tak ada apa- apanya bagi seorang Bian.
Bian mengepalkan tangannya, lalu berkata...
"Aku tidak mengira mu seperti itu, tapi kau harus mengambil uang ini. Untuk menjaga terjadi sesuatu nantinya."
"Aku tidak akan mengambilnya." Bentak Arini pada Bian, ia benar-benar tersulut oleh emosinya.
"Oke, kau boleh tidak mengambil uang ini. Itu malah menguntungkan ku." Bian tersenyum sinis pada Arini. "Tapi..." Bian menggantung perkataannya.
Ia teringat ancaman dari kedua orang tuannya. Jika ia menyentuh dan menghamili seorang perempuan sebelum menikahinya, maka harta kekayaan keluarganya akan di alihkan kepada adinya dan sepupu laki- lakinya. Gelar CEO dari perusahaan Pratama Group yang merupakan perusahaan nomor satu di Indonesia yang terkenal di mancanegara, juga akan di alihkan seutuhnya pada sepupunya itu. Dan Bian? Bian sendiri akan di anggap bukan siapa- siapa dan namanya akan dikeluarkan dari kartu keluarganya.
Maka dari itu Bian memberi Arini sejumlah uang dan berharap perempuan itu akan membungkam mulutnya, untuk mengantisipasi ancaman dari kedua orang tuanya. Karena ia tak ingin jatuh miskin dan menjadi gelandangan di luar sana.
"Tapi jika terjadi sesuatu dengan mu, maka aku tidak akan mau bertanggung jawab dan jangan pernah mengusik kehidupan ku nantinya. Serta jangan lupa tutup mulutmu itu untuk kejadian yang terjadi kemarin." Kata Bian dingin melanjutkan kata-katanya yang sempat menggantung dengan sorot mata tajam menatap Arini.
Arini yang mendengar semua perkataan Bian yang begitu menyayat hatinya, hanya diam dan tak menjawab. Hatinya sakit, bahkan lebih sakit dari perkataan yang terlontarkan oleh Bian sebelumnya.
Ia membalikkan badannya, membuka pintu dengan kasar dan berlari keluar dari ruangan itu dengan derai air mata yang semakin mengalir tak henti-hentinya. Mengabaikan sakit pada seluruh tubuh, apalagi bagian intimnya. Ia keluar, keluar dari apartemen terkutuk itu.
Bian yang melihat kepergian Arini hanya diam. Tak berniat untuk mengejarnya, apalagi meminta maaf.
Bian mengusap wajahnya kasar. "Sial... kenapa jadi seperti ini." Umpatnya dalam hati. Padahal ia hanya berniat ingin menghukum Arini atas perbuatannya di kanti itu dan tak pernah menyangka akan jadi seperti ini.
Biar berlalu dari dekat pintu menuju sofa yang ia duduki tadi, lalu mengambil ponselnya dan mengetikkan nama seseorang.
"Cari tahu siapa yang berani menjebak ku?" Perintahnya pada seseorang yang ada di seberang sana. Tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya, Bian langsung mematikan teleponnya secara sepihak. Dan berlalu menuju kamar mandi, tapi belum sampai ia di kamar mandi matanya membulat saat melihat bercak merah di kasurnya. Membuat Bian semakin frustrasi dan mengusap wajahnya kasar berulang kali.
*****
Bersambung...