
Mama Mira mengantar Azzam menuju kamar Arini dan Bian setelah mereka selesai sarapan. Ia menggandeng Azzam, dan Tuan Dean berjalan di samping mereka.
Tiba di depan pintu, Azzam mengetuk pintu kamar kedua orang tuannya dengan tangan mungilnya seraya memanggil nama mereka.
Tidak terdengar jawaban, membuat mama Mira senyam-senyum sendiri. Keinginan mendapatkan cucu kedua sepertinya akan segera terlaksanakan.
"Hihihi... tukan, Pa. Anak kamu sigap banget." Ucap mama Mira memukul lengan Tuan Dean. Tuan Dean hanya mengangguk sekilas, menanggapi celotehan istrinya.
Tuan Dean mendekati bel, dipencet nya bel kamar itu. Karena mungkin saja ketukan Azzam tidak terdengar sampai di dalam sana.
Ting... tong...
Suara itu menggema di dalam kamar Bian dan Arini, membuat keduanya tergerak untuk membukakan pintu.
"Tunggu di sini, biar aku saja yang membukanya." Ucap Bian, meninggal Arini yang sedang memasukkan baju mereka ke dalam koper.
Bian berjalan menuju pintu, dibukanya pintu itu.
Ceklek...
Azzam dan mama Mira yang berada di depan pintu heboh sendiri mendengar pintu itu sebentar lagi akan dibuka.
Pintu pun dibuka, menampilkan sosok Bian dengan baju kasualnya.
"Papa...." Panggil Azzam, dan dengan refleks ia memeluk kaki panjang Bian.
"Hei... my boy." Bian mengangkat tubuh mungil anaknya untuk digendong.
"Yes papa." Jawab Azzam tersenyum merekah, akhirnya ia memiliki seorang yang bisa dipanggilnya dengan sebutan papa. Seseorang yang sangat ia impikan kehadirannya dalam hidup mereka. Hidupnya dan hidup sang mama. Impiannya memiliki keluarga yang lengkap terwujud sudah.
Ah... membahas itu, Azzam jadi teringat sesuatu. Ia celingak-celinguk melihat ke dalam, mencari sosok mamanya untuk menanyakan sesuatu yang sangat penting.
"Mah... Pah...." Panggil Bian membuka lebarkan pintu, mempersilahkan kedua orang tuannya untuk masuk.
Mama Mira mendengar panggilan Bain, tapi fokusnya sekarang pada cucu kesayangan yang celingak-celinguk mencari seseorang.
"Cari siapa sayang?" Tanya mama Mira, melihat ke arah Azzam cucunya. Kakinya melangkah mengikuti suaminya yang telah masuk duluan.
"Cari mama... hehehehe." Jawab Azzam masih celingak-celinguk.
"Mama? Itu mama." Tunjuk Bian pada sosok istrinya yang sekarang sedang menutup koper, karena pakaian mereka sudah selesai dibereskan.
"Mama...." Panggil Azzam, bergerak ingin turun dari gendongan papanya untuk menghampiri sang mama.
Bian menurunkan Azzam, dan Azzam langsung berlari menghampiri Arini. Arini menoleh, senyum merekah sempurna di bibirnya. Ia merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Azzam.
Tuan Dean dan mama Mira sudah dipersilahkan oleh Bian untuk duduk di sofa yang tersedia di kamar mereka.
"Mama... mama... Azzam kangeenn bangettt." Ucap Azzam memeluk erat Arini.
Arini terkekeh mendengar ucapan sang anak, padahal baru saja kemarin malam mereka tidak bertemu. Sudah membuat anaknya bertingkah seperti ini.
Bian berjalan menghampiri istri dan anaknya, tapi langkahnya tertahan mendengar ucapan Azzam.
"Mama... mama... dede bayi oek... oek-nya Azzam sudah jadi 'kan?" Tanya Azzam melepaskan pelukannya dari mamanya. Sudah sejak tadi ia ingin menanyakan itu, ia tidak sabar memiliki dede bayi seperti yang dikatakan oleh neneknya.
Arini langsung diam membeku mendengar pertanyaan dari anaknya. Dari mana anaknya ini mengetahui pasal dede bayi yang baru saja diucapkan ini?
Tuan Dean yang ditatap begitu oleh Bian, hanya mengangkat bahunya tidak tahu. Bian beralih menatap mamanya. Dan terlihatlah wajah mamanya dengan senyuman yang sangat merekah. Bahkan saking merekahnya, bunga matahari kalah dengan senyuman mamanya ini.
"De-de bayi?" Tanya Arini terbata-bata, menelan ludahnya. Tidak tahu harus menjawab apa dengan pertanyaan anaknya ini. Di liriknya sang suami, untuk membantunya menjawab.
Bian yang mengerti dengan lirikan Arini, langsung menghampiri keduanya. Ia menarik Azzam dalam gendongannya, lalu ia pun duduk di atas kasur king size-nya dengan memangku Azzam. Membuat Arini bernapas lega, selamat dari pertanyaan sang anak, serta lirikan dari sang mertua yang kini melirik Bian dengan memicingkan matanya.
"Azzam mau dede bayi?" Tanya Bian dan langsung diangguki oleh Azzam.
"Ya sudah, nanti mama sama papa bikin dede bayinya." Ucap Bian, membuat Azzam dan mama Mira refleks mengernyit. Wajah Arini kini mulai panas, memerah karena malu mendengar percakapan mereka berdua.
"Azzam mau dede bayi berapa? Satu? Atau Dua? Hmmm." Tanya Bian lagi, wajah Arini semakin memerah saja. Sedangkan mama Mira semakin mengernyit dalam. Tuan Dean acuh tak acuh saja mendengar percakapan mereka.
"Tunggu, tadi pagi nenek bilang papa sama Mama lagi bikin dede bayi. Makannya Azzam dilarang ke sini tadi subuh." Ucap Azzam polos, Bian kembali menatap mamanya. Dan mama Mira malah balas menatapnya dengan tajam.
"Itu sayang, papa sama mama tidak sempat bikin." Jelas Bian, tidak mau anaknya banyak berharap.
"Ya...." Ucap Azzam menunduk kecewa.
Mama Mira yang mendengarkan itu, matanya sempurna membelalak. Harapan untuk memiliki cucu kedua secepatnya hilang begitu saja.
"Apa! Jadi kalian belum membuatkan ku cucu kedua?!" Tanya mama Mira terang-terangan dengan suara yang tinggi. Membuat Arini ingin menyembunyikan dirinya, bahkan di lubang semut sekali pun saking malunya ia mendengar pertanyaan dari sang ibu mertua.
"Tidak sempat mah, siapa suruh kalian mengudang banyak sekali relasi." Jawab Bian dengan nada santai, membuat mama Mira mendelik marah.
"Kau... kau keterlaluan sekali! Masa membuatkan ku cucu kedua kau bilang tidak sempat?! Atau kau saja yang kurang gesit!!!" Sarkas mama Mira tidak terima dengan jawaban sang anak. Bian hanya mengangkat bahu, tidak mau berdebat dengan mamanya.
"Anak ini!" Mama Mira kini naik pitam, melihat Bian hanya mengangkat bahu untuk pertanyaan seriusnya.
Ia bangun dari duduknya, berdiri, berniat menghampiri Bian untuk memberikannya pelajaran. Tapi tangannya langsung di tahan oleh Tuan Dean yang duduk di sampingnya sejak tadi.
"Mah... sudahlah." Ucap Tuan Dean, menyuruh istrinya kembali duduk.
"Tapi pah...." Mama Mira menatap suaminya, menyuruh melepaskan tangannya.
"Sudah... sudah... mama tidak perlu terburu-buru untuk hal itu." Ucap Tuan Dean menenangkan istrinya.
"Tidak perlu terburu-buru?!" Tanya mama Mira dengan nada emosi pada suaminya. "Papa tidak mau apa, punya cucu kedua secepatnya?!" Tanya mama Mira lagi.
"Tantu saja papa mau mah..." Jawab Tuan Dean. Ya dia memang menginginkan cucu kedua, tapi tidak perlu terburu-buru seperti keinginan istrinya ini. Karena tentu saja ia mengetahui keadaan Bian dan Arini yang membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri mereka terhadap hubungan yang baru saja terjalin ini, dan tidak hanya itu, ia juga menginginkan cucunya Azzam untuk mendapatkan kebahagiaan dari kedua orang tuanya sebelum kedua orang tuannya ini mempunyai anak lagi.
"Lalu?" Mama Mira mengangkat satu alisnya.
"Belum waktunya untuk memikirkan itu." Jawab Tuan Dean, berhasil membuat mama Mira untuk duduk kembali.
"Terus apa yang harus dipikirkan?" Lagi-lagi mama Mira bertanya, menoleh pada suaminya. Masih dengan menahan marah pada Bian.
Tuan Dean tidak langsung menjawab pertanyaan istrinya, ia melirik koper milik Bian dan Arini. Mama Mira mengikuti arah lirikan sang suami, dan melihat koper yang baru saja dikemas itu. Ia mengernyit. Jangan-jangan. Batin mama Mira menebak.
"Jangan bilang kalian keluar dari hotel ini dan langsung pindah ke rumah baru kalian." Tebak mama Mira, harap-harap cemas.
*****
Bersambung...