My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Menyesal



Sudah beberapa hari ini Bian tidak keluar dari apartemen, tidak berangkat ke kantor untuk bekerja, ataupun melakukan aktivitasnya seperti biasa yang ia lakukan selama ini.


Urusan kantornya sementara di tangani oleh Rio, bahkan Tuan Dean Pratama sendiri turun tangan untuk membantu Rio dalam mengurus perusahaan besar itu, akibat Bian yang masih setia mengurung dirinya dalam apartemen.


Sesekali Rio datang untuk mengecek keadaan sang Tuan, menayangkan apa yang sebenarnya terjadi sehingga membuat seorang Bian Andi Pratama sampai seperti ini.


Semua pertanyaan yang Rio lontarkan tidak di gubris oleh Bian. Bian hanya menatap kosong, sesekali menjambak rambutnya frustrasi.


Menyesali semua perbuatannya pada masa lalu, yang kini bukan hanya Arini dan keluarganya serta Azzam yang mendapatkan batu dari perbuatannya itu, tetapi ia sendiri pun mendapatkannya. Bahkan apa yang ia dapatkan sekarang, belum apa-apanya dari apa yang Arini dapatkan bersama keluarganya.


Memikirkan itu semua, kembali membuat pikiran Bian menjadi sangat kalut, ditambah lagi kata-kata Arini yang terus terngiang-ngiang di telinganya. "Saya meminta Anda untuk tidak mengusik kehidupan saya serta keluarga saya, apalagi Azzam ANAK SAYA!!!"


"Aaaakkkk... kenapa dia harus meminta dan mengatakan yang itu. Kenapa tidak meminta dan mengatakan yang lainnya saja." Lagi dan lagi Bian menjambak rambutnya, setetes demi setetes air mata pun lolos dari matanya yang tidak bisa lagi ia bendung.


"Kenapa dia tidak meminta yang lain saja... atau kenapa dia tidak mengatakan yang lain saja... aku... aku rela memberikan apa saja, asalkan ia tidak meminta yang itu, dan aku rela ia mengatakan apapun. Bahkan memaki ku pun aku rela... asalkan dia tidak mengatakan yang satu itu." Racau Bian dengan air mata mengalir terus di pipinya.


Ia sungguh menyesal atas perbuatannya itu, kenapa ia baru sadar sekarang, kenapa tidak dari dulu saja, mungkin ia sudah mendapatkan maaf dari Arini dan bisa menikmati waktu kebersamaannya dengan Azzam saat ini.


Kenapa ia terlalu takut akan ancaman kedua orang tuanya? Kenapa ia terlalu dibutakan oleh harta? Kenapa...? "Aaaakkkk...." Bian kembali berteriak, menyesali semua perbuatannya kepada Arini selama ini.


"Maafkan aku Arini... maafkan aku." Racaunya lemas. Turun dari tempat tidur ingin mengambil segelas air minum, tapi apa yang terjadi ia malah terjatuh bersimpuh di samping tempat tidurnya.


"Tuan." Panggil Rio, bergegas menuju Bian untuk membantunya bangun dan dibaringkan ke atas tempat tidurnya kembali.


Seperti biasa Rio datang untuk melihat keadaan Tuannya ini, membawakannya makanan dan kebutuhan Bian lainnya. Orang tua Bian juga pernah datang menjenguk anaknya itu, tapi Bian tidak ingin bertemu dengan mereka.


Baik Tuan Dean maupun istrinya Mira, sangat khawatir dengan keadaan anaknya itu. Dan mereka juga bingung dengan sikap Bian yang tidak ingin bertemu dengan mereka berdua. 'Apa yang sebenarnya telah terjadi padanya?' pertanyaan itu selalu muncul di benak kedua orang tua Bian, bahkan mereka sudah menanyakan berulang kali pada Rio. Dan Rio menjawab tidak tahu, karena memang ia tidak tahu apa yang telah terjadi dengan Tuannya ini. Ya... walau pun ia dapat sedikit menembak apa yang membuat Tuannya seperti ini. Melihat dari kejadian terakhir kali, dan racau Bian yang sering ia dengar.


"Tuan, apa yang ingin Anda ambil? Biar saya ambilkan." Ujar Rio setelah membaringkan Bian pada tempat tidurnya.


"Minum." Lirih Bian lemas.


"Baik. Tunggu sebentar, Tuan." Rio menjauh dari tempat tidur menuju dapur untuk mengambil segelas air minum untuk Bian, sekaligus menyiapkan makanan untuk Tuannya.


"Maafkan aku... maafkan aku...." Racau Bian didengar oleh Rio yang membawa nampan berisi makanan. Rio menghela napasnya, sungguh ia tidak bisa melihat Bian seperti ini, ia lebih baik melihat Bian yang menatapnya tajam penuh intimidasi saja.


"Tuan." Panggil Rio menghentikan racau Bian. Bian melihat ke sumber suara, berusaha bangun agar bisa menyandarkan tubuhnya pada headboard. Rio menyimpan nampan makanan di atas nakas, lalu membantu Bian menyandarkan tubuhnya.


"Minum." Bian menyodorkan tangannya ingin mengambil air minum, dan langsung di bantu oleh Rio.


"Tuan, Anda juga harus makan." Rio beralih pada makanan yang ia bawa untuk di berikan pada Bian, setelah ia melihat Bian selesai meneguk air minumnya.


"Tidak. Aku tidak ingin makan." Geleng Bian, menolak makanan dari Rio.


"Tapi, Tuan. Anda belum makan beberapa hari ini, kesehatan Anda juga akan semakin parah jika Anda tidak makan, dan apalagi Anda tidak ingin saya bawa ke dokter." Rio berusaha memberi penjelasan, agar tingkah Bian tidak semakin memperparah kesehatannya. Dan dia sendiri bisa lega karena tugas-tugasnya yang sekarang, bisa dialihkan kembali kepada Tuannya.


"Tapi kenapa, Tuan?" tanya Rio yang kembali mendapatkan galengan kepala Bian berulang kali. "Apakah ini karena Nona Arini?" tanya Rio lagi, dan kali ini Bian diam membisu tanpa pergerakan.


Melihat itu Rio semakin yakin, bahwa Tuannya seperti ini karena memiliki masalah dengan Arini.


"Ya, saya tahu sekarang. Anda seperti ini karena memiliki masalah dengan Nona Arini." Rio menebak dengan sangat tepat, apa yang membuat Bian seperti ini. Namun, Bian tidak mengakuinya dengan menggeleng.


"Anda tidak pandai berbohong, Tuan. Saya sudah sejak lama bersama Anda." Ujar Rio, membuat Bian menghela napas pasrah.


"Apa Anda tidak kasihan dengan Azzam yang sudah menunggu Anda untuk menemuinya?" Rio mengingatkan Bian, dengan apa yang sudah ia katakan pada Azzam. Setelah diberi tahu oleh bawahannya, karena sekarang Rio juga yang memantau Arini dan Azzam.


Seketika itu Bian menjadi diam membeku, mengingat kembali perkataannya pada Azzam yang akan menemuinya hari kamis, dan kini sudah lewat beberapa hari.


"Apa Anda tidak ingin bertemu dengan Azzam? Dan meminta maaf padanya karena tidak bisa menemuinya hari itu." Ujar Rio, berusaha membuat Bian terbujuk untuk kembali sehat dan melakukan rutinitasnya dengan menggunakan Azzam.


Bian mengusap kasar wajahnya, "Aku tidak bisa melakukannya." Ujar Bian, sedangkan Rio mengernyit.


"Kenapa?" tanya Rio bingung, dan ingin tahu sedikit masalah dari Tuannya ini. Agar bisa tidaknya ia juga ikut mencarikan solusi agar Tuannya tidak seperti ini terus.


"Dia sudah melarang ku untuk tidak mengusiknya, apalagi dengan Azzam." Lirih Bian, menghela kembali napasnya.


"Apakah maksud Anda Nona Arini?" tanya Rio meyakinkan. Bian mengangguk mengiyakan, sebagai jawaban.


"Oh... kalau begitu Anda jangan mengusiknya." Ujar Rio yang langsung mendapatkan pelototan dari Bian.


"Eh... maksudnya saya, Anda bisa menemui Azzam tanpa sepengetahuan Nona Arini dan keluarganya." Ujar Rio memberi solusi. Dan langsung disambut oleh Bian dengan berpikir, lalu tersenyum senang. Seperti mendapatkan proyek milyaran rupiah.


"Ya, kamu benar." Ucap Bian memuji, lalu tak sadar ia mengambil makanan yang berada di tangan Rio sedari tadi dan mulai memakannya. Rio tersenyum, sepertinya bujukan yang baru saja ia katakan berhasil.


*****


Makasih banyak untuk para Reader yang sudah bersedia membaca dan memberikan hadiahnya untuk karya Author sampai bab ini.


Sebelumnya Author mau minta maaf karena belum bisa memberikan up double. Karena di rumah ada acara... jadi harus bantu-bantu dulu. Dan semoga para reader bisa memakluminya.


Sekali lagi terima kasih banyak untuk semuanya...


I love you all


*****


Bersambung...