
Sesampainya di rumah, Arini memarkirkan mobilnya di garasi. Lalu berjalan menuju pintu utama.
"Assalamu'alaikum...." Kata Arini memberi salam seraya mengetuk pintu.
"Wa'alaikumussalam...." Jawab ibu Syahra yang memang berada di ruang tamu.
"Arin... tumben cepat pulang, Nak." Sapa ibu Syahra melihat anaknya yang cepat pulang dari hari biasanya. Arini mengangguk, lalu menyalami tangan ibunya.
"Iya, Bu. Hari ini Arin tidak terlalu banyak pekerjaan." Jelas Arini, walau pun bukan hanya itu penyebab ia pulang lebih awal hari ini.
"Oh... begitu." Ujar ibu Syahra mengangguk paham.
"Kalau begitu Arin ke atas dulu, Bu. Mau bersihin badan dulu." Arini bersiap menaiki tangga menuju kamarnya lantai dua. "Eh... Azzam kemana, Bu?" tanya Arini tidak melihat pangeran kecilnya, ia menoleh ke segala arah mencari sosok lelaki kecil itu.
"Azzam di belakang sama Arumi, kayaknya lagi siram bunga." Ujar ibu Syahra seraya duduk di sofa.
"Ohh...." Kata Arini mengangguk-anggukan kepalanya, lalu kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Dan menghilangkan kepenatan jiwa raganya.
*****
Di dalam kamar, Arini membuka laptopnya. Berusaha mengerjakan sesuatu untuk sekedar menghilangkan ingatan-ingatan masa lalu yang masih membelenggu di dalam pikiran hingga kini.
"Mama... mama. Coba lihat apa yang aku gambar tadi di sekolah." Kata Azzam memasuki kamar mamanya, sembari membawa buku gambarnya berjalan menuju Arini.
Arini terlonjak kaget, mendengar suara Azzam yang tiba-tiba memanggilnya karena ia sedang melamun. Laptopnya ia biarkan terbuka begitu saja, tidak menyentuhnya apalagi mengerjakan sesuatu... entah apa yang Arini pikirkan.
"Mama...." Panggil Azzam lagi, mengembalikan kesadaran Arini. Ia menoleh, melihat sang anak mendekatinya. "Iya sayang." Kata Arini setelah kesadarannya kembali, ia menarik Azzam untuk duduk di atas pangkuannya ketika pangeran kecilnya sudah ada di hadapannya.
"Mama, lihat apa yang aku gambar tadi di sekolah." Kata Azzam membuka buku gambarnya, Arini memperhatikan apa yang di lakukan pangeran kecilnya ini. "Ini mama, ini Azzam, dan ini papa." Tunjuk Azzam satu-satu, pada apa yang ia gambar.
"Papa?" gumam Arini refleks.
"Iya, papa. Kata ibu guru... kalau aku gambar mama, berarti aku juga harus gambar papa." Kata Azzam menoleh kepalanya ke atas menghadap wajah mamanya.
Arini diam, tidak menanggapi perkataan pangeran kecilnya.
"Mama kenapa?" tanya Azzam karena tidak mendapatkan tanggapan dari mamanya. Ia melihat wajah sendu dan ada air mata yang mengalir di pipi mamanya. "Mama kok nangis?" tanyanya lagi, lalu membalikkan tubuhnya dan menghapus air mata yang mengalir di pipi Arini dengan kedua tangan kecilnya.
"Eh... nggak sayang, mama nggak nangis kok. Ini hanya kelilipan." Arini gelagapan, karena tidak bisa menahan air matanya yang mengalir tanpa permisi.
"Mama bohong, mama nangis pasti karena aku sebut papa 'kan? Aku janji, aku nggak akan sebut itu lagi biar mama nggak sedih." Ucap Azzam, yang sudah mengerti apa arti mama dan papa, karena ia sering melihat tetangganya yang sering bermain dengan kedua orang tuanya. Lagi pula, ia pernah bertanya pada Arumi tentang keberadaan sang papa saat melihat tetangganya bermain dengan papanya, dan Arumi hanya menjawab pergi, lalu mengalihkan pembicaraan.
Mendengar itu, membuat air mata Arini kembali mengalir. Ia bisa merasakan apa yang di rasakan oleh anaknya saat ini, karena memang semua anak pasti membutuhkan kasih sayang dari sosok papa.
"Mama jangan nangis lagi, nanti aku ikutan nangis." Azzam mencoba menghibur mamanya, sembari mengusap air mata Arini yang masih mengalir.
"Iya mama nggak nangis lagi." Kata Arini juga mengusap air matanya, lalu ia memeluk Azzam dan menciumi wajah pangeran kecilnya yang sudah memberikan kekuatan tersendiri bagi Arini untuk bertahan akan semua kesulitannya hingga saat ini.
Azzam yang di peluk, juga membalas pelukan dari mamanya. Dan tak ingin kalah, ia juga menciumi wajah Arini dengan sayang. "Azzam sangat, saaaaangat... sayang mama." Katanya sambil terus menciumi wajah Arini.
Arini terkekeh, mendapatkan perlakuan seperti itu dari pangeran kecilnya. "Oh ya, seberapa besar?" tanya Arini masih terkekeh, rupanya... Azzam bisa membuat ia bahagia, hanya dengan tingkahnya.
Azzam menghentikan kegiatannya, lalu turun dari pangkuan Arini dan berjalan agak menjauh dari meja kerja sang mama.
"Sebesaaaar... ini." Kata Azzam merentangkan kedua tangannya, sambil tersenyum hangat menatap mamanya.
"Iya, bahkan lebih besaaar lagi." Kata Azzam kembali merentangkan kedua tangannya di atas gendongan Arini. "Mama sayang sama Azzam seberapa besar?" tanya Azzam menghentikan kegiatannya, lalu memeluk leher Arini seraya menatap mata mamanya.
"Hmmm... seberapa, ya?" Arini pura-pura berpikir. Sedangkan Azzam wajahnya mulai di tekuk, takut mamanya tidak sayang kepadanya.
"Mama." Panggil Azzam pelan, dengan muka yang sudah kembang kempis takut mamanya benar-benar tidak sayang padanya.
Melihat itu membuat Arini ingin tertawa karena muka Azzam kembang kempis, terlihat lucu baginya. Tapi ia takut Azzam menangis di malam hari dan membuat ibunya dan Arumi menjadi khawatir. Jadi ia urungkan dan sebisa mungkin menahan tawanya.
"Hmm... kok mukanya kaya gitu." Tanya Arini menahan tawa.
"Jawab dulu." Rengek Azzam karena belum mendengar jawaban dari mamanya.
"Jawab apa sayang?" Arini pura-pura tidak tahu. Muka Azzam sudah memerah, matanya berkaca-kaca bersiap menumpahkan air matanya.
"Oke, oke, mama jawab. Tapi mukanya senyum dulu." Kata Arini melihat pangeran kecilnya bersiap menangis. Azzam menghembuskan nafasnya berulang kali, berusaha tidak menangis, lalu ia pun menunjukkan senyuman keterpaksaannya terhadap Arini.
Arini tersenyum, lalu menjawab pertanyaan Azzam tadi. "Mama sayang sama Azzam sangat, saaaangat besar. Lebih besar dari Azzam sayang ke mama."
"Lebih besar seperti kamar ini?" tanya Azzam mencari peragakan.
"Lebih besar lagi." Jawab Arini.
"Lebih besar seperti rumah ini?" tanya Azzam lagi.
"Lebih... lebih besar lagi." Kembali Arini menjawab.
"Benarkah?" tanya Azzam memastikan, dengan senyuman lebar tanpa paksaan sudah merekah di wajahnya.
"Hm." Dehem Arini seraya mengangguk sebagai jawaban.
Melihat anggukan kepala mamanya membuat Azzam menciumi wajah Arini dengan bertubi-tubi. Arini terkekeh karena geli akan perlakuan pangeran kecilnya.
"Sudah... sudah sayang, sekarang ayo kita tidur. Sudah larut malam, besok kan sekolah." Kata Arini menghentikan kegiatan Azzam.
"Mau tidur di sini." Kata Azzam turun dari gendongan Arini menuju tempat tidur sang mama.
"Boleh, tapi sebelum tidur sikat gigi dulu." Kata Arini mengingatkan.
Azzam mengangguk, lalu turun dari ranjang king size mamanya dan pergi sikat gigi. Sedangkan Arini, menutup laptopnya dan membereskan meja kerja. Lalu menuju kamar mandi untuk melakukan ritual sebelum tidur.
"Mama...." Panggil Azzam melihat mamanya, baru keluar kamar mandi.
"Sudah gosok gigi?" tanya Arini melihat Azzam masuk ke kamarnya dan menutup pintu.
"Sudah dong." Jawab Azzam sembari menunjukkan giginya yang sudah digosok.
"Pintar." Puji Arini lalu menggendong Azzam membawanya pada tempat tidur. Dan Arini pun mematikan lampu dan di ganti lampu tidur yang lebih remang.
Azzam tidur dengan senyum mereka di bibir mungilnya, karena mengingat perkataan Arini yang sangat sayang padanya. Ia tidur dengan dipeluk oleh wanita yang paling ia sayangi.
*****
Bersambung...