
Malam beranjak begitu cepat, Bian, Rio, dan Rangga berjalan turun menuju lobi hotel. Mereka bertiga sekarang akan menuju tempat pertemuannya masing-masing dengan kliennya. Rangga berpisah dengan Bian dan Rio, di lobi hotel. Ia sudah dijemput oleh seseorang yang akan mengantarkannya ke tempat tujuan.
Sama halnya dengan Rangga, Bian dan Rio juga di jemput oleh seseorang yang tak lain orang itu adalah orang yang mengantar mereka sebelumnya, menuju hotel ini. Orang itu membukakan pintu untuk Bian, sedangkan Rio membuka pintunya sendiri. Ia duduk di depan bersama sang sopir.
"Mmm... bau apa ini?! Kenapa menyengat sekali, sangat tidak enak dicium!" Bian refleks menutup hidungnya tak kala mencium bau yang sangat menyengat itu. Sopir dan Rio mengernyit, menoleh ke belakang. Bau apa? Perasaan wangi, dan tidak menyengat. Batin Rio dan sopir itu.
"Maaf, Tuan. Mungkin bau parfum yang saya semprotkan tadi." Lirih sopir itu, berkata hati-hati, dengan setengah mengeryit.
"Berapa botol semprotan yang kau habiskan sehingga baunya sangat menyengat seperti ini?!" Ucapan Bian naik satu oktaf, membuat sopir dan Rio sedikit tersentak.
"Maaf, Tuan. Saya hanya menyemprotkannya sedikit." Sopir itu berkata semakin lirih.
"Aku tidak mau dengar alasan mu! Cepat turunkan semua jendela kaca mobil ini agar baunya hilang, dan kau Rio cepat turun belikan aku masker!" Perintah Bian tegas.
"Baik, Tuan." Ucap Rio dan sopir itu bersamaan, mereka berdua langsung menjalankan perintah dari Bian.
Sopir itu menurunkan semua jendela kaca mobilnya, Rio langsung turun membelikan masker untuk Tuannya ini. Untuk hotel yang mereka tempati dekat dengan super market.
Rio menghela napas lega saat sudah mendapatkan masker yang diinginkan Tuannya, ia pun berjalan kembali menuju mobil dan masuk ke dalam mobil itu. Usai menutup kembali pintu mobil, Rio langsung memberikan masker yang dibelinya pada Bian sang atasan.
"Ini Tuan." Rio menyodorkan masker itu pada Bian, dan langsung diterima oleh atasan ini. Bian langsung memakai masker itu, mobil pun kini dinyalakan dan berjalan menuju tempat tujuan.
Dengan menempuh jarak sekitar empat puluh lima menit, Bian dan Rio sampai di salah satu restoran yang berada di Hong Kong, tempat pertemuan mereka bersama kliennya.
Bian dan Rio berjalan menuju ruangan VIP restoran itu, seseorang menuntun mereka menuju ruangan.
Orang yang menuntun Bian dan Rio kembali pada pekerjaannya, sedangkan Bian dan Rio sudah masuk ruangan itu. Bian melepaskan maskernya, lalu menyapa orang kliennya.
"Maaf, sudah membuat Anda menunggu lama Tuan Chaleo." Bian menyapa kliennya, berjalan mendekatinya. Rio ikut menyapa, sedikit menunduk.
"Ah... kami juga baru datang, Tuan Bian Pratama. Jadi santai saja." Orang bernama Chaleo itu berdiri, juga dengan sekretaris di sampingnya, mereka berjabat tangan dengan Bian dan Rio.
"Silakan duduk." Tuan Chaleo mempersilahkan semuanya untuk duduk.
"Ya, terima kasih." Bian dan yang lainnya pun duduk.
Mereka mulai membahas inti dari pertemuannya malam ini, sesekali Bian mengusap hidupnya, tidak nyaman karena mencium parfum dari Tuan Chaleo dan sekretarisnya yang lagi-lagi sungguh menyengat di indra penciumannya. Kalau saja tidak akan menyinggung klien pentingnya ini, Bian akan memakai maskernya sejak tadi.
*****
Di rumah, Arini tidak henti-hentinya menelpon Arumi. Sudah panggilan kedua belas ia menelpon nomor adiknya, memintanya untuk segera datang ke rumahnya.
"Aduh kak... kenapa lagi? Aku sekarang sedang di jalan menuju rumah mu, sebentar lagi juga sampai." Arumi berkata jengah menerima telepon kakaknya yang sudah kedua belas kali itu.
"Kenapa lama sekali." Jawab Arini di dalam telepon.
"Astaga... ini baru lima menit nyonya Arini Pratama, jarak rumah mu dengan rumah kita itu tidak dekat." Arumi menepuk jidatnya sendiri mendengar jawaban dari kakaknya. "Emangnya ada apa sih...? Kenapa buru-buru sekali? Dan kenapa juga harus aku?!" Arumi mengerucutkan bibirnya.
"Kamu nggak usah nanya, cepat ke sini saja." Ucap Arini langsung mematikan teleponnya sepihak.
Arumi yang ingin bertanya lagi, mengurungkan niatnya karena telepon sudah dimatikan oleh kakaknya yang tidak ada akhlak itu. Bisa-bisanya dia menyuruhnya untuk cepat-cepat ke rumahnya, sedangkan dia tidak memberitahukan alasannya. Awas saja kalau tidak penting! Batin Arumi mempercepat laju mobil yang ia kendarai.
Lima belas menit kemudian, Arumi sudah sampai di kediaman kakaknya. Ia melihat kakaknya itu menunggu di teras bersama keponakannya Azzam.
"Akhirnya kamu datang juga." Arini dan Azzam menghampiri mobil Arumi yang sudah terparkir rapi. "Sekarang ayo." Belum sempurna kaki Arumi keluar dari mobil, kini ia ternganga mendengar ajakan itu.
"Mau kemana? Aku saja belum turun dan menghirup udara di rumah mu ini." Ucap Arumi mengernyit.
"Kita akan pergi makan bakso aunty." Jawab Azzam dengan nada gembira.
"Apa?!!!" Mulut Arumi terbuka lebar. "Apakah kakak memintaku untuk datang ke sini hanya untuk mengantar kalian pergi makan bakso?" Tebak Arumi dengan napas naik turun, bibirnya mengerucut dalam.
"Iya, hehehe." Arini tertawa cengengesan, mengangguk.
"Astaga." Arumi lagi-lagi menepuk jidatnya sendiri, tidak habis pikir. "Kenapa kalian tidak meminta para pelayan saja untuk membelikannya, dan kenapa pula tidak memberitahu ku sedari awal agar aku membelinya untuk kalian. Jadi tidak akan capek dua kali seperti ini." Sungut Arumi tidak terima.
"Mau makan di warungnya sama kamu hehehe...." Arini menggaruk kepalanya yang tidak gatal, membuat Arumi melongo mendengarkannya. Alasan macam apa ini? Sungguh tidak etis!
"Ayo aunty, Azzam juga sudah lama tidak makan bakso." Ujar Azzam dengan kedua tangannya di satukan, menatap Arumi dengan mata puppy eyes-nya. Begitu juga dengan Arini yang melakukan hal yang sama dengan anaknya.
"Astaga... ibu dan anak sama saja ternyata." Gumam Arumi menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Oke... oke... tapi berhentilah menatap ku seperti itu." Arumi mengibas-ngibaskan tangannya, menyuruh ibu dan anak ini agar tidak menatapnya lagi dengan mata seperti itu.
"Hm...." Azzam dan Arini mengangguk serentak, berhenti menatap Arumi dengan jurus terampuh nya.
Mereka bertiga pun menaiki mobil, menuju tempat bakso gerobak yang akhir-akhir ini jarang mereka kunjungi.
"Bakso... I'm coming...." Ucap Azzam semangat membara di dalam mobil, Arini mengangguk antusias dengan ucapan anaknya. Sedangkan Arumi memutar jengah bola matanya, melihat tingkah ibu dan anak ini.
Sampai di tempat bakso langganan mereka, Arini dan Azzam langsung duduk manis di kursi makan yang sudah disiapkan, Arumi pergi memesan bakso.
"Tunggu, sebentar lagi mereka akan datang membawakannya." Arumi duduk, bergabung dengan kakak dan keponakannya.
Beberapa menit kemudian, tiga mangkok bakso sudah di simpan di hadapan mereka masing-masing.
"Ummm... wanginya." Ucap Azzam menghirup kuah bakso itu, Arini, mamanya sudah mulai melahap bakso yang sudah ia impikan sejak tadi.
"Heh... kalian berdua pelan-pelan, baksonya tidak akan lari." Arumi memperingati mereka berdua yang sedang makan dengan lahapnya itu dan hanya diangguki sekilas oleh Arini dan Azzam.
"Astaga... kenapa tingkah kalian berdua aneh sekali?" Decak Arumi mulai menikmati baksonya perlahan-lahan.
Kembali ke Hongkong, Bian semakin risih dengan bau parfum yang di kenakan kliennya ini, dan untung saja pembicara mereka sudah mencapai puncak. Mereka menjalin kerja sama dengan jabat tangan sebagai tanda persetujuan antara keduanya.
"Apa tidak ingin memesan makanan berat?" Tawar Tuan Chaleo, karena sejak tadi mereka hanya memesan makanan yang ringan.
"Hm... terima kasih atas tawarannya, Tuan. Tapi kami masih ada pertemuan lagi dengan beberapa klien." Rio angkat bicara, pura-pura melihat daftar agenda Tuannya.
Ia sangat mengerti mimik wajah atasannya sejak tadi yang tidak nyaman dengan bau sekitarnya, Bian bernapas lega mendengar perkataan Rio. Jujur ia tidak tahan lagi berada di tempat ini terlalu lama.
"Baiklah, semoga kerja sama kita berjalan lancar." Ucap Tuan Chaleo, menunduk diikuti sekretarisnya. Bian dan Rio juga ikut menunduk, balas menghormati Tuan Chaleo. Dan pertemuan itu pun selesai dengan Bian dan Rio yang keluar terlebih dahulu dari ruangan VIP itu.
*****
Bersambung...