
"Jangan bilang kalian keluar dari hotel ini dan langsung pindah ke rumah baru kalian." Tebak mama Mira, harap-harap cemas.
Bian mengangguk, "Iya Mah, keluar dari sini kami langsung mau pindah ke rumah baru kami." jawab Bian menimpali ucapan mamanya.
"Nggak! Mama nggak setuju!" Mama Mira menolak dengan keras. "Pokoknya kalian harus menginap dulu di mansion utama." Lanjut mama Mira dengan nada perintah sekaligus memaksa.
"Mah... biarkanlah mereka pindah, agar mereka bisa membangun rumah tangga mereka dengan baik tanpa gangguan dari kita." Kini Tuan Dean yang menimpali ucapan istrinya. "Kita harus memberikan waktu untuk mereka bertiga agar lebih saling mengenal supaya hubungan mereka semakin erat dan harmonis. Dan lagi pula, kenyataannya mereka juga akan pindah kan. Dan menurut papa lebih cepat, lebih baik." Ucap Tuan Dean lagi, memberi pengertian pada istrinya.
"Tapi pah... mama kan belum puas main sama cucu mama." Ucap mama Mira dengan nada sedih, merengek pada suaminya. Arini mendekati Bian, untuk mempertimbangkan lagi tentang keputusannya yang langsung ingin pindah.
"Tidak bisa sayang, kalau di mansion utama banyak sekali pengganggunya. Salah satunya adalah mama." Kilah Bian.
Ya, walau pun salah satu penyebabnya karena hal tersebut. Yaitu ia tidak ingin waktu kebersamaan mereka diganggu oleh keluarganya. Dan penyebab utamanya adalah karena seseorang yang selama ini ia cari keberadaannya tiba-tiba muncul di pernikahannya kemarin. Membuat Bian mengambil tindakan ini, karena ia sangat yakin orang itu akan pergi ke mansion utama. Ia belum siap bertemu dengan orang itu, apapun alasannya.
Dan akhirnya Arini tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia tidak bisa membantah keinginan suaminya. Tapi di sisi lain, ia juga kasihan melihat ibu mertuanya yang masih ingin berdekatan dengan sang cucu.
"Iya, papa tahu mah. Tapi dengan pindah rumah tidak akan membuat mama tidak bisa bertemu dengan Azzam, kan?" Tuan Dean meraih tubuh sang istri yang terlihat sedih, dibawanya tubuh sang istri dalam pelukannya. Lalu menepuk-nepuk pelan bahunya untuk menenangkan.
"Hm...." Bian berdehem, memegang tenggorokannya yang terasa sesak. Keromantisan kedua orang tuanya, mengalahkan ia yang berstatus sebagai pengantin baru.
Azzam yang berada dalam pangkuan Bian hanya menata polos interaksi orang-orang dewasa di sekitarnya. Tapi satu hal yang ia tahu, kalau sang nenek sedang bersedih karena ia yang akan pindah rumah bersama kedua orang tuanya.
"Iya, mah. Mama bisa bertemu dengan Azzam kapan pun, nanti juga kami akan sering-sering ke mansion utama." Ujar Arini membenarkan ucapan papa mertuanya. Bian mengernyit mendengar ucapan sang istri. Mana bisa sering-sering ke mansion utama, bukankah harus mengejar target? Membuat anak kedua dan selanjutnya. Batin Bian tak terucap.
Mama Mira menoleh pada Arini, menatapnya dalam. "Apakah itu benar?" Tanyanya dengan mata yang sedikit berbinar, belum mendapatkan kepastian.
"Iya, mah. Tentu saja. Iyakan?" Jawab Arini pada mama Mira, sekaligus bertanya pada Bian untuk meyakinkan sang ibu mertua.
"Eh...." Bian menggaruk kepalanya. Tidak ingin menjawab pertanyaan dari sang istri karena mereka harus mengejar target itu. Membuat mama Mira kembali menunduk kecewa.
"Iyakan, Mas...?!" Arini mengulangi pertanyaannya pada Bian, dengan suara yang sedikit di tekan, tersenyum manis pada sang suami. Tangannya menjalar mencubit pinggang kekar Bian.
Bian menggigit bibir bawahnya, bukan karena ia merasa kesakitan akibat dicubit oleh Arini. Tapi tangan istrinya ini membuat ia terasa disengat oleh aliran listrik, dan senyuman manis yang di tunjukkannya, sangatttt... Wahhh! Di mata Bian. Apalagi panggilan yang terdengar sangat mesra itu. Membuat Bian terpaku sejenak.
Tidak mendapatkan jawaban dari Bian, Arini kembali mencubit pinggangnya. Membuat Bian tersadar. "Eh... iya, tentu saja." Jawab Bian kemudian.
Mata mama Mira sempurna berbinar, Azzam turun dari gendongan papanya dan berlari menghampiri sang nenek.
"Iya nenek, Azzam sama papa dan mama akan sering jenguk nenek." Ucap Azzam memeluk sayang papa neneknya.
Mendengar itu membuat mama Mira semakin senang, ia balas memeluk erat sang cucu. "Iya sayang, nenek tunggu ya...." Balas mama Mira akan ucapan cucunya.
*****
Kini semua keluarga berdiri di lobi hotel, Ibu Syahra, Mama Mira dan Tuan Dean, serta dua pasangan yang belum halal itu. Mengantar kepergian Bian serta keluarga kecilnya menuju rumah baru mereka.
"Hati-hati di jalan yang sayang, jangan lupa sama Aunty." Ucap Arumi memeluk dan mencium keponakannya berulang kali.
"Kamu hati-hati ya, Nak. Ingat pesan ibu, kalau jadi istri harus dengar apa yang dikatakan oleh suami, harus patuh, lakukan apa yang diinginkannya. Jika ada masalah selesaikan dengan tenang, dengan kepala dingin, dan salah satu dari kalian harus mengalah. Jangan pertahanan ego masing-masing, pikiran tentang anak kalian. Dan jika kalian berselisih, jangan perlihatkan tontonan tidak baik itu pada anak kalian. Tapi ibu berdoa, semoga itu semua tidak terjadi, semoga pernikahan kalian berjalan dengan baik dan penuh kebahagiaan." Pesan ibu Syahra panjang lebar pada sang anak, yang bersiap pergi dibawa oleh suaminya.
"Iya, Bu. Arin pasti ingat semua pesan ibu selama ini, dan terima kasih banyak untuk semua do'a ibu untuk Arin. Terima kasih juga karena telah menjadi ibu terbaik untuk Arin dan Arumi, terima kasih karena sudah menjaga kami selama ini, dari kami kecil sampai sebesar ini, bahkan sudah menikah seperti ini. Terima kasih. Arin sayang sama ibu." Ucap Arini memeluk erat ibunya, matanya kini dibanjiri oleh air mata. Ia sedikit terisak, namun tidak ada yang mendengarkannya. Ibu Syahra balas memeluk erat anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Hati-hati di jalan, Bro. Gue do’ain semoga pernikahan kalian langgeng dan bahagia seterusnya." Do'a Rangga dengan tulus pada sang sahabat, menjabat tangannya.
"Aamiin... makasih atas doanya. Dan semoga lu juga cepat nyusul, dan halalin adek ipar gue." Ujar Bian, yang memang sudah tahu kedekatan antara Rangga dan Arumi. "Tapi satu hal yang harus lu ingat! Kalau lo sakitin Arumi, berarti lo sakitin istri gue, dan itu berarti lu berhadapan langsung sama gue!" Ucap Bian dengan nada penekanan, matanya menatap tajam pada Rangga, membuat Rangga menelan ludahnya mendengar ancaman dari kakak ipar Arumi.
"Hmmm... t-tentu saja." Rangga terlihat kesakitan berjabat tangan dengan Bian, ancaman Bian tidak main-main.
"Oke... saran gue tinggalin kebiasaan lu yang dulu." Ujar Bian melepaskan tangan Rangga, seraya menepuk-nepuk bahunya. Lalu ia pun meninggalkan Rangga untuk menyapa yang lainnya.
"Aukkff...." Rangga mengibas-ngibaskan tangannya yang sakit.
Bian, Arini dan Azzam selesai menyapa semua anggota keluarga serta Hana dan Rio yang juga ikut mengantar kepergian mereka.
Mereka bertiga bersiap menaiki mobil, menuju rumah baru mereka. Tapi seseorang memanggil nama Arini, mengurungkan niat mereka.
"Arin...." Dian turun dari mobilnya, berlari kecil untuk menyapa sang sahabat yang bersiap pergi itu.
"Dian, kamu belum pulang?" Tanya Arini melihat sahabatnya menghampirinya.
"Belum." Jawab Dian langsung memeluk Arini. Arini balas memeluknya.
"Hati-hati di jalan, dan maaf aku datang terlambat." Ucap Dian melonggarkan pelukannya.
"Iya ndak papa. Makasih sudah datang." Balas Arini tersenyum pada sang sahabat.
Diam balas tersenyum, "Iya sama-sama. Tuh... sekarang, udah ditungguin." Ucap Dian mengarah pada Azzam dan Bain.
"Kalau begitu bye... hati-hati di jalan." Ucap Arini melambaikan tangannya pada Dian.
"Bye...." Dian balas melambaikan tangan.
"Dahhh... semua, Azzam pergi dulu ya...." Azzam melambaikan tangannya pada semua orang yang berada di sana. Orang-orang balas melambaikan tangan.
"Kalau tidur jangan lupa mimpi'in Azzam ya... siapa tahu kangen hehehe." Ujar Azzam lagi, masuk ke dalam mobil yang sudah dibukankan oleh papanya. Arini dan Bian mengangguk, lalu mereka berdua ikut masuk ke dalam mobil.
Dan mobil itu pun melaju, hingga hilang dari pandangan orang-orang yang mengantar mereka.
*****
Bersambung...