
Setelah di jemput oleh Rio di restoran ter-elite itu, Bian langsung menuju kantornya. Mengerjakan semua pekerjaan yang ditinggalkannya untuk makan siang bersama Arini dan Azzam, serta memeriksa kembali semua pekerjaan yang di timpakan nya kepada Rio sang sekretaris.
Pukul delapan malam, Bian di panggil oleh kedua orang tuanya. Mengajak ia untuk kembali makan malam bersama, sekaligus menginap di sana. Mansion utama keluarga Pratama.
Bian memutar jengah bola matanya, malas sekali sebenarnya ia pergi ke Mansion utama. Apalagi makan malam bersama keluarganya itu, yang selalu membahas hal yang sama setiap kali ia datang berkunjung.
Ajakan makan malam ini, hanya sebagai alasan mereka untuk membicarakan sesuatu yang Bian tidak suka untuk mendengarnya.
"Kau langsung pulang saja, tidak usah menunggu ku!" Bian mengusir Rio yang setia menunggunya sejak mendapatkan perintah dari Tuan Dean Pratama untuk menyampaikan kabar bahwa Bian harus datang makam malam di Mension utama, serta memastikan Bian untuk sampai di Mension tepat waktu.
"Ma'a---" Ucap Rio tertahan, ingin menyampaikan sesuatu.
"Bonus mu hari ini tidak akan pernah ku berikan, jika kamu berani membantah." Ucap Bian fokus dengan beberapa berkas di atas mejanya. Ia membolak-balik berkas itu, memeriksanya. Lalu selesai memeriksanya, ia pun membubuhkan tanda tangan berharganya itu.
Rio tertegun mendengar kata bonus yang terlontar dari mulut Bian, bosnya ini tidak akan pernah main-main dalam membicarakan ataupun memberikannya. Bonus yang ia berikannya sangat lah besar, bahkan setara dengan gajinya beberapa bulan.
"Bagaimana... apa kamu tertarik?" tanya Bian, menoleh kepada Rio yang sekarang terlihat bingung.
"Sebenarnya saya sangat tertarik, Tuan." Jelas Rio menggaruk tengkuknya. "Tapi, saya tidak bisa mengabaikan perintah Tuan Dean. Jadi saya tidak bisa menerima bonus itu, jika berkaitan dengan ke tidak hadiran Anda di Mansion nanti." Ucapnya ragu-ragu, menolak.
Bagaimana tidak, bonus itu sangat lah besar dan sangat sayang jika ia tidak mendapatkannya. Tapi, mau bagaimana lagi. Ia tidak dapat memilih, karena perintah Tuan Dean tetap harus ia tunaikan dan tidak bisa digadaikan dengan bonus yang sangat menggiurkan yang diberikan oleh Bian.
"Oh, yah?" Bian mengangkat satu alisnya, tidak menyangka Rio menolak bonus darinya hanya karena perintah dari papanya.
"Ma'af, Tuan. Mengabaikan perintah Tuan Dean, sama saja saya mengabaikan perintah Anda." Rio mengatakan itu kali ini dengan lantang tanpa ragu-ragu dan percaya diri bahwa ia memang menolak bonus itu, membuat Bian menghembuskan napas kasar.
"Hm, baiklah. Aku akui kau memang sekretaris ku, tapi tidak bisa ku mungkiri bahwa kau adalah orang yang langsung papa ku rekrut. Jadi, pantas saja kau lebih berpihak kepadanya." Timpal Bian, mendengar jawaban Rio.
"Sepertinya aku memang harus memberikan pesangon untukmu dan merekrut sendiri sekretaris baru." Gumam Bian hanya dalam hati, karena itu tidaklah mungkin. Papanya masih berkuasa di sini, dan Rio adalah salah satu orang kepercayaannya.
"Ma'af, Tuan." Rio menunduk, merasa serba salah. Tuan Dean adalah orang yang berjasa memberikan pekerjaan ini padanya, serta masih berkuasa atas perusahaan. Di sisi lain, Bian adalah atasan resminya. Bagaimana pun ia juga harus mematuhi perintahnya.
"Ya... ya." Bian mengangguk berulang kali, mengerti apa yang di rasakan oleh Rio sekarang. "Tapi, bisakah kau pulang saja? Dan meninggalkan aku sendiri di sini." Ucap Bian yang memang ingin sendiri saat ini, mengumpulkan tenaga ekstra untuk menghadapi orang tuanya nanti. Ia sekarang berniat menemui mereka, agar tidak menambah masalah baru baginya.
"Aku rasa, kau sangat kelelahan hari ini dan membutuhkan banyak tenaga untuk kembali bekerja besok. Bukan begitu...?" tanya Bian, mendapatkan anggukan kepala dari Rio.
"Nah, untuk itu kamu pulang saja. Dan tidak usah khawatir, aku akan berangkat ke Mansion sebelum pukul delapan tepat." Ujar Bian, mendapatkan bantahan dari Rio.
"Tapi, Tu---." Rio ingin membantah, ia harus memastikan bahwa Bian benar-benar berangkat ke Mansion.
"Tidak ada tapi-tapian! Kamu bisa memegang perkataan ku tadi." Rio diam tidak menanggapi perkataan Bian.
"Sekarang pulanglah, aku juga akan tetap memberikan mu bonus itu. Karena kamu sudah bekerja keras hari ini dan sudah banyak membantu." Bian menuliskan sejumlah angka di selembar cek.
Mendengar mendapatkan bonus itu kembali, Rio mengangguk kepalanya cepat. Menyetujui kesepakatannya dengan Bian. Lagi pula atasannya ini, kalau sudah mengatakan sesuatu tidak akan pernah mengingkarinya. Itu yang ia tahu, selama bekerja dengan Bian.
"Terima kasih, Tuan." Rio mengambil cek itu dengan senang hati.
"Oke. Aku memang layak mendapat ini." Gumam Rio tersenyum semringah, keluar dari ruangan Bian sang atasan dermawan nya itu. Sesekali melihat nominal cek, membuat senyuman senang tak pernah pudar dari wajahnya.
Setelah Rio keluar dari ruangannya, membuat Bian bernapas lega. Akhirnya ia bisa sendiri, berpikir jernih sebelum ke rumah kedua orang tuanya. Tidak ada lagi Rio sang sekretaris handal, yang membuat ia risih dan tidak konsentrasi berpikir.
*****
Tepat pukul delapan malam, Bian turun dari mobil memarkirkannya asal saja. Penjaga yang melihat itu lekas datang dan langsung memarkirkan mobil Bian pada tempat parkir yang sudah tersedia di Mansion mewah itu.
Bian masuk melalui pintu utama, di sambut beberapa pelayan yang membungkuk hormat di sana. Sepertinya ini sudah di persiapkan oleh pemilik Mansion, siapa lagi kalau bukan kedua orang tuanya.
Bian terus melangkah, mengabaikan para pelayan itu yang masih membungkuk hormat padanya. Berselang beberapa menit ia berjalan, ia pun dapat melihat keluarganya sedang duduk di hadapan banyaknya hidangan lezat, namun tak menggugah selera makan Bian sama sekali.
"Aaah.... akhirnya kakak datang juga, perutku sudah lapar dari tadi. Meraung-raung minta di isi, ada makanan yang nganggur. Eh... tidak boleh di sentuh, karena harus menunggu kakanda Bian Andi Pratama." Celoteh Alysha, mendramatiskan suasana. Bangun dari kursinya lalu membungkuk hormat lanyaknya seorang putri yang menyambut tamu kehormatan, nyatanya tamu tidak terhormat.
Bian duduk di kursi yang sering ia tempati, mengabaikan sambutan adiknya yang abnormal itu. Alysha yang merasa di acuhkan lantas duduk memonyongkan bibirnya cemberut.
"Dasar kakak tidak ada akhlak, sudah di sambut baik-baik malah di acuhkan. Tidak tahu apa, orang yang menunggunya sejak tadi hanya untuk bisa makan bersama." Gumam Alysha menggerakkan bibirnya, memaki Bian.
"Jangan sampai bibir mu itu tidak ada pada tempatnya, karena sering memakiku." Ucap Bian, menyindir adiknya.
"Memang siapa yang memaki mu? Lalu dimana bibirku akan di simpan kalau bukan di tempatnya?" Alysha bertanya, melotot marah. Bian mengedikan bahu tak peduli.
"Sudah-sudah...." Ibunya menengahi, melihat tingkah kedua anaknya ini. Tuan Dean hanya memerhatikan.
"Kalian ini kenapa? Setiap bertemu, selalu saja bertengkar?" Mama Mira tak habis pikir, kenapa kedua anaknya ini selalu saja bertengkar walaupun hanya hal-hal kecil atau sepele saja.
Alysha melipat kedua tangannya di dada, memalingkan wajahnya. Lupakan, masalah perutnya yang meronta minta di isi itu. Lupakan, hidangan makanan lezat yang tersaji di meja makan itu.
Bian santai saja, kembali mengedipkan bahu tak peduli, dan tak tahu.
*****
Terima kasih untuk para Reader, yang telah bersedia memberikan waktunya untuk membaca karya baru Author.
Jangan lupa dukung Author dengan memberi vote, Gift, like, and comment, agar makin semangat dalam menulis karya ini. Makasih sekali lagi.
I Love You All...
*****
Bersambung...