My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Hamil



Saat ini keempat orang itu sedang duduk di ruang tunggu depan ruangan poli kandungan untuk pemeriksaan. Sebenarnya Bian tak ingin menunggu seperti ini dan hanya ingin melewati antrean begitu saja, tapi tindakannya itu mendapatkan penolakan keras dari sang istri. Pakai ancaman pula, ancaman yang membuat pria itu tidak bisa mengetahui kepastian apakah ia akan memiliki anak kedua atau tidak. Ya, ancamannya sang istri tidak akan melakukan pemeriksaan. Dan alhasil laki-laki itu pun bungkam, dan patuh saja pada sang istri yang tak ingin melewati antrean.


Arumi yang juga ikut dengan mereka merasa bingung karena datang ke ruang poli kandungan. Untuk apa? tanyanya dalam hati. Tapi setelah mendengar adu mulut dari pasangan suami istri ini, ia menjadi tahu bahwa kakaknya akan melakukan pemeriksaan kehamilan. Perasaannya jadi campur aduk menunggu kepastian tentang kehamilan itu.


Azzam celingak-celinguk di atas pangkuan Arumi, mengamati keadaan sekitar. Matanya melebar penasaran tak kala melihat ibu-ibu yang perutnya membesar.


Bian juga ikut mengedarkan pandangannya untuk melihat sekitar, dan tatapannya jatuh pada seorang perempuan yang tengah kesusahan berjalan karena perutnya yang begitu besar. Untung saja di sampingnya ada suaminya yang membantu.


Melihat itu, seketika pikiran Bian membayangkan istrinya yang berada di posisi itu ketika sang istri tengah mengandung Azzam anak mereka dan itu tanpa ada dirinya yang  membantu. Bian tiba-tiba menunduk, rasa bersalah serta menyesal kini menyelimuti hatinya. Perih, diikuti matanya yang kini memerah menampakkan bulir-bulir kristal yang siap tumpah kapan saja. Ia pun cepat-cepat mengusap dan mengibaskannya sebelum orang lain melihat.


"Panggilan nomor tiga puluh dua, untuk Ibu Arini...."


Mendengar panggilan itu Bian dan Arini lekas masuk ke ruangan, mereka meminta izin pada Azzam sekaligus menyuruhnya menunggu bersama Arumi di luar.


"Iya, tapi jangan lama-lama ya." Azzam mengangguk memonyongkan bibirnya, karena baru saja bisa bertemu dengan papanya ia harus kembali berpisah.


"Iya sayang, mama sama papa nggak lama." Arini memberikan pengertian pada sang anak, dan Bian mengusap kepalanya. Setelah mendapatkan anggukan sekali lagi dari Azzam, mereka berdua pun bergegas masuk.


"Silakan duduk Pak, Bu...." Dokter obygy menyambut ramah Bian dan Arini yang baru saja masuk ruangan.


"Terima kasih, Dok." Balas Arini, dan ia pun duduk di kursi yang sudah disiapkan bersama sang suami.


"Baik, ada yang bisa saya bantu?" Tanya dokter melihat pasangan suami istri ini sudah menempati kursi mereka.


"Ya, memastikan kehamilan istriku dokter."


"Baik, apakah sudah melakukan testpack?"


Arini menggeleng, "Belum dokter, tapi saya sudah telat dua minggu."


"Apakah ada gejala lain yang dirasakan, Bu?"


"Akhir-akhir ini porsi makan istri saya bertambah dokter, dan dia sering ingin memakan sesuatu." Bian yang menjawab, pipi Arini merona malu karena Bian mengatakan porsi makannya bertambah pada dokter yang kini menatapnya tersenyum.


"Apa sudah mengalami morning sickness?" Tanya dokter sekali lagi.


"Tidak dokter, saya tidak mengalaminya seperti kehamilan pertama saya. Tapi...." Arini menoleh pada suaminya. "Pagi tadi suami saya merasa pusing dan mual dokter, bahkan siang ini dia muntah-muntah sampai pingsan." Lanjutnya menjelaskan, dokter mengangguk, lalu tersenyum lagi pada keduanya.


"Baik, semua gejalanya memang menunjukkan kalau ibu tengah hamil."


Bian ingin bertanya maksud ucapan dokter itu tentang semua gejala. Apakah pusing, mual, serta muntah-muntah yang ia alami termasuk gejalanya juga. Tapi kenapa bisa? Ingin Bian bertanya, dokter itu sudah berdiri dan berjalan menuju ranjang.


"Dan untuk memastikan, mari kita lakukan pemeriksaannya sekarang. Silakan ibu berbaring di tempat tidur." Arini segera mengikuti arahan dokter untuk berbaring di atas ranjang yang telah tersedia, Bian mengikutinya dan berdiri di samping ranjang sang istri.


"Maaf sebelumnya, bisa angka bajunya sedikit."


"Buat apa dokter?" Sahut Bian cepat, matanya menatap dokter perempuan itu memicing.


Untung dokter perempuan, kalau dokter laki-laki sudah pasti Bian berikan bogem mentah padanya tanpa bertanya terlebih dahulu.


"Eh... i-ini Pak...." Ah, dokter perempuan itu kini menjadi gugup mendapatkan tatapan itu dari Bian.


"Mas." Arini memukul lengan suaminya. "Memang harus diangkat agar bisa diperiksa." Arini pun mengangkat bajunya, memperlihatkan perutnya yang masih datar.


"Tapi sayang...." Bian masih tidak setuju, ia kembali menarik ke bawah baju istrinya untuk menutupi perutnya. Arini membulatkan mata, memukul lagi lengan suaminya, nampannya ia mulai kembali jengkel dengan tingkahnya.


"Tap---"


"Mas...!" Arini menatap tajam suaminya, kenapa sikap menjengkelkannya harus datang di saat seperti ini.


"Y-ya... baiklah, silakan dilanjutkan." Ucap Bian, ngeri melihat tatapan tajam istrinya.


Dan pemeriksaan itu pun kembali dilanjutkan, dokter mulai mengoleskan gel di atas perut rata Arini sebelum akhirnya mengarahkan alat USG pada perutnya.


"Nah, bisa ibu dan bapak lihat dilayar. Sudah terbentuk kantong kehamilan dan usia kandungan ibu sudah memasuki minggu keempat." Ujar dokter membuat Arini kaget, kenapa ia sampai tidak menyadarinya. Tapi tentu saja ia juga sangat senang mendengar berita ini.


Matanya tak lepas di layar monitor, melihat bayangan hitam putih berdenyut di sana. Binar bahagia terlihat jelas dimatanya. Ia pun menoleh ke samping, suaminya kini tengah meneteskan air mata haru.


"Mas...." Panggil Arini dengan suara parau, ia ikut meneteskan air matanya. Bian pun mengalihkan pandangannya, menatap wajah istrinya dalam. Wajah wanita yang sangat ia cintai, dan wajah ibu dari anak-anaknya.


"Sayang... terima kasih, terima kasih karena kau telah mau memberikan anugerah terindah ini untuk kedua kalinya." Bian mencium kening istrinya dalam, dokter mengalihkan pandangannya. Astaga... ternyata dia belum menikah, lihatlah, wajahnya kini sudah semerah tomat karena menjadi obat nyamuk untuk keduanya.


Apakah mereka tidak tahu tempat. Batin dokter itu menangis dalam hati.


Bian masih mencium kening istrinya, rupanya ia ingin mengekspresikan momen bahagia ini dengan sempurna. Tidak peduli kalau di ruangan itu bukan hanya mereka berdua, buktikan kini ia ingin mencium bibir istrinya. Menyalurkan semua rasa bahagia di sana.


"Hm...." Dehem dokter semakin merasa tidak enak, Arini tersadar, ia pun cepat menjauhkan bibir suaminya. Membuat Bian menatap memelas karena tidak dapat menyalurkan kebahagiaannya.


"Bisakah saya melanjutkannya?"


"Ah, tentu saja dokter." Arini berkata tidak enak, tersenyum canggung.


"Baik." Angguk dokter kembali fokus dan mulai menjelaskan keadaan janin Arini, mulai dari kondisinya, ukuran, berat, serta apa yang harus Arini konsumsi untuk nutrisi janinnya.


"Nah, untuk folic acid atau asam folat yang alami bisa didapatkan dari alpukat, pepaya, jeruk, asparagus, kacang polong, kacang tanah, dan sayuran hijau." Dokter menjelaskan makanan yang harus Arini konsumsi, mulai dari makanan yang mengandung asam folat, zat besi, protein, serta kalsium.


Bian mengangguk, mencerna dengan baik semua penjelasan dokter untuk kesehatan kehamilan sang istri. Dan ketika mereka selesai  memeriksa, hendak keluar, Bian teringat kembali gejala-gejala yang dimaksud dokter. Ia pun dengan segera bertanya.


"Dokter, apa yang aku alami juga termaksud gejalanya juga?" Nyeletuk Bian, Arini yang sudah berdiri, kembali duduk.


"Mengenai hal tersebut benar sekali, Pak." Wajah Bian terlihat bingung mendengar jawaban dokter, sungguh tidak masuk akal menurutnya, mulutnya ternganga bersiap untuk kembali bertanya.


Mata Arini berkelip, seolah mengeluarkan cahaya di sana. Entahlah perasaan apa yang dialaminya sekarang, setelah menyadari kalau ia tidak akan mengalami morning sickness yang menyiksa itu untuk kehamilan keduanya. Wajahnya tiba-tiba berseri, lalu kembali ke semula. Antara merayakan kebebasannya dari morning sickness atau penderitaan yang akan di alami suaminya untuk beberapa bula ke depan. Ah, kenapa tidak sejak kehamilan pertama saja begini. Batinnya serakah.


Sebelum Bian bertanya lagi, dokter kembali menjelaskan. "Gejala ini di sebut sindrom couvade. Di mana kondisi ini dianggap sebagai bentuk kehamilan simpatik yang dialami oleh seorang calon ayah, penyebabnya karena perubahan hormon yang dapat dikaitkan dengan rasa kekhawatiran calon ayah. Tidak hanya itu, terkadang rasa cemburu terhadap janin dalam kandungan yang dinilai menjadi pusat perhatian istri juga bisa menjadi penyebab seorang calon ayah alami sindrom couvade." Bian meneguk susah salivanya, dengan Azzam saja ia masih merebut perhatian istrinya, dan sekarang ia harus berebut lagi dengan anaknya yang bahkan masih janin.


Oh astaga... Bian merasa anak keduanya sedang mengibarkan bendera peperangan sebelum ia lahir, dan mungkin saja juga balas dendam untuk kehamilan pertama ibunya karena tanpa dia.


"Ja-jadi kapan ini selesai, Dok?"


"Untuk kapan selesainya hanya waktu yang bisa menjawab, tapi yang jelas sindrom couvade muncul di trimester pertama dan ketiga kehamilan." Jawab dokter membuat wajah Bian pias, berbanding terbalik dengan wajah Arini yang senyam-senyum. Namun, melihat wajah suaminya ia ikut mengasihani.


"Dan saran saya sindrom couvade ini dinikmati saja karena tidak ada obatnya." Lanjut dokter, membuat wajah Bian semakin pias. Tapi di dalam lubuk hatinya, ia menerima dengan lapang dada apa yang ia alami. Lagi pula ia ingin merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan istrinya pada kehamilan pertama tanpa dirinya.


*****


Bersambung...