My Son Is My Strength

My Son Is My Strength
Pertolongan dari Super Boy



Kejadian yang tidak mengenakkan di taman bermain, membuat keluarga kecil itu pulang kembali ke rumah mereka.


Arini tidak lagi duduk di samping kemudi, ia merajuk, masih tidak terima dengan perilaku Bian. Malu bukan main, sampai-sampai wajahnya entah mau ditaruh kemana. Niat menolong, malah membuat pria itu kebablasan, di tempat umum lagi. Huft... Arini menghela napas, bibirnya mengerucut marah.


Bian mencuri pandang, melihat wajah istrinya yang tengah merajuk di kaca spion mobil. Ia menggigit bibir bawahnya, sepertinya tindakan yang dilakukannya kali ini sangat fatal. Wajah Bian berubah, khawatir, takut, bermunculan silih berganti. Dan yang paling ia khawatir dan takutkan adalah tidak mendapatkan jatah malamnya nanti. Uhhh... sungguh akan menyiksanya jika hal itu terjadi.


Azzam yang duduk di samping Bian, tempatnya di samping kemudi. Hanya menatap bingung kedua orang tuanya? Sebenarnya apa yang terjadi? Batin Azzam tak terucap. Tapi sudahlah, ia tidak terlalu mau ambil pusing dengan masalah kedua orang tuannya. Yang ia pikirkan sekarang bagaimana caranya ia dapat mengganti weekend mereka kembali menyenangkan setelah kejadian itu.


Jadi, mungkin saja dengan melakukan itu juga akan membuat hubungan kedua orang tuanya ini akan kembali menjadi baik seperti tadi pagi. Azzam memegang dagu, membusungkan pipinya ke kiri dan ke kanan, berpikir.


Setelah melewati perjalanan yang melelahkan, keluarga kecil itu pun sampai di rumah mereka. Bian menghentikan mobilnya depan teras rumah, Arini langsung turun tanpa mengatakan satu kata pun.


Bian dan Azzam saling pandang. Bian dengan wajah khawatir dan takutnya, dan Azzam dengan wajahnya yang semakin bingung.


Bian meraih Azzam, lalu di gendongnya. Ia membawa anaknya menuju kamarnya supaya beristirahat.


"Papa nyusul mama dulu, kamu istirahat ya... kalau butuh apa-apa panggil saja kak Lia sama kak Lula." Bian mengusap kepala anaknya, lalu mencium pucuk kepalanya.


"Umm...." Azzam mengangguk patuh.


Melihat anggukan dari anaknya, Bian langsung berjalan cepat, bahwa setengah berlari menuju kamarnya sendiri, agar ia cepat menyusul istrinya yang tengah merajuk.


Perasaan Bian waswas tak kala sudah sampai di depan pintu kamarnya, ia mendekati pintu, dan membuka pintu kamar mereka perlahan-lahan. Kepalanya melongo ke dalam, mencari keberadaan sang istri. Namun, Bian tidak melihat. Ia kembali mengedarkan pandangannya se-isi ruangan, tetap tidak melihat keberadaan sang istri.


"Apa dia di dalam kamar mandi?" Gumam Bian masuk ke dalam kamar. Ia berjalan menuju kamar mandi, dan langsung mengetuk pintu kamar mandi itu.


"Sayang... kamu di dalam?" Panggil Bian, masih mengetuk-ngetuk pintu. "Aku minta maaf atas kejadian tadi, aku kebablasan." Lanjut Bian lagi, namun tidak mendapatkan tanggapan dari Arini.


"Sayang... keluar dongg... aku benar-benar minta maaf. Kau boleh menghukum ku dengan cara apa saja, asalkan jangan mendiami ku seperti ini." Bian kembali berucap, dan tetap saja tidak mendapatkan jawaban dari Arini.


"Sayang...." Bian menempelkan telinganya di depan kamar mandi, tidak terdengar suara air yang menyala. Ia pun memegang gagang pintu kamar mandi dan membukanya.


"Tidak ada? Kemana dia?" Bian tidak mendapati istrinya di dalam kamar mandi. "Mungkin di ruang ganti." Lanjut Bian menuju ruangan itu.


Namun tetap saja, keberadaan Arini tidak di temukannya. Bian pun memanggil-manggil nama istrinya, rasa khawatirnya semakin membuncah.


Ia turun ke lantai satu, mencarinya di ruang tamu, ruang olahraga, ruang kerja, ruang makan. Istrinya masih tidak ditemukan.


Bian pun berjalan menuju dapur, ia berpapasan dengan Bi Minah yang sedang membawa sayuran.


"Bi... lihat istri saya." Bian langsung memanggil Bi Minah dan menanyakan keberadaan sang istri.


"Nyonya... tadi saya lihat naik ke lantai dua Tuan, sepertinya menuju ke kamar." Jawab Bi Minah, sedikit mengernyit, pasalnya melihat wajah Bian yang begitu khawatir. Namun, ia tidak berani menanyakannya urusan majikannya, apalagi ikut campur.


"Naik lantai dua?" Ulang Bian.


"Iya, Tuan." Bi Minah menjawab seraya mengangguk.


"Iya Bi, makasih." Bian langsung berlalu di hadapan Bi Minah, sepertinya ia mengetahui keberadaan sang istri.


"Ahh... kenapa aku tidak mengecek kamar tamu tadi? Pasti dia berada di sana." Bian berlari kecil, menaiki kembali tangga lantai dua dan langsung menuju kamar tamu.


Bian pun memutuskan untuk tidak mengetuk pintu kali ini, ia langsung saja memegang gagang pintu, menggerakkannya perlahan, dan ternyata pintunya terkunci dari dalam. Wajah Bian yang awalnya sedikit semringah kembali murung mendapati pintu itu tertutup. Ia kembali memikirkan cara lain agar bisa membuka pintu kamar tamu itu.


"Kunci serep!" Bian langsung berlari menuju kamarnya, mencari kunci serep itu. Sampainya di sana, ia membuka laci, tempat kunci serep itu di simpan.


"Hah... dimana kuncinya?" Bian melongo, menatap ke dalam laci, tidak menemukan kunci serep itu. "Ah... pasti dia sudah mengambilnya." Lirih Bian dengan lemas, ia pun berjalan kembali menuju kamar tamu dengan sempoyongan.


"Sayang... buka pintunya, aku minta maaf soal yang di taman bermain." Bian mengetuk pintu kamar tamu. "Aku benar-benar minta maaf sayang, aku tidak sadar, aku kebablasan." Lanjut Bian berkata sungguh-sungguh dengan nada merengeknya.


Arini yang berada di dalam tidak mengatakan sesuatu, ia hanya mendengar nada mereka suaminya. Siapa suruh bertingkah seperti itu. Batin Arini menutup wajahnya dengan selimut.


Lama Bian mengetuk, meminta maaf, namun tetap saja tidak ada hasilnya. Sang istri tetap saja tidak mau membukakan pintunya.


Bian berbalik badan, berjalan sempoyongan menuju kamar anaknya, seperti tidak ada cara lain selain meminta bantuan pada sang super boy.


Tanpa mengetuk pintu, Bian langsung masuk di kamar anaknya. Merebahkan tubuhnya secara terlentang di kasur empuk Azzam, ia menetap plafon sembari memikirkan dirinya yang tidak akan mendapatkan jatah malam.


"Ah...." Bian mengusap rambutnya frustrasi, Azzam mengernyit melihat tingkah papanya, ia pun berjalan menuju Bian.


"Papa kenapa?" Tanya Azzam ikut merebahkan dirinya di atas kasur, sama seperti Bian.


"Boy...." Bian langsung memeluk anaknya, dengan merengek bak anak kecil. Bahkan Azzam sampai-sampai menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan yang barusan ia dengar.


"Bantu papa, buat mama tidak marah lagi sama papa." Menggerak-gerakkan tubuh mungil Azzam.


"Ayo boy, bantu papa, pikirkan caranya bagaimana...." Bian masih menggerak-gerakkan tubuh anaknya, dengan nada semakin merengek terus keluar dari mulutnya.


"Giiiimaaanaaa mau tooolongnya paah... papa aja peluk Azzam sampaiii begini." Ucap Azzam tidak jelas akibat pelukan dari Bian.


"Eh...." Bian baru menyadari perlakuannya. "Maaf... papa nggak sengaja." Bian cengengesan, melepaskan pelukannya dari sang anak, wajahnya masih tersirat sedih.


"Ummm...." Azzam mengangguk, memaklumi.


"Hmmmm... sebenarnya Azzam sudah memikirkannya pah, bahkan sejak di mobil tadi." Ucap Azzam membuat Bian bangkit dari baringan nya.


"Benarkah?" Tanya Bian meyakinkan.


"Umm... bahkan Azzam sudah punya rencana." Azzam ikut bangun dan duduk saling berhadapan dengan sang papa.


"Apa?" Tanya Bian penasaran.


"Sini." Azzam menyuruh Bian untuk mendekat, Bian mengikuti saja karena ia tidak memiliki rencana apapun untuk membuat istrinya memaafkannya. Ketika papanya sudah mendekat, Azzam membisikkan sesuatu di telinga Bian, membuat pria berumur hampir kepala tiga itu tersenyum semringah.


"Ide yang bagus." Ucap Bian, dan ber-tos ria dengan sang anak.


*****


Bersambung...