
Melihat Arini yang berlari menuju toilet dengan terburu-buru, membuat Dian juga ikut berlari mengejar sang sahabat, ia khawatir terjadi sesuatu pada Arini.
Teman kelas Arini dan Dian yang melihat adegan tersebut, hanya mengedikan bahu tak peduli. Lalu lanjut mengambil foto dengan gayanya masing-masing.
Kekhawatiran Dian ternyata benar, Arini sedang muntah sambil memegangi perutnya. Wajah pucat pasi seperti tidak memiliki darah lagi di sana.
Dian mendekat, lalu memijat pelan punggung Arini. Berharap, pijatannya dapat memberikan rasa nyaman bagi Arini.
Ketika sudah merasa enakkan dan tidak ada lagi yang bisa Arini muntahkan, ia pun berbalik badan. Menghadap Dian, lalu mengucapkan terima kasih karena telah membantunya.
Dian menjawab ucapan terima kasih dari Arini, lalu membantunya untuk keluar dari toilet dan duduk di kursi dekat toilet tersebut.
Sebenarnya, mulut Dian sudah gatal ingin menanyakan apa yang di alami oleh sahabatnya saat ini. Tapi ia urungkan melihat Arini yang lemah tak berdaya, jadi ia memutuskan untuk mencari air minum terlebih dahulu untuk Arini minum. Baru menanyakan tentang hal tersebut.
"Rin. Kamu masih kuat kan, kalau aku tinggal sendiri di sini? Aku akan membelikan mu air minum, hanya sebentar kok." Ijin Dian pada Arini.
Arini hanya mengangguk lemas. Tak kuat rasanya, jika ia harus mengeluarkan suaranya.
Melihat Arini yang mengangguk, Dian pun pergi membelikan air minum untuk sang sahabat. Ia takut jika Arini dehidrasi karena telah banyak mengeluarkan cairan pada muntahannya tadi.
*****
Dian menyodorkan air minum pada sahabatnya itu, dan menyuruhnya untuk minum. Arini menerima air minum dari Dian dan mulai meneguknya. Ketika Arini sudah selesai meminum minumannya, ia di buat tercengang oleh pertanyaan dari Dian.
"Kamu sakit, Rin? Sakit apa? Sudah sejak kapan? Terus sudah ke dokter? Kalau sudah, apa yang di katakan dokter? Kamu nggak menderita penyakit yang aneh-aneh kan?" pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari mulut Dian, tanpa jeda walau sedetik pun. Ia sudah tidak tahan lagi untuk menyimpannya, karena sudah sejak tadi mulutnya gatal akan semua pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Rasa khawatir sekaligus ketakutanlah yang membuat ia melontarkan semua pertanyaan tersebut, ia begitu takut dan khawatir jika terjadi sesuatu pada Arini.
Arini masih tercengang, akan semua pertanyaan dari Dian. Ia bingung yang mana yang harus ia jawab terlebih dahulu.
"Jawab dong, Rin. Kok malah diem." Dian mendesak, agar Arini mau menjawab semua pertanyaan.
"Ah... i... iya, yang mana dulu mau ku jawab?" tanya Arini gelagapan.
"Itu tadi, yang aku tanyakan." Jawab Dian tidak sabaran.
"Yang mana?" tanya Arini lagi, ia lupa akan pertanyaan dari Dian karena saking banyaknya.
Dian melongo mendapat pertanyaan dari Arini, secepat itukah sahabatnya ini lupa akan pertanyaan yang baru saja ia katakan. Tapi memang itu salahnya, karena bertanya terlalu banyak. Sehingga Arini lupa akan semua pertanyaannya.
"Oke. Aku tanya satu-satu, biar kamu nggak lupa." Jawab Dian kemudian. "Kamu sakit?" lanjutnya lagi. Arini mengangguk, setengah sadar mendengar pertanyaan dari Dian.
"Hah... sakit? Sakit apa?" tanya Dian lagi dengan nada khawatir menatap sang sahabat.
Dian menautkan alis, bingung, akan jawaban dari gerakan tubuh Arini. Lalu ia pun memutuskan untuk mengulang pertanyaannya lagi. "Kamu sakit?"
Arini menggelengkan kepalanya pelan. Dian yang melihat Arini menggeleng, lantas tambah bingung.
"Terus kalau bukan sakit, tadi kamu kenapa?" tanya Dian agar menghilangkan rasa kebingungannya.
Arini diam, menunduk dalam. "Apakah aku harus menceritakan semua ini pada Dian?" tanya Arini dalam hari.
"Rin." Panggil Dian pelan, melihat sahabatnya hanya diam belum menjawab pertanyaan.
Arini mendongak, memandang Dian dengan pipi yang sudah di basahi oleh air mata.
Tanpa sepatah dua kata, Dian langsung memeluk tubuh sahabatnya ini. Walau pun ia masih bingung dengan Arini yang belum menjawab pertanyaannya dan pertanyaan baru yang muncul berputar-putar di kepalanya. Tapi, ia sungguh tak tega jika melihat Arini menangis.
"Udah, kamu jangan nangis lagi Rin. Aku nggak tega lihat kamu nangis. Kalau kamu masih nangis, nanti aku ikutan nangis." Hibur Dian pada sang sahabat, sambil mengelus pelan punggung Arini. Semoga dengan begini, Arini bisa tenang. "Kalau kamu nggak mau cerita, aku nggak maksa kok. Asalkan kamu jangan nangis lagi." Lanjut Dian, masih mengelus pelan punggung Arini.
Arini melonggarkan pelukan dari Dian, lantas melepaskan pelukan tersebut. Dan berkata, "Aku... aku mau kok cerita, asalkan kamu berjanji---" kata-kata Arini tertahan, ia masih mencoba menguatkan dan memantapkan hatinya agar bisa bercerita kepada Dian. Sebenarnya, Ia sungguh tak ingin lagi menceritakan ulang tentang kejadian nahas yang telah menimpanya. Mengingatkannya saja sudah membuat Arini menangis sesenggukan seperti ini, apalagi harus menceritakannya.
"Berjanji! Jika kamu sudah mendengarkan cerita ini, kamu tidak akan pernah memutuskan tali persahabatan kita." Arini melanjutkan kata-katanya.
Dian yang mendengarkan perkataan dari Arini, kembali memeluknya. "Pasti masalah yang Arin hadapi sekarang ini sangat lah berat, makanya Arin menyuruhku untuk berjanji terlebih dahulu sebelum mendengarkan ceritanya." Gumam Dian dalam hati, dengan raut wajah yang sedih.
"Aku janji." Jawab Dian. "Tapi sebenarnya, walaupun kamu tidak menyuruhku untuk berjanji atau setelah kamu menceritakan semua masalahmu. Tidak akan pernah membuatku untuk memutuskan tali persahabatan kita. Sampai kapan pun, kamu akan tetap menjadi sahabatku. Dan semoga, kamu juga akan tetap menjadi sahabatku selamanya." Dian berkata dengan bersungguh-sungguh.
Arini mengangguk, lalu melepaskan pelukan dari Dian. Sepertinya, ia sudah bisa menceritakan masalahnya kepada sahabatnya ini.
"Se... sebenarnya... sebenarnya, aku ha... mil." Lirih Arini mulai menceritakan masalahnya dengan suara bergetar dan air mata yang terus menerobos mengalir di pipinya.
Dian membekap mulutnya, tak percaya dengan pengakuan Arini. Sungguh, ini di luar dari semua pemikirannya. Bagaimana mungkin sahabatnya ini bisa hamil? Sedangkan Arini tidak pernah dekat, walau hanya dengan satu laki-laki pun.
"Ba... bagaimana bisa? Dan si... siapa pelakunya?" tanya Dian dengan suara bergetar, setelah melepaskan bekapan dari mulutnya. "Bagaimana pun, aku harus tahu lelaki mana yang sudah melakukan perbuatan keji itu terhadap Arin. Dan lelaki itu harus bertanggung jawab atas perbuatannya." Batin Dian dalam hati, ia tak rela jika Arini harus hamil tanpa suami.
Arini pun mulai menceritakan semuanya dari awal hingga akhir, dengan air mata tak henti-hentinya mengalir.
Dian yang mendengarkan cerita Arini, lagi-lagi memeluk sahabatnya itu. Ia tak menyangka Arini mengalami cobaan yang begitu berat. Sungguh malang nasib sahabatnya ini.
"Maaf... maafkan aku, Rin." Kata Dian sesenggukan, tampaknya ia mulai menangis.
*****
Bersambung...