
Ketika aku terbangun untuk kedua kalinya hari ini, itu karena cahaya matahari sore yang menyusup masuk dari sela-sela tirai, menerpa langsung ke wajahku. Aku mengerang lalu menendang selimut dan menjulurkan kaki ke tepi ranjang. Beberapa bunyi tak manusiawi terdengar menggema di sekitar ruangan saat aku mencoba meregangkan anggota tubuhku. Aku tidak ingat kapan terakhir kali tubuhku mengalami semacam olahraga berat seperti malam tadi.
Tak mau berlama-lama dan membiarkan tubuhku bermalas-malasan, aku beringsut turun ranjang dan berjalan keluar dari kamar, menemukan Paul duduk di ruang tengah bersama Sean. "Good morning," sapaku pada mereka berdua. Meski sebenarnya sudah lewat tengah hari, tapi aku baru keluar dari kamar, jadi kurasa tidak ada salahnya mengucapkan selamat pagi.
Keduanya menoleh, berhenti membicarakan apapun yang mereka bahas sebelumnya.
"Matahari sudah hampir terbenam," Panda menjawab dari arah dapur, berdecak sambil menggelengkan kepala. "Sekeras apa pertempuran semalam hingga kau baru sanggup menggerakkan kakimu sesore ini?" katanya dengan lantang, menatap Paul dan aku bergantian dengan pandangan usil.
Aku memutar bola mata. "Dimana yang lain?" Percuma menjawab pertanyaan yang hanya akan mendatangkan segudang pertanyaan lain.
Panda berjalan sambil membawa seteko penuh teh dan meletakkannya di meja. "Sudah pulang sejak tadi pagi." katanya.
Aku berjalan ke dapur, menuang segelas air putih lalu menghabiskannya dalam satu tegukan. Air putih tidak pernah mengecewakanmu. Saat kembali ke ruang keluarga, kulirik jam dinding yang kini menunjukkan angka empat tiga lewat delapan belas. Aku mengerang. Sudah waktunya kembali ke kota dan mengakhiri ketenangan disini.
Aku mendengar derap langkah Paul dibelakangku ketika aku kembali ke kamar untuk bersiap-siap pulang. "Aku tidak percaya kau meninggalkanku begitu saja disana." gumamnya begitu menutup pintu.
Aku tersenyum, berbicara sambil mengeluarkan pakaian dari dalam lemari. "Kupikir kau sedang asik mengobrol dengan mereka, dan aku tidak mau mengganggu."
"Eh, tapi aku lebih senang menghabiskan waktu berdua denganmu."
"Oh, maaf, Paul... Aku harus kembali. Pekerjaanku sudah menanti." Aku berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan wajah lalu mengganti pakaian, sementara Paul samar-samar menggerutu dari dalam kamar. Menyenangkan sekali rasanya mendengar gerutuannya.
"Apa kau masih mau disini?" tanyaku sembari memasukkan pakaian ke dalam ransel.
Paul menggeleng. "Untuk apa?"
Aku mengangkat bahu. "Mungkin kau ingin membersihkan paru-parumu sebelum kembali berperang dengan polusi." Itu fakta. Udara Jakarta adalah yang terburuk dari semua kota yang pernah kudatangi.
Dia mendengus. "Polusi bukan persoalan besar selama kau bersamaku." sahutnya dengan cuek.
Aku berbalik, menaikkan kedua alis dengan dramatis. "Siapa bilang aku akan bersamamu?" balasku, pura-pura sinis untuk menggodanya, dalam hati tersenyum melihat keterkejutan di wajah Paul yang tak dapat disembunyikannya.
"Kau serius?" Ekspresinya tercengang. "Kupikir setelah kejadian semalam kita sudah baik-baik saja? Tidak?"
"Well, secara teknis memang iya. Tapi..." Aku melipat kedua tangan, memberinya tatapan serius. "Aku tidak pernah mengatakan aku ingin bersamamu. Setidaknya belum."
"Love..."
"Apa?"
"Aku harus melakukan apa agar kau mau kembali padaku?"
Dia membuatku merasakan sesuatu dalam kata-katanya. Dia membuatku merasa diinginkan. Ada perbedaan antara dibutuhkan dan diinginkan. Ketika seseorang membutuhkanmu, maka dia akan memanfaatkanmu untuk kebaikan dirinya, tapi ketika seseorang menginginkanmu, dia bersedia menghabiskan waktunya bersamamu dan tidak akan melukaimu.
Aku hampir tak sanggup menahan air mata mendengar keputusasaan di nadanya. Sambil membuka tangan lebar-lebar, aku menghampiri dan menarik Paul ke dalam dekapanku. "Kau tidak harus melakukan apapun, Klug. Aku akan selalu bersamamu. Sampai kapanpun." gumamku, membisikkan kalimat terakhir.
Paul menghembuskan napas lega, ketegangan yang sebelumnya terasa dibahunya perlahan menguap selagi dia menengadah. Senyum menghiasi sudut bibirnya. "Kenapa sekarang kau senang sekali menggodaku, hm?"
Aku mengangkat bahu. "Entahlah," desisku. "Mungkin karena aku terlalu merindukanmu, atau memang karena aku sudah mulai berubah. Yah, kau tahulah, kehidupan orang-orang disini jauh lebih santai daripada di Jerman. Dan, aku sendiri merasa kebiasaan mereka sudah menular padaku."
"Apa itu berarti Bianka yang tak suka bergaul sudah hilang?"
"Hei, siapa bilang aku tak suka bergaul? Aku berteman dengan siapa saja, tidak pernah pilih-pilih."
Paul menyeringai, mengangkat sebelah alis. "Benarkah?"
Tak mau membuang waktu, Paul langsung bergegas mengumpulkan semua barang bawaannya, lalu kami kembali ke Jakarta menggunakan mobilku setelah berpamitan dengan Panda dan menitipkan mobil Paul di vila.
Setelah berkendara selama hampir tiga jam bertarung dengan sesaknya jalanan menuju Jakarta, akhirnya kami tiba di hotel tempat Paul menginap tepat 30 menit sebelum jam kerjaku di mulai.
"Sudah kubilang tidak perlu mengantarku kesini, kau bisa terlambat, love." kata Paul.
Aku meliriknya sambil tersenyum. "Aku tidak mau seseorang menipu, atau bahkan menculikmu." balasku, mengedipkan mata.
Paul menggeleng sambil terkekeh. "Sampai jumpa besok? Dua hari lagi aku akan keluar kota untuk melihat tim yang akan kulatih." Dia mengulurkan tangan ke belakang untuk mengambil tasnya.
Aku mengangguk. "Sampai jumpa besok."
Sebelum membuka pintu, Paul menarikku dan memberiku satu ciuman penuh yang membuat perutku menggelenyar. Aku membalasnya dengan tak kalah hebat sampai kami tersengal-sengal. "Kadang-kadang aku berharap kau bukan orang yang giat bekerja supaya aku bisa menarikmu ke kamarku."
Tawaku seketika meledak. "Dalam mimpimu, Klug."
Paul menciumku sekali lagi, kemudian berucap, "Hati-hati, Mrs. Klug. Aku mencintaimu."
"Aku mencintaimu." balasku, lalu dia keluar dan menutup pintu mobil.
Aku kembali ke jalanan dan langsung menuju rumah sakit, berharap semoga hari ini tidak ada keadaan darurat karena tubuhku sudah mulai meronta akibat perjalanan panjang dan melelahkan. Bukan berarti aku tak menyukai situasi berduaan dengan Paul, tapi lelah tetaplah lelah, tidak peduli semenyenangkan apa perjalanan yang kau lakukan.
Aku memarkirkan mobil di area khusus staf rumah sakit, meneruskan perjalanan ke dalam sampai kudengar seseorang memanggil namaku saat memasuki lobi. "Miss Bianka,"
Aku menoleh dan mendapati Kevin melambaikan tangan sambil tersenyum di samping ibunya. "Hei, Kevin." Aku melangkah mendekati mereka. "Bagaimana keadaanmu hari ini?" tanyaku sembari menunduk menyentuh bahunya.
Kevin tersenyum amat lebar, menunjukkan barisan giginya yang putih dan rapi. "Aku baik-baik saja. Dokter mengatakan bahwa aku akan segera sembuh, jadi kami tak perlu kesini lagi. Benar kan, mom?" celotehnya dengan riang, lalu menengadah menatap ibunya yang tersenyum sama lebarnya dan mengangguk.
"Oh, aku senang sekali mendengarnya."
Mendadak wajahnya berubah sendu. "Tapi..." Kevin kembali menoleh ibunya sekilas seolah meminta ijin, dan ibunya kembali menganggukkan kepala. "Uncle Sebastian akan pindah keluar kota. Dia mengatakan pekerjaannya di sini sudah selesai jika aku sembuh. Aku tidak mau dia meninggalkan kami. Maukah kau membantuku membujuknya?"
"Benarkah?" Kevin menggumam 'Ya.'
Aku terdiam. Sebastian tidak pernah membahas apapun soal pindah ke luar kota denganku. Apakah ini karena aku menolaknya? Ya ampun, aku ingin sekali menyanggupi permintaan Kevin, tapi aku sama sekali tak punya hak untuk melarang pamannya. Sebastian bebas menentukan kehidupannya sendiri. Terlebih setelah apa yang terjadi di antara kami.
Beruntung, ibu Kevin lebih dulu bersuara mewakiliku. Dia pasti melihat perubahan ekspresiku. "Sayang, Uncle Sebastian sudah memutuskan untuk pindah. Siapapun tidak bisa membujuknya. Kau sendiri tahu kepalanya sekeras batu, bukan?"
Kevin menunduk. "Lalu siapa yang akan menjagaku saat Mommy bekerja?"
Hatiku terenyuh mendengar kata-kata yang keluar dari bibir mungilnya. Aku menyaksikan sendiri bagaimana dekatnya Kevin dengan Sebastian, dan kurasa ada satu hal yang bisa kulakukan untuk menghiburnya.
Aku mengusap bahu Kevin. "Hei, bagaimana jika kau bersamaku saat aku libur? Aku memiliki banyak keponakan, kau tidak akan kesepian saat ibumu bekerja, hm?"
Semangat memancar dari matanya, dia kembali tersenyum. "Benarkah?" Aku mengangguk. "Terima kasih, Miss." gumam Kevin sambil memeluk pahaku.
"Aku tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih padamu, Bianka." Ibu Kevin ikut memelukku.
"Ah, tidak perlu. Aku senang bisa membantu kalian. Aku akan mengabarimu saat aku libur, oke?" kataku pada ibunya saat pelukan kami terlepas.
"Oke."