
"Orang-orang membenciku, Paul. Mereka tak segan mengirimku pesan berisi hinaan dan caci maki..." Aku membuang napas berat, menutup mata dan menjepit hidungku dengan dua jari.
Kami sedang duduk di sofa rumahnya ditemani sebotol wine yang sudah terbuka di atas meja kaca. Aku menyandarkan siku pada lututku sambil memegang segelas wine dengan sebelah tangan.
"Aku tahu, love... namun tidak semuanya membenciumu. Masih ada banyak orang yang memujimu dan mendukung hubungan kita." balasnya, menenangkanku sambil mengusap punggungku.
"Tidak, bukan itu maksudku... saat kau mengumumkan hubungan kita, orang-orang mulai mengatakan kalau kehadiranku akan menghancurkan karirmu. Dan juga, kalau menilai tampangku, sudah jelas kau hanya ingin tidur denganku," kataku memulai. "Bahkan ketika fotomu dan Stefanie Giesinger mulai beredar, mereka percaya bahwa hubungan kita sudah berakhir dan kau sudah berpindah ke orang lain, namun tetap saja mereka membenciku. Aku tidak tahu kenapa, dan aku tidak mengganggu kehidupan mereka."
"Kau tidak bisa membuat semua orang senang, Bianka. Mereka akan selalu memiliki hal-hal negatif untuk dikatakan karena perasaan cemburu mereka yang berlebihan." gumamnya, berusaha hati-hati agar tidak membuatku lebih marah. "Apa kau tahu Stefanie juga merasakan hal yang sama? Hanya karena satu foto kami tersebar di mana-mana?"
"Aku tidak tahu," sahutku pelan, menyadari bahwa yang kupikirkan selama ini hanya hal buruk yang terjadi padaku, bukan hal baiknya, sementara hal yang sama juga terjadi pada orang lain.
"Kumohon, jangan baca komentar mereka. Aku tidak ingin mereka mengacaukan apa yang kita miliki."
"Kau sangat serius padaku." Seketika aku tersenyum, membuka mata dan memutar kepala menghadapnya.
"Ya, tentu saja." Dia mengakui sambil mengedikkan bahu.
Paul meletakkan tangannya pada sandaran sofa dan mengeser tubuhnya ke arahku. Dia sudah mandi begitu kami tiba tadi, terlihat lebih segar dengan mengenakan celana olahraga panjang dan hoodie.
"Kenapa kau sangat... agresif?" Kuputuskan menanyakan ini padanya. Aku menghabiskan wine dan duduk berhadapan dengannya sambil melipat kaki. Mulai agak mabuk karena aku belum makan apapun sejak siang tadi.
Paul menaikkan kedua alisnya. "Agresif?"
"Ya, selama pertandingan." kataku. "Kau terlihat seperti sedang marah."
"Memang," sambarnya cepat. Tatapan matanya membuatku merasa panas. Well, kalian paham maksudku. "Tepat sebelum kami turun ke lapangan, aku mendengar soal skandal kau dan Travis sedang bersama di Twitter. Tentu saja, aku tahu itu bukan skandal..."
"Aku dan Travis hanya menonton pertandingan kalian. Kau sendiri tahu tidak ada sesuatu yang istimewa di antara kami." kataku mengingatkannya.
"Ya, tapi aku benci memikirkan dia sedang dekat denganmu, sementara kau mendiamkanku."
"Benarkah? Secara mental atau fisik?" Aku mengangkat alis, seringai tipis mencul di sudut bibirku.
Aku hendak mengisi kembali gelasku, namun sentuhan tangan Paul di pahaku membuatku mengurungkan niat itu dan menatapnya.
"Kupikir sudah cukup wine untukmu malam ini, Rapunzel."
"Oh, please..." Aku terkekeh, memutar bola mata. "Segelas lagi. Aku akan menyenangkan saat mabuk."
"Kupikir kau lebih menyenangkan saat kau benar-benar sadar." balasnya ketika aku menuang wine ke gelasku. Aku menyesap wine sementara Paul berdeham. "Secara mental."
"Secara mental?"
Satu hembusan nafas berat kembali keluar dari sela-sela mulutku. Aku mengininkan hubunganku dengan Paul berjalan baik, tapi itu menyakitkan. Aku menginginkannya, namun itu lebih menyakitkan lagi karena semuanya tidak semudah yang kubayangkan.
"Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya," Dia tertawa, namun bukan tawa bahagia, lalu dia menundukkan kepala. "Aku menyukaimu. Aku tidak pernah merencanakannya, atau berharap memiliki perasaan sekuat ini padamu, dan sekarang aku terdengar men..."
Aku mendorong tubuhku ke arahnya, sebelah tanganku bertumpu di bahunya dan dengan cepat mencium bibirnya.
"Sial, sial," Secepat kilat dia menarik diri dariku. "Bianka..."
Aku mengikuti arah pandangannya yang menunduk menatap bagian depan hoodie-nya. Gumaman 'Oh' pelan terdengar dari mulutku ketika menyadari aku baru saja menumpahkan wine di sana. Well, itu kecelakaan. "Aku minta maaf, aku..."
Dia terkekeh sambil menyeringai genit. "Tidak masalah. Lain kali, katakan saja kalau kau ingin aku membuka bajuku. Tidak perlu seperti ini."
Aku tertawa sambil menepuk pelan dadanya. Aku menyesap wine-ku sekali lagi sebelum meletakkan gelas ke atas meja di hadapan kami. Paul melakukan hal yang sama, lalu menyandarkan punggungnya ke belakang.
Kemudian aku beringsut lebih dekat padanya dan dengan lembut menangkup rahangnya dengan kedua tanganku. Aku menciumnya, menyeringai senang di sela-sela ciuman kami saat kurasakan Paul tersenyum. Ada semacam sengatan aneh namun terasa familiar yang kurasakan setiap kali aku menciumnya, dan aku tahu hanya Paul yang bisa memberikan rasa itu padaku.
"Aku tahu ini akan terdengar seolah aku egois," gumamku di depan mulutnya, mengutip kalimatnya. "Tapi, aku tidak ingin memikirkan kau sedang bersama wanita lain selain diriku. Maaf kalau aku membuatmu bosan, aku hanya tidak terbiasa dengan semua terjadi yang terjadi belakangan."
"Tidak masalah, Bianka. Kau akan segera beradaptasi." Sekarang giliran Paul yang menciumku.
Ini aneh. Benar-benar aneh. Aku tidak mengerti kenapa rasanya sulit sekali menjauhinya, dia seakan memiliki magnet yang amat kuat menarikku. Aku tidak bisa menghindar seberapa keraspun usahaku untuk pergi darinya. Paul bukan pria pertama yang pernah dekat denganku, ada beberapa orang di masa lalu, namun tidak satupun dari mereka yang memberiku semacam tarikan sekuat dan sekeras ini, hingga rasanya aku rela menyerahkan diriku padanya.
"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" katanya setelah ciuman kami terlepas. Wajahnya tampak serius.
"Apa?"
"Kenapa kau jarang berbicara menggunakan bahasa Jerman? Jangan bilang kalau kau tidak bisa."
Terlalu sensitif, Paul.
Aku menghela napas, lebih berat dari sebelumnya. Pertanyaannya membuatku teringat pada ibuku yang sekarang entah dimana, hampir sepuluh tahun belakangan aku tidak pernah melihatnya lagi. "Aku lebih terbiasa dengan bahasa inggris. Ayah dan ibuku menikah disini, tapi karena sesuatu, yang kata ayahku menyangkut masa lalu ibuku, kami pindah ke Kanada ketika aku berumur satu tahun. Dan disanalah ibuku meninggalkan kami, namun ayahku pernah mengatakan kalau dia kembali ke Jerman. Kami berniat mencarinya dan mengikutinya kesini saat aku berumur sepuluh tahun. Namun sejauh ini kami belum berhasil."
"Sejak kecil, mereka mengajarkanku banyak bahasa, termasuk bahasa ibuku. Namun yang paling melekat hanya dua, bahasa inggris dan indonesia. Dan di rumah kami selalu berbicara dengan dua bahasa itu, sampai sekarang."
"Kau beruntung aku bisa bahasa inggris," gumam Paul menyombongkan diri.
Aku mengernyit sambil tersenyum. "Kau lupa aku bekerja dimana? Mereka tidak mungkin menerimaku kalau aku tidak bisa bahasa Jerman, Paul."
"Ah, kau benar," cetusnya, sebelum menciumku lagi.