My Love Journey's

My Love Journey's
Meet The Family



Saat ini kami sudah berdiri di depan pintu rumah orang tua Paul. Sementara Frosty berada dalam gendongan Paul, aku menekan bel pintu rumah bercat putih yang sangat indah dan letaknya tepat di tepi pantai. Tidak ada tetangga atau rumah lainnya yang bisa kulihat, jadi aku yakin rumah ini pasti sangat private dan tenang.


Aku mendengar bunyi derap langlah dari dalam selagi aku menaikkan ransel yang berisi seluruh barang-barangku di punggung. Tiba-tiba pintu terbuka lalu muncul wajah wanita paruh baya cantik. "Ahh!" Dia hampir berteriak dan mengangkat kedua tangannya, mengejutkanku dengan menarikku ke dalam dekapannya.


Aku tertawa pelan, membalas pelukannya. Ini merupakan salah satu jenis pelukan terbaik yang kudapatkan. Semacam pelukan yang membuatmu merasa hangat, nyaman, dan dihargai. "Senang bertemu denganmu..." Kami menarik diri sementara aku menyadari kalau aku belum tahu nama ibu Paul.


"Oh, aku Anne. Sudah lama sekali aku menunggu hari ini, Bianka." Kemudian dia memelukku lagi. "Ternyata kau benar-benar cantik, ya..."


Aku tertawa selagi pandanganku beradu dengan Paul yang kini sedang memperhatikanku dari dalam rumah. Dia hanya memandangiku selama beberapa saat sebelum memberiku sebuah senyum tipis dan berpaling dengan raut malu-malu.


"Kurasa kita akan cocok," gumamku pada ibu Paul ketika kami melepas pelukan untuk kedua kalinya. Aku melihat sudut bibirnya terangkat dan matanya berbinar-binar. Oh, aku baru tahu Paul mendapat mata gelap yang indah dari ibunya.


"Aku tahu, aku benar-benar senang kau mau datang kemari. Ayo masuk, Ellie juga sudah tidak sabar ingin berjumpa denganmu." Dengan ramah, dia menarik tanganku dan menuntunku ke dalam rumah.


Aku terpana pada bagian dalam rumah yang begitu indah, semuanya yang kau harapkan dari rumah di tepi pantai sungguh ada disini. Sungguh, aku ingin menghabiskan hari tuaku di tempat semacam ini.


"Thomas! Ellie!" Ibu Paul berteriak ke arah ruang keluarga, yang kemudian muncul seorang pria dengan rambut pirang cerah.


"Hei..." Kutebak ini Thomas, dia tersenyum ramah selagi mendekat lalu memelukku. "Senang berjumpa denganmu..."


"Senang berjumpa denganmu juga," kataku membalas senyumnya saat pelukan kami mengurai. "Aku suka kausmu."


Dia mengenakan kaus merchandise dari band favoritku, apa lagi kalau bukan Coldplay. Dan, aku agak merasa cemburu karena tidak memilikinya.


"Ah, kau suka Coldplay?" Thomas menunduk menatapku sambil memegang bagian depan kausnya.


Aku mengangguk bersemangat. "Yep. Mereka sudah menjadi bagian dari hidupku."


Thomas tersenyum dan melempar pandangan ke arah Paul yang sedang menggendong seorang gadis kecil beramput pirang persis seperti Thomas. Dia pasti Ellie. "Dia benar-benar sempurna, cepat nikahi dia atau aku akan merebutnya darimu." kata Thomas bergurau, membuatku tertawa sambil memperhatikan perubahan ekspresi Paul.


Tawaku memudar ketika mendapati tatapannya yang dalam dan penuh arti yang tak bisa kujelaskan, dan sekarang aku malu. Kenapa dia bertingkah begitu?


"Hei, kau pasti Ellie, kan?" Aku berdeham seraya mengalihkan pandangan dari Paul. Kemudian tersenyum pada lembut pada Ellie yang masih berada di gendongan Paul, kedua kakinya melilit pinggul Paul sementara kedua tangan memeluk lehernya.


Pipi Ellie merona saat aku maju mendekati mereka, lalu Paul beerutut untuk menurunkannya. Merasa malu, Ellie menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Paul.


"Ini Bianka, Ellie..." gumam Paul, tatapannya masih terpaku padaku, namun tidak sedalam sebelumnya. Dia tersenyum seraya mengangkat bahu, secara tidak langsung kutangkap sebagai permintaan agar aku tak memaksa Ellie. "Dia cantik, kan?" sambung Paul bertanya pada Ellie, menyeringai genit sambil mengedipkan mata ke arahku.


Aku terkekeh lalu menepuk lengannya, sebelum Ellie menolehku. Aku memberinya satu senyum hangat. "Hm, ya." lirihnya pelan di telinga Paul.


"Kau lebih cantik, Ellie." kataku mencoba merayunya. "Aku suka tatanan rambutmu. Bagus sekali..."


Aku memandang rambut pirangnya yang diikat menyerupai ekor kuda dan menjutai hingga ke bahunya.


"Daddy yang mengikatnya." sahutnya, lalu menarik diri dari Paul dan berputar menghadapku.


"Wow, dia benar-benar tahu bagaimana cara membuatmu terlihat lebih cantik." kataku lagi, dan hatiku merasa lega saat mendapati senyum Ellie terbit.


"Apa kau mau melihat mobilku?" tanyanya sambil mendorong pelan tangan Paul yang masih memengang lengannya.


"Kids, makan malam siap dalam lima menit!" Ibu Paul mengumumkan dari dapur.


"Tentu." jawabku, menunduk menatap Ellie, yang mengulurkan tangannya meraih tanganku. Tanpa mengatakan apapun, dia mulai menuntunku ke ruang keluarga.


Paul berdeham, "Tunggu..." Aku menoleh ke belakang. "Berikan tasmu, biar kubawa ke kamar."


Aku menyerahkan tasku padanya dan tersenyum. "Terima kasih." Aku terpaksa melangkah saat Ellie kembali menarikku.


Thomas ikut bergabung bersama Ellie dan aku di ruang keluarga, dimana beberapa mobil mainan tampak sedang bersiap melakukan balapan.


Saat menemaninya bermain, aku terperangah kemampuan Ellie mengenai mobil. Dia tahu bahkan hingga bagian yang bisa membuat mobil bergerak lebih cepat. Aku juga merasakan hangatnya sebuah keluarga begitu menginjakkan kaki di dalam rumah ini, satu hal yang tak pernah terjadi di rumahku sejak hari dimana ibuku meninggalkan kami.


Aku berusaha mengusir semua perasaan sedih yang mendadak muncul dan memperhatikan Ellie yang sekarang bermain dengan Frosty. Aku sangat senang karena dia juga menyukai kucing, mungkin Paul sudah tahu ini dan membiarkanku membawa Frosty.


***


"Mom, kumohon hentikan..." Paul mengerang, menutup wajah dengan kedua tangan.


Aku meletakkan tanganku di pahanya pahanya di bawah meja sementara lanjut mendengarkan dengan seksama kisah yang sedang diceritakan ibu Paul.


"Tidak seharian juga, mom. Hanya sekitar satu atau dua jam..." gerutu Paul, jelas tak senang dengan ulah ibunya. "Mom, kumohon jangan mempermalukanku di depan Bianka."


"He, kurasa tidak. Justru aku senang bisa tahu sedikit tentang masa kecilmu." Aku terkekeh, perlahan bersandar di lengannya. "Aku tidak menyangka kau segenit itu, di umur delapan tahun?" Tawaku meluncur lagi, diikuti ibu Paul dan Thomas.


"Ya Tuhan..." Paul meringis sambil menggeleng. "Kalian benar-benar senang, ya?"


Ellie sudah kembali ke ruang keluarga begitu menghabiskan makanannya. Jadi, hanya ada ibunya, Paul, Thomas, dan aku di meja makan. Kami mengobrol ringan sambil minum wine.


"Jangan pernah biarkan mom minum wine, atau semua kisah memalukan akan keluar begitu saja tanpa bisa kau cegah." Thomas tersenyum pada Paul sementara ibunya mengangkat bahu cuek.


"Kurasa itu lucu, itu kenapa aku senang menceritakannya." gumamnya beralasan.


"Kupikir juga begitu." sambarku menyetujui.


"Tuh, kan! Bianka saja setuju." Ibu Paul mengangkat gelasnya ke arahku.


"Itu karena dia tidak menceritakan kisah kalian," cetus Paul, menyandarkan punggung ke sandaran kursi. "Aku juga punya cerita memalukan tentangmu yang bisa kubagi, Bianka..."


Aku tertawa, membiarkan dia memegang tanganku di bawah meja. "Oh, no... Kau tidak akan menceritakan apapun, Paul."


"Tapi, mom sudah lebih dulu memulai." katanya santai, memandang ibunya dan aku bergantian.


"Itu sama sekali tidak memalukan. Kau hanya menjilat leher gadis kecil dan... mengira dia mungkin hamil karena itu!" Aku tak sanggup lagi menahan tawa begitu menyelesaikan kalimatku. Untuk kesekian kalinya, Ibu dan kakak Paul ikut tertawa menanggapi leluconku.


"Well, kita semua pasti pernah memikirkan hal seperti itu, kan?" kata Ibu Paul, melanjutkan tawanya.


"Bianka, bagaimana dengan kejadian saat kau..."


"Nope. Hentikan." sambarku cepat sambil menutup mulutnya dengan jemariku.


Ketika ibu Paul mulai bercerita tentang kisah masa kecil Paul yang lainnya, dia terlihat sedikit lebih tenang. Pandangannya menunduk, menatap tangannya yang berada di pahanya sambil mengusap-usap punggung tanganku.


Thomas dan Ellie pamit tidur satu jam kemudian sementara aku menawarkan diri untuk membantu ibu Paul membereskan dapur. Paul memelukku sejenak lalu mencium keningku dan mengatakan dia harus menelepon manajernya, lalu pergi ke ruangan lain, meninggalkanku berdua dengan ibunya.


"Apa kau pernah berpikir membiarkan seseorang menjilat lehermu?" tanya ibu Paul tiba-tiba, membuatku tertawa.


"Maaf?"


Dia terkikik geli seraya menggelengkan kepala selagi memasukkan piring kotor ke dalam mesin pencuci piring. "Maksudku, memiliki anak. Apa kau pernah memikirkannya?"


Aku tersenyum padanya. "Paul bilang kau mungkin akan menanyakan itu padaku..."


"Ah. Kurasa dia benar-benar memahamiku." Dia mengangkat bahu, masih seriang seperti pertama kali aku melihatnya. "Jadi, bagaimana? Apa ada sesuatu yang ingin kau capai?"


"Aku sering berpikir untuk mengadopsi anak." gumamku. "Ada banyak sekali anak di luar sana yang butuh rumah untuk bernaung. Aku ingin menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain. Setiap orang pantad mendapatkan kehidupan yang baik kurasa..."


"Ya Tuhan, kau baik sekali. Sekarang aku tahu Paul tidak berlebihan saat menceritakan tentangmu." Ibu Paul menatapku. "Dia tidak pernah berhenti mengoceh tentang hubungan kalian dalam lima bulan terakhir, sampai aku merasa anakku mungkin akan mati jika kau meninggalkannya."


Aku tersenyum malu-malu, pipiku pasti memerah saat ini. "Uhm, aku menyayanginya, Anne. Kau tahu, aku tidak pernah bersyukur saat seseorang mengalami gegar otak dan harus berakhir di rumah sakit, tapi kini kurasa itu keberuntungan..."


Dia tertawa. "Itu kejadian saat pertemuan pertama kalian, kan? Alam benar-benar punya cara yang aneh untuk menyatukan dua orang."


"Ya, aku setuju."


"Sepertinya hubungan kalian baik-baik saja sekarang. Paul sudah mengatakan padaku apa yang terjadi di antara kalian sebulan kemarin..." Aku bisa mendengar nada simpati pada suaranya. "Anakku sangat keras kepala, tapi dia sangat peduli pada orang yang disayanginya. Kuharap kau bisa melupakan kesalahannya. Aku juga memintanya untuk mempertahankanmu."


"Oh," Lidahku kelu, tak tahu harus mengatakan apa. Mengetahui ibu Paul mendukungku sedikit membuatku senang.


"Kemauannya untuk membuat hidupmu lebih tenang dan bahagia sangat kuat, Bianka. Aku belum pernah menyaksikan seseorang rela melepaskan kebahagiannya sendiri untuk orang lain, seperti yang dilakukan Paul padamu. Ini sulit kupercaya, karena dia pria yang sangat keras. Maaf, bukan bermaksud memujinya, aku hanya mengatakan pendapat sebagai ibu yang sangat mengenal anakku."


"Tidak masalah, aku paham, kok. Aku juga bahagia bersama Paul." dengkurku halus. "Aku sama sekali tidak menyangka dia menceritakan semuanya padamu."


"Oh, sweetheart, aku minta maaf... Aku tidak bermaksud membuatmu tak nyaman, aku sudah menganggapmu bagian dari keluarga kami, dan aku senang kau membuat anakku terlihat lebih bahagia." katanya, lalu memelukku. "Terima kasih, Bianka."


Aku balas memeluknya. Ucapannya tentang menganggapku bagian dari keluarganya merupakan hal paling membahagiakan yang pernah kudengar dari orang asing, selain Paul, tentu saja. "Sama-sama, Anne." kataku sambil mengusap punggungnya.