
Aku merasa masih agak linu akibat pertempuran semalam, tapi untungnya Paul membantuku.
Aku merasakan minyak tetesan aromaterapi di punggung dan bagian belakang pahaku, kemudian telapak tangan Paul yang besar dan lembut mulai memijat tubuhku.
"Apa kau suka?" Dia bertanya selagi menggerakkan tanggannya perlahan dari bagian atas punggung hingga ke pahaku.
Aku bahkan tidak sanggup merespon dengan kata-kata, dan hanya mendesah pelan.
Kejadian semalam masih terasa seperti mimpi yang aku sendiri tak keberatan jika harus mengulanginya lagi dan lagi, aku baru menyadari bahwa aku terus membayangkan setiap detiknya.
Setelah kami selesai, aku hanya ingat berendam di air hangat dan kemudian terbangun di bawah selimut dengan tubuhku berada dalam dekapan Paul. Wajahku tenggelam di lehernya, sebelah lenganku memeluk dadanya, sementara kakiku menumpang di pinggulnya.
Ketika dia selesai memberiku pijatan paling lembut dan nyaman yang hampir membuatku tertidur lagi, aku berbalik dengan punggung beralaskan handuk di atas kasur.
"Apa ini membantumu?" Paul masih memijat pahaku, memastikan kepenatan di sepanjang bagian bawah tubuhku mereda.
"Akan lebih membantu jika kau memelukku." Aku beringsut duduk di atas kasur. Matanya sekilas menangkap puncak dadaku yang tak tertutup, dan aku tersenyum geli melihat wajahnya memerah.
"Kau mau aku memelukmu?" Paul bahkan tak mau repot-repot menyembunyikan seringai nakal di sudut bibirnya. "Kau suka saat aku memelukmu?" Dia tahu jawabannya, hanya saja dia ingin aku mengatakannya untuk menyenangkan egonya.
"Mungkin," balasku, lalu mengenakan kaos miliknya dan menyelusup ke dalam dekapannya yang hangat. Yang selalu hangat. "Mungkin aku suka saat kau memelukku, atau mungkin aku menyukai perasaan damai saat berada di pelukanmu." Detak jantungku agak meningkat begitu mengatakannya.
Paul membalikkanku dan menarikku lagi hingga dadanya menyatu dengan punggungku, kemudian menenggelamkan wajahnya di leherku. Aku selalu merasa seperti ini ketika dia memelukku. Damai dan tenang.
"Well, aku suka memelukmu. Dan aku benar-benar suka saat kau berada dalam dekapanku." kata Paul, hembusan napasnya menggelitik kulitku.
"Ya, kau lebih ahli dari siapapun dalam hal ini," balasku, tersenyum senang.
"Love," Dia mendorong daguku agar menatapnya. "Aku ingin mendengarmu mengatakannya lagi, sama seperti kemarin."
Aku tahu maksudnya, bayangan saat aku mengatakan bahwa aku cantik sambil memandang tubuhku di cermin mulai muncul di kepalaku.
Bibirku melengkung.
"Aku cantik." Kali ini, aku mengatakannya tanpa ragu, membuatku tersenyum seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah impian mereka.
Senyumku menular ke wajahnya. "Lagi," bibirnya bergerak mendekati bibirku.
"Aku cantik. Puas?" Perasaan ingin menciumnya lebih besar dari apapun saat ini.
"Kau sangat, amat sangat cantik." Akhirnya dia membungkamku dengan mulutnya.
Rasanya tidak seperti biasanya, kali ini ciumannya lembut, pelan, tapi ada makna yang tersirat disana seakan dia ingin menyampaikan sesuatu yang tak bisa diungkapkanya. Well, aku sudah tahu, dan dia tak perlu mengatakannya dengan lantang.
Sesuatu tentang dirinya yang tak pernah gagal mengingatkanku bahwa dia berpikir aku cantik membuatku tersipu, dan benakku mengulangi kata-kata itu lagi dan lagi.
Lidah Paul menyapu bibirku sebelum beradu dengan lidahku, sementara dia menarikku lebih dekat dengan menahan leherku. Sungguh, tak ada yang lebih menggembirakan selain bisa merasakan berada dalam momen ini bersama Paul untuk selamanya.
Senyum Paul terbit secerah matahari pagi. "Terima kasih, sudah menerimaku kembali, love."
Kami bersantai seharian itu sebelum Paul berangkat ke luar kota dan aku bekerja pada malam harinya. Salah satu hal yang tak berubah di antara kami sejak dulu adalah jadwal. Sepertinya ini tidak akan berakhir sebelum salah satu dari kami ada yang mengalah pada pekerjaan. Aku mencintai pekerjaanku, begitu juga dengan Paul. Mungkin akan ada saatnya aku berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga penurut yang hanya mengurus dan menunggu suaminya di rumah, tapi itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
"Barang-barangmu sudah semua? Ponsel, dompet, pengisi daya, paspor?" tanyaku sekali lagi sebelum kami keluar dari kamar hotel Paul. Paspor amat penting karena warga negara asing disini.
Paul mengangguk. "Sudah, hanya kau yang tertinggal. Andai saja kau bisa ikut denganku." gumamnya lemah.
"Hei, aku mau. Tapi, aku sudah berjanji akan menemani Kevin saat libur, dan besok aku libur." Aku menggenggam kedua tangannya. "Lain kali, oke?"
Paul mengangguk lesu. "Lain kali."
Aku mencium wajahnya bertubi-tubi, tak ada sudut yang kulewatkan untuk menyatakan perasaanku padanya, membuat Paul terkekeh. "Aku juga mencintaimu, Bianka." dengkurnya, lalu membalasku dengan setimpal.
Kami baru akan melangkah keluar kamar hotel ketika ponselku berdering, aku meraih dari dalam tas dan mendapati nama ibuku. "Mom?"
"Oh, sayang, apa kau sedang bersama Paul?" Suaranya terdengar khawatir, membuatku mengernyit.
"Ya, dia baru akan berangkat ke luar kota." jawabku, melirik Paul yang memandang bingung melihat perubahan ekspresiku. "Ada apa?"
"Aku tidak tahu, tapi ayahmu tiba-tiba menggila dan menyuruhku memintamu datang bersama Paul."
Aku menelan ludah, menyadari kemana arah pembicaraan ini. Ayahku pasti sudah mendengar tentang Paul dan aku sebelum kami berpisah. Aku terpejam sejenak, menarik napas sebelum mengatakan, "Baiklah, kami akan segera kesana."
"Ada apa, love?"
"Ayahku..." Aku terdiam. "Entah siapa yang mengatakannya, tapi kurasa dia sudah mendengar tentang penyebab aku kehilangan anak kita."
Tak perlu kujelaskan panjang lebar, Paul sudah tahu maksudku. Dia mengangguk, lalu meraih ponsel dari dalam saku celana sebelum berbicara padaku. "Aku akan menelepon manajerku sebentar. Kita hadapi ini bersama-sama, okay?" Aku mengangguk, lalu dia bergerak ke sudut lain kamar hotel sementara aku berjalan mondar-mandir seperti orang gila. Panik dan khawatir.
Beberapa menit kemudian, dia kembali. "Hei, kau baik-baik saja?"
"Kurasa, ini akan lebih buruk dari yang kubayangkan jika mendengar suara ibuku seperti itu. Dia tidak pernah takut pada ayahku, tapi tadi..." Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya.
Paul menarikku ke dadanya, menenangkanku disana. "Tenanglah, ada aku. Semuanya pasti akan baik-baik saja."
Aku menggeleng. "Bagaimana jika dia memintaku meninggalkanmu? Bagaimana jika dia tidak merestui hubungan kita. Aku tahu kau memiliki tempat khusus di hatinya, tapi sekarang aku tidak yakin lagi. Bagaimana jika..."
"Sshhh, love..." Paul menangkup wajahku dengan kedua tangan. "Percayalah, semuanya akan baik-baik saja. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku berjanji. Okay?"
Aku menarik napas sambil terpejam, meremas sisi kemejanya dengan kuat, lalu mengangguk dan menatapnya. "Jangan pernah meninggalkanku lagi."
"Aku berjanji."