My Love Journey's

My Love Journey's
A desperate men



"Aku sudah memaafkanmu, Paul." kataku dengan lembut, dan hatiku terpilin saat melihat harapan di matanya. "Tapi, bukan berarti kita bisa kembali seperti sebelumnya."


Dia meringis, seakan sedang menahan sakit. "Ah," desisnya, mengangguk sementara tatapannya mencari mataku. "Apa aku sudah terlambat, Bianka?" tanyanya ragu-ragu.


Setitik air mata menetes di pipiku dan buru-buru kusapu, namun aku masih tetap diam. "Jika kau ingin aku segera pergi dan kau tak mau melihatku lagi, maka itulah yang akan kulakukan meski aku akan menderita di sisa hidupku," Dia terdiam sejenak sebelum melanjutkan. "Namun jika mendadak keajaiban terjadi dan kau masih mencintaiku, ijinkan aku berjuang untukmu, Bianka."


"Aku sudah menunggumu, Paul," kataku padanya. "Aku menunggumu selama tiga tahun dan kau datang saat aku memutuskan untuk berhenti. Ini tidak adil." Aku menggelengkan kepala.


Paul mengulurkan tangan hendak meraih tanganku, tapi aku menolak. Kesedihan terlihat di matanya saat dia menjatuhkan tangannya. "Aku tidak akan pernah memaafkan diriku karena telah membiarkanmu pergi," katanya, hampir kepada dirinya sendiri.


"Apa yang merubahmu?" tanyaku. "Apa yang membuatmu datang kemari?"


"Kehidupanku berubah. Segalanya berubah sejak kau pergi. Banyak hal yang terjadi, dan tak ada satupun yang bisa membuatku mampu melupakanmu. Percayalah, Bianka, aku tidak melakukannya karena membencimu. Rasa cintaku padamu yang memaksaku melakukan itu, aku tidak mau kau menderita jika bersamaku. Aku tidak ingin mengikatmu dalam pernikahan yang membuatmu merasa tersiksa,"


"Kau membuatku menderita saat kau pergi begitu saja, Paul. Kuharap kau tidak melupakan hari dimana kau memintaku menghilang dari hidupmu." dengusku sinis. "Lagi pula, qku yang berhak menentukan langkahku, bukan kau atau siapapun."


"Aku tahu, love. Hari itu aku sedang marah padamu, aku mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya kukatakan, dan aku baru menyadarinya sesaat setelah aku tiba di rumah ibuku." Dia menunduk, menarik napas dalam. "Dia marah begitu aku menceritakan semuanya dan mengusirku dari rumahnya. Dia mengatakan aku tak boleh datang jika tidak bersamamu. Aku kesal, pikiranku sedang kalut dan ibuku sendiri justru menyalahkanku. Aku tahu aku salah, tapi saat itu aku sedang marah, Bianka. Aku marah padamu, pada ibuku, pada keadaan, dan terutama pada diriku sendiri karena menyalahkan orang lain."


"Berkali-kali aku mengingatkanmu agar berhati-hati, agar menjaga kandunganmu dengan baik,"


"Aku melakukannya, Paul." bentakku keras. "Aku menjaganya dengan baik, tapi aku tak punya kekuatan untuk mempertahankannya saat Tuhan yang mengambilnya."


"Ya, dan itulah yang seharusnya kupikirkan saat itu. Tapi, aku terlambat." katanya dengan nada menyesal. Aku melihat air matanya menggenang sementara bibirnya gemetar menahan tangis.


Aku ingin memeluk dan menenangkannya, namun yang keluar dari mulutku sendiri justru membuatnya terkejut. "Ya. Sangat terlambat." Aku sendiri tak menyangka akan mengatakan itu.


Aku berdiri, membawa gelasku dan hendak meletakkannya di wastafel saat ucapannya menghantamku. "I had an accident. Car crash. It's the worst one."


Mataku membelak sementara tanpa sadar gelas di tanganku terjatuh. "Kau... Apa?"


"Kecelakaan setelah ibuku mengusirku." Dia masih menunduk. "Aku hampir kehilangan sebelah kakiku. Itulah kenapa aku berhenti main bola."


Masuk akal. Pantas saja aku tidak pernah mendengar atau melihat kabarnya dimanapun, dia seakan menghilang di telan bumi. "Dan, kau meninggalkanku karena itu?" tanyaku tajam, lalu menggelengkan kepala. "Sungguh, Paul? Aku tidak tahu mana yang lebih buruk, kau pergi karena takut aku akan meninggalkanmu atau karena kau tidak mau aku merasa terbebani dengan keadaanmu. Tapi, percayalah, aku tidak akan memilih keduanya jika kau memberitahuku. Aku pasti akan menemanimu, Paul. Kenapa? Karena aku bukan dirimu, yang memilih pergi saat aku membutuhkanmu."


Dia mengerang. "Bianka, kau tidak mengerti keadaanku saat itu. Aku..."


"Karena tidak ada yang memberitahuku!" semburku keras. "I'm your wife, and you tell everyone but me. I'm the one who supposed to know about you, about that goddamn accident, about your suffered. But, look what you did." Aku terisak. "Bahkan, kau mengirim surat cerai padaku."


"Love..."


"No, Paul." kataku menyela. "Dengar, apa pun yang terjadi di antara kita, semuanya sudah selesai. It's over. We're done. Aku senang melihat kau baik-baik saja sekarang, dan terima kasih sudah mengatakan alasanmu menghilang meski sudah terlambat. Sungguh, aku menghargainya. Setidaknya pertanyaanku selama ini terjawab." Aku mengumpulkan pecahan gelas dengan ujung sandalku.


"Maafkan aku, Bianka." gumamnya lembut, suaranya bergetar. "Aku salah, ya, tapi aku benar-benar tidak bisa melupakanmu."


Aku menunduk, menyapu air mata dari wajahku. "Pada hari kau pergi," kataku pelan. "Kau menghancurkanku."


Paul meringis. "Tolong, jangan berkata begitu."


"Itu kenyataan, Paul. Aku tidak pernah merasa sehancur itu. Aku tidak pernah merasakan sakit seperti yang kau berikan. Dan, aku ingin kau mengerti kenapa aku tidak bisa menerimamu saat ini." Aku menaikkan pandangan menatapnya. "Aku takut kau akan menyakitiku lagi."


"Itu tidak akan terjadi," katanya dengan nada putus asa. "Aku tahu kata-kata takkan mampu mengobati rasa sakit di hatimu sampai kapanpun, tapi beri aku kesempatan untuk memperbaiki keadaan, Bianka."


Aku menarik napas, merasa lelah secara mental. Yang kubutuhkan saat ini hanyalah tidur dan terbangun besok pagi dalam keadaan yang lebih baik.


"Katakan padaku," katanya lagi, dan aku memandangnya. "Apa kau masih mencintaiku?"


Aku menelan ludah, hampir tak dapat menahan diri untuk memeluknya. "Kau tahu aku selalu mencintaimu, Paul, dan disitulah masalahnya. Aku mencoba mempertahankan harga diriku saat ini. Aku tidak bisa menerimamu begitu saja seakan tidak terjadi apa-apa. Aku tidak mau kau menyentuhku karena aku tahu bagaimana tubuhku akan bereaksi. Ini tidak adil. Aku bertarung melawan diriku sendiri, brengsek!"


"Kalau begitu, aku tidak akan menyentuhmu." gumamnya bersungguh-sungguh. "Hanya jangan memintaku pergi tanpa memberiku kesempatan untuk berjuang sekali lagi."


"Apa artinya itu?"


Dia menatap ke dalam mataku. "Artinya aku mencintaimu dan tak ada hal lain yang kuinginkan selain menjagamu di sisiku. Ya, aku telah melakukan kesalahan, tidak seharusnya aku meninggalkanmu. Aku minta maaf. Yang kuinginkan hanya satu kesempatan. Beri aku kesempatan, Bianka. Kumohon..."


Aku menggelengkan kepala. "Paul, kehidupanku ada di sini sekarang. Pekerjaan, keluarga, semuanya di sini. Aku tidak mau..."


"Cukup ijinkan aku menemuimu." katanya memotong. "Aku yang akan memikirkan sisanya."


Cukup ijinkan aku menemuimu. Ya Tuhan, dia membuatku sulit untuk tetap marah padanya.


"Lalu, bagaimana dengan Sebastian? Apa kau menyuruhku berkencan dengan dua pria pada saat yang bersamaan?" tanyaku dengan nada menyindir.


"Ya, katakan padanya bahwa dia punya kompetitor." jawabnya tanpa ragu. "Aku bisa mengatakan padanya kalau kau mau."


Aku mengernyit. "Kau serius?"


Dia mencoba meraih tanganku, tapi kemudian berhenti sebelum berhasil. "Ya. Ijinkan aku memenangkanmu. Jika pada akhirnya kau memutuskan untuk memilihnya, maka aku akan menjauh dan tidak akan pernah mengganggu kehidupanmu lagi."


Sekali lagi, aku menggeleng. "Kau gila."


"Aku putus asa." katanya.


Aku mengamatinya sambil memikirkan ucapannya. Dia ingin satu kesempatan untuk mendapatkanku, dan itu membuatku ingin menagis. Aku marah padanya dan ya, aku ingin dia mengerti perasaanku saat dia meninggalkanku. Mungkin aku dendam, tapi aku juga perlu belajar untuk mempercayainya sekali lagi. Dia menendangku dari hidupnya dengan mudah, lalu apa yang menjamin dia tidak akan melakukan itu lagi? Kupikir aku tidak sanggup mengatasi rasa sakit darinya untuk kedua kali. Dan, aku tidak mau menempatkan diriku dalam posisi itu lagi.


Sebastian. Aku tahu bahwa kami bisa menjalin hubungan yang nyata. Ya, kami belum saling kenal terlalu jauh, tapi aku tahu dia pria yang baik. Apa lagi yang kau harapkan dari seorang pria selain kebaikan dan pengertian? Sebelum Paul datang, aku benar-benar ingin membuka hati untuk Sebastian karena dia begitu gigih dan tak kenal menyerah. Bisa saja dia mundur setelah aku menolaknya untuk pertama kali, tapi itu tidak terjadi. Jalan bersama Sebastian sangat memungkinkan karena tidak ada air mata yang menghantui masa lalu kami.


Masalahnya adalah Sebastian bukan Paul. Aku mencintai Paul. Hatiku sudah tertaut padanya. Sialan, aku benar-benar bingung.


"Dan, kau tidak keberatan jika melihatku bersama Sebastian?" tanyaku padanya.


Aku tidak bisa membayangkan apakah Sebastian akan menyerah tapi aku yakin dia tidak akan menyerah dengan mudah. Aku tidak pernah mengencani dua pria dalam waktu bersamaan sebelumnya. Apakah ini gaya berhubungan yang baru? Hm, mungkin tidak.


"Aku tidak memiliki masalah dengan kompetisi," katanya, lalu menurunkan pandangan. "Selama dia juga tidak menyentuhmu."


Aku hampir tersenyum. Ada sesuatu yang kusukai dari Paul saat dia cemburu, dan itu seksi. Pikiran itu membuatku tersanjung, bahwa seorang pria yang begitu tampan dan menarik seperti Paul akan merasakan kecemburuan yang kuat terhadapku. Oh Gosh, kami bahkan belum memulainya dan aku bisa merasa bahwa sebentar lagi aku akan akan bertekuk lutut padanya.


Tidak. Aku harus kuat. Pertahankan harga dirimu, Bianka!


"Aku tidak pernah tidur dengan Sebastian." kataku, dan dia mengangkat alis terkejut. "Tadi itu kencan pertama kami."


Paul mencoba menutupi kelegaannya tapi aku melihat bahunya lebih ringan. "Kapan kau bertemu dengannya?"


Aku maju selangkah dan duduk. "Sekitar delapan bulan lalu. Dia paman dari salah satu pasien di rumah sakit tempatku bekerja."


Dia mengangguk, lalu tersenyum. "Pria manapun akan tergoda jika melihatmu mengenakan seragam." katanya sambil mengedipkan mata.


Aku mengangkat bahu. "Ya, tapi kurasa tidak semua pria akan meninggalkanku saat aku sedang membutuhkannya." balasku menyindir.


Dia mengerang. "Bianka, kumohon maafkan aku."


"Berapa kali lagi kau akan meminta maaf?"


"Sebanyak yang diperlukan untuk mendapatkanmu kembali." katanya berjanji.


"Alih-alih mengatakannya, kau harus membuktikan bahwa kau benar-benar menyesal." gumamku pelan.


"Itulah yang akan kulakukan."


Keheningan terasa sejenak, hingga aku kembali bertanya. "Kenapa namamu tidak pernah muncul dimana-mana? Bahkan tidak ada berita tentang kecelakaan itu."


Paul menarik napas. "Aku meminta manajerku menutupinya."


Aku mengangguk. "Dan, kau benar-benar berhenti main bola?" Dia mengangguk. "Lalu, apa pekerjaanmu sekarang? Kalau kau pengangguran, lebih baik mundur dari sekarang. Sebastian lebih menjanjikan."


Dia tertawa sementara aku tersenyum. "Sejak kapan kau peduli pada uang?"


Aku mengangkat bahu. "Sejak seseorang menceraikanku dengan kejam." jawabku ketus. "Aku menyesal karena menyia-nyiakan kesempatan menikmati hidup menggunakan uangmu."


"Bianka, bisakah kita berhenti membicarakan kebodohanku?" katanya dengan ekspresi memohon. "Aku tahu kesalahanku dan aku benar-benar menyesalinya."


Aku tersenyum puas. "Baiklah. Jadi, apa pekerjaanmu sekarang?"


"Aku membeli dua puluh lima persen saham klub Bayern." Sebuah seringai nakal yang selalu membuatku berdebar terbit di bibirnya, dan aku sangat ingin menciumnya. "Tenang saja, love. Keuanganku masih seperti dulu, dan aku rela menghabiskan uangku jika itu bisa membawamu kembali padaku."


"Aku akan mengingatnya." kataku serius. Aku memang berencana membuatnya miskin, itu pun kalau bisa. "Kapan kau akan kembali ke Jerman?"


"Kapanpun aku mau. Dan, mengingat sekarang aku punya urusan yang lebih penting di sini, mungkin aku akan berada di Jakarta lebih lama. Setidaknya sampai aku berhasil menuntaskan misiku."


Aku mengangguk. "Lalu, bagaimana dengan ibumu?"


Paul mengangkat bahu. "Aku memintanya tinggal lebih lama untuk bersantai, tapi dia ingin pulang lebih dulu. Penerbangannya besok siang." katanya. "Mau ikut mengantarnya ke bandara?"


Aku menggeleng. "Aku tidak bisa. Besok aku masuk pagi. Sampaikan saja salamku padanya."


"Baiklah," kata Paul. "Kupikir sudah waktunya aku pergi," Dia berdiri.


Aku mengikuti gerakannya, "Ya, kurasa juga begitu."


Dia memandangku. "Boleh aku minta sesuatu?"


Aku mengangkat kedua alisku. "Apa?"


Paul mengulurkan ponselnya padaku. "Kontakmu agar aku bisa menghubungimu."


Aku terkekeh, meraih ponselnya dan memasukkan nomorku. "Jangan menggangguku." kataku saat mengembalikan ponselnya.


"Tidak akan." Kami mulai melangkah ke pintu depan. Aku membuka pintu dan membiarkan Paul keluar. "Terima kasih telah memberiku kesempatan."


Aku ingin tersenyum, tapi aku tidak mau memberinya harapan palsu. Aku tidak tahu kemana pertemuan malam ini akan menuntun kami, dan aku tidak bisa menjanjikan bahwa Paul dan aku akan kembali bersama. Mungkin kami ditakdirkan untuk menjadi teman setelah ini. Mungkin cinta kami tak cukup kuat untuk bertahan dalam ikatan pernikahan. Atau, mungkin kami bisa melaluinya dengan beradab, menyelesaikan semua masalah secara dewasa, lalu mengulang kembali semuanya dari awal. Apa pun itu, aku berharap tidak ada seorang pun yang dirugikan. Tidak Paul, tidak pula diriku.


"Goodnight, Paul. Drive safe."


"I will," balasnya. Aku melihat gerakan matanya turun ke bibirku sekilas sebelum dia mengangguk dan berbalik.


Aku menutup pintu setelah dia melaju dan menarik nafas dalam-dalam. Tadi itu bukan percakapan yang mudah, tapi aku bersyukur kami bisa mengakhirinya dengan baik. Aku tidak menduga Paul akan memintaku memberi kesempatan kedua untuknya, tadinya aku menebak dia akan menyerah dan langsung keluar dari rumahku begitu aku menolaknya. Sejujurnya aku ragu, tapi di sisi lain aku ingin percaya bahwa masih ada kesempatan untuk kami memperbaiki segalanya.


Setelah mendengar semua penjelasannya, aku merasa hubungan kami akan lebih mudah karena kehidupan Paul sendiri tidak seperti dulu. Tidak ada gosip, dan perhatian berlebih meski aku tahu masih banyak orang yang mengenalnya. Mungkin sesekali akan ada penggemar yang menyapanya saat dia berada di tempat umum, tapi tidak akan separah dulu. Ini menguntungkan untukku yang tak menyukai perhatian berlebih.


Aku menghembuskan napas lega. Sudah cukup untuk hari ini.


"Sekarang, waktunya membersihkan kekacauan di dapur lalu tidur."