
Aku terpesona.
Menyaksikan bibir Paul terbuka dan rahangnya mengeras membuat gairahku terkumpul di bawah sana. Kepalanya menempel di ranjang, gemuruh erangan nikmat terdengar dari dadanya setiap kali aku membawanya sejauh yang kubisa ke dalam mulutku, aku menelannya dan memaksa tenggorokanku menghiburnya dengan kenikmatan yang tak ada habisnya.
"Sial, Bianka..." dengkurnya tersengal-sengal. Matanya menggelap dipenuhi oleh hasrat.
Aku memelankan serbuan mulutku, mencoba memperbaiki kekuranganku dalam permainan mulut. Namun kurasa Paul tetap menyukainya, membuatku semakin gila memujanya. Sebelah tanganku menggenggam kejantanannya sementara tangan yang lain bertumpu di pahanya. Aku merasakan kejantanannya berdenyut merespon serbuanku.
Untuk terakhir kalinya sebelum bangkit, aku menggerakkan lidahku menari-nari di ujung kejantanannya sambil mencengkeramnya dengan kedua tanganku.
"Stop, stop, stop!" Dengan perlahan, dia menjauhkanku dari sana. Aku berlutut di antara kedua pahanya, mendongak menatapnya yang duduk di tepi ranjangku. "Kau terlalu kejam dengan mulutmu itu," katanya dengan napas setengah tersengal lalu terkekeh dan menarikku dari lantai. Gerakannya yang tiba-tiba membuatku memekik pelan dan tertawa.
Jika seorang pria sehebat Paul Klug mengatakan permainan mulutku, yang sejujurnya masih payah, cukup membuatnya tersiksa, maka tidak ada alasan bagiku untuk tidak menyombongkan diri.
Aku menggeser tubuhku lebih ke atas dan menaruh bantal ke bawah kepalaku sementara Paul mengenakan pengaman lalu berlutut di antara kedua pahaku. "Aku ingin melihat wajahmu lebih lama, kau sangat cantik, Bianka." katanya, tanpa mengalihkan padangan dariku.
Aku yakin dia melihat wajahku yang memerah, berantakan, dan sangat bergairah. Tanpa peringatan, Paul memasukkan dua jarinya ke dalam diriku. Aku masih belum melepas pandangan kami. Dia memutar-mutar jarinya ke atas dan gumaman pelan tanda setuju keluar dari bibirku ketika dia menekan titik paling nikmat di tubuhku.
"Okay, aku sudah siap." kataku tak sabar. Aku tidak pernah menginginkan seseorang sebesar ini, seluruh tubuhku mendambakan hasratnya dengan cara yang tak terucapkan.
Seringai kecil tersungging di sudut bibirnya sebelum menghentikan gerakan jarinya dan menariknya keluar. Lalu sekarang dia menekan ujung tubuhnya yang paling nikmat kesana. "You're the boss here, love." dengkurnya, kemudian perlahan mendesakku sambil mencium bibirku. Seketika tanganku terangkat mencengkeram lengannya, menancapkan kukuku disana.
Aku menarik napas lega dan mendesah ketika dia sudah berada di dalamku, lalu mengulurkan tangan menangkup rahangnya dan menariknya ke arahku. Aku mencium bibirnya sementara Paul mulai menggerakkan pinggulnya dengan perlahan.
Paul benar-benar sempurna. Dia membuatku tersesat pada ciumannya yang intim dan ahli, membuatku menyelam pada lautan kenikmatan yang tiada habisnya dan aku membiarkan diriku merasakan semua itu. Ketika desakannya menjadi lebih cepat, erangan terdengar dari mulut kami.
"Paul..." desahku pelan, tak bisa memusatkan pikiran pada ciumannya sementara dia menghujamku dalam-dalam.
"Kenapa kau sangat nikmat, Bianka?" Dia memberiku satu desakan paling dalam seakan dia sedang menghukumku. Aku mendesis dan menaikkan tanganku untuk mencengkeram rambutnya sementara dia menyusuri leherku dengan bibirnya.
"Sekarang giliranmu, love."
"Apa?" Aku tersengal-sengal, menatap bingung padanya.
"Ride me," Dia menarik diri dariku dan berbaring di ranjang, membuatku mendadak merasa kosong dan dingin, lalu dengan cepat aku bergerak naik dan duduk di atas pinggulnya. Aku menaikkan bokongku sedikit agar Paul bisa menuntun bagian dirinya dibawah sana, lalu perlahan menurunkan bokongku. Kami mengerang di sela-sela ciuman.
Dia menjalari tubuhku dengan kedua tangannya, mulai dari paha naik hingga ke dadaku, membelaiku saat aku mulai bergerak di atasnya. Erangan kenikmatannya semakin mendorongku, sementara pinggulnya sedikit terangkat untuk mengimbangi gerakanku.
"Ah, Paul... aku..."
Aku bisa merasakan pelepasanku yang semakin dekat. Posisi ini membuat bagian tubuhnya yang berdenyut masuk lebih dalam dan mengenai titik paling nikmat bagiku pada setiap desakan yang diberikannya.
"Aku juga, love..."
Suaranya yang serak di telingaku membuatku mengerang lagi. Sekarang giliranku untuk menyusurkan bibirku ke lehernya yang tegang, napasnya yang terengah-engah dan tangannya yang meremas pinggulku membuat kewanitaanku mencengkeram kejantanannya lebih kuat.
Sebelum dia sempat menyelesaikan ucapannya, aku menyerukkan wajahku ke lehernya dan mengerang keras sementara pahaku bergetar hebat menyambut puncakku.
"That's it, baby." gumamnya, menghujamku dari bawah untuk mencapai pelepasannya sendiri dan memperpanjang pelepasanku.
Jantungku berdegup kencang dan napasku terasa seakan aku baru saja berlari kencang. Aku merasa luar biasa, hangat, aman, sangat dicintai, dan puas pada saat yang bersamaan. Dorongnya yang halus dan terampil sedikit goyah, lalu dia mengerang pelan.... mencapai pelepasannya.
"Fvck!" umpatnya dengan napas tersengal-sengal.
Aku bertahan di sana, berbaring lemas di atas tubuhnya sambil mencoba memahami perasaanku yang terus tumbuh untuk pria ini, sementara dia masih berada di dalam diriku, napasnya panas menyapu sisi kepalaku.
"Are you okay?" katanya setelah beberapa menit kami terdiam. Dia sudah menarik dirinya dariku, tapi aku belum sanggup bergerak dari atasnya tubuhnya.
"Yes." bisikku, bibirku menyapu kulit lehernya.
"Aku harus membuka sarungku dan membersihkan diri, Bianka." gumamnya sambil terkekeh. "Kau bisa tidur di atasku lagi setelah aku kembali."
Aku tertawa pelan, lalu berguling ke sampingnya. Kutarik selimut menutupi tubuhku dan, setelah Paul mencium pipiku, aku memandangnya selagi dia berjalan ke kamar mandi.
"Paul?" panggilku, sadar kalau aku tidak ingin tidur tanpa mengenakan pakaian.
"Ya?"
"Bisakah kau mengambil kaus atau apapun untuk kukenakan?" dengkurku tanpa membuka mata, merasa nyaman pada kegelapan kamarku. Aku hanya ingin Paul kembali secepatnya agar aku bisa memeluknya.
Dia datang beberapa menit kemudian, mengulurkan jaket hitam padaku. Aku mengenakannya dan langsung menyadari kalau itu jaket miliknya yang tertinggal di rumahku beberapa waktu lalu.
Begitu Paul ikut berbaring di balik selimut, aku meringkuk di pelukannya. Kepalaku menumpang di lengannya dan tanganku berada di dadanya sementara dia menarikku lebih dekat.
"Aku senang kau membicarakan tentang keluargamu padaku, Bianka." dengkurnya pelan beberapa menit kemudian, saat aku nyaris tertidur. "Kau tidak pernah membuka diri, atau bahkan menceritakan tentang dirimu. Kau wanita yang kuat, aku tidak pernah bertemu dengan seseorang sepertimu sebelumnya. Aku ingin kau tahu kalau aku peduli padamu, Bianka." lanjutnya.
Aku terdiam selama beberapa saat, merasa begitu nyaman dengan aroma tubuhnya yang menyelimutiku dan detak jantungnya yang nyaring di telingaku. Aku benar-benar merasa seolah tidak ada tempat lain selain berada disini, berpelukan dengannya.
"Boleh aku jujur padamu?" tanyaku, dia mengangguk. "Sebenarnya aku tidak suka orang lain mengetahui kehidupan pribadiku, dan kau belum mendengar semuanya. Bahkan Stacey tidak pernah tahu tentang apa yang kusampaikan padamu meskipun dia teman dekatku. Dia tidak tahu apa-apa soal keluargaku. Aku merasa kedekatan kita sudah melampaui akal sehatku, dan aku takut membayangkan bagaimana hubungan kita ke depannya."
"Sudah kubilang, kau bisa percaya padaku, love. Aku tidak mungkin menceritakan tentangmu kepada orang lain." gumamnya meyakinkanku, dengan lembut mengusap punggungku.
"Aku tahu. Aku hanya... tolong jangan salah paham," Aku menghela napas. "tapi semakin aku terbuka padamu, rasanya pasti akan semakin menyakitkan ketika kedekatan kita berakhir."
Paul terdiam. Aku tahu dia tidak suka saat aku menyinggung soal perpisahan, namun aku harus jujur tentang perasaanku padanya. Hubungan kami tidak akan bertahan lama, yang terjadi saat ini saja rasanya sudah melewati batas meskipun aku menyadari perasaanku padanya terus bertumbuh seiring kedekatan kami.
"Jangan pikirkan itu, setidaknya untuk sekarang. Just live in the momen with me, itu agar mempermudah semuanya."
Aku tidak membalas ucapannya hingga beberapa menit kemudian aku tertidur.