My Love Journey's

My Love Journey's
About The Future.



"Jadi, apakah ada kemungkinan Klug junior akan lahir sebelum atau sesudah pernikahan?" Ibu Paul bertanya lalu menyesap teh sambil memandang kami dengan raut senang.


Aku menundukkan kepala sambil terkekeh halus sementara Paul menghela nafas berat. "Mom, please... Kami sama sekali belum berpikir ke arah sana..."


"Kalau begitu, kapan kalian akan menikah?" tanyanya lagi, yang kali ini mulai membuatku merasa tak nyaman. Aku memeluk lengan Paul menandakan bahwa aku sedang butuh pengalihan.


Aku tahu ibunya akan bertanya tentang pernikahan suatu hari, tapi tetap saja, bagiku rasanya terlalu cepat untuk melanjutkan hubungan yang menurutku sendiri masih abu-abu.


Kami sudah selesai santap malam dengan menu yang disiapkan Paul, dan sekarang sedang mengobrol sambil minum teh di ruang keluarga sebelum naik ke kamar untuk istirahat.


"Kami juga belum membahas itu..." gumam Paul mewakiliku.


Paul dan aku sama-sama tidak ingin terburu-buru, kami cukup senang dengan ikatan pertunangan yang terjadi di antara beberapa masalah yang hadir belakangan, terutama soal jarak. Merencanakan masa depan akan menghadirkan tantangan lain dan pembahasan yang cukup panjang tentang beberapa hal yang berkaitan dengan prinsip.


"Aku ingin menikah saat musim semi," kataku seraya tersenyum pada ibunya.


"Oh, pemilihan waktu yang tepat! Aku akan membantumu memilih gaun yang pas." katanya mengusulkan, membuat senyumku semakin melebar.


"Uhm, aku lebih suka kita mengadakannya saat musim panas." cetus Paul, menarik perhatianku.


"Tapi, cuaca musim semi lebih bagus." Ibunya menimpali, "Bayangkan bagaimana Bianka akan terlihat begitu mengagumkan di antara hijaunya pepohonan..."


Satu senyum penuh makna terbersit di sudut bibir Paul. "Ah, Bianka selalu terlihat mengagumkan. Perubahan cuaca sama sekali tidak berpengaruh padanya, mom."


"Well, kita bisa membicarakannya di lain waktu. Lagi pula, itu masih dari rencana." kataku mencoba mengakhiri secara tegas.


"Loh, kenapa kau bilang jauh dari rencana?" Alis Paul berkerut saat aku menatapnya.


"Oh, aku hanya... Maksudku, kau masih disini sampai tahun depan, kan?" desisku beralasan. "Dan aku juga ingin menyelesaikan gelar masterku..."


"Ya Tuhan, itu berarti dua tahun lagi, Bianka." kata Paul mengingatkan, jelas kami memiliki pandangan yang berbeda soal masa depan. Aku ingin bersantai sementara Paul tempaknya sudah tidak sabar. "Aku tidak mau menunggu selama itu."


"Paul, tidak mungkin aku melanjutkan studi setelah kita menikah, aku akan kerepotan membagi waktu. Sekarang saja kau sudah melihat bagaimana sulitnya kita bertemu." Aku menggelengkan kepala. "Tapi, kita akan membicarakannya lagi nanti."


Paul tampak tidak setuju dengan ideku, namun dia tidak mengatakan apapun karena ibunya duduk bersama kami dengan raut penasaran yang jelas tergambar di wajahnya. "Lalu, bagaimana dengan anak? Laki-laki atau perempuan?" tanyanya, sengaja mengganti topik pembicaraan.


"Laki-laki." sahut Paul dengan bangga. "Aku akan mengajarinya menendang bola bahkan sebelum dia bisa berjalan."


Aku benar-benar berada dalam posisi paling tidak nyaman saat ini meskipun rasanya agak menenangkan mengetahui Paul sudah memikirkan masa depan kami sejauh itu. Diam-diam kutarik tanganku dari lengannya lalu berdeham sekali. "Aku masih bertahan dengan rencana mengadopsi anak." gumamku pada ibunya. "Tidak peduli apapun jenis kelaminnya, selama dia bisa mendapatkan rumah yang layak."


Dari ujung mataku, aku bisa merasakan Paul sedang menatap tajam padaku, tapi kubiarkan semata-mata aku tidak ingin membuat kekacauan pada momen yang berlangsung semakin menyebalkan ini. Dia sudah pernah mengatakan keinginannya soal memiliki anak laki-laki saat kami menginap di rumah ayahku. Saat ini aku sangat terganggu dengan kebiasaannya mengendalikanku walaupun sebenarnya aku tahu alasannya melakukan itu.


Dari awal pertemuan kami Paul sudah menunjukkan sikapnya yang suka mengontrol, terkadang aku bisa mengimbanginya, tapi sekarang rasanya sedikit lebih sulit mengingat kami hidup di dua tempat yang berbeda dan aku tidak punya kesempatan menenangkannya saat dia marah atau kesal terhadap sesuatu.


"Tetap harus laki-laki." gumam Paul tegas, membuatku menarik nafas dalam-dalam merespon sikap kepala batunya.


Aku sangat tahu bagaimana perasaannya saat ini karena aku juga merasakan hal yang sama, namun itu sama sekali tidak bisa membenarkan sikapnya. Aku tidak pernah menjadikan pengendalian sebagai mekanisme pertahanan diri yang kuat seperti Paul, karena aku sadar itu hanya akan semakin memperparah keadaan.


"Hm, kita lihat nanti." cetusku, lalu tersenyum pada ibunya. "Masih terlalu cepat untuk membahas ke arah sana."


***


"Apa-apaan itu?" dengus Paul begitu menutup pintu kamar di belakang kami.


Aku memejamkan mata seraya menarik nafas dalam-dalam, berdiri memunggunginya di depan salah satu sudut dinding yang terbuat dari kaca. Untuk beberapa alasan, aku merasa seakan dia menanyakan hal yang sama, tapi aku tahu sebenarnya tidak begitu. Aku lelah kalau harus bertengkar dengannya karena ini pertama kalinya kami bertemu dalam sebulan belakangan.


"Bianka, apa kau mendengarku?" Aku tersentak saat dia tiba-tiba mencengkram pergelangan tanganku dan memaksaku berbalik menghadapnya.


"Sebaiknya kita tidur, Paul. Aku sudah lelah." sahutku sambil menyunggingkan senyum tipis dan melepaskan cengkerama tangannya. "Apa kau keberatan kalau aku mandi sebentar?"


"Ya, aku keberatan." Tatapannya semakin tajam dan mematikan, membuatku sakit. "Kenapa kau tidak mau membahas masa depan bersamaku? Apa tidak menginginkan itu?"


"Paul, tenanglah..."


"Jangan menyuruhku tenang, sem..."


"Apa kau serius? Dua tahun lagi, Bianka? Ya Tuhan, itu terlalu lama." Dia menggeleng putus asa. "Aku tidak sanggup menunggu selama itu. Lagi pula, aku tidak harus kembali ke Jerman untuk menikah dan memiliki anak denganmu. Kita bisa melakukannya disini."


"Baiklah, sekarang aku tahu. Kau sudah merencanakan semuanya untuk membuat perasaanmu lebih tenang, kan? Apa karena kau takut aku meninggalkanmu?" Ekspresi Paul seketika melunak, seolah terkejut aku bisa membaca pikirannya.


"Aku ingin kau menjadi istriku. Aku ingin memiliki anak denganmu. Apa itu salah, Bianka?" tanyanya dengan nada frustasi.


Aku kembali menarik nafas dalam-dalam, sementara berharap semoga dia bisa sedikit menggunakan akal sehatnya untuk menyadari kalau tingkahnya sudah keterlaluan. "Tidak, Paul, kau tidak salah... tapi kau juga perlu memikirkan apa yang kuinginkan. Kau terlalu buru-buru. Aku tahu perasaanmu akan lebih tenang jika kita merencanakan semuanya dengan matang, tapi bukan begitu cara kerjanya. Kita sudah pernah melaluinya, ingat?"


"Bianka..."


"Aku terbang jauh-jauh dari Jerman untuk menikmati waktu denganmu walau hanya sebentar. Apa kau mau menghabiskannya dengan berdebat sepanjang malam?" ketusku sembari menaikkan kedua alis tinggi-tinggi.


Paul memijat hidungnya dan menghembuskan nafas kasar sementara aku melanjutkan. "Aku ingin mandi sekarang." kataku lalu mencium pipinya sekilas dan melangkah menuju kamar mandi.


Aku menghabiskan waktu selama dua puluh menit di kamar mandi sambil berusaha menenangkan diri dan memberi waktu untuk Paul mengembalikan pikirannya. Tanpa dia bersikap keras sekalipun, aku mengerti betapa sulitnya keadaan kami saat ini, namun dia memilih jalan keluar yang salah, yang pada akhirnya membuatku merasa lebih tertekan. Aku sama sekali tidak mau dia khawatir atau ragu pada hubungan kami sementara aku berusaha mati-matian untuk berpikir realistis.


"Paul, dengar..." ucapku begitu keluar dari kamar mandi, tapi kemudian terdiam ketika menyadari dia tidak berada di dalam kamar. "Ah," Aku menghembuskan nafas berat sambil memandang ke sekeliling kamar yang kosong.


Tak mau mengusik ketenangan yang baru saja kurasakan, aku memutuskan tidur lebih dulu dan berharap dia kembali secepatnya. Aku mengenakan hoodie miliknya lalu menyusup ke balik selimut. Dengan tangan memeluk bantal yang penuh dengan aroma tubuhnya, aku memejamkan mata.


Tepat saat aku akan terlelah ke dalam tidur akibat kelelahan, telingaku samar-samar menangkap suara pintu terbuka, mungkin sekitar sepuluh atau lima belas menit berlalu sejak aku berbaring diri di bawah selimut dengan nyaman. Lalu kudengar pintu kembali tertutup dan terkunci, lalu sisi ranjang di sebelahku bergerak dan Paul ikut menyusup ke balik selimut.


Detak jantungku sedikit meningkat saat aku menyadari dia hanya berbaring telentang di sampingku, kemungkinan besar sedang berpikir. Aku tidak ingin dia terlalu memikirkan semuanya karena aku tahu betapa melelahkan itu berdasarkan pengalaman pribadi.


"Apa kau masih bangun?" suaranya lembut dan tenang.


"Ya," sahutku tanpa membalikkan tubuh menghadapnya.


Paul bergeser mendekat hingga lengannya bersentuhan dengan punggungku. "Aku minta maaf, Bianka." gumamnya, terdengar sungguh-sunguh. Tangannya meluncur ke pinggangku di bawah selimut.


Aku merasakan hembusan nafasnya yang panas menyapu kulit leherku, lalu kubalikkan tubuh untuk menatapnya.


"Maafkan aku. Seharusnya aku tidak..."


"Lupakan." sergahku. "Aku tahu apa yang kau pikirkan, hanya saja... jangan mendesakku seperti itu, Paul. Aku tidak suka."


"Tidak ada yang suka dengan keadaan ini, Bianka..."


"Ya, aku tahu. Tapi kau tidak bisa memaksakan sesuatu padaku. Kita bisa membicarakan soal pernikahan atau anak setelah kontrakmu dengan Real Madrid berakhir... Sebelas bulan lagu, Paul. Kau sendiri yang bilang tidak akan selama itu, bukan?"


Paul menghembuskan nafas berat. "Aku mengaku salah. Aku merasa seperti orang bodoh dan tidak bisa berpikir dengan jernih. Nyaris setiap hari aku merasa takut kau akan bertemu sesorang sementara aku terjebak disini tanpa tahu harus melakukan apa."


"Itu tidak akan terjadi, Paul. Aku mencintaimu, dan perasaanku tidak mungkin hilang dengan mudah hanya karena jarak di antara kita." kataku. "Kita masih baik-baik saja hingga saat ini dan akan terus seperti ini kalau kita bisa mengikuti arusnya dengan baik, okay?"


Paul mengangguk paham. "Okay, baiklah. Jadi, apa kita sudah berbaikan?"


"Ya, tentu saja." satu tawa halus keluar dari mulutku, membuat Paul tersenyum untuk pertama kalinya setelah perdebatan agak sengit yang bermula di ruang keluarga.


"Bagus."


"Jadi, apa kau hanya akan menontonku tidur?" tanyaku dengan genit menggodanya, dan dia terkekeh sambil menggoyangkan kepala.


"Memangnya aku tidak boleh menontonmu tidur?" Alisnya terangkat sedikit.


"Tidak." cetusku, lalu tertawa. "Bukan itu yang kuharapkan terjadi saat berduaan denganmu..."


"Oh, wow..." Paul menyeringai nakal, dan hatiku terenyuh pada suasana hatinya yang membaik. "Aku akan melakukan apapun untukmu, love. Kau hanya perlu mengatakannya dengan jelas. Jadi, apa yang kau inginkan, gadis nakal?"


Aku memajukan wajah lalu membisikkan sesuatu di telinganya. Dua detik kemudian, raut wajah Paul menunjukkan ekspresi terkejut yang tak dibuat-buat. "Bianka... harus kuapakan kau, he? Dasar genit!"


Aku mengerutkan hidung sambil mengedikkan bahu. "Entahlah. Mungkin, uhm..." Dengan perlahan kuarahkan tangan ke dadanya lalu perlahan turun ke perut hingga berhenti pada bagian antara kedua pahanya. Paul menggeram saat aku tiba-tiba meremas kejantanannya. "Aku merindukannya, Paul..." desahku, dan mencium bibirnya dengan serakah.


"Ah, dengan senang hati, love."