My Love Journey's

My Love Journey's
Betrayed.



Seminggu yang kulewati terasa mencekam dan menyakitkan. Aku belum pulang ke rumah Paul dan masih bertahan di rumah lamaku, hingga pagi tadi aku terpaksa keluar karena mempunyai jadwal dengan dokter kandungan. Paul tidak menghubungiku selama waktu itu dan begitu juga sebaliknya.


Setelah membaca semua berita yang bertebaran di media, aku bisa memahami kenapa dia semarah itu. Dampak dari perbuatan Louis memang mengerikan, persis seperti yang dikatakan Paul. Dia harus berurusan dengan polisi, klub di tutup, dan klub sepak bolanya meminta dia 'istirahat' sementara fokus mengurus masalahnya. Sudah tentu ini membuatnya gila. Aku tidak menyalahkan reaksinya, sudah sepantasnya dia marah.


Tapi, satu hal yang membuatku tak senang adalah dia melampiaskan kekesalannya dengan mengungkit sesuatu yang tidak masuk akal. Dia tahu aku selalu berusaha menghindari berita, terutama yang berkaitan dengannya. Hingga saat ini, meskipun kami telah menikah dan semua orang sudah mengetahuinya, tampaknya itu tidak menjadi penghalang untuk wartawan menulis artikel tentang kedekatannya dengan beberapa wanita. Ini, tentu saja, sesuatu yang tak ingin kuketahui, dan aku melakukan upaya terbaikku agar kami tidak bertengkar dengan menjauhi sumbernya. Dan, dia menyalahkanku untuk itu?


Aku menarik napas beberapa kali, turun dari mobil dan melihat Alfred sedang berbicara dengan Pablo di garasi. "Apa Paul di dalam?" tanyaku pada mereka.


Pablo dan saling melirik, terlihat gugup. "Yes, Ma'am." kata Pablo. "Tapi..."


"Okay. Terima kasih." Aku melangkah ke dalam rumah dan meninggalkan mereka tanpa berniat mendengar lebih lanjut.


Berjalan melintasi ruang tamu, aku melirik pintu ruang kerja Paul tertutup, jadi kuputuskan langsung ke kamar. Dan, aku pun dikejutkan oleh pemandangan paling mengerikan yang pernah kusaksikan seumur hidupku. Lebih mengerikan dibanding saat melihat ibuku pergi meninggalkanku.


Aku tidak bisa bernapas. Kedua mataku bolak-balik menatap dua orang di atas ranjang yang terkejut melihatku. Suamiku dan seorang wanita. Berciuman?


Aku mengerjap. Menutup mata dan menggoyangkan kepala berkali-kali, mencoba menyangkal penglihatanku dan berharap semoga pemandangan itu berganti saat aku membuka mat. Tapi, aku mendengar suara Paul menyebut namaku, kemudian diikuti suara seorang wanita berdeham.


Desiran dingin yang membuat mual mencengkeram perutku dan kepalaku terasa berputar-putar sementara aku bersandar di pintu. "Kumohon, Tuhan, ini hanya mimpi..." bisikku gemetar.


"Bianka,"


Aku menarik napas, membuka mata dan melontarkan kata-kata yang pertama kali melintas di benakku. "Oh, bagus sekali!" Dengan bibir bergetar, aku mencoba menatapnya.


Lalu, aku melihat wanita itu. Rasa bersalah membanjiri mata cokelatnya dan aku merasakan kemarahanku melonjak ke ketinggian yang menakutkan. Berlawanan dengan perkiraanku, dia berlari mendekat padaku, tatapannya memohon.


"Kau harus tahu, Mrs. Klug. Aku tidak..." Aku memotongnya dengan membanting kepalanya ke pintu di belakangku dan mencengkeram lehernya, kukuku menancap di kulitnya.


"Aku tidak harus mengetahui apapun. Yang kutahu adalah bahwa dibutuhkan dua orang bajingan untuk berselingkuh. Bukan hanya satu. Kau di sini sama bersalahnya dengan suamiku." kataku dengan jijik. "Kau tahu persis apa yang kau lakukan ketika kau memutuskan untuk naik ke tempat tidur dengan seseorang yang sudah menikah. Kau seharusnya malu dengan dirimu sendiri. Apa kau tidak punya moral?" Aku bertanya dengan kemarahan yang tidak bisa kutahan dengan baik, semuanya menyeruak begitu saja dari setiap pori-pori di tubuhku.


Dia membuka mulutnya untuk berbicara, tapi aku memotongnya sekali lagi. "Aku tidak ingin mendengar satu hal pun yang ingin kau katakan. Tolong, bantu aku dengan pergi dari rumahku sekarang juga." desisku sebelum melepaskan cengkeraman di lehernya.


"Bianka, please..." Paul memohon dan meraih tanganku. Dengan gerakan kasar aku menepisnya.


"Tidak. Tidak sekarang, Paul. Hatiku terlalu sakit untuk mendengar kau mencoba dan mengatakan omong kosong untuk membenarkan perilakumu yang tak termaafkan. Aku akan mengemas barang-barangku dan pergi." Aku mengutuk getaran yang mengiringi suaraku, tidak mampu lagi bertahan karena suara seraknya yang dulu selalu menenangkan kini menyelimuti tubuhku, membuatku kesulitan mengatur napas. Aku harus kuat untuk diriku sendiri. Dan, untuk anakku.


"Tak ada yang perlu dijelaskan!" semburku dan berteriak sekuat tenaga. Suaraku serak karena menahan air mata yang memohon untuk segera ditumpahkan. Saat menatap matanya, aku bisa mendengar retakan memekakkan telinga dari hatiku yang kini benar-benar hancur.


Noda lipstik tercoreng di kerah kemejanya dan rambutnya benar-benar berantakan. Aku tidak sanggup menahan isak tangis yang menyesakkan dadaku. Hatiku hancur berkeping-keping


Dia menggunakan momen kelemahanku untuk keuntungannya dan menarikku ke dadanya dengan lengan berototnya. Aku menolak, menendang, menjerit, dan memukul dadanya berulang-ulang. Meneriakkan kata-kata kotor padanya sambil melanjutkan pukulanku. Tubuhku melemas setelah beberapa saat dan aku hanya menerima kenyamanan yang dia berikan.


Aku benci ini. Setelah apa yang baru saja kusaksikan, dan setelah semua air mata yang telah kukeluarkan, pelukan dan aroma tubuhnya tetap berhasil menenangkanku.


"Love..." katanya, suaranya bergetar menahan air mata. Kemarahanku kembali meledak.


"Tidak! Kau tidak pantas untuk bersedih! Kaulah yang menyebabkan semua ini. Kau tidak boleh bersedih, marah, atau merasakan sesuatu selain perasaan bersalah dan malu. Dan, jangan menyentuhku!" Dengusku, melepaskan tangannya dariku. "Aku tidak akan memaafkanmu sampai kapan pun. Kita selesai. Aku akan menemukan cara untuk memberi tahu tentangmu pada anakku." gumamku putus asa.


"Baiklah, kalau memang itu yang kau inginkan." sahutnya, kerapuhan dalam suaranya tak cocok dengan sikapnya yang keras.


"Itulah yang kuinginkan." bisikku, berbohong.


Suara pintu yang menutup erat, meskipun tidak dibanting dengan kasar, bergaung dalam kehampaan kamarku. Getarannya menghempaskanku rubuh di lantai. Ketika mataku mulai berkunang-kunang, barulah aku tersadar akan apa yang baru saja terjadi.


Sungguh ironis. Aku tidak menyadari penghianatan yang dilakukan Paul, bahkan hanya dalam sebulan lebih usia pernikahan kami. Yang membuatku lebih sakit adalah kenapa dia tidak melakukannya lebih cepat, atau kenapa aku tidak mengetahuinya sebelum kami menikah?


Kenapa aku begitu bodoh sehingga tidak dapat melihat satu pun tanda-tanda pengkhianatan ini?


Ini tidak mungkin kehidupanku. Peristiwa semacam ini tidak mungkin terjadi pada wanita sepertiku. Aku cerdas, sukses, dan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk semua orang, bukan tipe pemarah dan sulit dipuaskan. Paul tidak pernah kekurangan pendengar yang baik atau saran bijaksana maupun kegiatan ranjang yang penuh gairah.


Aku tetap menggunakan pakaian dalam yang menggoda, selalu memberinya kebebasan dengan senang hati dan tanpa diminta. Aku tak pernah merendahkannya, atau mencibirnya, atau menertawakan kelemahannya. Aku selalu menghormatinya.


Kami sering berdiskusi dan menyayangkan pasangan-pasangan yang kami dengar telah bercerai karena perselingkuhan. Kami sepakat bahwa salah satu dari keduanya terlalu brengsek dan egois sehingga tak dapat mengendalikan diri, atau terlalu dominan. Kami selalu terkejut karena si istri jarang menyadari apa yang terjadi. Bagaimana mungkin dia sampai tidak mencurigai suaminya? Mengherankan.


Semua ini sungguh tidak masuk akal, dan demi Tuhan, aku benar-benar tidak mampu menemukan alasan mengapa aku sampai tidak sadar bahwa aku sedang kehilangan Paul.


Dengan sakit hati yang berusaha kutelan, aku mengusap air mata lalu bangkit dan mengeluarkan surat-surat berharga milikku dari dalam lemari, memasukkannya ke dalam ransel dan berjalan keluar dari kamar.