
Ketika Paul mengatakan ingin menghabiskan waktu denganku kemarin, aku tak tahu bahwa maksudnya adalah seharian penuh, dan aku tidak menyadari itu sampai dia muncul di depan rumahku jam sembilan pagi. Aku hanya mengenakan celana pendek dan kaus saat membuka pintu. Rambutku masih acak-acakan. Aku yakin penampilanku sangat tidak layak di pandang.
"Paul?" kataku, terkejut begitu melihatnya. Dia mengenakan celana jins hitam dan kaus abu-abu ketat yang menonjolkan otot-otot dadanya. Wow, aku benar-benar menyukai pemandangan ini.
Dia memandangku sambil tersenyum. "Hei,"
"Kenapa kau datang sepagi ini? Kupikir kita akan makan malam,"
Dia mengangkat bahu. "Aku tidak sabar ingin bertemu denganmu, love. Kuharap kau tidak keberatan."
Aku tersenyum. "Oh, tidak,"
"Ini untukmu." Dia mengulurkan sebuket bunga mawar merah lagi padaku.
"Thank you," Aku menerima bunga itu dan menariknya ke hidungku. "Ayo, masuklah."
"You look good," katanya selagi melangkah ke dalam rumah.
Aku terkekeh. "Jangan berbohong. Aku baru saja hendak sarapan. Mau bergabung?"
Dia mengangguk. "Sudah lama aku menantikannya."
Aku menyeringai. "Duduklah. Aku akan menyiapkan sarapanmu."
Dia duduk di kursi yang sama dengan saat pertama kali dia masuk ke rumahku. Aku bisa merasakan tatapannya tak beranjak dariku selagi aku menyiapkan makanan. Pagi ini aku membuat telur dadar, sosis panggang, dan kacang-kacangan. Aku juga membuat kopi untuk kami berdua.
"Terima kasih," katanya saat aku meletakkan piring berisi makanan di hadapannya. Aku membalas dengan senyuman dan duduk di sebelahnya. Louis datang ke rumahku semalam, tapi dia masih tidur. Aku tidak tahu apa yang dilakukannya di luar sana hingga membangunkanku jam dua pagi.
"Bagaimana harimu kemarin?" tanya Paul selagi kami menyantap makanan.
"Tidak ada yang spesial. Hanya bekerja dan keluar dengan Sebastian tadi malam." jawabku jujur. "Kau?"
"Buruk. Aku tidak tahu harus melakukan apa di sini, jadi kemarin aku mencoba jalan-jalan sendiri. Tapi sial, aku terjebak macet hingga hampir dua jam."
Aku tertawa. "Kau harus terbiasa dengan lalu lintas Jakarta." kataku santai. "Bagaimana dengan pekerjaanmu jika kau bertahan di sini?"
Dia memandangku. "Aku tidak perlu bekerja, Bianka. Lagi pula, aku mendapat tawaran menjadi pelatih klub sepak bola, aku lupa nama kotanya, tapi manajerku bilang jaraknya hanya enam jam berkendara dari Jakarta."
Aku membulatkan mata. "Apa? Apa maksudmu? Kau mau pindah kesini? Di Indonesia?"
Dia mengangkat bahu. "Kenapa tidak? Aku ingin bersamamu, dan kau bilang kehidupanmu ada di sini. Bukankah ini kesempatan yang bagus untukku? Untuk kita?"
Aku memandangnya dengan ekspresi syok selama beberapa saat. "Kau tidak harus melakukan itu, Paul."
"Aku tahu. Aku menginginkannya, dan aku benar-benar serius tentang keinginanku untuk kembali bersamamu, Bianka."
"Tapi... Bagaimana dengan ibumu? Thomas, Ellie, dan teman-temanmu yang lain? Terutama Carl. Kurasa dia tidak akan senang mendengar ini." tanyaku bingung. Aku tidak mau dia mengabaikan orang lain untukku.
"Manajerku sudah mengatur ini sebelum aku berangkat dari Jerman, dan ibuku sama sekali tidak keberatan. Thomas juga bisa memahami situasiku, karena dia yang memintaku mengejarmu kesini." katanya menjelaskan. "Kalau soal Carl dan teman-temanku yang lain, itu bukan masalah besar. Ini hidupku. Aku berhak menentukan dimana aku akan tinggal."
Tanpa sengaja mataku berkeliaran di sekitar wajahnya. Aku tidak percaya dia benar-benar seserius ini tentang memulai kembali hubungan kami. Dia rela meninggalkan kehidupan dan keluarganya di Jerman untuk pindah kemari. Untukku. Kupikir dia pasti mengetahui jika kami lebih sering menghabiskan waktu bersama, maka aku akan kembali padanya. Ini baru ketiga kali aku melihatnya setelah tiga tahun dan aku merasakan tubuhku sudah memohon kehangatan darinya. Aku menatap bibirnya sekilas. Oh, astaga, aku sangat ingin menikmati bibir itu.
Aku memaksa diriku menurunkan pandangan. Aku tidak tahu harus mengatakan apa.
"Aku tahu kita baru saja memulai ini," kata Paul dengan lembut. "Tapi aku siap untuk melanjutkan hidupku bersamamu kapan pun kau mau. Aku akan menikahimu lagi hari ini juga jika kau bilang iya."
Aku menatapnya. "Kau benar-benar serius," kataku pelan.
"Tentu saja."
Aku menopang dagu dengan sebelah tangan sambil memikirkan ucapannya. "Apa kau melamarku?" Aku merasakan degupan jantungku bertambah cepat.
Aku menutup mulut dengan kedua tangan, memandangnya dengan terkejut. Dia menunjukkan cincin tunangan yang dia berikan padaku dulu, cincin milik neneknya.
"Oh, Paul..."
Dia tersenyum. "Love, aku tidak memaksamu untuk memberi jawaban saat ini, tapi aku ingin kau mengerti bahwa aku benar-benar menginginkanmu kembali."
Aku menelan ludah. "Kau tidak adil."
"Aku tidak pernah berkata begitu," Dia mengedipkan mata padaku.
Ini terlalu cepat. Dan, ada satu masalah yang belum kuceritakan padanya soal ayahku. Selama ini ayahku tidak tahu bahwa Paul meninggalkanku untuk pertama kali karena aku gagal menjaga anak kami, dia hanya mengetahui alasan yang di katakan oleh Paul, bahwa dia mengalami kecelakaan dan tidak ingin membebaniku dengan keadaannya. Keadaan akan berubah mengerikan jika ayahku mendengar tentang hari itu.
Aku tidak pernah mengatakan itu padanya karena aku tidak mau dia membenci Paul. Saat itu aku selalu berpikir bahwa Paul akan kembali padaku. Well, pada akhirnya dia memang mendatangiku, tapi bukan pada saat yang kuinginkan.
"Love..."
Aku menggelengkan kepala. "Ada satu hal yang perlu kau dengar," kataku serius. Dia memasang wajah was-was, menungguku. "Ayahku... dia tidak pernah tahu bahwa kau meninggalkanku saat aku kehilangan anak kita."
Paul mengernyit. "Lalu?"
"Ini tidak akan mudah untuk kita jika dia mengetahuinya. Dia selalu mengira kau menceraikanku karena kau tak mau membebaniku, dan aku tidak pernah mengatakan alasan sesungguhnya kau pergi untuk pertama kali sebelum kecelakan itu." Aku menjelaskan dengan nada khawatir.
"Lantas, dimana letak masalahnya, Bianka?"
Oh, ya Tuhan, ini tidak akan mudah. "Aku mengenalnya, Paul. Percayalah, dia akan menentang hubungan kita jika dia mengetahui kejadian hari itu. Ayahku tidak akan menerimamu lagi."
"Apakah dia harus mengetahui itu?" katanya bingung.
"Tidak." jawabku. "Tapi, aku tidak yakin seseorang bisa menahan mulut mereka. Ibuku, Louis, kakak-kakak sepupuku, dan masih banyak yang lainnya yang mengetahui kenapa kau pergi menurut versiku. Aku tidak tahu bahwa kau mengalami kecelakaan, jadi yang kukatakan pada mereka adalah karena marah padaku. Sementara ayahku, aku belum sempat mengatakan padanya, dan dia tidak pernah bertanya kenapa. Hingga malam saat aku kembali dari hotel setelah bertemu denganmu dan ibumu, aku baru tahu bahwa kau sudah lebih dulu menghubunginya dan mengatakan bahwa kau mengalami kecelakaan. Sampai saat ini dia percaya itu alasan kita berpisah." kataku menjelaskan.
Dia terdiam selama beberapa menit memikirkan penjelasanku, kemudian menganggukkan kepala. "Baiklah, aku mengerti. Aku bisa memahami ketakutanmu, tapi kumohon jangan berhenti Bianka. Jika ayahmu tidak percaya padaku, maka aku akan berusaha membuatnya yakin dan menerima hubungan kita. Aku hanya perlu membuatnya percaya, kan?"
Aku menelan ludah, menatapnya dengan seksama. "Baiklah. Aku tidak tahu kapan, tapi hari itu pasti datang dan kita harus bersiap menghadapinya." gumamku serius.
Paul mengangguk. "Aku mencintaimu lebih dari apa pun di dunia ini. Kau satu-satunya wanita yang kuinginkan menemaniku sampai tua." katanya, memandang lurus ke mataku. "Jika tidak denganmu, maka itu tidak akan terjadi dengan wanita manapun. Percaya padaku, love. Aku selalu mencintaimu."
Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum. "You're unbelievable."
Dia meraih cincin dari konter lalu memasangkannya kembali ke jariku dan menciumnya. "I love you, always, Rapunzel."
"Apa aku melewatkan sesuatu?"
Kami berpaling untuk melihat Louis yang berjalan ke dapur. Dia baru saja bangun dengan wajah sembab dan rambut acak-acakan. Louis menatap Paul dan aku bergantian dengan mata membelalak. "No way."
"Yakinkan dia untuk menerimaku lagi, kau bisa?"
"Kau tidak menerimanya?" Louis bertanya padaku, terkejut. Aku hanya tersenyum tanpa mengatakan apa pun.
"Biar kubantu," Paul ikut berdiri saat aku membawa piring bekas makan ke wastafel. "Kita bisa melakukannya berdua sampai tua."
"Kedengarannya menyenangkan," balasku, memutar keran.
"Aku masih di sini," seru Louis dari samping kulkas.
"Kau mendengar sesuatu?" tanya Paul, berpura-pura.
Aku mengangguk, ikut permainannya. "Mungkin hantu lajang penunggu rumah ini,"
Louis mengerang dan mengumpat sementara Paul dan aku tertawa. Kuharap aku bisa merasakan suasana sehangat ini setiap hari.