My Love Journey's

My Love Journey's
Propose



Aku bangun lebih dulu dari Paul dan menggunakan kesempatan itu untuk menghibur mataku dengan pemandangan indah yang terpampang di wajahnya. Dalam hati aku mengucap syukur atas kebaikan Tuhan karena telah mengirimkan kepadaku seorang pria yang luar biasa mengagumkan. Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya, tapi yang kurasakan memang benar-benar ajaib. Hidupku nyaris berubah sepenuhnya sejak hari pertama aku bertemu dengan Paul. Tentu, tidak semua hari itu diisi dengan kebahagiaan, tapi aku tetap bersyukur Paul dan aku bisa melewati momen sulit hingga hari ini kami masih bersama.


Setelah merasa tenang dan puas memandangi wajahnya, dengan pelan aku beringsut turun dari ranjang, membiarkannya tidur lebih lama. Kemudian kuselipkan hoodie miliknya dan celana piyamaku ke tubuhku sebelum masuk ke kamar mandi untuk menggosok gigi.


Hari ini kami harus pulang ke kota, kembali ke rutinitas yang sebenarnya, meninggalkan surga tersembunyi di desa kecil ini dan juga keluarganya yang penuh kehangatan.


Saat tiba di bawah, aku tidak melihat siapapun dan segera menyadari kalau semua orang masih tidur. Jadwalku bekerja di rumah sakit membuatku terbiasa bangun pagi, aku selalu bangun meskipun tidak memiliki jam kerja di pagi hari.


Kemudian kuputuskan melangkah ke dapur dan membuat teh untuk Paul dan aku, lalu aku akan membangunkannya. Tepat saat aku hendak menuang air panas ke dalam gelas yang terbuat dari keramik di depanku, aku merasakan kehadiran dua tangan memelukku dari belakang.


Aku tersentak, beruntung tidak sampai menumpahkan air. Aku menoleh kebalik bahu dan mendapati Paul yang tanpa mengenakan kaus sedang menyeringai genit padaku.


"Selamat pagi," suaranya yang serak dan dalam yang kini terdengar lebih seksi seketika memecah keheningan, diikuti satu tawa kecil lolos dari mulutku.


"Hati-hati, Paul. Aku nyaris membakar tanganku dengan air panas." Aku menggelengkan kepala lalu kembali memutar kepala ke depan. "Aku sedang membuat teh untuk kita."


"Apa kau tahu apa yang kurindukan sekarang?" Bibirnya mendarat di ceruk leherku, membuatku menelan ludah selagi menuang air.


"Apa itu?"


"Sarapan yang kau buat. Seperti hari itu saat aku menginap di rumahmu. Sial, Bianka... kau bisa memenangkan Master Chef dengan menu itu." Dia melabuhkan satu ciuman pada titik sensitif di bawah telingaku sementara aku berjuang menahan diri.


Dengan dadanya yang menempel di punggungku, satu tangan Paul menyelinap masuk ke dalam hoodie yang kukenakan, berhenti tepat di bagian bawah dadaku.


"Benarkah? Terima kasih."


Dia menekan bokongku dengan pinggulnya, menyiratkan apa yang sedang diinginkannya sekarang. Aku tahu dia tidak mengenakan kaus, tapi aku belum melihat bagian bawah tubuhnya. "Ayo kembali ke kamar..." bujuknya, nafasnya yang panas membelai leherku, membuatku merinding dan membangunkan gairahku.


Sekarang tangannya naik menangkup dadaku, lalu meremas pelan dan memainkan telapak tangannnya disana. Aku merasakan panas yang amat membakan pada sentuhannya yang ahli.


"Bagaimana dengan teh ini, Paul?" Aku tersenyum, meski tahu dia tidak melihat ekspresiku. Tak perlu diragukan lagi, Paul benar-benar mengerti cara menggodaku. "Aku tidak mau meminumnya dalam keadaan dingin." sambungku, lalu mendesah ketika dia kembali mencium bagian bawah telingaku.


"Maka kita bisa menghangatkan yang lain sebentar, bukan begitu, love?" Aku tertawa, dan dia menyeringai di kulitku. "Kau harum sekali. Kenapa kau bisa seharum ini, Bianka?" gumamnya, menjalankan bibirnya ke rahangku sementara tangannya mendekapku lebih erat hingga aku benar-benar terjepit di antara konter dan tubuhnya yang keras.


"Berhenti mengendusku, Paul." godaku genit, lalu mengangkat gelas. "Kau pakai celana, kan?" Pikiranku mulai merayap kemana-mana saat dia meremas dadaku lebih keras.


"Berputarlah dan lihat sendiri, kau..."


"Ya Tuhan!"


Kami langsung menoleh ke pintu dapur, dimana Thomas dengan raut syok sedang berdiri sambil menutup mata Ellie.


Paul menghela nafas lalu mundur selangkah sementara aku dengan perasaan malu yang sangat besar menopang tubuhku di konter. Thomas memandang kami dengan seksama sebelum perlahan melepaskan tangannya dari wajah anaknya. Dia menegakkan tubuh lalu berdeham selagi Ellie menghampiri kami.


"You were touching his titties again, (Kau menyentuh dadanya lagi)." kata Ellie dengan polos, seketika membuat situasi semakin canggung.


Pipiku memanas, dengan mata terbelalak aku melihat reaksi Thomas. "Apa maksudnya lagi?" Dia mengeryit menatap Paul yang tampaknya sangat terhibur. Dalam hati bersyukur karena dia mengenakan celana.


"Hai, Bianka!" Ellie tiba di depanku dan langsung memeluk pahaku.


"He-hei," Aku melepaskan tawa gugup. "Apa tidurmu nyenyak?"


"Ya." Ellie mendongak menatapku sambil mengedipkan mata. Aku mengangkat alis sedikit, lalu tertawa halus dan bersyukur dia tidak mengatakan kejadian semalam pada ayahnya.


"Kau benar-benar perlu mengendalikan semangatmu, Paul. Ada anak kecil di rumah ini." kata Thomas mengingatkan, lalu dia menggeleng pelan sembari tertawa. "Sayang sekali kalian harus kembali hari ini, Ellie benar-benar terpikat padamu." Thomas berpaling menatapku dan tersenyum.


Dengan perasaan malu yang masih terasa, aku mencoba tersenyum untuk membalasnya. "Kita pasti akan berjumpa lagi..."


Ketika Ellie melepaskan diri dariku, Paul mengambil kesempatan untuk menggantikannya dan merangkul pinggulku sementara Thomas berbicara. "Kurasa juga begitu," katanya, lalu mendorong dagunya ke arah Paul. "Karena pria ini juga tampaknya sudah tergila-gila padamu."


Paul tertawa. "Tak perlu diragukan lagi," desisnya dengan bangga.


"Daddy, sarapan!" cetus Ellie tak sabaran mencoba menarik perhatian ayahnya.


"Okay. Apa yang kau inginkan, sayang?" tanya Thomas penuh cinta lalu menuntun Ellie menuju kulkas.


"Ayo kembali ke kamar dan bawa tehnya, love." bisik Paul, diam-diam mencium keningku. "Aku..."


"Ah, sempurna! Kalian sudah bangun..." Ibu Paul berseru dari ambang pintu dapur, dan aku merasakan Paul melepaskan pegangan tangannya dari pinggulku seraya menghembuskan nafas putus asa.


"Selamat pagi," Aku melempar senyum pada ibunya yang kemudian dibalas.


"Tolong kalian atur meja makan, aku akan menyiapkan sarapan." gumamnya kepada kami selagi Ellie memeluknya.


Aku berpaling menatap Paul yang tampak sangat kesal. "Hei, jangan marah. Aku akan membayarnya malam ini dengan menginap di rumahmu, bagaimana?"


Ekspresinya perlahan mencerah, lalu dia tersenyum penuh semangat. "Fastastic, love." Dia menoleh ibunya. "Aku akan membantu kalian setelah mengganti pakaian. Oh, Bianka paling jago dalam menyiapkan sarapan, mom." gumamnya, lalu melabuhkan satu ciuman di kening ibunya.


"Bianka, bagus sekali! Kemarilah, bantu aku, sayang." Ibu Paul memintaku mendekat dengan gerakan tangan. Aku menurutinya.


***


"Aku pasti akan sangat merindukan ibumu, dia benar-benar luar biasa." kataku sambil menghela nafas, duduk di kursi penumpang mobil mewah Paul.


Sebelah tangannya terjulur menyentuh pahaku. "Dia sangat menyukaimu. Kami membicarakanmu semalam, dan..." Paul tiba-tiba berhenti, rautnya terlihat seakan hendak mengatakan sesuatu, lalu dia terkikik. "Well, intinya dia menyukaimu."


"Apa tanggapannya tentangku, Paul? Apa dia mengatakan sesuatu?" Aku memutar kepala menatapnya dengan alis mengernyit bingung.


"Hanya beberapa pujian yang menandakan dia sangat menyukaimu dan betapa dia senang dengan hubungan kita." sahut Paul. Entah kenapa aku merasa dia masih menyembunyikan sesuatu, tapi kubiarkan semata-mata karena aku tak mau merusak suasana tenang ini.


Pandanganku mengarah pada Frosty yang saat ini tidur di pangkuanku, dia terlelap beberapa saat setelah Paul menjalankan mobil sementara aku mengusap-usap kepalanya. Selagi aku sibuk memandang Frosty dengan perasaan iri karena dia tampak sangat damai, Paul lanjut berbicara. "Beberapa menit lagi kita akan berhenti sebentar."


"Oh, okay."


"Ada sebuah taman yang sangat indah, aku sering menghabiskan waktu disana dan aku ingin mengajakmu jalan-jalan..." katanya memberitahu, tatapannya terpaku pada jalanan.


"Jalan-jalan?"


"Ya, hanya jalan-jalan. Tidak lari, aku janji..." Dia menyeringai lebar.


"Bagus. Jalan-jalan sepertinya menyenangkan." balasku. "Apa ada sesuatu yang mengganggumu?"


"Huh?"


"Kau terlihat seolah sedang memikirkan sesuatu, Paul. Apa ini ada hubungannya dengan rencana kita tinggal bersama?" tanyaku penasaran.


"Apa kau mencoba menyimpan rahasia lagi dariku, Paul?" Suasana hatiku yang baik mendadak menguap. "Kumohon, jangan bermain api lagi denganku. Terakhir kali hubungan kita hancur karena kau yang menyebabkannya, dan aku tidak mau itu terjadi lagi."


"Tidak akan, Bianka. Aku janji." Dia menghembuskan nafas. "Dengar, tenanglah sampai kita tiba di taman. Jalan-jalan disana sebentar, lalu langsung kembali ke kota. Okay?"


"Paul..."


"Aku mencintaimu. Sangat." katanya dengan nada yang membuatku percaya sesuatu yang buruk akan terjadi. "Aku benar-benar bahagia bisa menghabiskan waktu bersamamu, keluargaku, dan juga teman-temanku. Itu sangat berarti untukku."


Aku mengalah, tersenyum padanya dan meraih tangannya. "Aku juga mencintaimu."


Sekitar empat menit kemudian, kami tiba di taman yang dimaksud Paul. "Berapa lama rencana jalan-jalanmu? Aku tidak mau Frosty mati lemas di dalam mobil."


Aku berjalan mengikuti Paul masuk ke dalam sebuah taman yang memang indah, persis seperti yang dia bilang. Beberapa pohon rimbun tampak disana-sini. Andai aku tidak mempercayainya, aku pasti berpikir dia sengaja membawaku ke sini untuk membunuhku, karena letaknya begitu tersembunyi.


"Frosty pasti baik-baik saja. Aku membiarkan kaca mobil terbuka sedikit." Dia terkekeh, sesaat menoleh ke belakang untuk memastikan apakah aku masih mengikutinya. "Sudah sampai." katanya.


Aku menghampirinya lalu berhenti di dekatnya. Seketika mataku membulat. Aku menatap takjub pada pemandangan alam paling indah yang pernah kusaksikan seumur hidupku. Kami berdiri di tepi tebing, menghadap ke lautan luas yang membentang sejauh jangkauan mataku.


Terdapat sebuah kursi kayu yang tampaknya sudah sangat tua, kesanalah Paul menggiringku. Kami duduk bersebelahan. Perhatianku masih terpaku sepenuhnya pada keindahan yang ada di hadapanku.


"Indah, kan?" Aku bisa mendengar senyum di suaranya. Aku memutar kepala menoleh Paul yang juga sedang menatapku lekat-lekat.


"Sangat. Bagaimana kau bisa tahu tempat ini?" tanyaku.


"Well, rumah kami tak jauh dari sini. Oh, omong-omong, ini tempatku berciuman untuk pertama kalinya. Di kursi ini."


Aku tertawa. "Wow, romantis sekali..."


Dia tersenyum malu-malu. "Tidak seromantis yang ada di pikiranmu, love. Tepat setelah aku menciumnya, gadis itu menangis dan berlari meninggalkanku. Aku duduk disini selama beberapa jam, memikirkan apa yang salah."


Paul melempar pandangan ke depan sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Kedua tangannya bergerak gelisah di atas pahanya, entah kenapa dia terlihat gugup.


"Apa yang kau pikirkan?" tanyaku lembut, detak jantungku berdegup lebih keras selagi aku bertanya-tanya dalam hati kenapa dia membawaku ke tempat ini.


"Aku senang menikmati ketenangan, love. Lihatlah samainya suasana disini. Tidak ada deru suara mobil, atau kebisingan apapun. Hanya kita dan alam. Dan juga, aku sedang mengingat saat dimana aku berjanji pada diriku sendiri kalau suatu hari aku akan membawa wanita yang kucintai ke tempat ini. Saat itu aku masih tiga belas tahun, dan sudah memikirkan seseorang sepertimu..."


Tidak. Bukan ini yang kubayangkan akan terjadi. Mendadak air mataku menggenang merespon kalimatnya yang menyentuh.


"Love, jangan menangis." Paul terkekeh lalu mengulurkan tangan untuk menyapu air mataku yang baru saja menetes.


"Paul, aku..."


"Tunggu, kumohon biarkan aku menyelesaikan ucapanku." gumamnya lembut. "Aku sudah merencanakan ini bertahun-tahun yang lalu, membawa wanita yang kucintai ke tempat ini tanpa mengetahui siapa orangnya." Dia tergelak sambil menggeleng tak percaya pada dirinya sendiri.


"Paul..." desisku dengan suara gemetar.


Aku mencintainya setiap detik yang kami lalui bersama sampai rasanya sangat menyiksa namun dengan cara yang menakjubkan.


Paul berdeham, lalu berdiri dan berlutut di hadapanku. Tatapan matanya tak beranjak sedikitpun dariku, memandang air mataku yang kembali turun. "Maaf, maaf..." kataku berbisik dan mengusap pipiku sendiri.


"Love," panggilnya, menarik perhatianku kembali. Senyumnya melebar. "Aku ingin mengatakan kalimat romantis seperti, kau telah berhasil merubah hidupku, atau aku tak pernah mencintai seseorang sekeras ini... tapi yang ada di benakku sekarang adalah aku tidak bisa berhenti memikirkan betapa aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Aku ingin selalu berada di dekatmu, aku ingin kau menjadi ibu dari anak-anakku, aku ingin melihatmu berkeliaran di rumahku setiap hari..."


Aku tertawa di sela-sela isak tangis, dan dia tersenyum. Kemudian Paul sebuah kotak beludru hitam kecil dari saku jaketnya, membukanya dan mengulurkannya kepadaku. Satu cincin berlian terlihat begitu menyilaukan di terpa sinar matahari. Seketika aku mengangkat tangan untuk menutup wajahku dan menangis lagi.


"Bianka, maukah kau menikah denganku?"


Aku mengangguk penuh semangat, satu hembusan nafas bahagia lolos dari mulutku sebelum aku menghambur padanya, lalu memeluknya dengan erat. Dia balas memelukku dengan satu tangan sementara tangannya yang lain masih memegang cincin.


Dengan air mata bahagia yang terus membanjiri pipiku, aku menangkup rahangnya dan menciumi seluruh wajahnya, yang berakhir dengan satu ciuman dalam dan lama di bibirnya.


"Apa ini caramu mengatakan 'Ya'?" tanya Paul, mencoba memastikan jawabanku. Aku mengurai pelukan, berjuang mengendalikan diriku sendiri. "Love, tenanglah... Kau akan membuatku menangis kalau terus begini." gumamnya lembut seraya tersenyum.


Alih-alih mengatakan sesuatu, aku justru kembali memeluknya dengan erat untuk menyatakan betapa aku bahagia dan bersyukur karena menemukan pria luar biasa seperti dirinya.


Kami saling memeluk selama beberapa menit. Paul dengan tangannya yang besar namun selalu hangat, mengusap punggungku. Memberiku kesempatan untuk menenangkan hatiku yang terlampau bahagia sampai rasanya jantungku hendak melompat keluar dari dadaku.


"Ya, Paul." kataku setelah menarik diri darinya.


"Ya?" Sebuah senyum paling manis terbit di wajahnya yang tampan sementara matanya memancarkan kilat menyilaukan


"Ya, aku mau menikah denganmu."


Dia menangkup wajahku dengan sebelah tangan lalu menerjang bibirku. "Terima kasih, Bianka. Terima kasih..." gumamnya di mulutku, menciumku lagi. "Kupastikan kau tidak akan menyesal."


"Aku tahu." bisikku.


Semenit kemudian, dia memasangkan cincin itu ke jari manisku. Agak kebesaran, tapi tidak sampai membuatnya terlepas. "Ini cincin nenekku. Ibuku memberikannya semalam saat kami mengobrol sebelum kita pergi ke bar." dengkur Paul.


"Oh." Ternyata itu alasannya memintaku menunggu di mobil tadi malam dan tak mau memberitahuku apa yang mereka bicarakan.


"Aku akan menyesuaikan ukurannya dengan jarimu, love. Aku hanya... aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan selagi kita berada disini."


Tak mau membalas dengan kata-kata, maka aku pun menciumnya kembali. Kemudian kuturunkan pandangan ke tanganku. Aku memandang kagum pada cincin itu. Well, berliannya terlalu besar dari yang pernah kuinginkan untuk sebuah lamaran, tapi aku tidak keberatan sama sekali karena Paul yang memberikannya. Lagi pula, cincin itu terlihat sangat indah.


Aku mendongak menatap Paul. "Terima kasih, Paul. Aku sangat bahagia sekarang."


"Aku senang mendengarnya, love."


"Hei, kau menangis?" tanyaku sembari menaikkan alis, aku bisa melihat dengan jelas air matanya menggenang sebelum dia berkedip. "Paul?"


"Tidak, love." Dia menggeleng sambil mengeluarkan tawa halus. "Anginnya terlalu kencang."


"Oh, ayolah! Semua orang berkata begitu." Aku menghela nafas, memperhatikannya. "Kenapa kau menangis?"


"Aku tidak menangis." cetusnya.


"Hampir, aku yakin sempat melihat air matamu." kataku, tersenyum lembut.


"Itu karena kau terlalu cantik, Bianka."


Aku memeluknya. "Terima kasih, Paul. Aku mencintaimu."


"Aku lebih mencintaimu, love."