My Love Journey's

My Love Journey's
About Student Loan



Mengerahkan setiap sel otak di kepalaku untuk berkonsentrasi pada pekerjaanku di rumah sakit adalah satu-satunya hal yang membuatku setidaknya bisa mempertahankan kewarasan saat ini. Aku bekerja seperti orang gila agar bisa menghilangkan Paul dari benakku.


Berbagai macam pertanyaan tentangnya menumpuk di pikiranku hingga saat ini. Kenapa dia melakukan itu padaku? Tentu, aku tahu dia memikirkan situasiku jika kami terus bersama, tapi sekarang rasanya lebih menyakitkan lagi, terutama setelah melihatnya pergi meninggalkanku begitu saja. Tanpa mengatakan apapun.


Intinya, hubungan kami benar-benar sudah berakhir. Kuharap itu keputusan terbaik untuk kami berdua.


Kalau boleh melupakan semua kerumitan dalam hubungan Paul dan aku, sejujurnya aku merasakan kebahagiaan ketika bersamanya, dan rasanya agak sedikit aneh mengingat aku takkan mungkin lagi mendapatkan kebahagiaan semacam itu. Aku sudah jatuh terlalu dalam padanya, bagiku dia sudah seperti rumah dimana aku ingin pulang dan merasa tenang di dalamnya.


Well, waktu yang akan mengobati semua perasaan sakit yang kurasakan, aku percaya itu.


"Hei, Bee..." Stacey menyapa lalu memelukku begitu aku tiba di meja yang sudah dipesannya untuk kami, di sebuah restoran kecil yang letaknya tak jauh dari rumah sakit.


Aku balas memeluknya, dalam hati bersyukur karena mengerti makan siang bersama Stacey merupakan satunya-satunya hal yang kubutuhkan sekarang. Akan ada begitu banyak tawa menyelip di sela-sela obrolan. "Hei..."


Aku belum menceritakan apapun soal Paul kepada temanku yang lain. Tapi Stacey, seperti biasanya, dia selalu menjadi orang pertama yang kucari setiap kali aku membutuhkan teman berbagi. Jadi, dia sudah mengetahui soal hubunganku dengan Paul. Dia juga tahu Paul meninggalkanku lebih dari seminggu yang lalu.


Stacey memberiku satu senyuman yang menyiratkan dukungan begitu pelukan kami terlepas. "Kau terlihat luar biasa." katanya.


Aku mengeluarkan tawa kecil sambil menyelipkan anak rambutku ke belakang telinga, lalu kami duduk berseberangan.


"Oh, ya, aku sudah memesan makanan untuk kita." dengkurnya ringan. "Bagaimana harimu? Menyenangkan atau memuakkan?"


"Well, semuanya berjalan normal. Dr. Grey sedang sakit, jadi aku berkeliling memeriksa pasien dengan Travis. Harus kuakui, dia teman yang menyenangkan." gumamku padanya seraya tersenyum lembut.


"Kau dan Travis? Apa ada sesuatu di antara kalian, atau?..." tebak Stacey, membuatki tertawa dan menggelengkan kepala.


"Tidak, say. Aku tidak tertarik menjalin hubungan dengan siapapun sekarang, lebih baik memusatkan perhatian pada studi dan pekerjaanku." jawabku jujur, memang itu yang ada di pikiranku.


"Bagus, aku mendukungmu."


Kami bercakap-cakap dengan santai dan aku bersyukur Stacey tidak menanyakan apapun soal Paul. Sudah kubilang, dia paling mengerti perasaanku dibanding siapapun.


Satu yang baru kuketahui, yaitu Stacey sudah resmi menjalin hubungan dengan Elise. Itu membuatku bahagia, mendengar celotehnya tentang hubungan mereka merupakan suatu pengalihan yang paling mujarab untukku.


Setelah menghabiskan makan siang, dia pamit ke toilet sementara aku memesan kopi untuk kami berdua. Lalu, tiba-tiba ponselku bergetar di atas meja.


From: Valerie: Hei! Apa kau keberatan kalau aku menginap di rumahmu malam ini? xx


To: Valerie: Sama sekali tidak. Tunggu, kau baik-baik saja, kan?


From: Valerie: Yep. Kita belum bertemu lagi sejak di Rusia. Aku merindukanmu :) x


***


"Paul curhat ke Carl, dan Carl menceritakannya semuanya padaku." Valerie menjelaskan perlahan saat obrolan kami mendarat pada gelas wine ke tiga.


"Oh. Uhm... Val, aku sungguh menghargai niatmu untuk menghiburku dan membuatku merasa lebih baik, tapi aku sangat tidak ingin membahas apapun tentang Paul." gumamku dengan sengaja menyelipkan nada memohon agar dia mengerti.


Valerie mengangguk paham seraya menaikkan sudut bibirnya. "Baiklah, aku mengerti." katanya.


Dia kembali menghilang dari peredaran. Tak ada satupun berita mengenainya. Banyak sekali orang yang penasaran dan bertanya-tanya apa yang membuatnya sembunyi terlalu lama. Beragam spekulasi bermunculan di media, tapi tidak ada jawaban yang mendekati kebenaran.


Aku juga sempat mendengar Paul sudah kembali berlatih dengan klubnya setelah Piala Dunia berakhir.


Aku telah memutar daftar putar acak dan santai di shuffle spotify untuk menemani obrolan kami, lalu terdengar suara merdu Chris Martin menggema melalui pengeras suara di rumahku.


"Kau suka Coldplay?" tanya Valerie saat lagu 'A Sky Full Of Stars' memasuki refrain pertama.


"I love Coldplay," jawabku sambil menyeringai, menikmati perubahan ekspresinya yang mendadak cerah.


"Aku juga!"


Beberapa jam berikutnya, setelah menghabiskan bergelas-gelas wine, Valerie dan aku sudah berbaring di ranjangku. Aku merasa kesepian semenjak hubunganku dengan Paul berakhir, jadi entah Valerie sadar atau tidak, tapi kehadirannya cukup membuatku senang. Tentu aku masih punya Frosty, tapi tidak mungkin aku mengajaknya mengobrol sambil minum wine. He!


Aku melirik jam dinding yang menunjukkan angka tiga dini hari, lalu kulihat Valerie yang terlelap di sampingku sejak tadi sementara mataku masih segar. Kemudian kuputuskan turun untuk segelas susu hangat dan ikut serta membawa laptopku.


Aku menghempaskan bokong pada salah satu kursi di meja dapur, lalu membuka website pinjaman mahasiswa. Aku sudah membayar cicilan kemarin dan hendak memeriksa berapa sisa pinjaman yang harus kulunasi. Selagi menunggu laman terbuka, kutuang susu ke dalam gelas. Satu-satunya sumber penerangan di dapur rumahku merupakan cahaya dari layar laptopku.


Aku membeku hingga tanpa kusadari gelas sudah meluncur dari tanganku dan menghantam lantai, menimbulkan bunyi berdenting yang sangat keras saat aku mengamati layar laptopku dengan seksama.


Aku membaca satu kalimat 'Anda tidak memiliki pinjaman saat ini'.


Aku menghabiskan waktu hingga sepuluh menit lamanya merefresh laman pinjamanku. Ketika menyadari kalau aku benar-benar tidak memiliki pinjaman lagi, aku melangkah melewati pecaham kaca dan susu yang berserakan di lantai lalu berlari menaiki anak tangga untuk membangunkan Valerie.


Malang bagi Valerie, dia harus membantuku membereskan kekacauan yang kubuat secara tak sengaja. Kemudian dia duduk dan ikut mengamati layar laptopku. "Aku yakin ada yang salah dengan ini. Pinjamanku masih sangat banyak, aku baru membayarnya beberapa kali, Val... bahkan belum sampai setahun dari total 48 kali pembayaran setiap bulan." cetusku sambil melangkah gelisah di belakang Valerie.


"Ini soal uang, Bianka. Tidak mungkin mereka melakukan kesalahan." kata Valerie, "Disini tertulis kau sudah melunasi semuanya dalam satu kali pembayaran. Dua hari yang lalu."


"Tidak mungkin..." Aku benar-benar tidak percaya ini. Aku melangkah ke samping Valerie dan dia menunjukkan apa yang dibacanya padaku. "Tidak, ini pasti salah. Aku harus menelepon pihak bank."


"Sekarang? Kau gila? Bank mana yang buka di pagi buta seperti ini?" Dia menguap lalu memutar arah menghadapku.


Aku merasa sungkan karena sudah mengganggu tidurnya. "Aku minta maaf sudah membangunkanmu. Sekarang, kembali ke atas dan lanjutkan mimpimu yang terputus." gumamku, sedikit bergurau.


Dia terkekeh. "Apa kau yakin?" tanyanya dengan nada lelah.


Sambil memikirkan satu kemungkinan yang melintas di benakku, aku mengangguk. "Ya, ya. Terima kasih sudah membantuku."


"Ah, itu bukan apa-apa. Kau juga harus tidur, jadi jangan terlalu lama disini, okay? I love you, good night."


"Good night."


Saat Valerie sudah menghilang dari pandanganku, aku meraih ponsel dan mengirim pesan pada satu-satunya orang yang bisa kutuduh dalam hal ini.


To: Paul: Apa yang sedang kau lakukan padaku, Pria Sialan?!