My Love Journey's

My Love Journey's
Come Back Home.



"Apa kau gugup, Bianka?" Paul menghampiriku setelah aku menutup pintu mobil. Aku merasa tubuhku mulai gemetar saat ini, nyaris kelimpungan di atas kakiku sendiri.


Aku menarik napas dalam-dalam. "Ya, sangat." Tatapan kami beradu begitu Paul berdiri di hadapanku.


"Aku berada disini untukmu," katanya, mencoba menenangkanku. Menyisipkan sejumput rambutku ke belakang telinga. "Satu-satunya yang perlu kau cemaskan adalah, apakah ayahmu akan menyukai hadiah yang kita bawa atau tidak."


Aku mengangguk, tawa kecil lolos dari mulutku. "Dia pasti menyukainya. Dia fans berat sepak bola, dan amat mencintai cokelat."


"Benarkah? Kalau begitu, berarti tidak ada yang perlu kita cemaskan."


Caranya mengatakan 'kita' membuatku sedikit lebih tenang. Itu sungguh menjelaskan kalau dia berada di sini untukku, dan mendukungku. Perasaan yang diberikannya untukku, secara mental dan fisik, nyaris membuatku masuk ke dalam kesimpulan kalau itu merupakan perasaan cinta.


Caranya memandangku, menyentuhku, selalu tampak seakan dia bisa membaca pikiranku tanpa perlu kuberitahu. Dia terlalu baik melakukannya.


Aku memiliki semacam ketakutan kecil sesuatu yang buruk akan terjadi nanti. Itu mungkin karena aku tidak pernah merasakan sesuatu sebaik ini, atau bisa juga karena hal lain. Pada titik ini, aku sungguh percaya pada Paul. Dia membuatku merasa aman, nyaman, dan dipedulikan, namun pada saat yang bersamaan aku juga berdebar karena pesonanya begitu mengagumkan. Aku akan kehilangan banyak hal jika memang sesuatu yang buruk terjadi setelah ini, dan bukan tidak mungkin hidupku akan kacau kedepannya.


Aku menekan bel pintu rumah ayahku yang tampak hangat dan tenang, jenis rumah yang sempurna jika ditilik dari letaknya jauh dari kota, dikelilingi oleh tanah lapang dan hutan sejauh mata memandang. Aku bisa mendengar gumaman pelan dari dalam rumah, kemudian bunyi derap langkah mendekat yang seketika membuat jantungku berdegup lebih kencang. Rasanya sangat lama hingga pintu benar-benar terbuka.


Wajah Louis muncul di ambang pintu. "Bianka," Dia terlihat lebih kurus dari sebelumnya, kantung mata tebal dan lebih hitam dari yang pernah kuingat, namun senyumnya masih tetap sama.


Aku membalas senyumnya. "Louis, kenalkan kekasihku, Pa..."


"Aku tahu siapa kau," Dia mengalihkan pandangan ke arah Paul. "Ah, senang sekali rasanya bisa berjumpa denganmu."


Paul mengangguk seraya menunggingkan senyum tipis, lalu mengangguk saat mereka berjabat tangan. "Senang berjumpa denganmu juga."


Hal berikutnya yang kutahu terjadi, Louis maju selangkah dan menarikku ke dalam pelukannya. Dengan ragu-ragu, aku balas memeluknya. Ingatan ketika dia berteriak padaku dan mendekatiku sambil memegang pisau muncul begitu saja di benakku, sebisa mungkin aku menyingkirkan semua bayangan itu. "Aku merindukanmu, Bee." gumamnya, mengeratkan pelukan.


Dengan semua yang pernah terjadi di antara kami sebelum hari ini, Louis tetaplah adikku, dan aku tetap menyayanginya. "Aku juga merindukanmu." balasku, menarik diri. Aku menghadiahinya sebuah senyum tulus sambil memperhatikan seluruh wajahnya sejenak.


Kemudian, Louis berdeham. "Ayo masuk." katanya kepada kami. "Lucy sedang ke supermarket, dia akan kembali sebentar lagi, dan dad sedang menonton."


Paul dan aku mengikutinya ke dalam. Ayahku pindah ke rumah ini saat aku dan Louis memutuskan untuk tinggal sendiri. Aku hanya mengunjunginya beberapa kali, dan kebanyakan kenangan saat itu dipenuhi oleh Louis yang selalu mengancam kami agar memberinya uang untuk membeli obat-obatan. Itulah kenapa aku agak takut berada disini.


"Siapa Lucy?" tanyaku sambil mengedarkan pandangan.


"Kekasihku." Louis berbalik dengan senyum ceria menghiasi wajahnya. "Aku bertemu dengannya di pusat rehabilitasi. Dia gadis yang menyenangkan."


"Oh, kedengarannya bagus." Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Aku merasa seolah ikatan yang kuat tentang persaudaraan kami sudah hancur, dan sekarang dia terasa seperti orang asing bagiku.


Aku merasakan Paul mengusap punggungku sementara mendengar suara ayahku dari ruang keluarga. "Bianka, apa itu kau?"


Aku mengalihkan tatapan ke dalam, tersenyum mendengar suaranya yang amat kurindukan. "Hei, dad! Aku merindukanmu. Sudah lama sekali rasanya." Aku melangkah maju menghampirinya seraya membuka tangan lebar-lebar sementara dia juga mendekat.


"Putri kesayanganku sudah datang rupanya." katanya sambil memelukku. "Kau terlihat lebih bersinar sejak terakhir kali kita bertemu. Apa kabarmu, sayang?"


Aku menganggukan kepala setelah pelukan kami terlepas. "Aku baik-baik saja." Kulihat ayahku sedikit lebih gemuk, rambutnya yang memutih tampak menyilaukan, berlawanan dengan mata birinya. "Bagaimana denganmu, dad?"


"Selalu luar biasa, sayangku." sahutnya, lalu menelengkan kepala menatap Paul. "Ah, Paul Klug! Legenda sepak bola kita."


Senyumku semakin melebar saat melihat ayahku menarik Paul untuk memeluknya dan Paul melakukan hal yang sama. "Senang berjumpa denganmu, sir. Aku sudah mendengar banyak hal tentangmu." kata Paul dengan nada santai. Aku yakin akan setenang itu jika bertemu dengan orang tuanya.


"Oh, kumohon, panggil saja Danny. Maaf, Paul... tapi harus kubilang kalau aku sedikit kecewa karena kau tidak berada di Rusia sekarang."


Aku menyambar sebelum Paul sempat bersuara. "Itu bukan salahnya, dad." kataku, masih tersenyum. Ayahku hanya berniat menggoda Paul. Berniat menguatkannya, aku memeluk Paul, membiarkan dia merangkul bahuku.


Aku tahu dia sendiri masih marah karena tidak bisa membantu teman-temannya di Rusia, jadi aku khawatir ucapan ayahku mungkin agak menyinggungnya meskipun dia tidak menunjukkan perubahahan ekspresi yang menyatakan demikian.


"Salahkan kakiku, sir." gumam Paul sedikit bergurau. "Kalau semuanya sesuai dengan rencana, aku akan terbang ke Rusia pada hari Minggu."


"Aku tidak pernah meragukanmu, Paul. Kau pasti membawa jerman keluar sebagai pemenang di Piala Dunia tahun ini." ucap ayahku, terdengar sungguh-sungguh.


Untuk kesekian kalinya, aku berpikir betapa besarnya tekanan yang diterima Paul saat semua orang mengatakan hal yang sama seperti ayahku. Seluruh penduduk Jerman menaruh harapan besar padanya.


Kami duduk di ruang keluarga. Ayahku, Louis, dan Paul membicarakan soal sepak bola sementara aku hanya dia mendengarkan. Hatiku diliputi ketenangan yang mendalam bisa menyaksikan aku begitu terhibur dengan kehadiran Paul. Dia tertawa sampai setitik air mata muncul di sudut matanya. Louis kebanyakan diam, hanya sesekali menanggapi dengan komentar singkat.


"Aku akan keluar untuk mengambil barang-barang kita." Aku menawarkan saat ayahku hendak beranjak ke dapur untuk mengambil camilan.


"Biar aku saja," kata Paul, mencium keningku sekilas.


"Ayo, aku akan menunjukkan dimana kamar tamu." Ayahku memintaku mengikutinya ketika Paul sudah berjalan keluar.


Aku mengikuti ayahku ke lantai dua hingga dia berhenti di depan salah satu pintu kamar. "Kau tidur disini," Dia membuka pintu untukku. Kamarnya terlalu gelap, jadi aku belum bisa melihat detailnya. Sementara itu ayahku kembali berbicara. "Dan Paul akan tidur di..." katanya sambil berjalan agak ke ujung.


"Kami tidur terpisah?" tanyaku memotong ucapannya.


Ayahku berbalik menghadapku. "Ya. Kuharap kau tidak masalah dengan itu..."


"Dad, kami bukan remaja delapan belas tahun!" Aku tahu ini tidak pantas, tapi aku membutuhkan Paul untuk menjaga kesehatan mentalku di rumah ini.


"Tapi kai tetap putri kecilku, Bianka. Itu aturan wajib yang harus kau ikuti setiap kau berada..."


"Dia juga melakukan hal yang sama padaku dan Lucy, jadi jangan khawatir." Aku tersentak saat Louis tiba-tiba berdiri di sampingku.


Ayahku mengangkat bahu, tersenyum penuh arti pada dirinya sendiri. "Suatu saat kalian akan mengerti, kids."


Aku mengeryit tepat sebelum mendengar bunyi langkah dibelakang Louis dan aku, aku menoleh ke balik bahu dan melihat Paul membawa tas kami. Cukup banyak karena dia juga membawa segala keperluannya selama berada di Rusia.


"Mengerti apa?" tanya Paul.


"Belum sampai setengah jam kalian masuk ke rumah ini dan dad sudah membicarakan soal cucunya." kata Louis sambil terkekeh dan main-main mendorong ayahku. "Itu juga terjadi padaku dan Lucy."


Ayahku hanya tersenyum hangat. "Buat diri kalian nyaman, Paul dan Bianka. Louis kau ikut aku ke dapur untuk menyiapkan makan malam."


***


"Aku tidak percaya kita tidur terpisah. Maaf, kau pasti berpikir ini aneh..." gumamku pada Paul.


"Tidak, aku paham kok. Kalau aku punya anak gadis, aku bahkan tidak akan mengijinkannya berkencan sampai dia berumur tiga puluh tahun."


Aku tertawa pada komentarnya yang aneh. "Dia pasti membencimu seumur hidupnya."


"Kuharap tidak. Pengendalian merupakan satu-satunya cara paling bagus agar tidak salah langkah." kata Paul sambil menyeringai di depan pintu lemari sementara aku berbaring di ranjang.


"Mungkin itu sesuai untuk skenario lain, tapi tidak untuk di terapkan kepada anak. Aku belajar psikologi perkembangan saat sekolah, dan..."


"Okay," Paul menarik napas dengan dramatis. "Mungkin aku belum cocok menjadi seorang ayah."


"Kau sangat cocok..." kataku dengan genit menggodanya, lalu tertawa saat Paul tiba-tiba menyerbu ke arahku.


Sejenak aku melupakan ayahku dan Louis yang kini berada di bawah ketika Paul menyapukan bibirnya ke ceruk leherku. Tepat saat aku menyerah dan pasrah pada perlakuannya, dia menarik diri lalu berguling ke sampingku. "Kenapa?" tanyaku heran.


Dia memutar kepalanya menolehku seraya menaikkan kedua alisnya, dan aku mengangguk paham. Paul tidak ingin melakukan sesuatu yang beresiko dan mengancam keselamatannya. Well, aku juga akan terancam. Tak perlu diragukan lagi.


Aku berdeham. "Apa kakimu aman?" Aku menggerakkan ujung jemari di dadanya. Pura-pura bertingkah seakan kami tidak akan bercinta atau melakukan hal semacamnya untuk sementara tidak terlalu mengusikku.


"Sudah pebih baik." sahutnya. "Tidak sakit lagi. Aku sudah siap kembali ke lapangan."


Aku tersenyum. "Bagus kalau begitu."


"Itu semua berkatmu, Rapunzel. Kalau kau tidak secara konsisten mengompresnya dengan es..."


"Tidak, Paul." sergahku.


"Ya, Bianka. Kau sangat membantuku. Harus kuakui kalau kemampuanmu bekerja sebagai perawat benar-benar bagus. Aku baru mengetahui es bisa secepat itu dalam menyembuhkan cedera, apalagi kau melakukannya dengan penuh cinta." jelasnya, menarikku lebih dekat hingga menempel di bahunya.


"Aku senang bisa membantu."


"Kau membantuku lebih dari yang kau tahu, love."


Kami terdiam sejenak. Aku menikmati setiap detik yang berlalu bersamanya, mendengarkan detak jantungnya yang teratur. Seharusnya kami segera turun untuk makan malam, tapi aku terlalu nyaman berada di sisinya.


"Kau pasti sedang menyusun rencana untuk menyelinap ke kamarku malam ini saat semua orang sudah tidur, kan?" kata Paul dengan nakal mengusap punggungku. Sentuhan kecilnya berhasil membuat perutku bergejolak sampai-sampai bagian tubuhku yang berada di bawah sana ikut berdenyut.


Aku tertawa pelan. "Aku benar-benar tidak menyangka ayahku masih melakukan itu, bahkan saat aku sudah dewasa pun dia tidak berubah sama sekali..."


"Itu hal terbaik yang pernah dilakukan oleh seorang ayah. Apa kau pernah membawa pria lain kesini?" Paul menapa genit padaku.


Aku terkekeh, menggoyangkan kepala pada rayuannya. "Kau bukan satu-satunya pria yang hadir dalam hidupku, Paul. Ada beberapa sebelum kau datang. Jangan terkejut seakan kau tidak pernah berhubungan dengan wanita sebelum aku masuk ke kehidupanmu."


Sekarang dia tersenyum. "Kalau begitu, berapa banyak pria yang pernah merayumu?"


"Tiga." kataku, dan alisnya terangkat tinggi. "Termasuk kau."


Paul terlihat syok dengan mata melotot. "Hanya tiga?" Dia tercekat sesaat sebelum lanjut berbicara. "Oh, aku minta maaf. Bukan bermaksud meremehkan, ya, paling tidak ada pria yang bertekuk lutut padamu. Terutama aku, kalau boleh kutambahkan."


"Hm.. ternyata kau sangat pintar merayu, ya." Aku menyeringai. "Kau tahu, aku tidak punya waktu untuk menjalin hubungan, semua perhatianku fokus pada studi dan pekerjaan."


"Kalau begitu, kenapa kau menerimaku?"


"Karena agak sulit menghindarimu..." gumamku cuek mengedikkan bahu dan dia terkekeh.


Baru saja aku berniat menciumnya, namun segera kuhentikan saat mendengar suara ketukan di pintu. Aku menoleh ke belakang dan mendapati adikku sudah menjulurkan wajahnya. "Makan malam sudah siap."


Dengan setengah hati, kami terpaksa menunda ketenangan sesaat itu dan mengikuti Louis turun ke lantai bawah, dimana aroma makanan yang disiapkan ayahku merebak hingga ke seluruh ruangan.


"Ayo, duduk." kata ayahku, menunjuk dengan dagunya ke kursi yang kosong.


Louis berdeham. "Paul, Bianka... kenalkan, Lucy."


"Senang berjumpa denganmu." kataku sambil tersenyum ramah. Kemudian aku memandang Paul karena dia tidak mengatakan sepatah kata pun. Aku mengernyit sementara senyumku memudar.


Mendadak dia terlihat seperti tak nyaman dan sikap yang sejak tadi nampak darinya kini seakan menguap begitu saja. Aku memang agak lamban dalam berpikir, tapi bukan berarti aku bodoh. Aku tahu pasti ada sesuatu yang terjadi di antara Paul dan Lucy karena perubahan sikapnya begitu kentara meskipun Lucy terlihat acuh. Apapun itu, aku akan mengetahuinya nanti.