My Love Journey's

My Love Journey's
Misunderstanding



...Author's POV....


"Paul, bangun!!!" Anne berteriak.


Paul tersentak, peluh membanjiri wajah dan hampir seluruh bagian atas tubuhnya. Jantungnya terasa seolah akan melompat dari rongga dada dan napasnya tersengal-sengal. Pandangannya menangkap sosok Bianka yang berdiri di antara ke dua kakinya. Sebelah tangannya meremas pundak Paul sementara tangan yang lain mengusap lengannya. Butuh waktu beberapa detik untuk Paul menyadari bahwa dia baru saja bermimpi.


Dengan satu sentakan tiba-tiba, dia menarik tangan Bianka dan mencari semacam bekas sayatan disana. Saat tak menemukan apa pun, dia langsung menarik tubuh kekasihnya ke dalam dekapan, menghembuskan napas lega begitu aroma yang sangat dia rindukan menyeruak hingga ke dadanya.


"Ternyata cuma mimpi," gumamnya, tampak semakin lega.


Dengan lembut, Bianka melepaskan diri dan menatap Paul, mengernyit. "Kau baik-baik saja? Kau terus mengucapkan tidak saat tidur dan napasmu terengah-engah. Apa yang kau mimpikan?"


Paul tidak menjawab, alih-alih hanya memandang Bianka seakan-akan itu merupakan pertemuan pertama mereka, kemudian menariknya untuk satu pelukan lagi. Bianka dengan tenang menerima kehangatan itu.


"Paul? Kau kenapa?"


"Aku... aku hanya..." Paul tidak dapat menyusun kata-kata. Semua dialaminya barusan terasa begitu nyata. Genangan darah, tubuh Bianka yang kaku tak bergerak di lengannya... masih terasa nyata. Dia mengira bahwa dia benar-benar telah kehilangan Bianka. Paul mencondongkan tubuh ke depan, kepalanya menumpang di pundak kekasihnya, kedua tangannya masih gemetar di pinggul wanita itu. "Bisakah kita seperti ini sebentar lagi?"


Bianka menjawab dengan mempererat pelukan mereka. Tak seorang pun bersuara hingga Paul kembali berucap, "Kau kelihatan lesu."


Bianka mengernyit. Dia melepaskan diri dari pelukan Paul dan berdiri. "Itu bukan urusanmu." dengusnya sambil berjalan ke ranjang.


Paul bergerak dan mengikutinya, menempatkan diri di sisi ranjang sementara Bianka menyandarkan punggung. Dia hendak meminta maaf ketika Bianka bersuara lebih dulu. "Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membentakmu, suasana hatiku sedang buruk."


"Tidak apa-apa. Itu hanya agak mengejutkan. Aku lebih suka melihatmu sebelum hari ini."


"Tidak penting apa yang kau suka, bukan?" balas Bianka ketus. "Mau bercerita tentang mimpimu?" tanyanya, mencoba mengubah topik pembicaraan. Dia menengadah untuk menatap Paul, namun pria itu menggeleng.


Bianka mengangguk, tak mau memaksa. "Ibumu sempat kemari tadi pagi. Dia kembali ke apartemen sekitar satu jam lalu." gumamnya.


"Oh, okay. Apa kau ingin menelepon orang tuamu?"


"Tidak, itu tidak perlu. Aku tidak ingin membuat mereka cemas. Lagi pula, dokter bilang sore ini aku sudah bisa pulang."


"Baiklah," desis Paul. "Aku akan mengepak barang-barang dan mengantarmu pulang."


"Tidak usah, Paul." sergah Bianka. "Aku bisa mengurus diriku sendiri. Aku bukan tanggung jawabmu dan sama sekali tidak membutuhkan rasa kasihan darimu. Telepon taksi, pulang ke rumah. Mudah saja."


"Kenapa kau keras kepala begini, sih? Aku akan di cap sebagai pecundang jika membiarkanmu pulang sendiri. Bisakah kau membayangkan apa yang akan terjadi seandainya Franda tidak ada saat kau pingsan? Kau bisa saja mati!" Paul mengerang.


Kadang-kadang wanita ini sangat menyebalkan! Aku tidak mungkin membiarkannya sendiri. Tidak untuk sekarang. Pikir Paul.


"Dengar..."


"Tidak, Bianka! Silahkan memakiku sepuas hatimu, tapi aku tidak akan mengalihkan pandangan darimu."


***


"Sungguh, kau tidak harus melakukan ini, Paul. Aku akan baik-baik saja."


Bianka duduk di ruang keluarga rumah Franda saat Paul datang membawa obatnya dan memaksa agar dia menelan obat itu di hadapannya. Dia merasa malu. Paul memperlakukannya seperti anak kecil, sikapnya sudah begitu sejak mereka meninggalkan rumah sakit. Dia tidak mau terkesan tak tahu diri, tapi perlakuan itu benar-benar membuatnya tidak nyaman. Apalagi Paul bersikeras dia tak boleh tinggal sendiri di rumahnya untuk sementara waktu.


"Paul, setidaknya beri dia waktu untuk bernapas." kata Anne, yang juga hadir di sana.


"Seolah kau tidak berniat melarikan diri lagi." desis Bianka, berbisik pelan.


Sayang sekali, kalimatnya menyambar telinga Paul. Pria itu memutar kepala, menoleh Bianka dengan alis berkerut. "Kau bilang apa barusan?" tanyanya, menyipitkan mata.


Bianka menarik napas, tampak tak ingin berdebat dengannya. Dia butuh istirahat untuk menenangkan pikiran dan memulihkan tenaga. Sejujurnya dia tengah berpura-pura terlihat baik sepanjang hari, mempertahankan senyum di bibirnya agar orang-orang berhenti menanyakan keadaannya. Tapi, sandiwara tidaklah semudah itu.


Bianka menangkup wajah dengan kedua tangannya, menghela napas sekali lagi. "Maaf karena telah mengganggu waktumu." Dia memulai, sekilas melirik Franda yang duduk di sisi lain sofa sebelum kembali menatap Paul. "Kita hentikan saja semua kepura-puraan ini. Aku lelah bersikap masa bodo. Kau tidak mau kembali padaku, aku paham itu. Aku benar-benar paham. Sedikitpun aku tidak marah padamu, Paul. Tapi, kumohon berhentilah bersikap sebagai kekasih yang penuh perhatian. Tingkahmu mulai memuakkan."


Franda dan Anne mulai terlihat gelisah. Keduanya saling menatap satu sama lain, bertanya-tanya apakah sebaiknya mereka memberi ruang kepada Paul dan Bianka untuk menyelesaikan masalah.


"Apa yang kau bicarakan?" tanya Paul bingung.


"Kau akan kembali ke Jerman, kan?" Bianka mendengus. "Aku sudah tahu, terima kasih! Tapi, tak perlu cemas... aku tidak akan menahanmu disini. Oh, kenapa kau tidak melakukannya lebih cepat?"


Paul terperangah, jelas sekali dia tidak mengerti maksud Bianka. "Aku tidak pernah bilang akan kembali ke Jerman..." Dia terdiam sejenak, terdengar sangat terkejut. Kemudian rautnya berubah datar. "Yah, secara teknis memang, tapi bukan untuk selamanya. Itu karena aku harus mengurus visa."


"Oh, benar!" sahut Bianka, memutar mata.


"Aku bersumpah!" kata Paul, kali ini lebih jujur dan bersungguh-sungguh.


"Aku yang menyampaikan itu padanya." Mereka mendengar suara dari seberang, secara otomatis perhatian keduanya mengarah kepada Franda.


Rasa bersalah memancar di wajah sang tuan rumah. "Maafkan aku, Bianka. Itu ideku. Aku ingin melihat bagaimana reaksimu. Aku berharap kau akan berjuang lebih keras jika mengetahui Paul akan kembali ke Jerman."


Paul dan Bianka ternganga keheranan, mata keduanya terbelalak.


"Oh!" Hanya itu respon Bianka.


"Kau melakukan apa?" dengus Paul dengan geram.


"Aku minta maaf. Sungguh, aku tidak bermaksud jahat atau semacamnya. Aku bersumpah. Seandainya aku tahu kau sedang hamil, aku tidak akan... Aku... Astaga, aku benar-benar mengerikan!"


Bianka menyadari dirinya sedang menangis saat merasakan pipinya mulai basah dan bibirnya bergetar, untuk sesaat tak tahu harus mengatakan apa. Dia tidak tahu harus merasa bagaimana. Pandangannya mengarah pada Franda, yang matanya juga memerah. Dia tidak meragukan tujuan Franda berbuat begitu, sudah tentu wanita itu tidak memiliki tujuan jahat. Dan dia tidak akan pernah menyalahkan kakak sepupunya atas keguguran yang menimpanya.


Tiba-tiba Bianka melihat Paul berdiri. Dia memutar kepala dan melihat pria itu sedang berdiri dengan murka, keseluruhan rautnya menjeritkan kemarahan dengan rahang gemeratak. Secara otomatis, Bianka maju dan berdiri di hadapan Paul, bertindak sebagai penghalang di antara pria itu dan kakaknya.


"Dia kehilangan anak kami karena kau ingin melihat reaksinya?" dengus Paul sinis.


Bianka meletakkan tangan di dada Paul dengan tujuan menenangkannya. "Paul, jangan menyalahkan Panda. Aku satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas kejadian ini. Akulah yang seharusnya menjaga diri."


"Kau tidak..." Paul memulai, menunduk kepada Bianka.


"Sudah. Jangan menyalahkan orang lain." desak Bianka, kemudian mengalihkan pandangan ke Franda. "Aku tidak menyalahkanmu, Kak. Tidak akan pernah." katanya sambil tersenyum tipis, lalu kembali menatap Paul yang tampak seakan pria itu baru saja menumbuhkan kepala kedua. "Aku ingin istirahat, bisakah kau menemaniku? Kumohon, aku benar-benar kehabisan energi."


"Lo..."


"Kumohon, Paul. Sudah cukup drama untuk hari ini."


Paul mengamati setiap sudut wajah kekasihnya sebelum menusuk Bianka dengan tatapannya. "Baiklah." gumamnya pada akhirnya, meski sangat jelas tidak puas dengan hasil perselisihan barusan.