My Love Journey's

My Love Journey's
Met Him Again



"Hei, darling." Travis berlari kecil menghampiriku.


Aku tersenyum padanya lalu dia langsung merangkul pundakku dan menuntunku keluar dari rumah sakit. "Mau kemana?" tanyanya begitu kami keluar dari pintu depan dan menikmati angin musim gugur yang dingin.


Matahari sudah terbenam sementara lampu-lampu penerang sudah menyala di setiap sudut lapangan parkir. "Mau pulang." jawabku, tidak merasa keberatan dengan aksinya merangkulku sedekat ini. Itu cukup membantuku melawan cuaca dingin sejenak, tapi tidak lebih dari itu, sungguh. "Kau?"


"Bagaimana kalau kita bersantai sebentar? Ada bar yang lumayan asik tidak jauh dari sini." gumamnya menawarkan sambil menyampirkan jaket ke pundaknya.


Aku ragu. Paul sudah kembali ke Berlin hari ini dan dia mengirimiku pesan tadi pagi, bertanya apakah aku ada waktu untuk makan malam bersamanya malam ini. Aku belum menjawab apapun, pikiranku masih dipenuhi tentang fotonya bersama model itu. Sejujurnya aku ingin sekali bertemu dengannya, tapi belum memutuskan apakah aku akan menemuinya malam ini atau besok pagi.


"Baiklah," gumamku menerima tawaran Travis, tersenyum lagi. "Tapi tidak bisa lama-lama, karena ada sesuatu yang harus kulakukan besok pagi."


Travis mengangguk. "Ya, tidak masalah." sahutnya, menarikku lebih dekat ke sisinya. "Aku yang menyetir."


Kami mengobrol sepanjang perjalanan menuju bar. Well, Travis yang berbicara sementara aku hanya mendengarkan, sesekali menanggapi dengan tersenyum atau tertawa halus saat dia menceritakan keadaan di ruang operasi. Omong-omong dia menangani empat operasi hari ini.


Aku penasaran apa yang sedang dilakukan Paul sekarang. Apakah dia sudah menemukan gadis lain yang akan menghangatkan ranjangnya karena aku tidak membalas pesannya?


Kami tiba di bar 'kecil' yang sama sekali tidak kecil. Tempat itu sangat besar dan sudah penuh dengan orang-orang yang ingin menghabiskan malam hingga teler, tapi aku tidak keberatan karena kami hanya mampir sebentar.


Travis dan aku masuk ke dalam bar, dan ketika aku duduk di meja kami, Travis melangkah ke meja bartender untuk memesan minuman. Aku memainkan ponsel sembari menunggunya.


To: Paul: Aku sedang minum bersama temanku sekarang, dan langsung pulang setelahnya. Bagaimana kalau kita bertemu besok di jam makan siang?


Aku mengirim balasan pesan yang dikirimnya tadi pagi. Ketika tiga titik yang menandakan dia sedang mengetik muncul di layar percakapan kami, aku tersenyum seperti orang gila.


From: Paul: Apa kau keberatan kalau kami bergabung?


To: Paul: Kami? Kau bersama teman-temanmu?


From: Paul: Hanya Carl, kekasihnya, dan aku. Kami di klub Badfish, tapi aku merasa seperti obat nyamuk disini.


To: Paul: Oh, haha. Aku di bar tak jauh dari rumah sakit bersama Travis, temanku. Bar Lion.


From: Paul: Kami akan sampai dalam sepuluh menit, love.


Begitu aku meletakkan ponsel di meja, Travis datang lalu duduk di seberangku dan memberiku sebotol bir.


"Ada apa? Kenapa kau senyum-senyum seperti itu?" kata Travis sambil terkekeh, menatapku dengan sorot penasaran.


Aku ikut tertawa, meraih bir dari tangannya dan menunduk sekilas. "Bukan apa-apa. Omong-omong, apa kau keberatan jika Paul dan dua temannya bergabung bersama kita?"


Senyum di wajah Travis lenyap. "Paul Klug? Why?" Dia tampak bingung, membuatku merasa bersalah.


Travis jelas menyukaiku dan tahu apa yang terjadi di antara Paul dan aku, namun aku malah membiarkan Paul bergabung disini.


"Dia, uhm... dia bilang dia merasa seperti obat nyamuk karena dia sedang bersama Carl yang membawa kekasihnya." kataku menjelaskan.


Travis mengamatiku selama beberapa saat, sebelum mengangguk lemah. "Okay, tidak masalah. Biar kuberitahu, aku penggemar berat tim nasional negara kita, dan bisa bertemu langsung dengan Carl Austerlitz merupakan kesempatan emas!"


Aku tertawa menanggapi perubahan ekspresinya yang sekarang tampak antusias. "Aku pernah bertemu dengannya sekali saat Paul cedera, sepertinya dia orang yang menyenangkan." balasku lalu meneguk bir. "Kumohon, jangan histeris saat dia datang. Oke, Travis?"


Sekarang giliran Travis yang tertawa disertai gelengan kepala. "Itu pasti sulit, tapi aku akan berusaha mengendalikan diri." sahutnya bergurau.


Aku menyeringai. "Kau tahu, mungkin kita akan menjadi pusat perhatian begitu mereka datang, dan aku yakin kau pasti tidak nyaman..."


"Hei, there."


Ucapanku terpotong oleh suara seseorang yang sangat kukenal. Ketika aku menoleh, aku mendapati Paul menatapku sambil tersenyum lebar.


"Paul, hai..." Aku berdiri dan memeluknya sekilas.


Mendadak napasku tercekat saat dia menahan tubuhku lebih lama di pelukannya, kedua tangannya melingkar di pinggangku dan dia menarikku lebih dekat.


Tubuhnya yang keras dan berotot seketika membuat perutku tegang, dan hanya dengan bersentuhan seperti itu saja lututku melemas. Karena aku hanya memeluknya dengan satu tangan di lehernya, aku terpaksa menaikkan tanganku yang lain ke dadanya. Secepat kilat mencoba menarik diri darinya.


"Kau terlihat luar biasa." katanya padaku, napasnya yang panas menghantam telingaku dan menyebabkan getaran memalukan mengalir di darahku. Begitu kami terpisah, tampak senyum di wajahnya yang menandakan dia juga merasakannya.


Aku mundur selangkah dan membiarkan mereka berkenalan. Travis berdiri, dengan senyum ramah mengulurkan tangannya ke hadapan Paul.


Aku memperhatikan dengan seksama ketika alis Paul berkerut dan senyumnya goyah saat matanya tertuju pada Travis. Situasi mulai terlihat tidak nyaman, sebelum dia akhirnya menerima uluran tangan Travis.


"Senang berjumpa denganmu," kata Paul, berusaha terdengar sopan namun jelas tidak tertarik untuk mengenal Travis.


Travis mengangguk seraya tersenyum. "Senang berjumpa denganmu juga. Bianka bilang Carl Austerlitz juga disini..."


"Ya, sedang memesan minuman. Mereka akan segera menyusul." jawab Paul sambil menarik kursi dan duduk di sebelahku.


Kemudian dia melihat ke arahku, menepuk kursiku, dan menghadiahiku senyum kekanakan. Aku duduk dan membalas senyumannya, merasa sedikit canggung pada ketegangan yang terjadi di antara kedua pria itu, terutama dari Paul. Sementara Travis tampak lebih tenang, terlalu bersemangat untuk bertemu Carl.


"Apa Travis yang bersamamu di foto itu?" Paul berbisik kepadaku, mencondongkan tubuhnya agar Travis tidak mendengar obrolan kami. Padahal tanpa perlu begitu suaranya tidak akan terdengar karena tenggelam oleh dentuman musik yang keras.


Aku memutar kepala menatap Paul dengan raut bingung. Dia mengenali Travis melalui foto bodoh yang diambil oleh tiga remaja itu?


"Yes." balasku singkat, mengamati perubahan ekspresinya.


"Apa kalian berkencan?" tanyanya lagi, dan dengan cepat aku menoleh Travis yang duduk di seberang kami, memastikan dia tidak mendengar apapun. Beruntung, dia sedang memandang ke arah meja bartender. Travis benar-benar tak sabar ingin bertemu Carl.


"Kenapa memangnya?" balasku bertanya sambil terkekeh.


"Karena kalau kau berhubungan dengan seseorang, aku akan berhenti mengejarmu." gumamnya berterus terang, dan tatapanku kembali terarah padanya dengan mata melotot. Apa dia serius?


Aku mengangkat alis tinggi-tinggi merespon sikapnya yang munafik. Dia yang berhubungan dengan model sialan itu...


Aku menghela napas, sekali lagi berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa aku tidak perlu mencampuri urusannya dan apa yang terjadi pada kami hanya sebatas hubungan cinta satu malam. Itu intinya.


"Kau? Mengejarku? Paul, kita hanya bercinta sekali. Aku memang menyukainya, tapi hanya sampai disitu." gumamku lembut, lalu tersenyum padanya.


"Tapi kau juga menyelamatkanku dan kita sempat makan malam romantis, kan?"


Aku terkekeh, tak percaya dia membahas gegar otak itu. "Tidak. Itu hanya gegar otak ringan dan aku memberimu obat karena itu mamang tugasku." Aku menggoyangkan kepala beberapa kali. "Dengar, Paul... hubungan kita hanya sebatas kencan satu malam. Tidak lebih."


"Beri aku kesempatan untuk merasakannya sekali lagi."


Aku mengerutkan kening, tak paham maksud ucapannya. "Merasakan apa? Gegar otak?"


"Bukan! Kencan semalam." katanya, perlahan meletakkan tangannya di pahaku.


Aku tidak punya waktu untuk menyingkirkan tangannya, jadi aku membiarkannya, memberi kesempatan pada tubuhku untuk menikmati kehangatan sejenak.


"Paul.." desahku gugup. "Kalau kau melihat foto Travis dan aku tersebar dimana-mana, percayalah aku juga melihatnya. Jangan menganggapku bodoh, Paul. Kita bersenang-senang, namun persis seperti yang kau katakan, aku juga tidak ingin mengejar seseorang yang memiliki hubungan dengan orang lain."


Dia terdiam beberapa saat sebelum menunduk dan mengangguk lemah. Dia menarik tangannya dari pahaku, dan sialnya aku ingin dia tetap membiarkan itu disana.


"Hello, aku Travis, suatu kehormatan bisa bertemu langsung denganmu!"


Aku mengalihkan pandangan dari Paul untuk melihat Travis yang berdiri menyambut Carl Austerlitz dan model cantik berambut pirang yang sama dengan yang di bawa Paul tidur di kamar hotel tempatnya menginap.


"Kau berlebihan, Travis. Aku Carl." Carl tersenyum pada Travis sebelum menoleh ke arahku yang sedang fokus mengamati model cantik di sebelahnya. "Apa kabar, Bianka?"


"Baik, terima kasih." balasku, kemudian menatap Paul dan model itu bergantian.


Apakah Paul bercinta dengan kekasih temannya sendiri?


"Kenalkan, ini Vallerie, kekasihku." Carl memperkenalkan model itu pada Travis dan aku.


Kami berjabat tangan. Dia tampak menyenangkan, tapi aku belum bisa menghilangkan pikiran burukku tentangnya.


Carl meletakkan bir yang dibawanya ke atas meja dan kami duduk di kursi masing-masing. Aku mendengarkan Carl dan Travis dengan seksama meskipun aku sama sekali tidak mengerti inti pembicaraan mereka yang membahas soal olahraga dan semacamnya.


"Seharusnya kau tidak percaya begitu saja pada majalah gosip, Rapunzel." Aku nyaris melompat dari kursi saat Paul berbisik dan tiba-tiba menyapukan lidahnya ke telingaku. "Aku hanya bermain bola, tidak ada hubungan dengan wanita manapun." gumamnya menambahkan.