
Pada saat akhirnya aku kembali menerima ibuku, dia tak pernah berhenti mengatakan bahwa jiwaku selalu bersinar, dia bisa melihatnya sejak aku lahir. Kau pintar, katanya, cantik, dan lebih dari itu, kau memiliki hati yang besar.
Mungkin ucapannya benar, karena terbukti aku tak bisa menutup mata atas kesalahan orang lain, sebesar apa pun itu. Aku selalu mencoba berdamai dengan keadaan, menerima apa yang diberikan Tuhan padaku. Baik atau buruk, itu sudah menjadi bagain dari hidupku.
Termasuk yang terjadi saat ini dengan hubunganku dan Paul.
Setelah dua puluh menit lebih melintasi jalanan Jakarta yang cukup tenang hari ini, kami tiba di hotel dan langsung menuju kamar presidential suite. Tidak mengherankan. Untuk orang sekelas Paul, menghabiskan uang puluhan juta untuk sebuah kamar bukan masalah besar. Yep, tipikal selera orang kaya.
Aku menarik napas berulang kali saat kami menunggu ibunya membuka pintu, dan ketika dia akhirnya muncul, aku hanya berdiri di sana. Tidak yakin apakah harus menyapanya atau tidak.
"Oh, Lord, you're coming!" Anne tampak terkejut. "I miss you, Darling." Dia menarikku ke dalam pelukannya, tapi aku hanya diam tanpa membalas. Hatiku masih terlalu sakit. "Bagaimana kabarmu?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Tidak terlalu baik, sejujurnya." sahutku sarkastis.
Dia melemparkan tatapan penuh penyesalan. "I'm sorry."
"It's okay." kataku. "Apakah kita akan berdiri di sini selamanya?" Aku tahu ucapanku terdengar kasar, tapi aku tidak bisa memaksa diriku bersikap seolah aku sedang baik-baik saja, karena memang tidak.
Anne mengerjap. "Oh, right. Come in, come in." balasnya canggung, lalu bergeser ke samping untuk memberiku jalan.
Aku masuk tanpa mengucapkan apa pun sementara Paul dan Anne mengikuti di belakang. Aku sempat menangkap mereka saling bertukar pandangan saat akhirnya aku berhenti di ruang tengah.
"Mau minum apa, Sayang?" tanya Anne.
"Tidak perlu repot-repot." jawabku datar. "Aku kemari karena Paul memaksa, dan waktuku tidak banyak."
Paul mengerang sementara Anne menarik napas panjang. Mereka pasti bingung melihat perubahan sikapku. Jika dulu aku selalu manis dan sopan di hadapan semua orang, itu tidak terjadi lagi sekarang. Kecuali kepada orang-orang terdekatku. Waktu telah merubah segalanya, dan aku sangat menyadari itu.
Anne berdeham. "Okay, aku tetap akan membuatkan teh untukmu. Tunggu sebentar." katanya, lalu berjalan ke sudut ruangan dimana terdapat sebuah meja, pemanas air elektrik dan beberapa gelas untuk teh tampak di atasnya.
Paul duduk dengan gelisah di seberangku. Kedua sikunya menumpang di lutut dan tangannya saling menggenggam sementara kakinya bergerak naik-turun. Entah kenapa aku senang melihat pemandangan ini. Tak bisa kupungkiri bahwa ada sedikit kelegaan yang kurasakan saat melihatnya kembali. Dalam keadaan baik-baik saja tentunya.
Aku melirik Anne yang kini meletakkan segelas teh di meja di depanku. "Thank you," kataku datar.
Dia mengangguk sambil tersenyum lalu pandangan kami mengarah kepada Paul yang tiba-tiba berdiri. "Aku akan meninggalkan kalian berdua," katanya. Dia memandangku. "Aku akan kembali setelah kalian selesai berbicara." Dia memutar arah dan berjalan ke salah satu ruangan yang kutebak adalah kamarnya.
Mataku terus mengikutinya. Memperhatikan langkahnya yang anggun dan tegas. Punggungnya tercetak dengan sempurna di balik kemeja putih yang dikenakannya, otot pahanya ikut mengencang seiring langkahnya. Dan, aku baru menyadari bahwa tubuhnya terlihat jauh lebih besar dari yang bisa kuingat, membuatku penasaran ingin melihat bagian paling intim darinya yang dulu selalu membuatku menjerit. Oh, sekarang aku sangat ingin menyusulnya. Sial!
Anne berdeham, menarik perhatianku kembali. "So," desisnya. "Aku tidak tahu harus memulai dari mana, tapi biarkan aku meminta maaf lebih dulu. Untuk kesalahanku karena telah mendukung keputusan Paul." gumamnya dengan bersungguh sungguh. Mengernyit bingung sementara dia melanjutkan. "Tidak, aku tidak akan menceritakan apapun soal keputusan Paul. Tunggu sampai dia sendiri yang mengatakannya padamu."
Dia menari napas sebelum melanjutkan. "Bianka, Sweetheart... Aku tahu apa yang kami lakukan padamu sangat tak termaafkan. Aku tahu kau menderita, aku tahu kau sakit hati, aku tahu apa pun yang kukatakan tidak akan mampu mengurangi penderitaanmu selama ini karena tidak seharusnya aku mengabaikanmu. Di satu sisi aku ingin merangkul, menguatkan, dan menemanimu ketika kau kehilangan anak kalian, tapi di sisi lain, Paul anakku. Aku rela melakukan apa pun untuknya, Bianka, meskipun itu berarti aku harus memotong nadiku sendiri. Aku akan melakukannya agar dia bahagia. Dia anakku satu-satunya. Well, aku punya Thomas, tapi dia bukan anak yang kulahirkan. Rasanya tetap berbeda walaupun aku selalu bersikap adil pada mereka berdua."
Aku melempar pandangan, tak sanggup menahan air mata mendengar kata-katanya. Dia mengatakan akan melakukan apa pun untuk anaknya, bahkan setelah anaknya menyakitiku. Egois sekali, tapi mungkin begitulah sifat seorang ibu.
Anne menyentuh tanganku, tapi aku menepisnya. Dia menarik napas. "I'm sorry, I'm so sorry." gumamnya terisak. "Rumah kami terasa seperti neraka sejak hari itu. Hanya Ellie yang berhasil membuatnya sedikit lebih hidup saat Thomas dan Camille membawanya ke sana. Jika mereka pergi, maka yang ada hanya kesunyian. Paul tak pernah berhenti menyalahkan dirinya atas kepergianmu, tapi..."
"Dia yang meninggalkanku, Anne, bukan aku!" Aku tersentak saat sadar aku baru saja membentaknya. "Maaf, aku tidak bermaksud kasar padamu, tapi kau harus tahu bukan aku yang pergi." sambungku lebih pelan.
Anne mengangguk. "Aku tahu, aku tahu, Paul menceritakan semuanya padaku. Saat itu dia sedang marah, Sayang, dia sedang kehilangan. Siapapun akan melakukan hal yang sama jika mengalami apa yang dialami Paul."
"Aku juga kehilangan! Aku lebih menderita dibanding Paul. Hari itu aku memohon padanya, aku berlutut agar dia memaafkanku meski aku tahu itu bukan kesalahanku sepenuhnya, tapi dia tetap meninggalkanku. Astaga..." Aku menggeleng tak percaya. Bagaimana mungkin dia berpikir hanya Paul yang kehilangan sementara aku tidak?
"Disitulah letak kesalahan Paul, dan Tuhan menegurnya saat itu juga." Pandangannya mengarah ke pintu kamar Paul. Dia terlihat begitu sedih. Untuk sesaat aku mengira dia akan mengatakan sesuatu, tapi tak ada yang keluar dari mulutnya. "Kau bisa mendengar tentang itu darinya."
Pada saat ini, aku bertanya-tanya apa yang terjadi sebenarnya. Aku memang marah karena dia pergi begitu saja, tapi sebagian dari diriku juga tahu bahwa Paul tidak mungkin melakukannya tanpa alasan yang kuat. Ikatan di antara kami lebih kuat dari apa pun. Setidaknya, itulah yang kupercayai.
Aku menghela napas berat, memandang Anne. "Aku tidak tahu harus mengatakan apa," kataku dengan nada putus asa. "Aku tidak tahu apa tujuan kalian mencariku dan mengatakan apa pun alasan kalian menjauhiku setelah tiga tahun berlalu. Tapi jika yang kalian inginkan adalah agar aku menerima Paul kembali, maka itu tidak akan terjadi. Setidaknya tidak secepat ini. Aku sudah berhasil menata hidupku di sini, jadi tidak usah repot-repot membujukku."
Aku berdiri. "Aku harus pulang. Sampaikan salamku padanya." sambungku, dan tanpa mengatakan apa pun lagi, aku berbalik lalu melangkah keluar. Anne memanggilku sambil terisak, tapi aku terus berjalan hingga suaranya menghilang di balik pintu.