
...Author's POV....
"Disanalah aku, di hamparan rumput yang membentang di sepanjang tepi sungai, duduk di sebuah kursi goyang tua berwarna cokelat. Cuaca agak panas, tapi aku tidak merasa terganggu, entah kenapa itu seakan membuatku lebih hidup. Aku bisa merasakan sengatan matahari di kulitku, disertai hembusan angin sepoi-sepoi. Lalu, tiba-tiba, aku mendengar suara tawa, yang kemudian diikuti sederetan kekehan. Aku bangkit dan memandang sekeliling, mencari sumber suara-suara itu, tapi aku tak melihat siapapun. Aku baru saja hendak duduk saat tawa itu kembali menggema.
"Karena penasaran, aku memutuskan untuk mengikuti suara itu. Aku meninggalkan kursi goyang itu di tepi sungai dan melangkah ke arah lain. Kemudian, aku melihat... yang tampaknya seperti dua anak kecil, berjarak beberapa meter dari tempatku, laki-laki dan perempuan, bermain di hamparan padang rumput. Aku berjalan menghampiri, tapi semakin jauh kakiku melangkah, semakin jauh pula mereka berlari dan aku tidak bisa mencapai mereka. Entah kenapa, itu membuatku kesal. Aku ingin bersama mereka.
"Aku mencoba berlari, namun jatuh tersungkur dengan pergelangan kaki yang lantas terasa sakit. Amat sangat sakit. Aku ingin menangis ketika merasakan sebuah bayangan melindungiku dari terpaan sinar matahari. Kedua anak itu berdiri disana, menatapku dengan seksama. Wajah mereka buram, tapi aku bisa menangkap senyum tipis di bibir mereka. Si anak perempuan berkata; Kau harus melepaskan kami, Ma. Kami bahagia disini. Kau juga harus bahagia. Kemudian, mereka menghilang dan aku terbangun."
Bianka memalingkan wajah, menatap seorang wanita yang duduk di hadapan mereka, Dr. Susan. Dia terus mengalami mimpi itu selama berminggu-minggu, kadang-kadang beberapa kali dalam satu malam. Wanita paruh baya cantik yang berprofesi sebagai terapis mereka untuk sebulan ini terus mendorong Bianka agar menceritakan tentang mimpi itu. Bukan berarti Dr. Susan tidak cukup baik, Bianka hanya tidak menyukai situasi dimana dia harus membuka diri kepada orang asing. Dan dia benci karena tidak bisa membaca ekspresi Dr. Susan.
"Bianka, terima kasih telah membagi mimpimu dengan kami." Dr. Susan memulai. "Tapi, aku bisa mendengar tidak ada emosi di suaramu, seakan-akan kau sedang menyampaikan sesuatu yang biasa saja."
"Apa kau berharap aku menangis tersedu-sedu?" tanya Bianka agak ketus.
"Tak ada salahnya mengungkapkan kesedihan. Bagaimana perasaanmu saat kau bangun? Setelah mimpi itu?"
Bianka melirik Paul yang duduk di sebelahnya. Dia tahu Paul sedang mengerahkan segenap tenaga untuk menahan air mata. Bianka menghela napas, sikap Paul yang begitu terbuka soal apa yang dirasakannya akhir-akhir ini membuatnya merasa seperti sampah.
Sekilas, dia melihat jam di layar ponselnya. Lima menit lagi. " Aku merasa... sedih dan bersalah."
"Kenapa merasa bersalah?" tanya Paul.
"Aku tidak tahu... mungkin karena aku masih disini, bernapas dengan mudah, sementara anak-anakku tidak mendapatkan kesempatan itu."
"Kau tidak pernah berkata seperti itu padaku." Paul mengerutkan kening sambil meraih tangan Bianka, suaranya terdengar khawatir.
"Mengapa kau menyimpannya sendiri? Tentang mimpimu, atau perasaanmu?" Dr. Susan bergumam.
Bianka mengalihkan pandangan dari Paul kepada wanita itu. Dia tidak suka menjadi pusat perhatian di dalam ruangan, apa yang harus dia katakan? Apa yang mereka harapkan darinya?
Dengan lembut, Bianka melepas genggaman Paul dan melirik jam sekali lagi. Dia tahu sikapnya akan terkesan kasar, namun pada saat ini dia tidak peduli lagi. Dia hanya ingin segera mengakhiri pertemuan itu.
"Aku tahu waktu kita sudah habis, tapi kuharap kau mau tinggal satu atau dua menit lagi. Tidak seharusnya kau merasa bersalah. Apa yang terjadi, biar terjadi. Dan kau ada disini sekarang, bersama orang yang kau cintai, dan keluarga yang juga menyayangimu. Kau punya lebih dari satu alasan untuk bertahan dan melakukan yang terbaik.
"Untuk pertemuan berikutnya," sambung Dr. Susan. "Aku ingin kalian menulis dua surat. Yang pertama, untuk semua hal baik yang terjadi dalam hidup kalian. Dan yang kedua, untuk anak-anak kalian dan katakan pada mereka apa pun yang ingin kalian ungkapkan, terutama perasaan kalian. Lalu, aku akan mendengar kalian membaca surat itu minggu depan, dan kita akan membahasnya. Bagaimana?"
Bianka hanya mengangguk, lega pada akhirnya bisa keluar dari tempat itu.
***
Bianka dan Paul berhenti di taman yang cukup sepi dekat danau di pusat kota. Bianka duduk di samping Paul, kepalanya menumpang di pundak pria itu sementara Paul memeluk pinggulnya. Mereka tidak mau buru-buru pulang ke rumah Franda setelah sesi terapi sebelumnya. Saat ini, mereka ingin menghabiskan waktu berdua saja.
"Kau tahu aku mencintaimu, kan?" tanya Bianka.
"Ya, aku tahu."
"Sudah terlalu lama kau di Jakarta. Kuharap kau tidak mengabaikan pekerjaanmu demi aku."
Paul memutar mata dengan jenaka.
"Aku serius, Paul. Kupikir sudah waktunya kau kembali pada pekerjaanmu. Aku sendiri pun harus bekerja."
"Jangan khawatir. Aku sudah membereskan urusan pekerjaan."
"Paul..."
"Love," potong Paul. "Berhenti mencemaskanku. Aku tidak lagi melatih klub di Bandung."
Bianka melongo. "Apa?" Dia sama sekali tidak mengharap Paul akan bertindak sejauh itu.
"Tenang dulu, okay? Aku melakukannya karena memang harus. Aku tidak bisa fokus pada hal lain sementara kau lebih membutuhkanku. Lagi pula, manajerku sudah mendapatkan tawaran baru disini. Jadi, tidak ada yang perlu dicemaskan."
"Dan, jangan pikir kau bisa melepaskan diri dari Dr. Susan semudah itu. Aku tahu kau tidak senang dengan gagasan ini, tapi aku bangga kita berhasil melewatinya. Terapi itu membantuku untuk lebih memahamimu."
"Hm."
"Aku tahu kau tidak nyaman, tapi terima kasih karena telah mencoba."
"Hm."
"Apa kau akan menanggapi setiap ucapanku dengan 'Hm'?" tanya Paul usil, membuat Bianka terkekeh.
"Hm."
Paul tertawa dan menarik Bianka ke pangkuannya, dengan kedua kaki wanita itu di masing-masing sisi tubuhnya. Dia menyusupkan tangan ke balik rok katun Bianka dan meraba-raba perutnya. "Aku mencintaimu." gumamnya, lalu mengecup bibir Bianka. "Aku merindukan bokong ini," bisik Paul, suaranya penuh keceriaan.
Bianka menautkan alis, menyeringai. "Hm."
Tangannya berpindah ke paha Bianka, secara berbahaya mendekati bagian sensitif wanita itu. Bianka menyurukkan wajah ke lehernya saat merasakan tangannya menggoda dari balik pakaian dalamnya. Perlahan-lahan, Bianka mulai menggerakkan pinggul mengikuti ritme jemari Paul. Paul merasa tenang karena Bianka mengenakan rok yang cukup panjang untuk menutupi kegiatan mereka saat ini. Jelas sekali itu bukan tempat yang pantas, tapi dia sangat merindukan kekasihnya. Kulitnya, sentuhannya, dan suara-suara kenikmatan itu. Paul terbakar gairah, merasa seolah dirinya merupakan seorang remaja yang baru mengenal cinta. Perasaan takut tertangkap basah justru menciptakan sensasi yang semakin mendebarkan.
Paul mengulurkan tangannya yang bebas untuk mengumpulkan rambut Bianka agar dia bisa mencium lehernya. Dia menurunkan pakaian dalam Bianka lalu memberi tekanan pada inti tubuh wanita itu, menggerakkan jarinya memutar, sementara Bianka mengikuti iramanya. Paul menatap Bianka, tatapannya penuh hasrat. Bianka menggigit bibir untuk menahan erangan yang mengancam akan keluar. Namun, Paul ingin mendengar itu.
"Itu dia gadisku!" gumam Paul di leher Bianka, sebelum mengeluarkan tongkat saktinya dan sedikit mendorong ke atas. "Fu¢k!" Keduanya tersengal-sengal, tubuh Bianka berdenyut akibat ledakan yang baru saja terjadi. "Selalu hangat dan basah." erang Paul sambil mendesaknya lebih keras dan panjang.
Kepala Bianka menumpang di pundak Paul sekali lagi, masih menggigir bibir, kedua lengannya memeluk leher pria itu. Paul terus menghujamnya dari bawah, membisikkan kata-kata manis di telinganya.
Tiba-tiba, mereka mendengar seseorang berteriak ke arah mereka. "Hei, apa kalian baik-baik saja?" Beruntung, kaca mobil Paul berwarna hitam pekat.
Dengan cepat seluruh kegiatan itu berhenti. Bianka mengangkat kepala dan balas berteriak, mendadak suaranya terdengar lantang. "Ya, tidak ada masalah. Terima kasih!" Orang itu berlalu meninggalkan mereka.
Paul tak mau repot-repot menoleh, alih-alih hanya menunggu orang asing yang mengganggu kesenangan itu pergi menjauh sebelum melanjutkan kegiatan mereka. Namun, Bianka menghentikannya, bangkit dan berusaha merapikan roknya.
Tapi, Paul terlalu tegang untuk melepaskannya, maka yang kemudian terjadi adalah dia kembali menempatkan Bianka di pangkuannya.
"Tidak, Paul. Kita hampir tertangkap basah. Tahan sebentar, aku akan menghiburmu begitu kita tiba di rumah." gerutu Bianka dengan panik.
Paul hanya menyeringai, sebelah tangannya memeluk punggung Bianka sementara tangan yang lain kembali beraksi di antara kedua paha wanita itu, mengusapnya dengan lembut. "Paul, seseorang bisa saja melihat, atau yang terburuk merekam dan menjualnya ke majalah gosip. Jadi, sebaiknya kita hentikan ini."
"Tidak akan!" Itulah jawaban Paul sebelum mulai menghujamnya lagi. Pinggulnya dengan keras menghantam Bianka, tak peduli pada apa pun lagi. Dia begitu terbawa suasana, dan dia ingin Bianka mengikuti iramanya.
Bianka mencengkeram pergelangan tangan Paul yang membujuk kewanitaannya, bibirnya terbuka sementara napasnya menjadi semakin tertahan.
"Oh, nikmat sekali!" desah Paul. Dia menahan Bianka tetap di tempat, menekan jarinya lebih keras ke inti tubuh kekasihnya. Bianka mencoba mengatakan sesuatu tapi malah terdengar seperti cicitan, mengundang gelak tawa Paul. "Fu¢k!"
Bianka terkesiap dan Paul merasakan tubuhnya bergetar, kewanitaannya mengencang di sekeliling Paul. "Faster!" Bianka pada akhirnya memohon.
Dengan senang hati Paul menuruti permintaannya. Punggung Bianka melengkung indah, membiarkan Paul mendesak lebih dalam. Semenit kemudian, jerit kenikmatan wanita itu menggema di dalam mobil. "Aaaaahhhh...." Sekujur tubuhnya gemetar dan berdenyut nikmat. Tak butuh waktu lama bagi Paul untuk bergabung dengan wanitanya di puncak kesenangan, ledakan gairahnya bahkan sampai mengalir ke paha Bianka saat wanita itu luluh di pangkuannya. Napas sepasang kekasih itu memburu seakan baru saja melarikan diri dari kejaran seekor anjing gila.
Mereka masih berpelukan dalam diam, menikmati sisa-sisa pelepasan sambil mengatur napas. "Aku merindukan ini," gumam Paul pada akhirnya. Bianka mengangguk setuju. "Apa kita harus pulang ke rumah kakakmu sekarang?" tanyanya, dengan lembut membiarkan Bianka berpindah ke kursi penumpang.
"Tidak, kurasa. Kita bisa menginap di rumahku atau di hotel untuk malam ini. Mungkin hingga beberapa hari ke depan kalau kau tidak keberatan. Aku ingin menghabiskan waktu denganmu. Hanya kita berdua." jawab Bianka selagi sibuk membersihkan diri dengan tisu dan merapikan roknya, lalu menoleh Paul. "Jangan menatapku seperti itu, Klug! Kuharap kau lebih hati-hati lain kali."
"Ah, kau tidak asik! Ayolah, yang tadi itu luar biasa, bukan? Menyenangkan! Mendebarkan!"
"Terserah kau saja," balas Bianka, memutar mata. "Ayo, jalan!"
Paul menangkup wajah Bianka dan menariknya. "Setidaknya cium aku dulu!"
"Dasar konyol!" geritu Bianka sambil tersenyum, namun tetap mencium pujaan hatinya. "Oh, ayolah. Aku tidak mau kekasihku merajuk setelah percintaan paling panas dan menggetarkan abad ini."
"Nah, kau benar-benar konyol sekarang." Bianka tertawa, menyandarkan punggung ke depan. Puas dan bahagia.